DEAR, MY RON

DEAR, MY RON
BAB 108



Thrisca menatap keluar jendela mobil dengan wajah muram. Nyonya Aswinda yang duduk di sampingnya, hanya bisa tersenyum tipis melihat cucu menantunya yang tengah galau karena dipisahkan dari sang suami.


"Kau marah pada nenek?" tanya Nyonya Aswinda memecah keheningan.


Thrisca segera mengubah ekspresi wajahnya begitu nenek dari suaminya mengajaknya berbincang selama perjalanan menuju kediaman Nyonya Aswinda.


"Tidak, Nek." jawab Thrisca sesopan mungkin.


"Maaf untuk pertemuan pertama yang kurang menyenangkan.."


"Tidak perlu meminta maaf, Nek. Kami yang bersalah. Seharusnya aku dan Ron menjaga cincin nenek dengan baik." ujar Thrisca.


"Kau tidak kesal nenek sudah menculikmu?" tanya Nyonya Aswinda.


"Nenek tidak akan menyakitiku, kenapa aku harus kesal?" jawab Thrisca seraya tersenyum manis pada Nyonya Aswinda.


"Kau benar-benar cantik.. persis seperti ibumu,"


Thrisca membulatkan mata lebar-lebar begitu mendengar kata "ibu" meluncur dari mulut Nyonya Aswinda.


"Ibuku? Nenek tahu siapa ibuku?" tanya Thrisca penuh hati-hati.


"Nenek sudah menyiapkan hadiah ulang tahun untukmu. Dan hadiah itu tersimpan di cincin pernikahan yang kau pakai saat upacara pernikahanmu dengan Ron dulu."


"Hadiah?" tanya Thrisca bingung.


"Nenek tidak akan semarah ini jika cincin itu hanya logam emas biasa. Di dalam cincin itu, ada banyak kenangan yang nenek wariskan padamu dan juga Ron." terang Nyonya Aswinda.


"Maaf, Nek. Aku dan Ron sudah ceroboh," sesal Thrisca.


"Kau tidak ingat kapan terakhir kau menyimpan cincin itu?"


"Ron memberikan cincin baru untukku, Nek. Saat itu Ron yang melepas cincin pernikahan kami dan menggantinya dengan cincin yang sudah dia siapkan. Aku tidak tahu dimana Ron meletakkan cincin itu," ungkap Thrisca.


"Untuk beberapa hari ke depan, kau mau tinggal bersama nenek, kan?"


"Bagaimana dengan Ron?" tanya Thrisca cemas.


"Untuk apa kau mengkhawatirkan bocah angkuh itu?! Ron tidak memiliki ketakutan dan kekhawatiran apapun dalam hidupnya. Nenek ingin tahu, seberapa besar kau bisa mengacaukan bocah menyebalkan itu.." ujar Nyonya Aswinda seraya tersenyum licik.


Nenek tujuh puluh tahun itu benar-benar berniat mengerjai sang cucu yang sudah seenaknya membuang cincin berharga pemberiannya.


***


"Gen! Han! Cepat telusuri seluruh rumahku untuk mencari benda jelek milik nenek tua itu!" teriak Ron kalang kabut pada sepupu dan juga asistennya.


Pria itu segera mengusir semua orang dari rumahnya dan mulai fokus mencari benda yang diinginkan oleh sang nenek.


"Kakek tua! Bilang pada istrimu itu, besok aku akan membawa polisi ke rumahnya kalau wanita tua itu tidak mengembalikan istriku!" ujar Ron pada Tuan Hasan yang masih duduk santai di rumah cucunya itu.


Tuan Hasan benar-benar menikmati wajah panik sang cucu yang berlarian kesana-kemari dengan kelimpungan demi mencari sebuah cincin. Pria tua itu nampak terhibur senang hanya dengan melihat penderitaan dari sang cucu.


"Ron, aku lelah! Biarkan aku beristirahat," ujar Genta lemas.


"Jangan berhenti! Aku harus membawa istriku pulang malam ini juga!" pekik Ron seraya menarik-narik tangan Genta agar sepupunya itu terus membantu mencari benda yang ia butuhkan.


"Bi Inah!"


Kini giliran Ron yang berteriak pada seluruh pelayan rumahnya untuk membantu mencari cincinnya.


"Tidak ada yang boleh beristirahat sebelum cincinnya ketemu!" bentak Ron pada seluruh pelayan di rumahnya.


"Han, kau tidak pernah kepikiran untuk meracuni bosmu?! Beri saja racun tikus pada minumannya jika dia menyuruhmu membuatkan kopi," bisik Genta pada Han.


"Aku tidak ingin menjadi pengangguran.." jawab Han lirih.


"Kau payah sekali!"


Genta memukul belakang kepala Han dengan keras.


"Kakek tua, dimana kau memesan cincin itu?! Aku akan membuatkan yang sama persis," ujar Ron pada Tuan Hasan.


"Itu cincin lama, Ron. Cincin murah dari hasil tabunganku selama dua tahun. Cincin yang kudapatkan saat aku masih miskin. Kau tidak akan menemukan cincin seperti itu dimanapun, karena aku sendiri yang membuatnya bersama dengan kakek dari istrimu." terang Tuan Hasan.


"Kalau begitu kau buat saja lagi untuk istrimu! Kau bisa membayar desainer terkenal untuk membuat satu cincin klasik. Itu bukan hal sulit, kan?!"


"Ron, kau pikir kenapa nenekmu begitu menginginkan cincin itu?" tanya Tuan Hasan.


"Kenapa memangnya?!" balas Ron tak peduli.


"Cincin itu pasti sangat bernilai untuk nenekmu."


"Dasar cincin sial! Dimana aku meletakkan benda itu?!" ujar Ron seraya menjambak rambutnya sendiri. Pria itu nampak frustasi mengingat-ingat dimana ia menyimpan benda kecil itu.


Setelah berjam-jam mencari ke seluruh sudut rumah, Ron akhirnya menyerah dan berencana melanjutkan pencarian esok hari.


Hari sudah larut dan kediaman Ron berangsur-angsur sunyi. Han dan Tuan Hasan sudah berlalu meninggalkan rumah Ron. Genta sudah terlelap di kursi ruang tamu. Para pelayan sudah selesai membereskan ruang tamu dari seluruh balon dan hiasan dinding.


Ron duduk di lantai ruang tamu rumahnya seraya menatap foto sang istri yang tersimpan di ponselnya. Ingin sekali wanita itu menghubungi sang istri, namun ia takut mengganggu istirahat wanita yang tengah berbadan dua itu.


Pria beristri itu nampak gundah gulana nan merana ditinggal pergi oleh sang istri. Ron benar-benar tidak rela dirinya dijauhkan dari istri kesayangannya. Wajah pria itu makin pilu saat ia hanya bisa melihat rupa cantik istrinya di dalam layar.


***


Nyonya Aswinda masuk ke kamar Thrisca dan melihat cucu menantunya yang melamun tengah malam seraya menatap keluar jendela kamar.


"Ehm, aku belum mengantuk." jawab Thrisca asal.


"Kau tidak bisa tidur tanpa suamimu?" goda Nyonya Aswinda.


"B-bukan seperti itu!" jawab Thrisca agak panik.


"Kau tidak nyaman di kamar ini? Nenek bisa mencarikan kamar lain," tawar Nyonya Aswinda.


"Tidak, Nek. Kamar ini sangat luas dan bagus. Sangat nyaman," ujar Thrisca.


"Rumah ini nampak sepi, kan? Pasti tidak seramai rumah Ron,"


"Kupikir nenek tinggal di rumah kakek.."


"Nenek lebih suka tempat ini. Sangat tenang dan sejuk. Nenek tidak suka rumah kakekmu. Terlalu dekat dengan pusat kota." ungkap Nyonya Aswinda.


"Nenek, soal ibuku tadi.. apa maksud nenek?" tanya Thrisca penasaran.


Nyonya Aswinda melempar senyum tipis seraya menarik tangan cucu menantunya dan mendudukkan wanita itu di ranjang.


"Kau pasti bingung dengan kemunculan nenek yang tiba-tiba ini," ujar Nyonya Aswinda.


"Nenek selama ini tinggal di luar negeri. Nenek masih aktif mengurus banyak cabang bisnis di luar, sampai akhirnya nenek lupa menjaga kesehatan tubuh. Selama satu tahun terakhir, nenek menjalani pengobatan di luar negeri." imbuh Nyonya Aswinda.


"Nenek sakit?"


"Maaf, Nenek tidak sempat hadir di pernikahanmu dan Ron. Karena itu nenek menitipkan cincin pernikahan nenek agar digunakan olehmu." terang nenek Ron itu.


"Ada hal yang ingin nenek tunjukkan padamu. Nenek akan memberitahumu saat cincin itu sudah ditemukan kembali," imbuhnya.


"Nenek.. tahu mengenai aku dan Ron yang--"


"Ron yang berpura-pura lumpuh? Kau yang berpura-pura gendut?" ejek Nyonya Aswinda.


Thrisca hanya bisa menunjukkan cengiran kuda mendengar sindiran dari nenek suaminya itu.


"Ron sudah tampil tanpa kursi roda. Kau belum mau menunjukkan wajahmu ke publik?" tanya Nyonya Aswinda.


"Ron bilang dia ingin aku muncul saat pernikahan kami.."


"Nenek akan umumkan kehamilanmu. Tidak perlu menunggu sampai pesta pernikahan kalian," ujar Nyonya Aswinda.


"Minggu depan ada acara pertunangan dari keluarga relasi bisnis ayahmu. Kau bisa datang menemani Ron ke acara itu." usul Nyonya Aswinda.


"Apa tidak apa-apa, Nek? Ibu pernah melarangku untuk ikut acara seperti itu."


"Ini bukan acara bisnis. Hanya acara pertunangan relasi saja, tidak perlu cemas."


"Tapi, ibu bilang--"


"Daisy khawatir kau tidak akan bisa mengikuti perbincangan wanita di sana dan berakhir menjadi nyonya yang dipermalukan?"


Thrisca menundukkan kepalanya seraya mengangguk pelan. Wanita itu nampak kesal pada dirinya sendiri yang tidak terlahir menjadi wanita keren yang terpelajar.


"Nenek juga akan hadir di acara itu. Anggap saja sebagai pelatihan sebelum kau hadir menemani Ron di acara yang lain," ujar Nyonya Aswinda penuh wibawa.


"Apa aku tidak akan membuat malu?" tanya Thrisca ragu-ragu.


"Thrisca, kau benar-benar mirip nenek saat muda!" ucap Nyonya Aswinda seraya mengusap rambut cucu menantunya dengan lembut.


"Nenek juga bukan wanita karir saat muda. Nenek juga bukan wanita terpelajar. Saat itu nenek juga bingung ketika pertama kali menemani kakekmu datang ke acara formal yang penuh dengan pejabat dan pengusaha," ungkap Nyonya Aswinda mulai bercerita.


"Banyak nyonya pejabat yang mencibir dan menyindir nenek di acara itu. Nenek benar-benar merasa seperti orang udik yang diasingkan. Terlebih lagi, saat itu nenek belum pandai berias dan hanya memakai pakaian sederhana." imbuh Nyonya Aswinda bernostalgia.


"Lalu bagaimana cara nenek mengatasi hal itu?"


"Mengatasi? Mengatasi apa? Hal itu sama sekali bukan masalah bagi nenek, jadi nenek tidak perlu mengatasi apapun. Nenek hanya perlu menunjukkan kalau nenek juga pantas menjadi nyonya keluarga terpandang seperti mereka. Nenek memilih untuk membangun karir dan membantu mendongkrak reputasi kakekmu dengan bisnis yang nenek jalankan. Meskipun hanya bisnis kecil, tapi wanita mandiri yang bisa berdiri sendiri benar-benar sudah menjadi prestasi besar bagi para istri."


"Itu dulu, sekarang bisnis nenek sudah sangat besar, kan?" ujar Thrisca iri.


"Masih usaha kecil. Hanya kegiatan kecil untuk ibu rumah tangga," jawab Nyonya Aswinda merendah.


"Nenek senang Daisy ikut mendukungmu. Untuk acara besok, nenek akan berbicara pada Daisy." tambah nenek berusia tujuh puluh tahun itu.


"Nenek dan ibu benar-benar keren. Aku tidak tahu apa aku memiliki bakat untuk membangun karir,"


"Nenek akan memilihkan satu yang cocok untukmu. Atau kau mempunyai keinginan yang ingin kau capai? Katakan saja. Nenek akan mendukung apapun keputusanmu,"


"Aku tidak cukup percaya diri bisa meraih cita-citaku. Aku hanya ingin menghadapi kenyataan."


"Thrisca, kau bisa mencobanya. Tidak masalah jika kau gagal, kau bisa mencoba lagi. Jika kau lelah, kau bisa beristirahat sejenak. Nenek hanya ingin keluarga Diez diisi oleh wanita-wanita yang bersemangat meraih mimpinya."


"Meraih mimpi? Aku tidak punya hal semacam itu," ujar Thrisca dengan senyuman kecut.


"Saat ini impianku hanyalah membangun keluarga kecil yang harmonis bersama Ron. Satu-satunya impianku hanyalah bisa mempertahankan posisiku sebagai istri pertama dan terakhir dari Ron." imbuh Thrisca lirih.


***


Bersambung...