
Thrisca tidak bisa berhenti tersenyum setelah keluar dari kediaman Tuan Hasan. Pikiran wanita itu sudah melayang membayangkan acara pernikahan impiannya bersama Ron yang akan segera terwujud.
Sama halnya dengan Thrisca, Ron juga tenggelam dalam pikirannya sendiri membayangkan acara lamaran dan pesta pernikahan yang sebenarnya sudah ia siapkan sendiri sejak lama untuk sang istri.
Mobil Ron melaju perlahan meninggalkan area rumah sang kakek. Pasangan suami-istri itu menutup mulut rapat-rapat dan duduk dengan tenang di kursi penumpang dalam suasana hening.
"Padahal aku sudah menyiapkan acara khusus untuk istriku! Kenapa pria tua itu mengambil panggung kejutanku?!" gerutu Ron dalam hati.
Ron meraih tangan Thrisca dan mengusap cincin pernikahan mereka yang tersemat di jari sang istri.
"Kenapa, Ron?" tanya Thrisca pada suaminya yang sibuk memandangi cincin kecil yang melingkar di jarinya.
"Sebentar lagi cincin jelek ini akan diganti dengan cincin khusus pemberianku! Selera kakek tua itu benar-benar jelek! Cincin ini sama sekali tidak modis!" batin Ron jengkel.
"Ron?"
"Sayang, kau suka cincin ini?" tanya suami Thrisca itu dengan wajah penasaran.
"Tentu saja. Ini kan cincin pernikahan kita," ujar Thrisca malu-malu.
"Mana boleh cincin norak seperti ini bertengger di jari istriku! Cincin model tua seperti ini, sebaiknya dibuang saja!" ujar Ron dalam hati.
"Ron, alasan apa yang harus kukatakan nanti saat aku muncul tanpa kain tebalku? Apa aku harus mengarang cerita mengenai sedot lemak atau diet ketat?" tanya Thrisca.
"Soal itu pikirkan nanti saja. Aku akan membuat skenario yang bagus untukmu di artikel nanti."
"Lalu kapan kau akan membawaku menemui ayah dan ibumu?" tanya Thrisca lagi.
"Secepatnya.." ujar Ron seraya mengusap pipi halus istri cantiknya.
"Ron, bisakah kita mengadakan pesta sederhana saja?" pinta Thrisca takut-takut.
"Tidak mungkin, Sayang. Kakek memiliki banyak relasi yang harus diundang. Dan acara ini akan menjadi hari dimana kita meresmikan hubungan kita di depan publik."
Thrisca terdiam sejenak tanpa membalas ucapan sang suami. Pikiran wanita itu sudah dipenuhi dengan kecemasan dan kegelisahan mengenai acara pesta pernikahan yang akan digelar.
"Tidak perlu cemas. Kita sudah pernah menggelar acara seperti ini sebelumnya, kan?" hibur Ron.
"Tentu saja yang ini berbeda, Ron! Ini pesta pernikahan kita yang sebenarnya."
"Kenapa? Kau gugup?" goda Ron seraya menyenggol bahu sang istri.
"Ron, acara pernikahan selalu menjadi momen istimewa bagi kami para wanita. Kau tidak akan mengerti!" omel Thrisca pada sang suami.
"Baiklah, kau benar. Aku salah. Salah. Salah!" gerutu Ron dengan wajah cemberut.
Istri Ron itu tersenyum tipis seraya memeluk lengan besar sang suami.
"Ron, terimakasih.." ujar Thrisca seraya bersandar di bahu sang suami.
"Untuk?"
"Untuk keluarga baru yang kau berikan. Aku benar-benar beruntung,"
Wanita itu melayangkan kecupan di pipi sang suami.
***
"Nadine!" panggil Cherry penuh semangat.
"Cherry, kau datang pagi sekali?" sindir Nadine pada sahabatnya itu.
"Tidak perlu menyindir seperti itu!" cibir Cherry.
"Kau sudah menghubungi Icha?" tanya Cherry.
"Icha tidak membalas pesanku. Aku juga tidak bisa menghubunginya. Mungkin dia sedang sibuk. Kita tunggu saja kabar darinya."
Kedua wanita itu berjalan masuk ke gedung perusahaan milik keluarga Ron sambil berbincang.
Nadine kembali mengeluarkan ponselnya dan mencoba menghubungi Thrisca.
Sementara di tempat lain, sahabat yang tengah dihubungi oleh Nadine itu masih tidur terlelap di bawah selimut bersama sang suami.
Matahari sudah bersinar terik dan orang-orang sudah mulai beraktivitas. Namun, Thrisca dan Ron masih tertidur pulas di atas ranjang empuk mereka.
Ron membuka mata perlahan dan mencoba menyadarkan diri dari mimpi panjangnya. Pria pemalas itu tidak bisa berhenti tersenyum saat mendapati sang istri masih terbaring disampingnya.
Suami Thrisca itu mengusap pipi sang istri dan mengecup pipi mulus wanita itu bertubi-tubi hingga istrinya terbangun.
"Ron, menyingkirlah! Aku masih mengantuk!" ujar Thrisca seraya mendorong kepala sang suami untuk menjauh darinya.
"Tidurlah,"
Ron mendekap erat sang istri yang masih memejamkan mata.
"Ron, bagaimana aku bisa tidur! Singkirkan tanganmu!" omel Thrisca dengan mata yang masih tertutup.
Ron tidak menghiraukan omelan sang istri dan masih sibuk menjamah tubuh Thrisca yang masih bertelanjang bulat.
Thrisca memaksakan diri membuka mata dan memukul-mukul dada bidang sang suami.
"Ron, kau ini benar-benar!"
Wanita itu bangkit dari bantal dan mendudukkan diri sejenak di ranjang empuknya.
"Kau mau kemana?"
Ron ikut bangun dan memeluk sang istri dengan manja.
"Maaf, Ron. Aku bangun siang. Aku akan segera membuatkan sarapan," ujar Thrisca seraya merapikan rambutnya.
"Disini dulu saja. Kau pasti lelah setelah 'berolahraga' semalaman," goda Ron seraya mengecupi leher jenjang sang istri.
"Ron, kau masih belum puas juga?!" omel Thrisca seraya memukul punggung tangan suaminya.
"Ayo main sekali lagi," bisik Ron di telinga Thrisca hingga membuat wanita itu merinding.
"Sudah siang, Ron! Memangnya kau tidak pergi bekerja?"
"Semua pekerjaan sudah diurus oleh Han. Aku ingin menghabiskan waktu bersama istriku hari ini,"
Ron kembali menarik selimutnya dan memulai lagi 'olahraga' pagi bersama sang istri.
***
"Han, bagaimana cincin pesananku? Sudah jadi belum?! Kenapa lama sekali?" omel Ron pada asistennya yang malang melalui telepon.
"Sebentar, Bos. Aku akan mengurusnya nanti,"
"Baik, Bos." jawab Han dengan wajah murung.
"Bagaimana hasil pemeriksaan dari rumah sakit? Kau sudah mencoba berapa rumah sakit? Aku ingin hasil yang membuat istriku senang!"
"Sedang diurus, Bos. Baru ada empat rumah sakit yang sudah mengirim hasil pemeriksaan,"
"Lamban sekali! Kirimkan padaku semua hasil pemeriksaannya!" bentak Ron pada Han.
"Ya Tuhan.. cobaan apalagi ini? Bos pemalas ini sudah melimpahkan semua pekerjaannya padaku. Sekarang aku masih harus melakukan banyak hal untuk menyenangkan istrinya juga?!" gerutu Han dalam hati.
"Bagaimana dengan semua rapat hari ini? Kau bisa mengurusnya, kan? Kirimkan semua laporannya padaku nanti malam!" oceh Ron lagi.
Bos kejam nan pemalas itu tak henti-hentinya memberikan tugas yang berbeda pada asisten malang yang sudah setia bekerja padanya selama tiga tahun terakhir.
"Han, jangan lupa urus tempat untuk lamaranku nanti! Aku sudah membuat list barang yang harus kau siapkan! Cari tempat yang bagus! Tempat yang bisa membuat istriku terharu! Tempat yang bisa membuat istriku terus mengingat lamaran dariku!"
"Baik, Bos." jawab Han lemas.
"Jawaban macam apa itu?!" bentak Ron kurang puas mendengar suara lirih sang asisten.
"Siap, Bos!"
"Siapkan tempat makan malam untukku dan istriku nanti. Cari tempat yang jauh dari keramaian! Tempat yang terpencil tapi indah!" perintah Ron lagi.
"Baik, Bos."
Akhirnya Bos tukang suruh nan menyebalkan itu menutup panggilan dan berhenti menambah tugas untuk Han.
"Dasar bos gila!!"
Han mengamuk di dalam ruangannya seraya menyebarkan berkas-berkas di mejanya ke seluruh lantai.
Pria itu mengambil bantal kecil yang ia tempeli dengan wajah Ron dan memukul-mukul benda empuk itu dengan kencang.
"Tunggu saja saat aku nanti jabatan nanti!! Aku akan menggosokkan sikat gigimu ke toilet!!" amuk Han dengan bersemangat menghajar foto Ron yang tertempel di bantal.
Tok..tok.
Han menghentikan aksi anarkisnya yang merusak barang-barangnya di dalam ruangan kecil itu.
Pria itu segera merapikan rambut serta kemejanya dan duduk manis di bangkunya.
"Masuk!" ucap Han setelah ia bersiap di mejanya.
Pria itu memasang wajah datar seperti tidak terjadi apapun meskipun ruangannya masih berantakan penuh dengan barang berserakan di lantai.
Nadine membuka pintu perlahan seraya membawa berkas di tangannya.
"Apa terjadi gempa di ruangan ini? Berantakan sekali," batin Nadine.
"Saya ingin mengantar berkas dari departemen pemasaran." ujar Nadine seraya meletakkan kertas-kertas itu di meja.
"Oh, iya.." jawab Han sekenanya.
"Itu saja, Pak. Saya permisi," pamit Nadine.
"Tunggu sebentar!"
"Iya, Pak?"
Nadine menoleh ke arah Han sebelum wanita itu meninggalkan ruangan.
"Kau di bagian departemen mana?"
"Saya pegawai magang di departemen pemasaran."
"Magang? Artinya kau belum menangani pekerjaan berat, kan?"
"Em, iya." jawab Nadine lirih.
"Apa maksudnya? Atasan sombong ini ingin mengataiku tidak berguna hanya karena aku masih pegawai magang?!" gerutu Nadine dalam hati.
"Kalau begitu, bantu aku membersihkan ruangan ini. Lalu siapkan berkas-berkas untuk rapat nanti. Cetak semua dokumen dalam diska ini." perintah Han seraya menyodorkan diska kecil pada Nadine.
"Baik, Pak."
Nadine berbalik menuju pintu, namun langkahnya kembali terhenti saat Han memanggilnya lagi.
"Tunggu sebentar!"
"Ada apa lagi sih?!" batin Nadine seraya berjalan kembali menghampiri Han.
"Tolong cari restoran di daerah pinggir kota. Cari tempat yang indah tapi sepi. Booking untuk malam ini." perintah Han.
"Restoran seperti apa, Pak?"
"Restoran romantis. Dinner untuk pasangan. Kau kan wanita? Kau lebih tahu tempat seperti apa yang disukai para wanita, kan? Selesaikan semuanya sebelum nanti jam tiga."
"Baik, Pak."
"Bersihkan ini dulu!"
Han berlenggang keluar dari ruangannya, membiarkan Nadine membereskan ruangannya yang kacau.
"Eh, sebentar.."
Nadine menoleh lagi ke arah Han dengan wajah malas.
"Tolong buatkan aku kopi setelah kau selesai membersihkan ruangan ini," ujar Han seraya menutup pintu ruangannya.
"Tidak bisakah dia menunggu satu pekerjaanku selesai dulu sebelum memberi perintah yang lain?!" gerutu Nadine kesal.
***
Bersambung...
**Halo semua ✌🏻
Terimakasih banyak atas dukungan dari teman-teman pembaca semua untuk DEAR, MY RON
Terimakasih untuk like, komen, favorit, rating, hadiah dan vote dari teman-teman semua.
Mohon maaf jika masih ada banyak **typo **dan kesalahan penulisan lain yang membuat pembaca semua merasa kurang nyaman.
Terimakasih banyak sudah mampir di tulisan receh author ❤️**