DEAR, MY RON

DEAR, MY RON
BAB 56



"Bi, tolong periksa lagi makanannya. Si gendut pasti kehilangan selera makan selama beberapa hari ini.." ujar Genta sibuk menyiapkan makanan bersama Bi Inah.


Kediaman Ron tengah bersiap menyambut kepulangan nyonya rumah mereka yang akan tiba bersama sang pemilik rumah.


Genta yang mendapat kabar kepulangan dari Ron, segera mengatur sambutan kecil untuk menghibur Thrisca yang masih berkabung.


Pria itu sibuk memasang banner bertuliskan "Selamat datang ke rumah kita, Thrisca sayang!" dengan antusias.


Genta juga memasang banyak balon dan hiasan serta menyiapkan puluhan piring makanan untuk istri sepupunya itu.


"Dengar semuanya! Begitu si gendut-- em, maksudku nyonya datang, kalian harus tersenyum! Tidak ada yang boleh menyebut-nyebut kata 'ayah', 'keluarga', 'yatim', 'sebatang kara' dan semacamnya! Jangan biarkan nyonya melakukan pekerjaan rumah sekecil apapun termasuk membuat satu cangkir teh di dapur! Pastikan selalu menyediakan makanan manis untuk nyonya!"


Genta nampak bersemangat memberikan pidato kepada seluruh pengurus rumah di kediaman sang sepupu.


"Bi Inah, kamar Ron sudah dibersihkan?" tanya Genta memeriksa satu persatu pekerjaan asisten rumah tangga di istana Ron.


"Sudah, Tuan."


"Bagus! Semuanya sudah siap. Seharusnya sebentar lagi mereka datang," ujar Genta seraya melirik jam tangannya.


Beberapa menit kemudian, gerbang besar istana cucu keluarga Diez itu terbuka lebar menyambut kedatangan satu unit mobil yang melaju perlahan memasuki halaman rumah.


Sosok Tuan rumah muncul dari dalam mobil dan segera berlari membukakan pintu untuk sang istri.


"Tanganku baik-baik saja. Kenapa harus repot membukakan pintu?" gumam Thrisca seraya beranjak dari bangku kendaraan roda empat itu.


Ron menggandeng tangan sang istri memasuki rumah yang sudah penuh dengan hiasan hasil karya Genta.


"Gendut! Selamat datang kembali!" ujar Genta dengan semangat memberi sambutan begitu pintu rumah Ron terbuka.


Thrisca mematung sejenak, mengedarkan pandangan ke sekeliling bangunan rumah yang penuh dengan balon serta hiasan warna-warni itu.


"Thrisca.."


Genta reflek berjalan menghampiri Thrisca dan hendak memeluk istri dari sepupunya itu.


Ron segera berdiri menghadang Genta saat melihat sepupunya itu mendekati sang istri dengan merentangkan kedua tangan lebar-lebar.


"Menjauhlah dari istriku!" ujar Ron dengan mata melotot pada sang sepupu.


Genta segera berbalik arah dan menjauh secepat mungkin dari Ron.


"Aku akan mengambilkan minum," ujar Genta seraya berlari cepat meninggalkan Ron yang masih melotot padanya.


"Aku tidak berulang tahun, kenapa banyak sekali balon dan hiasan disini?" gumam Thrisca seraya tersenyum kecil melihat balon-balon yang memenuhi ruang tamu.


"Selamat datang ke rumah, sayang.."


Ron mengecup kening sang istri dan menggandeng tangan halus gadis itu masuk lebih dalam ke bangunan besar istana mereka.


"Rasanya benar-benar seperti pulang ke rumah," gumam Thrisca penuh haru.


"Apa yang kau bicarakan? Ini memang rumahmu, kan?"


Genta muncul seraya menyodorkan segelas minuman pada bintang acara kecil mereka.


"Mas Gen yang menyiapkan semua ini? Terimakasih banyak," ucap Thrisca melempar senyuman manis ke arah Genta.


"K-kau pasti lapar, kan? Aku sudah menyiapkan banyak makanan untukmu,"


Genta kembali mendekat ke arah Thrisca dan hendak menarik tangan gadis cantik itu.


Ron kembali menatap geram ke arah sepupunya yang ganjen itu.


"Ehem!"


Ron melirik ke arah Genta yang sudah mengulurkan tangan dan siap meraih tangan Thrisca.


Sepupu Ron itu langsung membeku seketika saat Ron berdehem keras dihadapannya sebelum ia berhasil menarik tangan gadis cantik yang berdiri tidak jauh darinya.


Thrisca tidak bisa menahan tawa melihat Genta yang nampak tegang dan berkeringat dingin di depan suaminya.


"Gen, jangan ganggu acara makanku bersama istriku! Lebih baik kau bantu aku mengurus kertas-kertas yang menumpuk di meja kerjaku!" omel Ron seraya mendorong badan pria jangkung itu menjauh darinya dan sang istri.


***


Thrisca duduk termenung sendirian di taman kecil yang ada di belakang rumah Ron.


Ron kembali disibukkan dengan pekerjaan yang sudah ia tinggalkan selama beberapa hari, sehingga ia tidak bisa lagi bersantai menemani sang istri.


Genta yang hanya berlalu lalang di sekitar rumah, segera menghampiri Thrisca begitu melihat gadis itu duduk sendirian di halaman belakang.


"Gendut!" panggil Genta seraya berlari kecil menuju tempat duduk Thrisca.


"Mas Gen? Tidak pergi ke kantor?"


"Sudah ada Ron yang mengurus semua pekerjaan. Untuk apa aku pergi ke kantor?" ujar Genta cuek.


"Maaf, sudah membuatmu kerepotan. Aku tidak bermaksud menahan Ron, tapi dia sendiri yang tidak mau kembali lebih dulu." sesal Thrisca.


"Apa yang kau katakan?! Kalau aku jadi Ron, aku juga akan mengutamakanmu. Istriku sedang berkabung, mana mungkin aku lebih memilih mengurus pekerjaan?"


"Kalian perhatian sekali," puji Thrisca.


"Jangan duduk melamun seperti ini. Bagaimana kalau kita jalan-jalan keluar?" ajak Genta.


"Ron tidak memperbolehkanku keluar. Ron bilang akan mengajakku keluar saat dia pulang nanti," tolak Thrisca halus.


"Ron benar-benar pelit!"


"Tidak apa-apa. Aku juga lebih suka di rumah," ujar Thrisca.


"Kalau begitu bagaimana kalau kita bersenang-senang saja di dalam rumah? Banyak hal menyenangkan yang bisa kita lakukan meskipun kita berada di rumah," usul Genta.


"Kau tidak punya hobi atau semacamnya? Sesuatu yang membuatmu bersemangat kembali?"


"Hobi apa? Aku tidak punya keahlian khusus."


"Bagaimana dengan musik? Atau lukis?"


"Hobi seperti itu terlalu keren untuk gadis rumahan sepertiku," ujar Thrisca dengan frustasi.


"Kau ini benar-benar payah!" ejek Genta seraya mengacak-acak rambut Thrisca.


"Mas Gen!"


Thrisca segera menepis tangan Genta dan merapikan rambutnya yang berantakan karena sepupu suaminya itu.


"Bagaimana dengan gitar? Kau mau melihatku bermain gitar?" tawar Genta.


"Mas Gen, bisa bermain musik?"


"Kalau hanya gitar, aku bisa mengusahakannya." ujar Genta seraya beranjak mengambil gitar dari dalam kamarnya.


Pria itu duduk di samping Thrisca seraya memangku gitar klasik yang sudah lama tersimpan di rumah Ron.


"Kau ingin lagu apa?" tanya Genta.


"Memangnya kau bisa menyanyikan lagu apa?" tanya Thrisca balik dengan nada meremehkan.


"Gendut, kalau kau sampai terharu mendengar suaraku, kau harus membayarku!"


Pria itu mulai berkonsentrasi melihat ke arah gitar di pangkuannya. Perlahan Genta mulai memetik senar dari benda klasik itu dan mengalunkan suara irama yang lembut.



...🎵 *Do all people already know...


...The answers that I don't...


...Why do seams always all come...


...undone at once...


...Some days are harder than others...


...And mama said boys don't cry...


...So I look up...


...To a blurry image of the sky...


...Dad said for there to be light...


...There must be dark...


...It's just how the world...


...Keeps turning around...


...And round the lights...


...Now gone...


...Well done again my friend...


...Even if no one...


...Can tell you how lucky you've been...


...I need you to know...


...Well done again my friend*...


...( Well done again my friend - Day6 )...


Thrisca bertepuk tangan dengan meriah begitu Genta selesai menyanyikan satu lagu untuknya.


"Bagaimana? Suaraku bagus, kan?" ujar Genta menyombongkan diri.


"Apa ini caramu memikat wanita? Beberapa mantan kekasihmu pasti menerima cintamu karena lagu yang kau nyanyikan,"


"Aku memang tidak berdompet tebal seperti Ron, tapi aku cukup lihai menghibur wanita."


"Kau percaya diri sekali," gumam Thrisca seraya menggelengkan kepala melihat Genta yang mulai besar kepala.


"Kau baik-baik saja, kan?" tanya Genta seraya menepuk pundak Thrisca.


"Aku baik-baik saja. Kalian semua sudah bersusah payah menghiburku. Aku benar-benar berterimakasih atas perhatian kalian." ujar Thrisca seraya menyingkirkan tangan Genta darinya.


"Thrisca, kau sudah berjalan sejauh ini. Kau sudah melakukannya dengan baik. Jangan siksa dirimu sendiri dengan kesedihan yang berlarut-larut.." nasihat Genta.


"Aku hanya butuh waktu untuk membiasakan diri dengan hidup tanpa adanya ayahku."


"Gendut, kau tidak sendirian. Kami semua juga keluargamu. Datanglah padaku jika kau butuh sesuatu," ujar Genta seraya mengusap lembut kepala Thrisca.


Pria itu berlalu meninggalkan Thrisca yang masih duduk termenung di halaman belakang.


"Apa yang sudah kulakukan?! Sadarlah, Genta! Thrisca adalah istri dari sepupumu! Tidak seharusnya kau mengejar gadis yang sudah menjadi milik orang lain!" gerutu Genta dalam hati mengomeli dirinya sendiri.


***


Bersambung..