DEAR, MY RON

DEAR, MY RON
BAB 64



"Bibi, aku akan mengantarmu ke hotel dekat sini."


Thrisca menghampiri Susan yang tengah menidurkan Elma di ruang tamu.


"El sudah tidur?"


Thrisca nampak tidak tega melihat adik kecilnya sudah tertidur pulas di sofa.


"Dimana hotelnya? Bibi bisa berangkat sendiri,"


"Tapi El sudah tidur, Bi." ujar Thrisca mencoba mencegah Susan pergi membawa balita yang sudah terlelap.


"Sebentar, ya.."


Thrisca segera berlari menuju kamarnya untuk menghampiri sang suami.


"Sayang, mau kubuatkan teh?" tawar Thrisca pada Ron yang sibuk berguling-guling di kasur seraya memainkan ponsel.


"Kau mau teh? Aku saja yang buatkan,"


Ron bangkit dari ranjang dengan sigap dan bersiap bertolak ke dapur untuk membuatkan teh.


"Aku tidak ingin minum teh. Kalau kau tidak mau teh, apa mau kubuatkan camilan?" tawar Thrisca lagi.


"Kau mau camilan? Aku bisa memesankan untukmu sekarang. Kau ingin makan apa?"


Ron menarik tangan Thrisca dan mendudukkan wanita itu di pangkuannya.


Pria itu melihat ke layar ponsel dengan antusias dan menunjukkan banyak menu makanan pada istrinya.


"Aku menawarimu, Ron! Kenapa kau terus berbalik bertanya padaku?"


"Aku masih punya kaki dan tangan jika aku hanya ingin meminum secangkir teh. Aku juga bisa memesan makanan sendiri jika aku ingin camilan," cibir Ron.


"Ron memang tidak bisa diajak basa-basi," batin Thrisca frustasi.


Thrisca mengalungkan tangan di leher Ron dan melayangkan kecupan lembut di pipi suaminya.


"El sudah tidur. Bolehkah Bibi Susan menginap disini semalam?" bisik Thrisca meminta ijin pada sang suami.


"Wanita itu belum pergi juga?!"


"Ron, ini sudah malam. Kasihan El,"


"Jadi, kau menawarkan ini itu dan menciumku hanya agar aku mengijinkan wanita itu menginap?!" selidik Ron.


"Hanya untuk satu malam, kenapa kau pelit sekali?" protes Thrisca.


"Biar supir yang mengantar wanita itu ke hotel!"


"Ron, Elma sudah tertidur. Kau tidak kasihan jika tidurnya terganggu nanti? Biarkan El menginap, ya?" pinta Thrisca.


"Ayolah, Ron! Kenapa kau tega sekali pada anak kecil? Kau juga akan berperilaku seperti ini pada anak kita nanti?" bujuk Thrisca.


"Aku juga tidak terlalu peduli pada Bibi Susan, tapi Elma tetap adikku, Ron.." sambung Thrisca.


Ron masih diam, tidak menanggapi permintaan sang istri.


Thrisca mulai jengkel dengan sikap Ron yang masih mengabaikan ocehannya. Wanita itu mengusap lembut wajah sang suami dan melayangkan kecupan singkat di bibir pria garang itu.


"Masih tidak boleh juga? Ya sudah,"


Thrisca bangkit dari pangkuan Ron dengan wajah memelas.


"Dasar pria menyebalkan! Ingin sekali rasanya aku menjambak rambut pria itu!" batin Thrisca geram.


"Gendut, kau benar-benar licik! Biarkan bayinya saja yang menginap, carikan hotel untuk bibimu sana!" ujar Ron dengan jengkel.


"Hanya Elma yang menginap? Bagaimana kalau dia terbangun lalu mencari ibunya?"


"Pikirkan saja sendiri cara mengurus anak itu!"


Ron berbaring di ranjang dengan raut wajah kesal dan menarik selimut dengan kasar.


Thrisca segera kembali ke ruang tamu menemui Susan.


"Bibi, bagaimana kalau Elma menginap saja disini? Besok pagi-pagi sekali Bibi bisa kembali kesini. Aku akan menyuruh supir mencarikan hotel untuk Bibi," ujar Thrisca.


"Apa tidak merepotkan? Biarkan Elma ikut Bibi saja," tukas Susan.


"Pelit sekali! Hanya Elma yang diijinkan menginap dan aku tidak?!" protes Susan dalam hati.


"Biarkan El ikut denganku. El sangat menyukai Ron. Suamiku pasti bisa menenangkan Elma kalau dia terbangun nanti,"


"Kalau begitu Bibi titip Elma, ya?" ujar Susan dengan senyum palsu.


Wanita itu keluar dari istana Ron seorang diri meninggalkan sang putri tinggal bersama anak tirinya.


"Rumah Ron benar-benar besar dan megah. Kalau El bisa akrab dengan Thrisca, masalah keuanganku kedepannya bisa lebih mudah. Thrisca pasti akan memberikan berapapun untuk Elma." batin Susan girang.


Thrisca menggendong sang adik yang memejamkan mata, menuju kamar sang suami.


Istri Ron itu membuka pintu perlahan dan menidurkan gadis kecil itu di tengah-tengah ranjang besar kamar Ron.


Ron membuka selimut yang mengerubuti tubuhnya dan bersiap menarik tangan sang istri masuk ke dalam dekapannya. Namun sayangnya bukan istri cantiknya yang terbaring disampingnya, melainkan gadis kecil yang sudah terlelap pulas.


"Gendut, apa yang kau lakukan?! Kenapa kau membawa bayi ini kesini?!" omel Ron pada Thrisca.


"Lalu kau mau aku bagaimana? Membiarkan Elma tidur sendirian di kamar tamu?!" timpal Thrisca jengkel.


"Gendut! Kau ini benar-benar pintar membuatku kesal!"


"Kalau begitu aku dan Elma tidur di kamar tamu saja. Maaf, sudah mengganggu istirahatmu, Tuan Rumah!" sindir Thrisca.


"Kau mau kemana?!"


"Pergi mencari kamar yang cocok untuk pengungsi sepertiku!"


"Sayang, kau lebih memilih bocah kecil ini daripada aku?!" rengek Ron dengan wajah memelas.


"Aktingmu benar-benar buruk!" sindir Thrisca seraya menepis tangan Ron.


"Baiklah! Aku menyerah! Tidurlah disini, Sayang. Ini juga kamarmu,"


Ron menarik tangan Thrisca dan mendekap erat wanita yang jatuh dalam pelukannya itu.


"Ron, lepaskan! Aku tidak bisa bernafas!"


Thrisca segera menyingkir dari Ron dan berbaring di dekat Elma.


Wajah Ron semakin masam saat melihat sang istri yang merebahkan diri jauh darinya dan terhalang oleh anak kecil yang tertidur pulas di tengah-tengah pasangan suami-istri itu.


"Gendut, bisakah kau tidak tidur sejauh itu dariku?! Aku bahkan kesulitan memegang tanganmu!" protes Ron.


Thrisca mengulurkan tangannya di atas bantal dan mengusap-usap lembut rambut suaminya.


"Lihat! Tanganku masih bisa menjangkau rambutmu," tukas Thrisca.


Pria itu segera meraih tangan sang istri dan menempelkan tangan halus itu di wajahnya.


"Gendut, kau jahat sekali!" rengek Ron yang hanya bisa mengusap-usap tangan lembut sang istri tanpa bisa mendapat dekapan hangat dari wanita cantik itu.


Thrisca tersenyum tipis seraya menggelengkan kepala pelan melihat tingkah sang suami yang ingin bermanja padanya.


***


Elma terbangun dan menangis kencang saat melihat wajah asing yang terbaring di sampingnya.


Hari masih menunjukkan pukul tiga dinihari, namun Ron dan Thrisca sudah dikejutkan dengan alarm alami dari tangisan bocah yang tidur bersama mereka.


"Ron, tolong bantu aku!"


Thrisca memaksakan diri membuka mata dan menepuk-nepuk punggung Elma untuk kembali menidurkan gadis kecil itu.


"Ron, tolong tenangkan Elma,"


Wanita itu mengguncangkan badan sang suami, namun Ron tidak juga bereaksi.


Pria itu cukup terganggu dengan tangisan Elma, tapi ia terlalu berat untuk membuka mata.


Thrisca bangkit dari ranjang dan menggendong Elma untuk menenangkan gadis kecil itu. Sayangnya, tangisan balita itu tidak semakin mereda, namun justru semakin kencang dan berisik.


"El, tidur lagi ya? Ini kakak Icha, El. Jangan menangis, ya?"


Ron bangun dengan kepala pening dan segera merebut Elma dari gendongan sang istri.


"El, tidur ya? Cup, cup.."


Ron menggendong bocah kecil itu seraya mengusap-usap punggung Elma dengan lembut.


Ron berjalan kesana-kemari membawa Elma berkeliling kamar hingga tangisan gadis kecil itu mulai mereda dan balita itu terlelap kembali.


Thrisca tidak bisa menahan rasa harunya saat melihat sang suami yang begitu sabar menghadapi anak kecil.


"Pantas saja Ron sudah menuntut anak dariku. Sepertinya Ron sudah tidak sabar memiliki anak." batin Thrisca.


Ron segera menidurkan Elma kembali setelah gadis kecil itu memejamkan mata lagi. Pria itu duduk sejenak di tepi ranjang untuk melepas penatnya setelah berjalan kesana-kemari menggendong balita rewel itu.


Thrisca berjalan menghampiri sang suami dan duduk disamping Ron.


"Sudah hampir jam empat. Kau mau tidur lagi? Atau aku buatkan kopi?" tawar Thrisca.


"Kau mau kopi?" tanya Ron balik.


"Sayang, aku menawarimu. Biarkan aku melakukan sesuatu untukmu."


"Mana bisa begitu?! Aku yang akan melayani istriku. Kau tinggal duduk manis dan katakan padaku semua keinginanmu,"


"Ron, kau berlebihan sekali.."


"Ternyata mengurus anak tidur saja sangat melelahkan,"


"Kenapa? Kau ingin menunda untuk memiliki anak?" tanya Thrisca.


"Mana mungkin! Itu keinginanmu, kan? Kau masih ingin menunda kehamilanmu agar kau bisa mengurus gelarmu itu, kan?!" tuduh Ron pada sang istri.


"Ron, kenapa kau selalu saja berburuk sangka padaku? Meskipun aku melanjutkan pendidikanku, aku akan tetap mengutamakan anak kita." ungkap Thrisca seraya menggenggam erat tangan sang suami.


"Gendut, aku akan membantumu mengurus anak kita nanti." ujar Ron mengecup tangan sang istri.


Pria itu beralih ke bibir istrinya dan semakin turun ke leher jenjang Thrisca. Ron mulai menarik pakaian sang istri dan mengecupi tubuh bagian atas wanita itu hingga meninggalkan banyak tanda.


Ron semakin agresif mengecupi buah segar sang istri seraya menjelajahi tubuh wanita yang sudah bertelanjang dada itu.


"Ron, ada Elma disini. Nanti dia terbangun lagi," ujar Thrisca seraya mendorong kepala sang suami yang masih menempel di tubuhnya.


"Kalau begitu di sofa saja,"


Ron mengangkat tubuh langsing istrinya dan membaringkan wanita itu di sofa yang tak jauh dari ranjangnya.


"Ron, apa kau tidak lelah?!" protes Thrisca seraya mencubiti pipi suaminya.


"Mana mungkin aku menolak dilayani wanita cantik sepertimu," ujar Ron seraya bersiap kembali menerkam sang istri.


***


Bersambung..