DEAR, MY RON

DEAR, MY RON
BAB 21



Ron mengemudikan mobilnya dengan santai seraya mencari pusat perbelanjaan yang terpencil dan jauh dari rumah.


Sementara Thrisca duduk di samping Ron dengan pikiran berkecamuk.


"Ron tidak akan melakukan hal itu lagi kan? Tenang saja. Aku sedang datang bulan. Ron tidak akan macam-macam sampai beberapa hari ke depan." ujar Thrisca dalam hati mencoba menenangkan diri.


"Apa yang ingin kau beli?"


Ron melirik ke arah istrinya yang tengah gelisah.


"Bagaimana dengan ikan?" tawar Thrisca.


"Hanya itu?"


"Emm.. apa saja makanan yang kau suka?" tanya Thrisca dengan penasaran.


Ron tidak bisa menyembunyikan wajah senangnya saat sang istri menanyakan makanan kesukaannya.


"Apapun yang kau masak, aku akan menyukainya.." ujar Ron sambil melempar senyum manis ke arah istrinya.


"Apa-apaan pria labil itu? Tiba-tiba tersenyum semanis itu ke arahku," batin Thrisca. Gadis itu segera memalingkan wajahnya untuk menyembunyikan wajah malunya.


"Kau sudah tidak marah?" tanya Thrisca.


"Aku tidak benar-benar marah. Aku hanya kesal saja kau melarangku untuk menyentuh istriku sendiri," ujar Ron dengan wajah cemberut.


"Aku tidak bermaksud begitu. Aku tidak akan berkata seperti itu lagi," ujar Thrisca penuh sesal.


"Tidak apa. Aku seharusnya bertanya dulu padamu sebelum melakukan hal itu di dalam mobil tadi pagi. Kalau aku tahu ini adalah pengalaman pertamamu, aku pasti lebih berhati-hati dan tidak akan membuatmu takut. Maafkan aku,"


Ron menggenggam erat tangan sang istri.


"Apa kau bersikap semanis ini pada semua gadis?"


"Apa?"


"Dari luar kau terlihat dingin dan sulit didekati. Tapi setelah mengenalmu, ternyata kau sangat perhatian dan juga pengertian. Aku sangat tersanjung bisa selalu mendapat permintaan maaf darimu,"


Thrisca mengusap tangan suaminya dengan lembut.


Ron menarik tangan istrinya dan mencium tangan gadis itu bertubi-tubi.


"Aku benar-benar merasa seperti pasangan suami-istri sungguhan denganmu," ujar Thrisca dengan tawa kecil.


"Bukan hanya seperti. Kita memang pasangan suami-istri, gendut.."


"Kalau saja aku bisa menghentikan waktu, aku ingin selalu seperti ini. Meskipun Ron tidak pernah benar-benar menaruh hati padaku, tapi kenangan kecil seperti ini sudah cukup membuatku bahagia.." batin Thrisca.


"Hari ini saja. Hanya hari ini, aku ingin melupakan segalanya dan menikmati peranku sebagai istri Ron." ujar gadis itu dalam hati.


***


Ron berkeliling mengikuti istrinya seraya membawa keranjang belanja. Wajah pria itu nampak bosan terus berjalan kesana-kemari sambil membawa keranjang belanja. Terlebih lagi melihat sang istri yang menghabiskan waktu begitu lama hanya untuk memilih satu jenis bahan makanan.


"Bisakah lebih cepat memilihnya? Untuk apa diteliti satu persatu?! Bukankah bentuk semua kentang sama saja?!" ujar Ron kesal.


"Maaf, kau tunggu di mobil saja kalau kau lelah. Kemarikan keranjangnya,"


Thrisca mencoba merebut keranjang belanjaannya namun Ron dengan gesit menghindar dari tangan sang istri.


"Biar aku saja! Aku tidak ingin kau mencari pria lain untuk menemanimu berbelanja! Aku juga bisa menemanimu berbelanja!" ujar Ron dengan berapi-api.


"Sepertinya terlalu banyak marah membuat Ron semakin tertekan," ujar Thrisca dalam hati seraya menggelengkan kepalanya menatap tingkah aneh sang suami.


"Tuan, mau buah?" tawar Thrisca.


"Cicipilah jeruknya. Semuanya manis. Ini ambilkan untuk suamimu,"


Pedagang buah menyodorkan beberapa jeruk pada Thrisca.


Gadis itu mengupaskan buah untuk suaminya dan menyodorkan jeruk manis itu pada pria tampan di sampingnya.


"Tanganku penuh. Suapi aku!"


Ron membuka mulut lebar-lebar dan menanti suapan dari istrinya.


Thrisca menyuapi Ron dengan canggung. Pedagang buah itu menatap Ron dan Thrisca dengan wajah iri.


"Kalian pasti pengantin baru! Benar-benar membuat orang iri," puji pedagang buah.


Mendengar perkataan pedagang buah, Ron langsung memborong semua jeruk yang ada di kios tersebut.


"Tuan, untuk apa membeli jeruk begitu banyak?" bisik Thrisca.


"Tentu saja untuk dimakan. Aku masih ingin disuapi jeruk olehmu,"


"Kau sangat beruntung! Suamimu sangat tampan, kaya dan baik hati." puji pedagang buah itu lagi.


"Terimakasih, aku memang beruntung.." jawab Thrisca dengan senyuman manis.


Ron yang mendengar jawaban istrinya, langsung menyembunyikan wajahnya yang tersipu. Pria garang itu sebenarnya sangat mudah dibujuk dan gampang termakan pujian.


Ron sibuk menyimpan seluruh kantong belanja di mobil sementara Thrisca sibuk memeriksa struk belanja.


"Sudah? Ada yang ingin kau beli lagi?" tanya Ron.


"Sudah," jawab Thrisca dengan senyuman manis.


"Apa kau selalu bersikap semanis ini pada semua pria?" tanya Ron pada sang istri.


"Apa?"


"Kau terlihat cantik.. aku tidak ingin kau tersenyum seperti ini pada pria lain," ujar Ron seraya membukakan pintu mobil untuk istri cantiknya.


***


"Butuh bantuan?" tanya Ron pada Thrisca.


"Kau hanya akan menggangguku, duduk saja di meja makan.."


Thrisca mengatakan hal menyakitkan itu disertai senyuman manis yang membuat Ron terpesona.


"Baiklah. Aku bisa membantu menyiapkan meja," ujar Ron tetap memaksa membantu.


"Terimakasih, sayang.." ucap Thrisca dengan suara lembut nan merdu.


Jantung Ron bergedup kencang saat mendengar panggilan sayang keluar dari mulut sang istri.


Ron mengelap piring dan sendok sambil tersenyum-senyum sendiri. Sementara itu, para pelayan rumah Ron hanya bisa melihat dari jauh pemandangan yang menyuguhkan kebahagiaan sang majikan bersama sang istri.


Pelayan-pelayan itu ingin sekali mendekat dan mengambil alih pekerjaan sang majikan. Namun melihat keduanya yang nampak senang dengan kesibukan masing-masing, para pelayan itu tidak tega jika harus mengganggu waktu bahagia Ron bersama istrinya.


"Tuan Muda benar-benar manis saat tersenyum.." puji seorang pelayan.


"Mereka berdua tampak serasi. Nyonya juga wanita yang rajin dan pandai mengurus suami," puji pelayan lain.


Beberapa menit kemudian, makan siang buatan Thrisca siap untuk dinikmati sang suami. Gadis itu mengambil banyak buah jeruk yang dibeli Ron tadi dan membagi-bagikannya pada pelayan rumah.


"Gendut, kau kemanakan jeruk-jeruk itu?!" protes Ron pada Thrisca.


"Tuan, jeruknya sangat banyak. Kau tidak akan bisa menghabiskannya sendirian. Aku hanya membaginya sedikit pada pelayan," bela Thrisca.


"Sisakan yang banyak untukku! Aku masih ingin makan jeruk!"


Ron merengek seperti anak kecil pada Thrisca hanya karena masalah jeruk.


"Aku akan mengupaskan untukmu setelah makan siang nanti," ujar Thrisca.


Belum sempat Ron menyantap makan siangnya, Han datang menghampiri sang bos dengan kabar buruk.


"Bos, Nona Lilian pingsan di rumah pagi ini. Sekarang keadaannya kritis di rumah sakit."


Han terpaksa menghancurkan acara makan siang Ron karena Ibu Ron terus mendesak Han untuk menghubungi Ron.


Ron segera bangkit dari kursinya dan mengambil jaket. Han dengan sigap menyiapkan kursi roda dan bersiap untuk mengantar majikannya.


"Gendut, aku pergi dulu. Habiskan makan siangmu, aku akan segera kembali."


Ron mengusap rambut sang istri kemudian berlalu bersama Han menuju rumah sakit.


"Waktu kencan sudah habis. Sekarang waktunya bangun dari mimpi indah ini," gumam Thrisca pelan.


***


Thrisca menanti Ron hingga gadis itu tertidur di sofa ruang tamu. Hari sudah gelap dan pelayan tidak berani membangunkan Thrisca untuk menyuruh gadis itu pindah ke kamar.


"Sudah jam sepuluh. Sepertinya Ron tidak akan pulang," ujar Thrisca dengan lesu.


Gadis itu berjalan di sekitar ruang tamu dan melihat-lihat foto masa kecil Ron. Sejak kecil, pria itu sudah terlihat tampan dan bertingkah seperti bos.


Di deretan foto tersebut, terdapat foto Ron bersama seorang pria. Pria itu nampak lebih tinggi dan lebih dewasa dari Ron.


"Ini siapa? Tidak mungkin ayah Ron kan? Terlalu muda. Mungkin sepupu?"


Tepat setelah Thrisca meletakkan foto itu, tiba-tiba suara mesin mobil masuk ke area rumah Ron.


Thrisca mengintip dari jendela dan tidak mengenali mobil asing tersebut.


"Bukan mobil Ron. Siapa itu? Tidak mungkin keluarganya Ron kan?"


Thrisca berlarian dengan panik masuk ke kamar Ron.


Gadis itu segera menyamar menjadi Thrisca gendut untuk menyambut tamu yang datang malam-malam ke rumah sang suami.


"Semoga saja itu bukan ibunya Ron.." ujar Thrisca dengan cemas.


Thrisca keluar dari kamar Ron dengan gugup. Dilihatnya sang tamu sudah membuka pintu dan masuk ke dalam rumah.


"Siapa kau?"


Seorang pria muncul dari belakang Thrisca dan menatap gadis gembul itu dengan tatapan dingin.


Thrisca menoleh dan mendapati sesosok pria muda berbadan besar nan tinggi menatapnya dengan sorot mata tajam.


"Tuan tidak ada di rumah, ada yang bisa aku bantu?" ujar Thrisca dengan takut-takut.


"Kemana Ron pergi?"


"Tuan pergi ke rumah sakit."


"Siapa yang sakit?"


"Itu.. silahkan bertanya pada Tuan sendiri." ujar Thrisca tidak ingin membahas kekasih suaminya.


"Kau siapa? Pelayan baru?" tanya pria bernama Genta itu.


"Itu.. aku akan menyiapkan kamar tamu."


Thrisca mencoba mengalihkan pembicaraan dan bergegas menuju salah satu ruang tamu kamar Ron.


"Sejak kapan Ron punya pelayan berpenampilan aneh itu?" gumam Genta seraya menatap Thrisca yang semakin menjauh.


***


Bersambung..