
Thrisca membuka mata perlahan begitu perutnya terus-menerus mengeluarkan suara demo dari cacing-cacing yang kelaparan. Gadis itu kembali terlelap setelah kelelahan melakukan 'olahraga' pagi bersama sang suami hingga ia melewatkan sarapan paginya.
Begitu membuka mata, Ron masih terbaring tepat di sampingnya dan terus menatap dirinya dengan intens.
"Ron, aku akan mencolok matamu jika kau terus melihatku seperti itu!" omel Thrisca seraya menutup wajah suaminya dengan bantal.
"Aku hanya ingin memandangi wajah cantik istriku. Memangnya tidak boleh?!" protes Ron seraya menyingkirkan bantal dari wajahnya.
Thrisca mencoba menggerakkan badannya yang pegal dan bangkit dari bantal dengan susah payah.
"Kau mau kemana?" cegah Ron seraya menarik tangan sang istri saat melihat wanitanya itu berusaha bangkit dari ranjang.
"Aku lapar," ujar Thrisca lirih dengan tangan masih memegangi selimut untuk menutupi tubuhnya yang masih polos tak berbusana.
"Akan kuambilkan,"
Ron bergegas bangkit dari kasur dan segera memakai pakaiannya.
"Tidak perlu. Aku akan menyiapkan sarapan untukmu," cegah Thrisca.
"Sudah, kau duduk saja! Kau sudah melayaniku dengan baik. Kali ini aku yang akan melayanimu," ujar Ron seraya mengedipkan mata pada Thrisca hingga membuat wanita itu risih.
"Maaf, Ron. Besok aku akan menyiapkan sarapan untukmu,"
Ron berlari keluar kamar dengan semangat dan mengambilkan banyak makanan untuk sang istri yang belum memakan apapun sejak pagi.
Pria itu berjalan dengan riang sambil membawa nampan penuh dengan hidangan hangat khusus untuk wanita cantik yang tersimpan di kamarnya.
"Ron, kau anggap aku apa? Satu piring saja sudah cukup, kenapa kau membawa banyak piring ke kamar?" omel Thrisca.
"Makan yang banyak, Sayang. Mulai sekarang kau harus lebih memperhatikan kesehatanmu demi calon anak kita nanti."
Thrisca langsung menyemburkan makanan hingga mengenai wajah Ron, begitu ia mendengar pembahasan mengenai anak oleh sang suami.
"Gendut! Jika aku tidak sedang dalam suasana hati yang baik, aku mungkin sudah mencincangmu! Kenapa kau selalu saja menyemburkan makanan ke wajahku?" omel Ron tanpa berteriak sedikitpun pada sang istri.
Pria itu sebisa mungkin menahan amarahnya karena tidak ingin menghancurkan momen bahagianya bersama sang istri.
"Ma-maaf, Ron.."
Thrisca mengusap-usap wajah suaminya dengan lembut.
"Kita baru melakukannya sekali, kenapa kau sudah membahas anak?" ujar Thrisca seraya menyipitkan matanya.
"Memangnya kenapa? Apa salahnya mempersiapkan diri sejak dini? Kau tidak ingin menunda kehamilan, kan? Aku tidak mengijinkanmu mengonsumsi obat apapun!"
"Untuk apa aku melakukan hal itu? Aku tidak bermaksud ingin menunda-nunda untuk memiliki anak. Tapi sebelum itu, aku ingin menyelesaikan urusanku dengan ibumu terlebih dulu. Keluargamu belum sepenuhnya menerimaku, Ron." jelas Thrisca.
"Kau bisa melakukan itu nanti. Saat ibuku mendapat cucu darimu, wanita tau itu pasti akan luluh."
Thrisca merenung sejenak dan mencoba memikirkan kembali mengenai permintaan Ron yang tidak ingin menunda-nunda untuk memiliki anak.
"Wanita ini kenapa tampak menolak saat aku membahas anak? Kalau aku tidak cepat-cepat memiliki anak dengan Icha, aku tidak akan bisa mengikat wanita ini untuk terus berada di sisiku!" batin Ron cemas.
"Sayang, aku akan berusaha mendapatkan restu dari ibuku. Kau tidak perlu cemas." bujuk Ron pada sang istri.
"Terimakasih sudah mendukungku. Tapi aku akan melakukannya dengan caraku sendiri, Ron. Aku akan menjaga diri dengan baik agar kita bisa cepat memiliki anak," ujar Thrisca seraya mengecup pipi sang suami.
"Jangan coba-coba menggodaku, Gendut! Cepat habiskan makananmu, sebelum aku yang memakanmu!" protes Ron seraya menutup wajah sang istri dengan tangan lebarnya.
Pria itu segera beranjak dari ranjang untuk membersihkan diri dari semburan makanan sang istri.
Ron juga bersiap menarik selimut yang dipakai istrinya untuk diganti dengan selimut baru yang bersih.
"Kau mau apa?!"
Thrisca mendekap erat selimutnya saat Ron mencoba menarik kain itu darinya.
"Nasimu berceceran di selimut, Gendut! Aku hanya ingin mengganti selimut yang baru," ujar Ron seraya mencubit pipi sang istri.
"Bisa ambilkan selimut barunya dulu? Aku belum memakai baju," pinta Thrisca dengan wajah memerah.
"Memangnya kenapa kalau kau tidak memakai baju? Hanya ada aku disini," ujar Ron seraya menarik paksa selimut kotor penuh makanan itu.
Thrisca segera mengambil bantal untuk menutupi tubuhnya. Mata wanita itu membulat lebar saat melihat bercak darah yang tertempel di sprei berwarna putih yang ia duduki.
Ron ikut melirik ke bercak merah yang menempel di ranjangnya. Pria garang itu mulai tersenyum-senyum sendiri seraya memandangi kasurnya.
Thrisca segera melempar bantal untuk menutupi noda di kain sprei ranjang suaminya itu.
"Aku akan mengganti spreinya nanti," ujar Thrisca lirih.
"Untuk apa diganti? Biarkan saja. Jangan dicuci!"
"Jangan dicuci apanya? Spreimu sudah kotor. Apa uangmu sudah tidak cukup untuk membeli satu sprei baru lagi?" omel Thrisca menahan malu.
"Sprei ini bisa menjadi kenang-kenangan untukmu. Kita simpan saja,"
"Ron, jangan bertingkah gila!"
Thrisca segera melahap sarapannya dan bergegas membasuh diri dengan air segar. Wanita itu keluar dari kamar mandi dan mendapati suaminya tengah bersantai merebahkan diri di ranjang dengan wajah tak berdosa.
"Ron, ini sudah jam sepuluh. Kau tidak pergi bekerja?" tegur Thrisca.
"Aku ingin menghabiskan waktu dengan istriku hari ini," jawab Ron cuek.
"Ron, kau bilang kau ingin cepat memiliki anak? Bagaimana kau bisa menghidupiku dan anak-anak kita nanti jika kau terus bermalas-malasan seperti ini?" omel Thrisca.
Ron bangkit dari ranjang dan menarik tangan istrinya hingga wanita itu terjatuh dalam pelukan Ron yang tengah mendudukkan badan tegapnya di atas kasur.
"Hanya satu hari saja. Kenapa kau pelit sekali?" protes Ron seraya memeluk manja sang istri yang kini duduk di pangkuannya.
"Kau masih akan memakai kursi roda? Kakek sudah tahu dari awal kalau kita hanya berpura-pura."
"Aku juga tahu. Itulah kenapa kakek tua itu memaksaku kembali ke kantor begitu tua bangka itu pulang dari luar negeri," keluh Ron dengan wajah kesal.
"Jadi, kapan kau akan memberitahu orang tuamu mengenai keadaanmu yang sebenarnya?"
"Itu.. aku akan memikirkannya nanti. Jika pria tua itu keberatan dengan sandiwara kita, kakek pasti akan membocorkannya terlebih dulu pada orang tuaku. Biarkan saja kakek tua itu yang mengatakan semuanya pada ibuku,"
"Bagaimana denganku? Apa aku masih harus memakai kain tebal di depan ibumu?"
"Kita bahas itu nanti saja," ujar Ron cuek.
Tepat setelah Ron selesai bicara, ponsel mahal yang ada di atas nakas kamar Ron berdering kencang memanggil sang pemilik.
Pria galak pemilik benda kecil itu segera meraih ponsel berisik itu dan berjalan menjauh dari sang istri untuk mengangkat telepon dari Tuan Besar.
"Kau kemana saja, pemalas?! Sudah jam berapa ini?! Kau ingin menghancurkan usaha yang sudah kubesarkan selama bertahun-tahun?! Berhentilah berbuat onar dan cepat bereskan pekerjaanmu!"
Tuan Hasan langsung mengomeli sang cucu dengan suara keras yang memekikkan telinga begitu Ron mengangkat telepon dari pria tua itu.
"Baiklah, kakek tua!" ujar Ron kemudian menutup panggilan telepon dari sang kakek.
"Sayang, kakek menyuruhku datang ke kantor sekarang. Jangan pergi kemanapun selama aku pergi! Jangan menemui apalagi berbicara pada Genta! Aku akan mengusir pengungsi itu secepatnya," ujar Ron seraya mengecup kening sang istri.
"Hati-hati di jalan, Ron.."
***
Thrisca yang tengah asyik membuat adonan kue, tiba-tiba dikejutkan dengan suara dering ponsel jadul yang tersimpan di kantongnya.
Wanita itu mengambil ponsel dengan semangat karena mengira orang yang menghubunginya kemungkinan adalah Ron. Namun ternyata nama asing yang tertera di layar buram ponsel tua itu.
"Halo?"
"Halo, Icha. Ini Bibi Susan,"
"Kenapa Bibi Susan menghubungiku?" batin Thrisca heran.
"Ada apa, Bi?" tanya Thrisca.
"Bagaimana kabarmu disana, Icha? Kau baik-baik saja, kan?" tanya Susan berbasa-basi.
"Aku baik. Bagaimana dengan Elma? Bibi dan Elma baik-baik saja, kan?"
"Bibi dan Elma baik disini."
Thrisca dan Susan diam selama beberapa detik, sebelum akhirnya Susan kembali membuka suara.
"Mengenai uang kuliahmu.. apa kau akan kembali ke universitas dalam waktu dekat?" tanya Susan membuka perbincangan.
"Soal itu, aku masih akan mempertimbangkannya. Ron agak keberatan jika aku harus menyelesaikan pendidikan disana."
"Baguslah kalau begitu. Bibi minta maaf karena Bibi belum bisa membantumu mengenai biaya kuliah. Ada masalah di pabrik dan Bibi membutuhkan bantuan dana. Kalau boleh Bibi tahu apa pekerjaan suamimu? Bukankah kau pernah bilang pada Bibi kalau suamimu termasuk orang yang berkecukupan?"
"Apa maksud Bibi Susan? Bibi Susan berniat meminjam uang dari Ron?" batin Thrisca menerka-nerka.
"Suamiku hanya meneruskan bisnis keluarganya." jawab Thrisca lirih.
"Icha, kalau kau tidak enak mengatakan pada suamimu, bolehkah Bibi sendiri yang berbicara pada suamimu? Bibi benar-benar membutuhkan bantuan. Bibi tidak akan meminjam banyak," pinta Susan.
"Em, Bibi butuh berapa? Aku akan coba bertanya apa Ron bisa membantu." ujar Thrisca ragu-ragu.
"Hanya lima puluh juta. Bibi akan segera melunasinya setelah pabrik kembali normal. Tolong, Icha. Ini demi usaha yang telah dibangun ayahmu. Ini juga demi Elma.." pinta Susan.
"Baiklah, aku akan mengusahakannya."
Thrisca mematikan ponsel dengan lemas.
"Mana mungkin aku meminta uang sebanyak itu pada Ron?!" gumam Thrisca seraya menjambak rambutnya sendiri.
"Untuk melanjutkan kuliahku saja aku tidak punya, kemana aku harus mencari uang?!" batin wanita itu dengan wajah frustasi.
***
Bersambung..