DEAR, MY RON

DEAR, MY RON
BAB 141



"Nadine!"


Han melambaikan tangan dengan sumringah begitu ia melihat kemunculan Nadine.


Pria itu berlari kecil menghampiri Nadine dan merebut barang bawaan yang ditenteng oleh wanita itu.


"Kenapa bawaanmu banyak sekali? Kau akan kembali lagi kesini, kan? Kau hanya pulang ke kampung halamanmu untuk sementara, kan?" tanya Han.



"Orang ini sebenarnya kenapa sih?!" batin Nadine bingung.


"Aku.. tidak tahu. Mungkin aku tidak akan kembali ke sini." jawab Nadine.


"Apa yang kau katakan?! Kau harus kembali ke sini! Aku akan menjemputmu! Kau harus kembali lagi ke kota ini!" sergah Han.


"Kau ini kenapa?! Apa kau salah minum obat?" cibir Nadine.


"Ayo, cepat! Kita harus ke bandara sekarang!"


Han menarik tangan Nadine dan memasukkan wanita cantik itu ke dalam mobilnya.


"Kau sudah makan? Ingin membeli sarapan dulu?" tawar Han.


"Tidak perlu." jawab Nadine cepat.


"Kau ingin camilan? Aku bisa membelikanmu camilan selama menunggu di bandara."


"Tidak perlu." tolak Nadine lagi.


"Kau mau minum? Bagaimana kalau kita membeli ko--"


"Tidak perlu." potong Nadine.


Han mendengus kesal mendengar penolakan demi penolakan yang diberikan Nadine padanya.


"Kau masih sesuka itu pada Gen? Sebentar lagi pria itu akan menikah! Hadapilah kenyataan!" sindir Han.


"Aku tahu." jawab Cherry singkat.


"Dasar menyebalkan!" gerutu Han kesal.


"Perjalanan cintaku sepertinya masih panjang.." batin Han pasrah.


***


"Sayang, nenek menyuruh kita berkunjung hari ini." ujar Ron pada sang istri.


"Aku akan bersiap,"


"Mengenai kehamilanmu.. aku tidak ingin mengumumkannya lagi. Aku takut terjadi hal buruk padamu. Kita rahasiakan saja ya?" pinta Ron.


"Bahkan dari keluargamu?"


"Kalau ibu dan nenek tahu, mereka pasti akan mengumumkan kembali kehamilanmu. Aku hanya ingin menjagamu tetap aman. Tidak apa-apa, kan?"


"Tidak apa-apa, Ron. Kau pasti masih terbayang dengan kecelakaan yang kualami sebelumnya. Itu hanya musibah yang tidak disengaja, Ron. Aku akan lebih berhati-hati." ujar Thrisca tanpa tahu kecelakaan yang dialaminya adalah perbuatan yang disengaja.


"Bagaimana kalau kita pindah saja selama masa kehamilanmu? Aku akan mencari tempat tenang dan sejuk di pinggir kota." bujuk Ron.


"Lalu bagaimana dengan pekerjaanmu, Ron? Kau tidak bisa terus-terusan bekerja dari rumah seperti ini."


"Kenapa tidak bisa? Ada Han dan Gen yang mengurus semuanya. Aku juga membantu mereka dari rumah." sanggah Ron.


"Ron, kakek akan memecatmu jika kau terus semena-mena seperti ini." omel Thrisca seraya menjewer telinga sang suami.


"Biarkan saja si tua itu memecatku! Aku juga bisa menghidupimu dan anak kita tanpa uangnya!"


"Kau ini!"


Thrisca mencubiti lengan sang suami gemas.


"Aku sudah membuatkan susu untukmu,"


Ron melarikan diri dari cubitan sang istri dan segera mengambil segelas susu hangat yang sudah ia siapkan.


"Kau bangun pagi-pagi untuk menyiapkan ini? Kau tidak mual lagi, kan?"


"Aku baik-baik sa--"


Mulut Ron terkunci seketika begitu ia melihat sang istri yang kalang kabut berlarian menuju kamar mandi.


"Sayang, kau baik-baik saja?"


Ron mengejar Thrisca yang kini tengah memuntahkan isi perutnya di kamar mandi.


Suami Thrisca itu segera membopong tubuh sang istri dan membawa wanita hamil itu kembali ke kamar.


"Kepalaku pusing, Ron. Boleh aku tidur sebentar? Kau sarapan saja dulu." ujar Thrisca lemas.


"Istirahat saja, Sayang. Aku akan menemanimu di sini."


"Kau tidak ke kantor?"


"Tidak ada banyak pekerjaan hari ini. Han bisa mengurusnya,"


"Mas Han lagi? Mas Han pasti sering mengutukmu di belakangmu Ron." cibir Thrisca.


"Aku tidak peduli asisten malas itu akan mengumpatiku atau mengataiku di belakangku." balas Ron cuek.


"Ron, pergilah ke kantor. Aku baik-baik saja. Ini bukan pertama kalinya aku hamil." bujuk Thrisca.


"Sudah, diam saja! Jangan banyak bicara!"


Ron mendekap erat tubuh sang istri sembari melayangkan kecupan bertubi-tubi pada pucuk kepala istri hamilnya itu.


Tangan Ron tak henti-hentinya mengusap perut sang istri yang kini telah terisi benih cinta yang ia tanam.


"Ron, kau ingin anak perempuan atau anak laki-laki?" tanya Thrisca membuka perbincangan.


"Kau bilang ingin tidur? Berhentilah mengoceh! Istirahat saja!"


"Jawab dulu!" rengek Thrisca.


"Aku tidak peduli anak perempuan atau laki-laki asalkan kau ibunya."


"Cih, kau tidak seru!"


"Memangnya kenapa aku harus memilih laki-laki atau perempuan? Semua bayi yang lahir dari rahimmu akan mendapatkan seluruh cintaku."


"Kau.. hanya akan menjadi ayah dari anak-anakku kan, Ron? Kau tidak memiliki rencana untuk menikah lagi, kan?" tanya Thrisca takut-takut.


"Menjaga satu istri saja aku sudah kerepotan, kau pikir aku masih berniat menjaga wanita lain juga?"


"Janji! Kau harus berjanji padaku, kau tidak akan menikah lagi selama kau memiliki aku." ujar Thrisca seraya menyodorkan kelingkingnya pada Ron.


"Apa-apaan ini?! Kekanak-kanakan sekali," cibir Ron.


"Janji, cepat!"


Ron meraih jemari sang istri dan mengaitkan jari kelingkingnya dengan kelingking milik istri tercintanya.


"Hanya aku yang akan menjadi satu-satunya istrimu, kan?" tanya Thrisca seraya memandang lekat netra sang suami.


"Kau tidak perlu menanyakan hal itu. Sampai kapanpun kau akan tetap menjadi ratu di hatiku." ujar Ron seraya mengecupi perut sang istri.


***


"Tuan, beberapa perusahaan cabang di luar negeri mengalami masalah. Banyak investor yang menarik diri dan kantor cabang terancam bangkrut."


Asisten dari Tuan Hasan tengah memberikan laporan pada sang Tuan Besar.


"Beritahu Ron untuk mengurusnya. Sekarang semua perusahaan cabang yang kukelola akan ditangani oleh Diez Group." ujar Tuan Hasan.


"Tapi, kantor pusat Diez juga sedang menangani beberapa masalah. Pembukaan lahan baru di beberapa lokasi terhambat dan Diez Group harus menangani beberapa kasus tuntutan penggantian rugi yang--"


"Sebenarnya apa yang dilakukan oleh Ron?!" gumam Tuan Hasan geram.


"Ini semua murni kendala dari faktor eksternal, Tuan. Tuan Muda juga tengah mengelola perusahaan cabang di dalam negeri." ungkap sang asisten.


"Panggil Han kemari! Suruh Ron untuk menyelesaikan masalah di perusahaan cabang luar negeri. Biarkan Han yang mengurus perusahaan di dalam negeri." titah Tuan Hasan.


"Baik, Tuan."


"Ke luar negeri?! Apa si tua bangka itu sudah gila?! Biarkan saja perusahaan cabangnya bangkrut! Aku tidak peduli!" omel Ron seraya mengobrak-abrik berkas yang dibawa oleh asisten malang itu.


"Tuan, saat ini kondisi Tuan Besar sedang tidak sehat. Tuan Besar dilarang melakukan perjalanan jauh oleh dokter." ungkap asisten Tuan Hasan itu sesopan mungkin.


"Kakek sakit?!"


"Kondisi kesehatan Tuan semakin menurun."


"Aku juga sibuk! Suruh saja Han atau Gen!"


"Tuan Gen saat ini sedang mempersiapkan pernikahan. Tuan Besar ingin asisten Han yang mengurus cabang di dalam negeri."


"Kalian benar-benar merepotkan!" gerutu Ron makin kesal.


"Hanya untuk beberapa hari saja, Tuan. Perusahaan ini adalah perusahaan impian Tuan Besar. Tolong bantuannya, Tuan Muda."


"Suruh saja ayahku! Pria tua itu sangat senggang!" tolak Ron lagi.


"Tuan Besar hanya bisa mempercayakan tugas ini pada Tuan Muda." bujuk asisten itu lagi.


"Istriku sedang hamil, mana mungkin aku membiarkan Icha sendirian di rumah?!" batin Ron geram.


"Beri aku waktu untuk berpikir."


***


Ron terus melamun selama ia dan sang istri berkunjung ke kediaman Nyonya Aswinda.


Bagaimanapun juga pria itu tidak bisa mengabaikan begitu saja perintah dari sang kakek. Namun, Ron juga tidak ingin meninggalkan istrinya yang tengah berbadan dua.


"Gen sebentar lagi akan datang bersama calon istrinya. Nenek juga sudah mengurus undangan pernikahan Gen." ujar Nyonya Aswinda seraya melihat-lihat undangan pernikahan bersama Thrisca.


"Mas Gen akan kemari?"


"Kau suka yang mana, Sayang? Buatlah daftar teman dan keluarga yang ingin kau undang."


"Aku tidak punya banyak teman, Nek. Aku tidak memerlukan banyak undangan," ucap Thrisca.


"Sayang, kau ingin undangan yang mana?" tanya Thrisca pada Ron.


Ron hanya diam tanpa menanggapi sang istri. Pria itu masih sibuk dengan pikirannya sendiri hingga ia mengabaikan istrinya yang tengah mengajaknya berbicara.


"Sayang.."


Thrisca menyenggol bahu Ron pelan. Lamunan pria itu langsung buyar begitu ia merasakan sentuhan sang istri.


"K-kenapa, Sayang? Kau butuh sesuatu?" tanya Ron.


"Kau kenapa, Ron?"


"Aku? Aku baik-baik saja." jawab Ron asal.


"Sayang, boleh nenek berbicara dengan Ron sebentar?" ijin Nyonya Aswinda pada Thrisca.


"Tentu, Nek."


"Ron, ikut nenek."


Nyonya Aswinda menarik tangan Ron dan berbincang di salah satu ruangan tertutup.


"Ron, kau melakukan sesuatu pada Berlin?" tanya Nyonya Aswinda.


"Kenapa? Wanita itu bukan anak nenek, kan?"


"Nenek tahu kau pasti juga kesulitan mengambil keputusan karena Gen. Nenek--"


"Aku sudah memberi pelajaran pada wanita tua itu. Lain kali urus keluarga istri-istri kakek dengan benar!"


"Ron, nenek tahu kau pasti kecewa--"


"Kakek sedang sakit." potong Ron cepat.


"Nenek tahu."


"Kalau nenek tahu, kenapa tidak nenek saja yang mengurus pekerjaan kakek?! Aku sibuk, Nek! Istriku sedang hamil, mana mungkin aku--"


"Thrisca hamil?"


Nyonya Aswinda membulatkan mata lebar-lebar begitu ia mendengar pengakuan Ron.


"Dasar mulut sial!" rutuk Ron seraya memukul-mukul mulutnya sendiri.


"Thrisca sudah hamil lagi? Kau benar-benar hebat, Ron!"


Nyonya Aswinda berlari kegirangan keluar ruangan untuk menghampiri sang cucu menantu.


"Sayang, kau hamil? Kenapa kau tidak memberitahu nenek?"


"A-apa? Siapa yang memberitahu nenek?" tanya Thrisca tergagap.


"Kalian mencoba menyembunyikan berita bahagia ini dari nenek?" protes Nyonya Aswinda.


"Nenek, jangan beritahu siapapun! Aku tidak ingin membuat pengumuman-pengumuman konyol lagi!" ujar Ron seraya melempar tatapan tajam ke arah sang nenek.


Nyonya Aswinda menghela nafas dan mencoba memahami arah pembicaraan cucu kesayangannya itu.


"Nenek mengerti, Ron. Kau bisa menitipkan istrimu di sini selama kau di luar negeri. Jangan khawatir, nenek akan--"


"Apa?"


Thrisca ikut menyela begitu ia mendengar pembicaraan yang tidak ia mengerti.


"Nenek!" sentak Ron sebal.


"Thrisca, kau belum diberitahu oleh Ron kalau dia akan mengurus beberapa pekerjaan di luar negeri?" tanya Nyonya Aswinda.


"Ron? Benar kau harus mengurus pekerjaan di luar negeri?" tanya Thrisca dengan wajah kecewa.


"Aku belum memutuskan hal itu, Nek! Sekarang nenek sudah tahu kalau istriku hamil! Suruh saja orang lain!" gerutu Ron.


"Sayang, aku tidak akan kemana-mana.." ujar Ron seraya mendekap erat sang istri.


"Ron, tolong bantu kakekmu. Ini semua juga demi bisnis keluarga kita. Kalau Diez Group sampai bangkrut, bagaimana kau akan memberikan kehidupan nyaman untuk anak dan istrimu?" bujuk Nyonya Aswinda.


"Nenek, tidak perlu mendramatisir seperti itu! Diez Group tidak akan bangkrut hanya karena--"


"Ron, nenek akan menjaga istrimu selama kau berdinas. Tolong bantu kakek," pinta Nyonya Aswinda.


Thrisca mengeratkan pelukannya pada sang suami untuk mengisyaratkan penolakannya pada Ron yang hendak bepergian jauh.


"Tanyakan saja pada istriku," jawab Ron mulai menyerah.


"Thrisca, kau akan mengijinkan Ron, kan?" bujuk Nyonya Aswinda.


Thrisca hanya diam seraya membenamkan wajahnya di dada bidang sang suami.


"Sayang, boleh aku pergi untuk beberapa hari saja?" tanya Ron seraya berbisik di telinga wanita hamil yang berada di pelukannya.


Thrisca menggeleng pelan, menunjukkan keengganannya melepas kepergian sang suami.


"Lihat, Nek! Istriku tidak mau ditinggal." ujar Ron penuh senyum kemenangan.


"Thrisca, hanya seben--"


"Cukup, Nek! Istriku tidak mau ditinggal olehku, jadi aku tidak akan pergi. Tolong cari saja orang lain yang bisa mengurus pekerjaan ini." ujar Ron tegas.


Perdebatan kecil antara cucu dan nenek itu berakhir begitu Genta dan Cherry muncul di ruang tamu tempat mereka berkumpul.


"Nenek," sapa Genta.


Sontak Ron dan Nyonya Aswinda langsung menutup mulut seraya menoleh ke arah tamu yang tengah berkunjung.


Thrisca ikut menoleh ke arah pintu dan terbelalak kaget melihat sosok Cherry yang sudah berdiri di hadapannya.


"Cherry?!"


***


Bersambung...