
Tok..tok..
Bi Inah mengetuk pintu kamar pasangan suami-istri yang masih sibuk bercumbuu itu.
Pengurus rumah itu hendak memberitahukan kedatangan Nyonya Daisy, Tuan Derry serta Tuan Hasan yang berkunjung bersamaan ke kediaman Tuan Muda itu.
Ron yang belum puas bermain dengan sang istri, terpaksa harus menghentikan aksinya karena gangguan yang tak terduga.
"Kenapa orang tua itu terus-terusan datang kemari?!" gerutu Ron seraya membantu sang istri berpakaian.
"Ron, jangan begitu! Aku suka rumah ini menjadi ramai,"
Pria itu menggandeng tangan sang istri keluar dari kamar untuk menyambut keluarga dari suami Thrisca itu.
Thrisca menatap wajah sumringah dari kakek, ayah mertua serta ibu mertuanya yang menyambut dirinya dengan senyuman hangat.
"Ah, rasanya seperti mendapat kunjungan dari keluarga," batin Thrisca mengharu biru.
"Kakek, ayah, ibu.."
Thrisca menyapa satu-persatu anggota keluarga suaminya itu dengan mata berkaca-kaca.
"Aku akan buatkan minuman,"
Thrisca segera melepas tangan sang suami dan bergegas menuju dapur.
"Sayang, tidak perlu! Biar aku saja,"
Ron ikut berlalu dari ruang tamu, berlari menyusul sang istri.
Begitu sampai di dapur, wajah wanita itu sudah basah dengan air mata. Thrisca menangis sesenggukan mengingat dirinya yang sudah tak memiliki keluarga yang akan mengunjunginya.
Entah rasa iri atau bahagia yang tengah melanda, ia tak bisa menahan tangis haru serta rasa iri dengkinya pada sang suami yang memiliki keluarga lengkap yang begitu perhatian.
"Sayang, kau kenapa?"
Ron mengusap lembut air mata yang mengalir di deras di pipi wanita cantik itu.
Ron mendekap erat tubuh sang istri yang masih menangis sesenggukan. Wanita itu menenggelamkan kepalanya dalam dekapan bahu lebar suaminya.
"Sayang, ada apa denganmu? Jangan membuatku takut!"
Ron mengusap-usap lembut kepala wanita hamil itu dengan wajah cemas.
"Maaf, Ron. Aku hanya iri padamu. Kau bisa memberitakan kehamilanku pada seluruh keluargamu, tapi aku tidak memiliki satu orang pun yang bisa dihubungi untuk sekedar membagikan berita bahagia ini,"
"Apa yang kau bicarakan? Aku hanya membagi berita pada mereka, tapi kau yang akan mendapatkan seluruh perhatian mereka." hibur Ron.
"Maaf, Sayang. Seharusnya aku memberimu kesempatan untuk memberitahu sendiri pada kakek dan ayah ibu," sesal Ron.
"Ini bukan salahmu, Ron. Maaf, aku jadi cengeng begini hanya karena hal kecil.."
Thrisca mengusap pipinya dengan kasar.
"Mereka semua juga keluargamu, Sayang. Mereka datang untukmu.."
Nyonya Daisy menyambangi dapur dan melihat sang putra beserta menantunya tengah berurai air mata di tempat yang penuh panci dan piring itu.
"Apa yang kalian lakukan di sini?" tegur Nyonya Daisy.
"Kenapa kau menangis, Thrisca?" tanya wanita paruh baya itu.
"Tidak apa-apa, Bu. Aku hanya.. hanya ingin menangis saja. Entah kenapa emosiku sulit terkendali." ujar Thrisca seraya mengucek matanya yang memerah.
"Sayang, jangan digosok matanya seperti itu!"
Ron menghentikan tangan sang istri yang tengah menggosok mata dengan kasar.
Pria itu mengusap lembut kedua mata sang istri yang sudah memerah dan masih basah.
"Itu hal yang wajar, Thrisca. Ibu hamil memang lebih sensitif." tutur Nyonya Daisy.
"Ibu membelikan banyak barang untukmu. Ayo, ke sini!"
Nyonya Daisy menarik tangan Thrisca menuju kamar putranya yang sudah penuh dengan barang-barang darinya.
Ron membiarkan sang istri menghabiskan waktu berdua bersama ibunya di dalam kamar, sementara ia menghampiri bapak-bapak yang bersantai di ruang tamu.
"Gen, kau dari mana saja?" sapa Tuan Derry pada Genta yang baru muncul di pintu masuk rumah Ron.
"Ada acara apa ini?" tanya Genta mengernyitkan dahi.
"Hanya ingin mengunjungi menantu saja," jawab Tuan Derry.
"Memangnya kenapa dengan si gendut?" tanya Genta heran.
"Memang bukan hal yang istimewa untukmu, tapi ini hal yang istimewa untuk paman karena sebentar lagi paman akan menjadi kakek.." ujar Tuan Derry dengan girang.
"Kakek?!" Genta makin bingung dengan ucapan ayah Ron.
"Kau tidak tahu kalau Icha hamil?" tanya Tuan Hasan.
Genta membulatkan matanya lebar-lebar dan membeku seketika saat mendengar kabar mengejutkan dari kakeknya.
"Hamil??" jerit Genta dalam hati.
Bak terkena sambaran petir, Genta terkejut bukan main hingga lidahnya menjadi kelu dan kakinya menjadi lemas.
Genta melangkah mundur dengan gontai dan kembali berlari keluar dari rumah Ron.
"Hamil? Wanita yang kucintai tengah mengandung benih dari pria lain?!"
Genta berlari di sekitar kompleks rumah Ron dengan wajah suram nan galau.
Bak tengah syuting film, pria itu berlarian keliling kompleks berharap hujan akan turun menemani kesedihannya yang tengah dilanda patah hati.
"Kenapa?! Kenapa tidak hujan?!" teriak Genta seraya menatap langit malam yang gelap tanpa bintang.
***
"Thrisca, coba ini! Ibu hanya bisa membawakan beberapa model baju. Bulan depan ibu akan carikan baju untuk ibu hamil lebih banyak lagi," ujar Nyonya Daisy kegirangan menunjukkan tumpukan pakaian pada sang menantu.
"Ibu, perutku masih rata. Tidak perlu repot-repot membelikan banyak baju,"
"Kalau bukan ibu yang menyiapkan barang-barang ini, lalu siapa lagi?! Kau pikir Ron akan mengurus hal-hal sampai sekecil ini?"
"Em, terima kasih, Bu."
"Jaga kandunganmu baik-baik. Ibu akan sering-sering mampir. Kalau ada sesuatu yang ingin kau tanyakan, langsung saja hubungi ibu." ujar Nyonya Daisy penuh semangat.
Thrisca tersenyum manis menanggapi ibu mertuanya. Kebahagiaan wanita itu semakin berlipat ganda dengan adanya perhatian dari sang ibu mertua yang begitu baik padanya.
"Thrisca, bagaimana keputusanmu? Kau sudah memikirkannya?"
"Sudah. Aku akan melanjutkan pendidikanku," ujar Thrisca mantap.
"Bagus--"
"Dan juga membangun karir," sambung wanita itu memotong ucapan ibu mertua.
"Apa? Kau akan mengambil semuanya?"
"Bu, pendidikan juga penting untukku. Dan setelah menyelesaikan pendidikan, aku juga ingin memiliki kegiatan yang bermanfaat untuk diriku. Aku bukan hanya melakukan ini untuk menaikkan statusku, tapi juga demi memajukan diriku sendiri. Aku sudah lelah terus merasa rendah diri dan berkecil hati di depan Ron,"
"Kau yakin kau sanggup?" tanya Nyonya Daisy cemas.
"Bu, waktuku masih panjang. Menuntut ilmu bisa dilakukan kapanpun tanpa halangan usia. Aku akan mulai belajar pelan-pelan," ujar Thrisca tegas.
"Bagus, Thrisca. Kau juga harus menunjukkan sisi mandirimu. Kita para wanita jangan mau terus bersembunyi dibalik kesuksesan suami. Kau harus membangun peranmu untuk membantu suamimu,"
"Ibu benar-benar keren.." puji Thrisca pada sang ibu mertua.
"Kau pasti juga bisa melakukannya.." dukung Nyonya Daisy.
"Cucuku, jangan buat mommy susah, ya?! Oma akan sering mampir nanti,"
Nyonya Daisy berbicara pada perut Thrisca dengan senyum sumringah.
Ron berdiri di pintu kamarnya sambil berkacak pinggang, melihat ibundanya masih asyik berbincang dengan sang istri.
"Mau sampai kapan ibu berada di sini?! Kenapa tidak pindah sekalian saja ke sini?!" sindir Ron kesal.
"Ide bagus! Siapkan satu kamar untuk ibu," ujar Nyonya Daisy menanggapi serius perkataan sang putra.
"Ibu!! Aku menyindirmu! Cepat pulang sana! Bawa para tua bangka itu pergi dari rumahku! Kalian semua sudah merusak acaraku!" omel Ron pada sang ibu.
"Ron, kami datang ke sini juga bukan untukmu! Tidak usah terlalu percaya diri! Untuk apa juga ibu mengunjungi anak kurang ajar sepertimu!" cibir Nyonya Daisy.
"Sogokan apa yang ibu bawa untuk istriku?! Sudah kubilang jangan paksa istriku untuk melakukan hal yang aneh-aneh! Ibu pulang saja! Ibu hanya membawa pengaruh buruk untuk istriku!" usir putra semata wayang Nyonya Daisy itu.
"Astaga! Apa dosaku hingga memiliki putra sedingin ini?!"
Nyonya Daisy terpaksa keluar dari kamar sang putra yang terus-menerus mengomel padanya itu.
"Ron, ibu datang ke sini untukku. Jadi, kau tidak berhak menyuruh-nyuruh ibu untuk pulang!" omel Thrisca seraya menarik daun telinga sang suami.
"Sayang, para orang tua itu akan mengganggu istirahatmu. Sekarang sudah malam. Aku buatkan susu, mau?" tawar Ron.
"Aku buat sendiri saja, Ron. Temanilah ayah dan kakek di ruang tamu. Kenapa kau malah di sini?"
"Biarkan saja! Mereka bukan tamu penting," ujar Ron cuek.
"Ron, sebentar lagi kau akan menjadi daddy. Kau masih mau bersikap kekanakan seperti ini?"
"Apa hubungannya?" cibir Ron tak peduli.
"Tolong contohkan sikap yang baik untuk bayi kita, Ron.."
Thrisca meraih tangan sang suami dan menempelkan jari jemari pria itu ke perutnya yang masih rata.
"Memangnya aku mencontohkan hal yang buruk?"
Ron berjongkok di depan istrinya dan menciumi perut wanita hamil itu.
"Sayang, tolong tiru yang baik-baik dari daddy, ya?"
Ron melingkarkan tangannya di pinggang sang istri dan memeluk erat perut yang berisi buah cintanya itu.
Thrisca mengusap rambut suaminya dengan lembut seraya melempar senyum manis pada sang suami yang masih memeluk erat tubuhnya.
"Ayah, lihat aku sekarang. Aku hidup berbahagia dengan keluarga kecilku. Terima kasih sudah memilihkan Ron untukku.." batin Thrisca mengenang sang ayah yang sudah tenang di alam sana.
***
Bersambung...