
Pagi hari Thrisca membuka mata dan mendapati sang suami yang tertidur lelap di sofa. Gadis itu menatap Ron dengan wajah bingung dan kecewa karena merasa dihindari oleh suaminya.
"Kenapa Ron tidur disini?" gumam Thrisca dengan wajah murung.
"Apa dia baru saja kembali dari kencannya dengan Lilian? Setelah melihat wajah cantik Lilian, Ron pasti merasa muak melihatku." oceh Thrisca dengan wajah cemberut.
"Mungkin aku harus mengumpulkan uang untuk operasi plastik," gumam gadis itu lemas seraya berjalan ke kamar mandi.
Keluar dari kamar mandi, Ron sudah berdiri tepat di pintu dengan wajah lelah dan tidak bersemangat.
"Ron, kau sudah bangun?" tanya Thrisca dengan senyuman cerah.
"Hem," jawab Ron singkat tanpa maksud buruk. Pria itu benar-benar kelelahan setelah bekerja seharian, ditambah lagi masih harus menatap layar monitor berjam-jam hanya untuk memastikan sang istri tidak menapakkan kaki di luar rumah dengan gaun terbuka.
Namun Thrisca merasa Ron bersikap cuek padanya dan mengabaikannya. Terlebih lagi, Ron memilih tidur di sofa daripada membaringkan tubuh di ranjang besar bersamanya. Pikiran Thrisca semakin melayang kemana-mana dan menganggap sang suami akan mencampakkannya.
"Kenapa Ron cuek sekali padaku?" batin Thrisca kesal.
"Matamu menghitam, tidurmu tidak nyenyak?" tanya Thrisca lagi.
"Sebentar, ya. Aku ingin ke kamar mandi," ujar Ron seraya mendorong pelan Thrisca yang menghalangi jalan.
"Apa Ron benar-benar akan mencampakkanku?!" batin Thrisca semakin kacau.
Kenyataannya, pria itu memang hanya ingin ke kamar mandi dan segera membasuh wajah lelahnya. Sayangnya, Thrisca sudah terlebih dulu berprasangka buruk pada sang suami dan menganggap Ron mulai mengabaikannya.
"Icha, perjalanan cintamu baru dimulai. Sadarlah, Ron memang bukan pria yang romantis! Kau harus terbiasa dengan sikap dingin pria menyebalkan itu!" gumam Thrisca menyemangati diri sendiri.
Thrisca masih berdiri mematung di depan pintu kamar mandi, menunggu sang suami keluar dari ruangan kecil itu.
Tak berselang lama, Ron keluar dari kamar mandi dan mendapati sang istri yang berdiri tak jauh dari pintu. Ron yang tadinya masih bermata ngantuk akhirnya dapat melihat jelas lekuk tubuh sang istri yang masih mengenakan gaun seksi semalam.
Gadis itu berjalan mendekat ke arah Ron dan tersenyum manis pada sang suami.
"Kau pulang larut malam?" tanya Thrisca dengan suara lembut pada sang suami.
Meskipun pikiran gadis itu sudah dipenuhi dengan umpatan pada Ron, namun ia tetap berusaha bersikap baik pada sang suami agar Ron tidak semakin mengabaikannya.
"Ada apa dengan si gendut? Membuatku merinding saja," batin Ron mulai merasa aneh dengan sikap sang istri yang tidak biasa.
"Icha, kau sengaja menggodaku pagi-pagi begini? Jangan merengek jika nanti aku benar-benar memakanmu!" ujar Ron seraya mengecup pucuk kepala sang istri dan melepaskan tangan Thrisca yang melingkar di lengannya.
Ron berjalan santai menuju pintu keluar kamar. Namun sebelum pria itu benar-benar keluar dari kamar, Thrisca sudah berlari mengejarnya dan memeluk kembali lengan kekar sang suami.
Gadis itu berjinjit di hadapan Ron dan memberanikan diri melayangkan kecupan di bibir seksi suami tampannya itu.
Thrisca segera memeluk sang suami begitu ia mengecup singkat bibir pria yang sudah menjadi pemilik hatinya itu.
Istri Ron itu berusaha keras menyembunyikan wajah malunya dengan membenamkan kepalanya di dada bidang suaminya.
Sementara Ron yang mendapat kecupan tiba-tiba, masih berdiri membeku dengan wajah tercengang.
"Ada apa dengan Icha?! Apa dia sakit?" batin Ron mulai cemas dengan sikap istrinya yang terkesan agresif.
"Gendut, kau baik-baik saja, kan?" tanya Ron seraya memeriksa dahi Thrisca.
Pria itu mengusap wajah istrinya dan memeriksa lengan serta kaki sang istri untuk memastikan tidak ada hal janggal pada tubuh gadisnya.
"Apa yang kau lakukan, Ron?!" omel Thrisca seraya menyingkirkan tangan Ron yang meraba-raba tubuhnya.
"Gendut, kita harus ke rumah sakit sekarang!"
Ron segera melepas pelukan dari istrinya dan bersiap untuk mengambil jaket.
"Ron, kau ini kenapa?! Aku baik-baik saja! Untuk apa kau membawaku ke rumah sakit?!" teriak Thrisca menumpahkan kekesalannya pada sang suami.
"Kau yang kenapa, Gendut? Tidak biasanya kau agresif seperti ini. Kenapa kau memakai pakaian yang begitu di rumah? Kau membuatku takut."
"Aku memakainya untukmu! Kau tidak menyukainya? Kau tidak suka karena aku tidak secantik mantan kekasihmu? Seharusnya aku tidak memakai gaun bodoh ini!"
Thrisca berjalan menuju pintu dengan wajah kesal penuh amarah.
Ron segera menghadang istrinya di depan pintu sebelum gadis itu keluar kamar memakai baju minim.
"Minggir!" teriak Thrisca pada Ron.
"Kau memakainya untukku? Jadi, semalam kau berdandan juga untukku? Bukan karena kau ingin pergi keluar?" tanya Ron dengan mata membulat lebar.
"Anggap saja aku badut! Aku tidak pandai merias wajah seperti model-model yang selalu mengelilingimu!" ujar Thrisca dengan sinis seraya mendorong tubuh suaminya yang menghalangi pintu.
"Sayang, ada apa denganmu? Kenapa kau terus menyindirku seperti itu?" tanya Ron dengan wajah memelas.
"Terimakasih sudah berdandan untukku. Kupikir kau berias untuk pergi keluar," ujar Ron seraya mengecup kening sang istri.
Thrisca mulai luluh dan amarahnya kian mereda sedikit demi sedikit. Gadis itu memeluk manja sang suami dan meluapkan isi pikirannya yang sempat berburuk sangka pada Ron.
"Kau pulang jam berapa semalam? Aku mendengar ada suara wanita saat kau meneleponku," rengek Thrisca.
"Apa yang kau pikirkan? Aku memang sempat bertemu Lilian semalam. Hanya itu. Aku berbicara sebentar dengannya lalu pulang." jelas Ron.
"Benarkah? Kalau begitu kenapa kau tidur di sofa? Apa aku tidak terlihat cantik? Setelah melihat wanita secantik Lilian, kau langsung merasa kecewa kamarmu hanya diisi oleh itik jelek sepertiku?"
Thrisca masih merajuk pada sang suami.
"Apa yang dibicarakan gadis ini? Dia pikir aku tidur di sofa karena aku menolak gadis cantik sepertinya?" batin Ron keheranan.
"Sayang, siapa itik jelek disini? Kau wanita tercantik di rumah ini, Gendut! Kau pikir aku senang tidur di sofa saat ada wanita cantik terbaring di ranjangku?!"
"Lalu kenapa kau tidur di sofa? Kau juga terlihat tidak suka saat aku menciummu tadi," protes Thrisca dengan wajah cemberut.
"Apa yang sebenarnya ada di dalam otak gadis bodoh ini? Mana mungkin aku tidak suka saat gadis kesayanganku menciumku?" batin Ron gemas.
Pria itu meraih tengkuk sang istri dan mengecup lembut bibir manis sang istri. Thrisca menyambut ciuman hangat sang suami dan ikut menyelam ke dalam bibir pria pujaannya itu.
"Icha, aku pasti sudah gila jika aku menolakmu. Aku hanya ingin menunggu kesiapanmu. Aku tidak ingin menghancurkan suasana hatimu dengan memaksakan keinginanku." bisik Ron di telinga istrinya.
"Ron, aku juga tidak akan menolakmu. Aku sudah menjadi milikmu." balas Thrisca dengan berbisik lembut di telinga Ron hingga membuat pria itu merinding.
"Jadi, aku boleh--"
"Lakukan saja!" potong Thrisca sebelum Ron mengucapkan hal memalukan yang tidak ingin ia dengar.
"Kau yang memintanya!"
Ron kembali menyambar bibir merah sang istri dengan antusias. Pria itu mengangkat tubuh mungil istrinya menuju ranjang dengan bibir yang masih tertaut dengan sang gadis.
"Sekarang? Kau tidak pergi ke kantor? Ini sudah hampir siang, Ron."
Thrisca mencoba mengingatkan suaminya dengan pekerjaan yang menumpuk.
"Mana mungkin kertas-kertas itu lebih penting daripada malam pertamaku bersama istriku yang cantik," ujar Ron seraya menarik pakaian tipis sang istri.
Pakaian minim itu terlepas dengan mudah dari tubuh Thrisca yang tidak terbalut pakaian dalam.
Gadis itu memalingkan wajah dari sang suami dan berusaha keras menyembunyikan wajah malunya.
"Tidak perlu malu begitu. Aku juga sudah melihat semuanya.." ujar Ron seraya menjamah tubuh sang istri.
Pria itu mulai berkelana di kulit putih yang tidak tertutup sehelai benang itu. Ron melayangkan kecupan di setiap bagian tubuh sang istri dan meninggalkan banyak tanda cinta di tiap jengkal kulit putih gadisnya itu.
Setelah puas memainkan tubuh sang istri, Ron bersiap untuk acara puncak dan mulai melucuti pakaiannya sendiri.
"Icha, terimakasih sudah menjadikanku pria pertamamu." ujar Ron kemudian kembali ******* bibir sang istri.
Degup jantung Thrisca semakin tidak beraturan saat ia merasakan benda asing menempel di tubuhnya dan siap memasuki alam tersegel miliknya.
Thrisca mencengkeram bahu suaminya dengan erat seraya menutup mata rapat-rapat. Tubuhnya semakin memanas dan keringat mulai bercucuran di dahinya.
Ron semakin bersemangat melihat wajah berkeringat sang istri dan segera menuntaskan tugasnya dengan baik.
Wajah pria itu semakin berseri saat mengetahui sang istri benar-benar gadis yang masih perawan.
Thrisca mengatur nafas perlahan begitu Ron menyelesaikan acara puncak mereka. Gadis itu merasa senang sekaligus lega, ia dapat menjaga kehormatannya untuk sang suami idaman dan dapat menyerahkan dirinya dalam keadaan suci kepada suaminya tercinta.
"Aku mencintaimu, Thrisca.." bisik Ron seraya mengecup kening sang istri yang tergolek lemas dalam kungkungannya.
Thrisca menarik tubuh sang suami dan memeluk pria yang kini menindih tubuhnya itu.
Ron ikut mendekap tubuh mungil sang istri dengan erat hingga ia mampu merasakan detak jantung sang istri yang berseru kencang.
Kulit pasangan suami istri itu saling menempel semakin erat tanpa penghalang sehelai benang pun.
Ron tidak bisa menyembunyikan senyum bahagianya setelah ia berhasil menjadikan Thrisca menjadi wanita milik Ron seutuhnya.
"Icha, kau hanya akan menjadi milikku." gumam Ron pelan pada sang istri yang mulai memejamkan mata dalam dekapannya.
***
Bersambung...