DEAR, MY RON

DEAR, MY RON
BAB 65



Kediaman Tuan Derry.


Nyonya Daisy masuk ke dalam kamarnya dengan wajah penat setelah mengurus artikel publisitas sang putra yang akan kembali beraktivitas normal tanpa kursi roda.


Sebagai keluarga terpandang, Nyonya Daisy sudah mempersiapkan skenario sebagus mungkin untuk membuat sang anak terlihat seperti telah melakukan pengobatan hingga bisa berjalan normal kembali.


Hal ini untuk menghindari isu miring mengenai sang putra yang sengaja berpura-pura lumpuh di depan semua orang.


"Akhirnya aku bisa sedikit tenang sekarang," gumam Nyonya Daisy merasa lega tidak perlu lagi mencemaskan sang putra yang ia kira lumpuh.


Wanita paruh baya itu duduk sejenak di tepi ranjang kamarnya dan melirik ke arah amplop asing yang bertengger di atas nakas.


"Apa ini?"


Nyonya Daisy membuka amplop coklat itu dengan santai dan mendapati beberapa foto tersimpan dalam benda kotak tipis itu.


Wajah Nyonya Daisy meradang seketika saat melihat gambar tak senonoh tercetak dalam lembaran kertas itu.


Nyonya Daisy keluar dari kamar dengan wajah geram dan mendobrak pintu kamar sang suami.


"Pak tua sial, apa maksud semua ini?!"


Nyonya Daisy berteriak kencang di kamar sang suami.


Tuan Derry yang tengah sibuk menelepon istri mudanya, segera beralih ke Nyonya Daisy dan menatap wanita paruh baya itu dengan malas.


"Matamu masih baik-baik saja, kan? Kenapa masih bertanya padaku?" jawab Tuan Derry datar.


Nyonya Daisy melirik ke arah kertas-kertas itu. Dalam foto itu terpampang jelas wajah sang suami dan seorang gadis yang sudah tak berbusana. Terlihat jelas sang suami tengah menikmati leher jenjang sang gadis yang tidak lain ialah Lilian.


"Apa kau sudah gila?! Kau bahkan meniduri wanita yang seharusnya menjadi menantumu?!" pekik Nyonya Daisy.


"Menantu apanya? Lian hanyalah salah satu simpananku yang gagal kujadikan istri. Kenapa kau selalu menganggap tinggi wanita murahan itu?!"


"Apa kau bilang?!"


"Kau tidak lihat di foto itu Lian masih sangat muda?! Aku sudah lebih dulu bersama Lian jauh sebelum wanita itu mendekati putraku. Kau pikir atas dukungan siapa Lian bisa menjadi model terkenal seperti sekarang ini?!"


Perkataan sang suami bagai sambaran kilat yang mengacaukan pikiran Nyonya Daisy. Ia tak menyangka menantu yang ia puja-puja hanyalah wanita murahan yang mencari dukungan karir dari pria tua kaya.


"Wanita itu bahkan sempat mengandung anakku. Kau ingin memberikan wanita bekasku pada putra kita?!" cibir Tuan Derry.


"Lelucon macam apa ini?!" gumam Nyonya Daisy dengan senyuman sinis.


"Kau bahkan menghamili gadis muda?! Apa istri-istrimu itu masih belum cukup?!"


Nyonya Daisy melempar vas yang terletak tak jauh dari tempatnya berdiri.


"Aku masih mempunyai banyak foto bersama Lian kalau kau ingin melihat."


"Kenapa kau baru memberitahuku sekarang? Kau sengaja ingin mempermalukanku?! Kau ingin membuatku terlihat bodoh karena mendukung wanita yang merebut suamiku untuk menjadi menantuku?!"


"Aku hanya ingin mendukung kebahagiaan putraku. Aku tidak memberitahumu dan Ron karena aku takut Ron akan membenciku. Tapi sekarang Ron sudah tidak menginginkan Lian lagi, jadi jangan paksa-paksa putraku untuk menuruti keinginanmu!" bentak Tuan Derry.


"Dasar wanita murahan!!" pekik Nyonya Daisy seraya menjambak rambutnya sendiri.


***


"Aku sudah mengirimkan uangnya pada Bibi. Bibi bisa memeriksanya," ujar Thrisca saat mengantar Susan ke stasiun.


"Terimakasih, Icha. Suamimu benar-benar baik,"


"Sama-sama, Bi."


"Icha, kalau Bibi boleh tahu sebenarnya apa pekerjaan suamimu? Rumah suamimu benar-benar megah. Kau sangat beruntung," ujar Susan.


"Itu, sudah kubilang suamiku meneruskan usaha keluarga."


"Usaha apa?" selidik Susan.


"Usaha yang.. cukup besar."


"Apa nama perusahaannya?"


Susan masih terus mengejar jawaban dari Thrisca.


"Astaga, ada apa dengan wanita ini?!" gerutu Thrisca dalam hati.


"Aku kurang tahu, Bi. Aku tidak terlalu memperhatikan. Setiap harinya aku hanya berada di rumah," ujar Thrisca.


Wanita itu tidak ingin terkesan memamerkan statusnya sebagai menantu keluarga terpandang di depan Susan.


Thrisca semakin risih saat Susan terus menanyakan keadaan finansial sang suami dan bertanya ini itu mengenai keluarga Ron.


Istri Ron segera berpamitan secepat mungkin untuk mengakhiri obrolan tidak menyenangkan itu.


"Lain kali kakak yang akan mengunjungi El,"


Thrisca mengecup pipi Elma seraya melambaikan tangan pada gadis cilik itu.


Thrisca segera kembali menghampiri Ron yang menunggu sang istri di dalam mobil.


"Kau akan berangkat ke kantor sekarang?" tanya Thrisca setelah wanita itu memasuki kendaraan roda empat milik suaminya.


"Aku akan menyelesaikan pekerjaan dari rumah. Ibuku membuat keributan dengan merilis banyak artikel. Aku malas menemui wartawan," keluh Ron.


"Selamat Ron, kau bukan lagi pangeran cacat di dalam artikel.." sindir Thrisca.


"Kenapa? Kau masih kesal belum bisa mengubah julukanmu? Kau begitu ingin dipanggil putri cantik di artikel berita?"


"Sebentar lagi namaku pasti akan ikut terseret. Semua akan orang memanggil kita si tampan dan si buruk rupa," gumam Thrisca.


"Kau begitu mempedulikan berita-berita aneh itu?!"


"Tidak juga. Aku hanya khawatir orang-orang akan mendesakmu untuk mencari istri baru yang lebih cantik dan terpelajar," gerutu Thrisca kesal.


"Istri baru apanya?!"


Ron meraih tangan Thrisca dan menciumi tangan mulus itu bertubi-tubi.


"Kau ingin makan apa, Ron? Aku akan membuatkannya," tawar Thrisca.


"Sayang, bagaimana kalau kita ke dokter dulu." ajak Ron.


"Ke dokter?"


"Hanya untuk pemeriksaan kesehatan. Juga untuk mempersiapkan kehamilanmu,"


Thrisca berpikir sejenak sebelum menanggapi ajakan sang suami. Selama ini Thrisca belum pernah melakukan pemeriksaan apapun untuk organ dalam. Wanita itu agak cemas akan mendapatkan kabar buruk saat melakukan pemeriksaan nanti.


"Kenapa, Sayang? Kau tidak mau?"


"Bukan begitu, Ron. Aku hanya khawatir akan ada masalah nantinya," ujar Thrisca cemas.


"Hanya pemeriksaan biasa. Tidak perlu cemas,"


***


Thrisca terus menampakkan wajah murung begitu ia dan suaminya kembali dari rumah sakit.


Wanita itu tak henti-hentinya menghela nafas dan mendengus kesal setelah melihat hasil pemeriksaan.


"Tidak perlu dipikirkan. Dokter bilang kau perlu pemeriksaan lebih lanjut. Bisa saja hasilnya salah, kan?" hibur Ron seraya memeluk pinggang sang istri memasuki rumah.


"Selesaikan saja pekerjaanmu, Ron. Aku ingin beristirahat di kamar,"


Thrisca melepas tangan sang suami yang melingkar di pinggangnya dan berjalan lemas menuju kamar.


"Aku merasa baik-baik saja. Kenapa tiba-tiba aku ada masalah kesuburan? Hasil pemeriksaan itu pasti salah, kan?" gumam Thrisca pada dirinya sendiri.


Pasangan suami-istri itu menyambangi rumah sakit begitu mengantarkan Susan dan Elma ke stasiun.


Ron dan Thrisca melakukan pemeriksaan biasa di rumah sakit hanya untuk memastikan kesehatan fisik masing-masing.


Namun dari hasil pemeriksaan sekilas tersebut, diketahui terdapat sedikit masalah pada kesuburan Thrisca.


Meskipun bukan masalah serius dan memerlukan pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikan kembali, Thrisca tetap saja merasa cemas dan tidak tenang jika dirinya benar-benar dinyatakan memiliki masalah pada kesuburan yang akan mengakibatkan ia kesulitan memiliki keturunan.


"Sayang, sudah waktunya makan siang. Kau mau makan apa?" tawar Ron menghampiri sang istri yang masih mengurung diri di dalam kamar.


"Aku tidak lapar," jawab Thrisca malas.


"Ini yang kau bilang akan menjaga diri dengan baik?!" sindir Ron.


"Boleh aku makan di luar?"


"Tentu. Ganti pakaianmu,"


"Aku ingin makan sendiri, Ron. Boleh?" ijin Thrisca.


"Gendut, kau ini kenapa?! Jangan melampiaskan kekesalanmu padaku!"


"Aku ingin makan di luar. Boleh atau tidak? Kalau tidak boleh, ya sudah."


Thrisca beranjak dari ranjang dan duduk menjauh dari Ron.


"Baiklah, terserah kau saja!"


Ron keluar dari kamar dan membanting pintu dengan keras. Pria itu segera berlari mencari Han untuk memintanya menemani Thrisca menikmati makan siang di luar.


"Si gendut itu pasti akan mengajak Genta! Lebih baik aku menyuruh Han daripada membiarkan wanita itu pergi bersama pria penggoda seperti Genta," batin Ron merutuki sepupunya sendiri.


"Han, siapkan mobil untuk Nona!" perintah Ron pada Han yang masih sibuk bersama kertas-kertas di ruang kerja Ron.


"Baik, Bos."


Han langsung melesat menyiapkan mobil untuk menemani sang nyonya majikan menikmati makan siang.


Thrisca keluar dari kamar setelah wanita itu diseret paksa oleh suaminya. Ron menggendong paksa sang istri dan memasukkan wanita keras kepala itu ke dalam mobil yang akan dibawa oleh Han.


"Aku sudah menuruti kemauanmu! Makan yang banyak! Aku tidak mau melihat wajah cemberut itu lagi saat kau kembali nanti!" ujar Ron dengan galak.


Thrisca hanya melirik sang suami dengan wajah kesal. Wanita itu semakin muak dengan tingkah posesif Ron yang selalu saja melarang ini itu padanya.


"Hati-hati, Sayang.."


Ron mengecup kening sang istri dan mengusap lembut pipi wanitanya itu.


Mobil mulai melaju perlahan meninggalkan pekarangan kediaman Ron. Pria itu menatap mobil yang ditumpangi sang istri dengan tatapan tidak rela.


"Nona, ingin makan apa?" tawar Han.


"Mas Han, boleh aku turun disini?" tanya Thrisca.


"Nona, Bos bisa membunuhku jika ada lecet sedikit saja di tubuh Nona. Tolong ikuti keinginan Bos," tolak Han halus.


"Ron terlalu mendominasi.. benar, kan? Aku hanya semut kecil yang bisa diinjak Ron kapan saja." keluh Thrisca.


"Bos melakukan semua ini demi kebaikan Nona."


"Rasa khawatir Ron yang berlebihan padaku justru membuatku merasa semakin payah. Aku juga ingin menjadi wanita mandiri, tapi Ron sama sekali tidak memberiku ruang untuk mengembangkan diri."


Thrisca mulai berkeluh-kesah pada Han.


"Wanita mandiri memang memiliki daya tarik tersendiri, tapi seorang pria akan lebih senang jika wanitanya mau bergantung padanya dan mengandalkannya. Ini soal harga diri kami sebagai pria. Wanita yang terlalu mandiri terkadang juga membuat kami merasa tidak berguna."


"Tapi aku ingin ada hal yang bisa kulakukan sendiri. Aku juga ingin menunjukkan sesuatu yang bisa dibanggakan di depan Ron. Aku lelah terus menerus merasa berkecil hati di depan Ron,"


"Nona tidak perlu berkecil hati. Nona sudah memiliki kesan tersendiri di hati Bos." ujar Han.


"Bagaimana aku tidak merasa rendah diri? Ron berasal dari keluarga terpandang dan kalangan terpelajar. Dia tampan, mapan dan menawan. Sedangkan aku? Aku juga ingin Ron menganggapku menawan," rengek Thrisca.


"Nona, pendidikan tinggi memang bisa menaikkan derajat seseorang. Tapi tidak berpendidikan tinggi juga bukan suatu aib. Yang terpenting sekarang adalah kebahagiaan Nona dan Bos."


"Mas Han, mudah saja berkata seperti ini karena kau tidak berada di posisiku. Bersama dengan pria seperti Ron membuatku sedikit tertekan." tukas Thrisca.


***


Bersambung...