
Genta duduk melamun sendirian di tengah keramaian bar terkenal di pusat kota.
Pria itu terus menggoyang-goyangkan gelas minumannya tanpa meneguk sedikitpun minuman keras yang terisi dalam wadah kaca itu.
Pria lajang itu mengeluarkan ponselnya dan memandangi foto Thrisca yang tersimpan dalam benda elektronik itu.
"Thrisca.. kenapa aku harus bertemu denganmu saat kau sudah menjadi milik pria lain?!" gumam Genta dengan wajah murung.
Sepupu Ron itu mengotak-atik ponselnya dan menemukan beberapa pesan yang belum sempat ia baca dari sang ibunda.
"Halo, Bu."
Tak ingin repot membalas pesan, Genta langsung menelepon sang ibu yang berada di tempat yang jauh darinya.
"Halo, Gen. Kau masih ingat juga pada ibumu?" sindir wanita paruh baya yang melahirkan Genta itu.
"Apa yang ibu katakan?" cibir Genta tanpa rasa bersalah.
"Kapan kau pulang?"
"Masih banyak pekerjaan menumpuk di sini, Bu. Aku harus membantu Ron.."
"Untuk apa kau terus membantu anak Daisy? Kau bahkan tidak diberi posisi tetap dalam perusahaan! Lebih baik pulang saja!" omel ibunda Genta yang bernama Berlin itu.
"Bu, aku tidak melakukan ini demi jabatan. Ron juga keluarga kita, Bu."
"Pulang minggu ini juga! Ibu sudah memilihkan calon istri untukmu! Ron bahkan sudah menikah, kau masih mau tetap hidup melajang dan terlontang-lantung seperti ini?!"
"Menikah apa, Bu?! Aku masih muda!" tolak Genta.
"Tiga puluh tahun memang bukan usia tua, tapi itu umur yang cukup matang untuk menikah, Gen!" bujuk Berlin.
"Bu, masa mudaku masih panjang. Aku tidak ingin terburu-buru!"
Genta menutup sambungan telepon dengan kesal.
"Menikah apanya?! Aku baru saja patah hati dan wanita tua itu langsung menyuruhku untuk menikah?!" gerutu Genta seraya menatap ponselnya geram.
***
"Mas Han, kita mau kemana?"
tanya Thrisca penasaran.
Wanita cantik itu tengah duduk manis di dalam mobil yang dikendarai oleh Han.
Thrisca terus mengoceh bertanya ini itu dengan kain yang tertutup rapat di mata wanita itu.
"Ron tidak akan menyiapkan kejutan yang aneh-aneh, kan?" tanya Thrisca lagi.
Han hanya tersenyum tipis tanpa menanggapi wanita cantik yang terus mengoceh padanya dengan mata tertutup itu.
Han berkendara cukup lama di sore hari yang cerah itu. Langit sudah dipenuhi semburat warna jingga dan kuning.
Udara segar sore mulai berhembus di sekitar mobil yang melaju perlahan memasuki pegunungan rindang.
"Silahkan, Nona.."
Han menggandeng tangan Thrisca menuruni mobil.
Ron yang sudah berdiri di luar mobil, segera berlari menghampiri sang istri yang menepis tangan Han yang memegang tangan wanitanya.
Han segera menghilang di balik pepohonan meninggalkan pasangan suami-istri itu di tengah-tengah lapang yang dikelilingi banyak pohon besar.
"Udaranya segar sekali," gumam Thrisca masih dengan mata tertutup.
"Mas Han, kapan penutup mata ini boleh dibuka?" tanya Thrisca masih mengira pria yang memegang tangannya adalah Han.
"Aku bukan Han!" timpal Ron jengkel.
"Ron? Aku buka kainnya sekarang,"
Thrisca meraih kain yang menutup matanya dan siap melepas benda yang melingkar di kepalanya itu.
"Tunggu sebentar!" cegah Ron seraya menarik tangan sang istri.
"Apalagi?"
"Diam di sini!"
Ron merogoh sakunya dan mengeluarkan kotak perhiasan kecil.
Pria itu mengambil kalung berlian dan memakaikannya di leher jenjang sang istri.
"Ron, apa ini?"
Thrisca meraba-raba benda yang bertengger di lehernya.
Ron membuka penutup mata sang istri untuk memperlihatkan kejutan yang sudah ia siapkan.
Mata Thrisca berbinar seketika melihat pemandangan hijau yang terhampar di depan matanya. Terlihat sebuah pohon besar berdiri tegak di hadapannya.
Di sela-sela ranting besar pohon itu, terselip bangunan kokoh dari kayu yang membentuk rumah kecil.
"Ini.. rumah pohon?" tanya Thrisca dengan wajah berseri.
Di sekeliling rumah pohon itu tergantung banyak ayunan dan bunga-bunga penuh warna yang semakin menyemarakkan bangunan kecil di atas pohon itu.
Ron juga memasang banyak balon dan hiasan untuk mempercantik rumah pohon hasil karyanya.
"Jadilah teman hidupku, Icha.."
Ron merogoh sakunya untuk mengambil cincin berlian.
Pria itu mengambil cincin tua yang melingkar di jari manis istrinya dan menggantinya dengan cincin berlian yang sudah ia siapkan untuk sang istri.
"Apa-apaan kau ini? Kau sedang melamarku?" goda Thrisca.
"Aku menyiapkan teman bermain kecil untuk anak kita.." ujar Ron seraya mengecup kening sang istri.
"Tempat bermain apa, Ron? Kau ini--"
"Aku bilang, ini tempat bermain untuk anak kita." ujar Ron seraya menatap tajam sang istri.
"Apa maksudmu, Ron?"
Pria itu melempar senyuman manis pada Thrisca seraya mengusap lembut perut sang istri.
Ron berjongkok di hadapan istrinya dan mencium perut rata wanita cantik itu.
"Ron, jangan bilang kalau--"
"Iya, Sayang. Selamat, istriku. Kau akan menjadi ibu," ujar Ron seraya mengecup punggung tangan sang istri.
Thrisca terdiam sejenak mencoba mencerna perkataan sang suami. Wanita itu mengusap perutnya dengan mata berkaca-kaca penuh haru.
"Kau tidak bohong kan, Ron?"
"Sudah kubilang kau akan baik-baik saja. Kau tidak memiliki masalah kesehatan apapun. Kau sangat sehat, Sayang."
Thrisca memeluk erat tubuh suaminya dengan air mata berlinang. Wanita itu tak dapat lagi membendung tangis bahagianya saat mengetahui kabar menggembirakan dari sang suami.
***
Ron membukakan pintu mobil dan menggendong sang istri menuju kamar. Pria itu semakin posesif dan berlebihan setelah mengetahui kehamilan sang istri.
"Ron, aku hanya hamil bukan sakit parah. Kenapa kau memperlakukanku seperti orang lumpuh? Bahkan berjalan saja tidak boleh?" protes Thrisca.
"Dokter bilang awal kehamilan seperti ini masih rawan. Kau harus ekstra hati-hati menjaga tubuhmu. Saat ini ada satu nyawa lain yang tumbuh di badanmu." ujar Ron menggurui.
"Beberapa hari ini aku terus merasa mual dan perutku terasa tidak enak. Hampir saja aku mengonsumsi obat flu tadi," gumam Thrisca.
"Jangan sembarangan meminum obat! Jangan melakukan hal-hal yang tidak perlu! Istirahat saja yang banyak."
"Ron, kita tidak pergi ke dokter?"
"Besok saja. Hari sudah gelap. Angin malam tidak bagus untukmu," ujar Ron seraya menarik selimut untuk menutupi tubuh sang istri.
"Aku akan mengambilkan makanan. Kau mau makan apa?" tawar Ron.
"Em, makan?"
Thrisca mengingat kembali dirinya yang melewatkan beberapa kali makan selama dua hari terakhir karena selalu mual setiap kali melihat makanan.
"Jika aku bilang pada Ron aku melewatkan makan malam selama beberapa hari ini, Ron pasti akan mencincangku.." batin Thrisca ketakutan.
"N-nanti saja," tolak Thrisca.
"Nanti saja apanya?! Kau harus makan sekarang!"
Ron keluar dari kamar dan kembali seraya membawa nampan penuh makanan.
"Ron, aku bukan kuli.." protes Thrisca dengan wajah frustasi saat sang suami membawakan banyak piring makanan untuknya.
"Kau harus banyak makan,"
Ron duduk di tepi ranjang dan mengambil salah satu piring makanan.
"Buka mulutmu!"
Ron sudah siap dengan sendok terbang berisi penuh makanan.
"Ron, aku tidak mau itu.." rengek Thrisca.
"Kau ingin makanan lain? Aku akan ambilkan yang lain," tawar Ron.
"Ron, tolong singkirkan makanan-makanan ini! Kepalaku pusing,"
"Kau mau makan apa? Aku akan belikan," tawar Ron dengan sabar.
"Aku sedang tidak berselera, Ron.."
"Sayang, jangan begitu. Makan ini sedikit,"
Ron kembali melayangkan sendoknya menuju mulut Thrisca.
"Ron, kubilang singkirkan!"
Tanpa sengaja Thrisca menepis sendok yang dipegang suaminya hingga terjatuh ke lantai bersama makanan yang bercecer.
Ron mengatur nafas sejenak dan mencoba menahan diri untuk tidak berteriak pada sang istri yang tengah hamil muda.
"M-maaf, Ron. Aku tidak sengaja," sesal Thrisca dengan mata berkaca-kaca.
"Tidak apa-apa, Sayang."
Ron berjongkok untuk mengambil sendok yang tergeletak di lantai.
Tepat saat punggung tangan Ron mencapai lantai, tiba-tiba Thrisca bangkit dari ranjang dan tidak sengaja menginjak tangan Ron dengan kencang.
Wanita itu berlarian menuju kamar mandi dengan tergesa-gesa karena sudah tidak sanggup lagi menahan mual.
Ron menjerit seketika begitu Thrisca dengan santainya memijakkan kaki di atas punggung tangannya.
Suami Thrisca itu kembali mengatur nafas untuk menahan amarahnya di depan sang istri. Rasa kesalnya tiba-tiba berubah menjadi kecemasan luar biasa ketika ia mendengar suara sang istri yang tengah muntah di dalam kamar mandi.
Ron tidak mempedulikan lagi sendok dan tangannya yang terinjak. Pria itu ikut kalang kabut menyusul sang istri yang tengah memuntahkan makanan di kamar kecil.
"Sayang, kau tidak apa-apa?" tanya Ron seraya mengusap-usap perut sang istri.
"Aku tidak apa-apa," ujar Thrisca lemas.
Wanita itu segera berkumur dengan bersih dan berjalan lunglai keluar dari kamar mandi.
Ron dengan sigap mengangkat tubuh mungil sang istri dan menggendong wanita hamil itu kembali ke ranjang empuk mereka.
"Ron, kamar mandinya hanya berjarak lima langkah dari ranjangmu. Untuk apa menggendongku segala?" ujar Thrisca dengan suara lirih.
"Sudahlah! Jangan memaksakan diri untuk berbicara! Sudah lemas begitu masih saja mengoceh,"
Ron mengusap-usap wajah sang istri dengan lembut. Pria itu benar-benar tidak tega melihat istrinya yang tergolek lemas tanpa tenaga dengan wajah hampir memucat.
"Ron, singkirkan makanannya! Bau makanan ini membuatku mual," rengek Thrisca.
"Iya, iya. Aku akan segera membereskan piring-piring makanan ini."
Ron bergegas mengeluarkan piring penuh makanan itu dari kamarnya.
Selesai menyingkirkan semua makanan dari ruangannya, Ron segera kembali menghampiri sang istri dengan membawa segelas susu.
"Sayang, jangan tidur dulu! Kau belum makan apapaun. Ini minum susunya," ujar Ron seraya membuka paksa mata istrinya.
"Ron, bau susu juga membuatku mual."
"Lalu aku harus membiarkanmu tidur dengan perut kosong? Kau tidak kasihan pada bayi kita?" paksa Ron dengan suara selembut mungkin.
Thrisca meraih gelas susu yang dibawakan oleh suaminya dan meneguk sedikit minuman berwarna putih itu.
"Minum sedikit lagi," paksa Ron lagi.
"Sudah, Ron. Perutku masih tidak enak," tolak Thrisca.
"Kalau begitu bagaimana dengan camilan? Kau mau biskuit? Aku tidak akan membawa makanan berlemak yang membuat mual. Bagaimana kalau makan buah?" tawar Ron bak pedagang makanan keliling menawarkan barang jualannya.
"Kalau begitu buah saja.."
Ron segera melesat mengambil seluruh buah yang tersaji di meja makan. Pria itu mengupaskan satu buah pisang manis untuk sang istri dengan semangat.
"Ron, ini terlalu besar. Tidak mungkin bisa kuhabiskan," ujar Thrisca seraya mengunyah perlahan suapan buah dari sang suami.
"Tidak apa-apa makan sedikit, yang penting perutmu tidak kosong. Besok kita periksakan kandunganmu ke dokter." ujar Ron seraya mengusap-usap perut istrinya dengan senyum sumringah.
"Sejak kapan kau tahu kalau aku hamil, Ron?"
"Kemarin aku pergi ke rumah sakit untuk mengambil hasil pemeriksaanmu. Aku mengirimkan sampel darah dan urin ke lebih dari sepuluh rumah sakit. Kau baik-baik saja, Sayang. Kita berdua sama-sama sehat," ungkap Ron penuh sukacita.
"Maaf, Ron. Aku terlalu khawatir berlebihan. Kau selalu saja membahas anak, aku jadi takut jika aku tidak bisa memberimu keturunan."
"Maaf, Sayang. Aku tidak bermaksud menekanmu,"
"Aku tidak menyangka kita sudah berjalan sejauh ini. Tidak terasa kita akan segera menjadi orang tua." ujar Thrisca seraya mengusap rambut sang suami.
"Kau pasti bisa menjadi ibu yang baik, Sayang."
Ron melayangkan kecupan di kening sang istri dan semakin turun ke perut rata wanita yang tengah mengandung itu.
Thrisca menatap lekat-lekat cincin baru yang melingkar di jarinya. Terdapat inisial namanya dan sang suami terukir di dalam cincin berlian mahal itu.
Wanita itu juga tak kalah senang melihat kalung pemberian sang suami dengan liontin berbentuk huruf bertuliskan "RON" yang bertengger di leher putihnya.
"Terimakasih untuk semua hadiahnya, Ron.."
Thrisca mendaratkan kecupan lembut di bibir pria tampan yang tengah duduk berhadapan dengannya itu.
***
Bersambung...