
Pagi hari, Ron dan Thrisca masih bersembunyi di balik selimut menikmati "jatah pagi" di hotel mewah yang mereka tempati.
Ron nampak masih bersemangat menanam benih tanpa menghiraukan tubuh sang istri yang mulai kelelahan.
"Ron, pinggangku bisa copot!" rengek Thrisca seraya menahan desahann. Wanita yang sudah bermandikan keringat itu tak sanggup lagi melayani hasrat besar pria kurang belaian seperti Ron.
"Ayo main sekali lagi.." ajak Ron seraya menikmati leher jenjang sang istri dengan kecupan dan gigitan.
"Nanti lagi, Ron! Banyak hal yang harus kita urus hari ini.."
Thrisca mendorong pelan tubuh Ron yang masih mengungkungnya.
"Ayo sekali lagi.." rengek Ron bak bayi yang masih ingin memainkan mainannya.
"Astaga! Kau ini!"
Thrisca mencubit lengan sang suami seraya melayangkan kecupan ke bibir pria yang merajuk itu.
Mendapat lampu hijau dari sang istri, Ron kembali bersemangat kembali menancapkan bendera ke lembah surga yang sudah beberapa minggu ini tak terjamah olehnya.
Benih-benih cinta pria tampan itu kembali mengisi dinding rahim sang istri yang sudah kosong selama beberapa minggu.
"Sudah, Ron. Aku ingin mandi.."
Thrisca menyingkirkan kepala sang suami yang masih menautkan bibir di dadanya.
Wanita itu mengecup singkat pipi sang suami dan mengakhiri malam penuh gairah yang panjang.
"Sini kubantu.." ujar Ron seraya membopong tubuh polos sang istri menuju kamar mandi.
"Ron, kau pandai sekali memanfaatkan kesempatan.." sindir Thrisca seraya mengacak-acak rambut suaminya.
Selesai bersih-bersih, pasangan suami-istri itu kembali berguling di ranjang dan bermalas-malasan di pagi yang cerah.
"Kau mau makan apa, Sayang?" tawar Ron seraya berbaring di samping Thrisca yang tengah berguling-guling di kasur.
"Aku belum lapar.." jawab Thrisca datar.
"Jangan begitu, Sayang! Aku pesankan sekarang, ya?" bujuk Ron.
"Ron, kau bilang kau akan mengurusnya.. kapan aku bisa mengambil barang ayahku?" tanya Thrisca takut-takut.
"Setelah kau sarapan, kita akan ke rumah ayahmu. Aku sudah menyuruh orang untuk membersihkan rumah ayahmu." ujar Ron santai.
"Aku juga harus memeriksa pabrik ayahku,"
"Em, soal itu biar aku saja yang mengurusnya. Kita pulang saja bagaimana?"
"Pulang bagaimana, Ron?! Rumah peninggalan ayahku sedang kacau balau! Aku juga tidak tahu bagaimana nasib pabrik ayahku! Aku juga belum mengembalikan uangmu, tapi Bibi Susan sudah terlanjur kabur.." ujar Thrisca lirih.
"Aku akan mengurus semuanya, Sayang. Semua barang ayahmu akan kukirim ke rumah kita. Bagaimana? Aku akan mengurus pabrik ayahmu di sini, tidak perlu cemas." bujuk Ron mencoba menenangkan sang istri.
"Sayang, bagaimana kau bisa cepat hamil lagi jika kau terlalu banyak pikiran seperti ini?" imbuh Ron seraya mengusap lembut rambut sang istri.
"Ron, aku--"
"Pesta pernikahan kita akan segera digelar sebentar lagi. Kau juga harus mempersiapkan kehamilanmu lagi. Fokus saja pada kesehatanmu. Aku akan mengurus semuanya," potong Ron.
"Ron, haruskah kita menggelar pesta lagi?"
"Tentu saja! Ini akan menjadi pesta pernikahan kita yang sebenarnya! Aku akan menjadikanmu pengantin yang paling bahagia.." ujar Ron seraya mengecup punggung tangan sang istri.
***
Genta duduk meringkuk di bawah meja kerja ruangannya seraya menatap kalender kecil yang ada di tangannya. Calon pengantin yang belum memiliki mempelai wanita itu nampak stress dan frustasi memikirkan siapa wanita yang akan digandengnya kelak menuju pelaminan.
"Pernikahanku tinggal beberapa minggu lagi. Minggu ini aku harus membawa calon istriku menemui nenek. Apa yang harus kukatakan pada nenek jika aku tidak memiliki mempelai wanita?!" gumam Genta frustasi.
Pria itu mengeluarkan wadah cincin yang ada di kantong jasnya. Genta selalu membawa cincin itu kemanapun dia pergi, berharap ia bisa bertemu beberapa gadis di jalan yang mau menerima cincin pemberiannya.
"Gen!"
Han membuka pintu ruangan Genta secara tiba-tiba hingga membuat sang pemilik ruangan terkejut dan terantuk meja.
"Aww!"
Genta keluar dari kolong meja seraya mengusap kepalanya yang terbentur.
"Apa yang kau lakukan di sana?! Kita sedang ada banyak pekerjaan! Kau urus semua pekerjaan kantor! Aku mendapat banyak pekerjaan dari Bos!"
"Memangnya ada apa dengan Ron?" tanya Genta.
Han mengalihkan pandangan dari Genta dan mencoba menyusun kalimat yang pas tanpa menyakiti hati Genta. Asisten Ron itu tidak mungkin mengatakan pada Genta kalau saat ini ia tengah mengejar Berlin, ibu dari Genta, karena kecelakaan yang dialami oleh Thrisca.
"Em, ada banyak urusan di luar perusahaan." jawab Han singkat.
Pria itu segera melarikan diri sebelum gelagat anehnya ketahuan oleh Genta.
"Enak sekali dia melimpahkan semua pekerjaan padaku?!" omel Genta seraya mengacak-acak berkas yang ada di mejanya.
"Baguslah kalau ada semakin banyak pekerjaan, jadi aku bisa memiliki banyak alasan untuk bisa bertemu Nadine." ujar Genta seraya mengambil ponselnya untuk menghubungi Nadine.
Nadine yang baru saja mengangkat telepon dari Genta, tak bisa berhenti tersenyum dan terus menampakkan wajah girangnya di depan semua orang.
Wanita itu segera mengambil berkas di mejanya dan berlari dengan semangat menuju ruangan Genta.
"Nadine!" panggil Han dari kejauhan.
Kepala Nadine yang sudah penuh dengan bayang-bayang wajah Genta, tak lagi menggubris panggilan Han yang beberapa kali berteriak menyebut namanya dari jauh.
"Apa wanita itu tuli?!" gumam Han geram.
"Cherry!"
Han pun beralih pada Cherry yang berdiri tak jauh darinya. Pria itu berlari kecil menghampiri Cherry dan mengajak wanita itu berbincang di ruangannya.
"Tolong periksa berkas-berkas ini dan cetak semua laporan yang ada di diska ini." titah Han seraya menyerahkan tumpukan berkas yang menggunung serta beberapa diska pada Cherry.
"Banyak sekali.." batin Cherry lemas.
"Minta bantuan Nadine kalau kau kesulitan menyelesaikannya hari ini," saran Han.
"Em, Nadine sepertinya juga sedang sibuk sendiri mengurus pekerjaan dengan Pak Gen." jawab Cherry takut-takut.
"Benarkah? Jadi, Nadine tadi terburu-buru karena Gen?" selidik Han.
"Hm? Terburu-buru?"
"Kau tidak lihat tadi?! Temanmu berlari kegirangan keluar dari ruangan kalian?! Aku sudah berteriak memanggil namanya, tapi Nadine mengabaikanku!" omel Han.
"Kenapa orang ini mengomel padaku?!" batin Cherry kesal.
"Wanita itu benar-benar! Apa temanmu tidak tahu kalau Gen akan segera menikah?! Kenapa beberapa hari ini dia terlihat menempel sekali dengan Gen?! Sejak kapan memangnya mereka akrab?" cecar Han.
"I-itu--"
"Aku bahkan bekerja seperti orang gila selama beberapa hari ini mencari orang hilang, tapi apa yang dilakukan Gen?! Pria itu malah sibuk tebar pesona pada wanita lain disaat hari pernikahannya yang sudah semakin dekat!" gerutu Han lagi.
"Kau tahu tidak, aku sudah seperti petugas pos orang hilang! Aku harus mencari Lilian, Aku harus mencari Susan, aku harus mencari Nyonya Berlin! Memangnya Ron pikir aku itu apa?! Aku tidak punya mesin pencari orang, tapi kenapa bos terus menyuruhku mencari orang hilang?!" curhat Han seraya mengguncang-guncangkan bahu Cherry dengan kencang.
"P-pak, tenang--"
"Nadine juga mulai membuatku pusing! Ada apa dengan wanita itu?! Beritahu pada temanmu kalau Gen akan menikah! Jangan berharap lagi pada pria payah itu! Masih ada banyak pria lajang di sini, kenapa dia masih saja mengejar pria yang sudah memiliki calon istri?!" racau Han semakin kacau.
***
Bersambung...