DEAR, MY RON

DEAR, MY RON
BAB 45



Tok..tok..


Ron mengetuk pintu kamar sang istri sepelan mungkin. Pria itu masuk seenaknya ke dalam rumah yang belum pernah dikunjunginya itu seraya membawa satu buket bunga besar untuk menghibur istrinya yang tengah bersedih.


"Gendut, kau di dalam?"


Ron berbicara dengan suara selembut mungkin.


Sementara, Susan nampak sibuk memperhatikan Ron dari jauh dengan wajah penasaran.


"Siapa pria tampan itu?" batin Susan.


Wanita itu tidak berani mendekat pada Ron dan hanya mengawasi pria yang hendak masuk ke kamar anak tirinya itu dari jauh.


Thrisca yang tengah menangis bersimpuh di lantai kamar, segera mengusap air matanya dan berjalan mendekat ke arah pintu.


"Tuan, kau datang?" tanya Thrisca dengan suara serak dari dalam kamar.


Pikiran Ron yang semula kacau, mulai kembali jernih setelah pria itu mendengar suara sang istri.


"Boleh aku masuk?" tanya Ron lirih.


"Maaf, aku tidak ingin diganggu." tolak Thrisca.


Gadis itu terlalu malu untuk menampakkan mata sembabnya pada sang suami.


"Aku tidak akan mengganggumu. Aku hanya akan duduk diam di dalam. Aku tidak akan membuat suara sedikitpun. Ijinkan aku menemanimu, Gendut." pinta Ron dengan wajah murung.


Pria itu mulai tidak sabaran ketika ia tak mendengar jawaban apapun dari sang istri.


"Aku hanya ingin melihat wajahmu. Sebentar saja. Aku--"


Belum sempat Ron menyelesaikan kalimatnya, Thrisca sudah membuka pintu dan menunjukkan wajah kusutnya.


Ron semakin tidak tega melihat sang istri yang berwajah pucat dengan mata bengkak besar bekas tangisan.


Pria itu segara mendekat ke arah sang istri dan mendekap tubuh kurus gadis itu dengan erat.


"Gendut, sejak kapan kau berubah menjadi zombie seperti ini?" tanya Ron diiringi tawa kecil.


Wajah Thrisca kembali banjir dengan air mata begitu ia masuk ke dalam pelukan Ron. Gadis itu memeluk sang suami dengan erat dan menumpahkan segala kesedihan dalam dekapan suaminya.


Ron segera menarik tangan Thrisca masuk ke kamar dan menutup pintu itu rapat-rapat. Thrisca menangis semakin kencang setelah ia masuk ke dalam ruangan tertutup itu.


Pria berbadan tegap itu hanya bisa menepuk-nepuk punggung sang istri dengan lembut tanpa tahu harus melakukan apa untuk menghibur istrinya yang tengah berduka.


Ron mengusap-usap tangan istrinya dan mulai merasa ada yang aneh pada kulit mulus gadisnya.


Pria itu menyingkap kain panjang yang menutup lengan sang istri. Suami dari Thrisca itu menemukan bekas luka yang hampir mengering di lengan mulus gadis cantik itu.


"Kenapa dengan tanganmu?" tanya Ron seraya mengernyitkan dahi.


Thrisca segera menutupi lukanya dari sang suami. Pada suasana duka seperti ini Thrisca tidak ingin terlihat semakin menyedihkan dengan menceritakan dirinya yang jatuh terguling di aspal akibat serempetan kendaraan roda dua.


"I-ini bukan apa-apa," ujar Thrisca tergagap.


"Bukan apa-apa apanya?!"


"Ron, jangan memarahiku!" rengek Thrisca dengan suara serak.


Ron memeriksa bagian lain tubuh istrinya dan menemukan semakin banyak luka kering di tangan, kaki serta pinggang sang istri yang berada dalam dekapannya itu.


"Baiklah! Jika kau tidak ingin memberitahuku, aku tidak akan memaksa." ujar Ron seraya mengusap luka di tangan dan kaki istrinya.


Ron menatap gadis malang itu dengan wajah sendu bercampur pilu. Hati pria itu ikut teriris melihat keterpurukan sang istri yang ditinggal oleh keluarga tercinta.


"Kau boleh menangis sepuasnya hari ini, gendut." hibur pria berparas tampan itu.


"Kau tidak sendirian, gendut. Masih ada aku. Mulai sekarang akulah satu-satunya keluargamu. Akulah rumahmu." ujar Ron lirih.


Gadis yang tenggelam dalam bahu Ron itu segera melepas pelukannya dan mengusap wajahnya yang sudah basah.


"Maaf, aku sudah menunjukkan wajah kusut."


"Kau menangis seperti ini semalaman? Kenapa kau tidak menghubungiku? Jika aku tahu, aku akan sampai disini lebih cepat." protes Ron seraya mengusap pipi istrinya yang basah karena air mata.


"Maaf, aku tidak menyentuh ponsel sama sekali. Otakku tidak bisa memikirkan apapun," tutur Thrisca muram.


Ron kembali memeluk Thrisca dan mengusap-usap rambut gadis kesayangannya itu dengan lembut. Pasangan suami-istri itu berpelukan lama tanpa mengucapkan sepatah katapun.


Mereka tenggelam dalam pikiran kalut masing-masing.


Meskipun hanya sebuah pelukan, namun dekapan dari suaminya itu sudah menjadi sumber ketenangan tersendiri bagi Thrisca.


Tanpa kata bujukan manis maupun kado romantis, satu pelukan dari suaminya ini sudah menjadi obat pelipur lara bagi gadis yang masih dilanda dukacita itu.


***


Thrisca kembali mengurung diri di dalam kamar setelah acara pemakaman ayah dan kakeknya selesai. Gadis itu hanya diam melamun tanpa melakukan apapun. Bahkan istri Ron itu mengabaikan perutnya yang keroncongan dan tubuhnya yang kelelahan.


Ron masuk ke kamar Thrisca dengan menenteng kantong penuh makanan. Pria itu menyempatkan diri membeli berbagai macam makanan untuk menghibur sang istri.


"Apa yang kau bawa? Banyak sekali," komentar Thrisca saat melihat beberapa kantong yang dibawa masuk oleh Ron.


"Aku tidak mau melihatmu mati kelaparan! Cepat makan selagi aku masih bersikap baik,"


"Di rumah ada banyak makanan. Kenapa kau harus repot-repot membeli banyak makanan dari luar?"


"Makan saja apa yang sudah kubelikan. Cepat buka mulutmu,"


Ron bersiap menerbangkan sendok penuh nasi ke mulut sang istri.


"Aku tidak lapar. Kau saja yang makan," tolak Thrisca seraya memalingkan wajah.


"Gendut, jangan begitu! Kau tidak kasihan padaku? Aku masih membutuhkanmu," bujuk Ron pada sang istri.


"Aku benar-benar tidak lapar. Tuan saja yang makan,"


"Apa kau tidak suka makanannya? Aku akan belikan yang lain."


Ron menyingkirkan makanan dari tangannya dan hendak beranjak membeli makanan lain.


"Ron,"


Thrisca segera menarik tangan suaminya dengan suara lemas sebelum pria itu benar-benar pergi membeli lebih banyak makanan.


"Baiklah aku akan makan."


Thrisca yang sudah tidak punya tenaga untuk berdebat, memilih mengalah demi menyenangkan sang suami.


"Aku akan membelikanmu makanan lain nanti. Sekarang makan ini dulu,"


Ron kembali memegang sendok dan bersiap menyuapi istri cantiknya itu.


"Aku akan makan sendiri,"


Thrisca merebut sendok dari Ron dan segera melahap nasi di sendok itu dengan cepat.


"Kau juga makanlah. Pagi ini pasti sangat melelahkan bagimu,"


Thrisca mengambil bungkusan makanan lain dan membukakan untuk Ron.


"Aku akan makan kalau kau menyuapiku," pinta Ron dengan suara tidak jelas. Pria itu segera memalingkan wajahnya setelah mengucapkan kata-kata memalukan itu.


"Bicara yang jelas, Ron!"


"Suapi aku!" ujar Ron dengan cepat tanpa menoleh ke arah sang istri.


Thrisca tersenyum kecil menanggapi permintaan sang suami yang ingin bermanja-manja dengannya.


"Tentu. Aku tidak keberatan menyuapi bayi besar," ejek Thrisca seraya menerbangkan sendok menuju mulut pria manja yang duduk dihadapannya.


Ron membuka mulut dengan senang hati sambil mengulum senyum. Thrisca tertawa kecil melihat wajah memerah sang suami setelah menerima suapan makanan darinya.


"Ron, bukankah seharusnya kau yang menghiburku? Kenapa jadi aku yang menyuapimu," protes Thrisca seraya mencubit pipi Ron gemas.


Gadis itu tanpa sadar menunjukkan senyum lebar menanggapi tingkah suaminya.


"Akhirnya gendut tersenyum lagi.." batin Ron lega melihat keadaan sang istri semakin membaik.


Pasangan suami-istri itu menikmati makan siang romantis di kamar kecil milik Thrisca.


"Istirahatlah, Tuan. Aku harus membantu Bibiku membereskan rumah," pamit Thrisca hendak keluar dari kamar setelah mereka selesai dengan acara makan siang.


"Tubuh lesu seperti ini bisa membereskan apa? Diantara kita, kau yang lebih membutuhkan istirahat!"


Ron menarik tubuh lunglai sang istri dan mendudukkan gadis itu di kasur.


"Memangnya Bibi siapa yang kau maksud? Bukankah keluargamu disini hanyalah kakekmu dan ayahmu? Sisanya kerabat jauh bukan?" tanya Ron kemudian.


"Soal itu, apa kau tidak melihat wanita muda bersama balita di dalam rumah?"


"Entahlah. Aku tidak memperhatikan,"


Tok..tok..


"Icha, ada temanmu yang mencari."


Suara Susan terdengar dari luar kamar Thrisca.


"Itu orangnya. Bibi yang kumaksud," ujar Thrisca pada Ron seraya berjalan membuka pintu.


"Icha, ada temanmu di depan." ucap Susan sambil celingukan melirik Ron yang tengah berbaring di ranjang sang pemilik kamar.


"Tunggu sebentar,"


Thrisca merapikan rambutnya dan mengelap ingus serta air mata yang menempel di wajahnya.


Thrisca keluar dari kamar diikuti oleh Ron yang mengekor di belakang. Begitu sampai di ruang tamu, gadis itu mendapati sosok Yovan yang sudah duduk manis di dalam rumahnya.


"Icha," sapa Yovan dengan wajah cerah.


Namun senyum sumringah Yovan hilang seketika saat ia melihat seorang pria yang berjalan mengekor di belakang Thrisca.


"Siapa pria itu?" batin Yovan tidak tenang.


***


Bersambung..