DEAR, MY RON

DEAR, MY RON
BAB 61



Thrisca dan Genta duduk di taman seraya menikmati es krim yang mereka beli di pinggir jalan. Selama duduk bersama, Genta tak henti-hentinya mencuri pandang ke arah Thrisca yang tengah melahap makanan dingin di tangan wanita itu.


"Setelah kembali dari rumah ayahmu, kau terlihat menempel sekali pada Ron.." ucap Genta memulai percakapan.


"Benarkah? Aku merasa biasa saja. Ron juga masih sering mengomeliku seperti biasanya,"


"Kau semakin mengabaikanku. Apa Ron yang melarangmu keluar kamar?" protes Genta.


"Dari dulu Ron sudah melarangku keluar kamar,"


"Apa Ron masih sering mengomel padamu? Dia tidak bersikap kasar padamu, kan? Mungkinkah kau berniat menceraikan Ron karena sikapnya yang buruk padamu?"


"Kasar apanya? Ron tidak sejahat itu padaku. Pria itu memang bermulut pedas, tapi Ron tidak pernah mengucapkan rayuan omong kosong padaku. Dia juga tidak pernah mengumbar janji manis penuh kebohongan padaku. Ron hanya berkata apa adanya dan itu yang membuatku semakin menyukainya.." ungkap Thrisca.


"Dulu aku memang berniat untuk bercerai darinya, tapi keinginan itu sudah pupus sejak lama. Sekarang aku dan Ron sudah resmi bersama.." sambung istri Ron itu.


"Maksudmu? Kau dan Ron menjalani pernikahan bukan hanya karena perjodohan kalian? Kau sudah tidak berniat untuk berpisah dari Ron?"


"Aku dan Ron benar-benar bersama karena keinginan kami. Sekalipun Ron masih berniat untuk menceraikanku, aku akan tetap mempertahankan suamiku dan memperjuangkan pernikahan kami." ungkap Thrisca seraya tersenyum tipis pada Genta.


"Thrisca sudah tidak berniat menceraikan Ron?! Artinya aku sudah tidak memiliki kesempatan lagi?" batin Genta kecewa.


Hati pria lajang itu langsung patah saat mendengar pengakuan Thrisca mengenai hubungan dirinya bersama sang suami. Melihat kebahagiaan Thrisca dan Ron benar-benar membuat hati Genta hancur berkeping-keping.


"Kau sudah selesai? Ayo kita pulang," ajak Genta lemas.


"Tunggu sebentar, Mas Gen. Aku ingin membelikan es krim untuk Ron juga,"


"Bahkan yang ada di pikiranmu saat ini hanyalah Ron?" batin Genta dengan senyum getir.


***


Thrisca terus berjalan kesana-kemari memikirkan cara untuk mendapatkan uang tanpa meminta bantuan dari Ron. Tapi sayangnya uang lima puluh juta terlalu besar bagi gadis miskin seperti Thrisca.


Wanita itu tidak ingin melibatkan suaminya dalam urusan keluarga ayahnya, namun ia juga tidak memiliki solusi apapun untuk membantu menyelamatkan usaha yang telah dirintis ayahnya sejak lama.


Ron membuka pintu kamar dan melihat wanita kesayangannya tengah menatap jendela dengan pandangan kosong.


Pria itu mendekati sang istri dan memeluk erat wanita berambut panjang itu. Ron menghujani kecupan di seluruh tubuh istri kesayangannya dengan antusias.


"Ron, mandilah dulu. Badanmu berkeringat," ujar Thrisca seraya mendorong suaminya yang sudah membuat pakaiannya compang-camping.


"Tentu, aku akan mandi sebersih mungkin." bisik Ron penuh niat terselubung.


"Bukan itu maksudku, Ron! Apa otakmu isinya hanya hal itu?!" omel Thrisca seraya memukul lengan kekar suaminya dengan kencang.


"Memangnya kenapa? Aku hanya berniat melakukannya denganmu, bukan dengan istri orang!" cibir Ron.


Pria itu bergegas membasuh tubuhnya dengan air sebersih mungkin dan kembali menghampiri sang istri dengan semangat.


"Gendut, kau sudah mandi?" tanya Ron seraya mendekap sang istri masuk ke dalam bahu lebarnya.


"Lakukan saja Ron, tidak usah berbelit-belit!" cibir Thrisca.


"Kau sendiri yang meminta,"


Ron menyambar bibir lembut sang istri dan ******* dengan nikmat.


Tangan Ron mulai menjamah tubuh sang istri seraya melucuti satu-persatu kain yang menutupi kulit putih istrinya itu.


Thrisca hanya pasrah menerima sentuhan suaminya tanpa menikmati sedikitpun jamahan tangan dan kecupan dari pria tampan yang sudah mengungkungnya itu.


Pikiran Thrisca dipenuhi dengan kegelisahan memikirkan nasib usaha ayahnya yang membutuhkan banyak dana untuk diselamatkan.


"Sayang, kenapa tidak membalas ciumanku?" rengek Ron pada Thrisca.


"Hem? Apanya?"


Lamunan Thrisca mulai buyar saat mendengar suara sang suami.


"Ada apa denganmu? Kau terlihat gelisah? Ada yang sedang mengganggu pikiranmu?"


Ron menyingkir dari atas tubuh Thrisca dan merebahkan diri di samping istri cantiknya itu.


Pria beralis tebal itu memeluk pinggang ramping sang istri dengan erat dan menatap wajah cantik istrinya dengan tatapan tajam.


"Katakan padaku, ada apa?" desak Ron.


"Aku tidak apa-apa." ujar Thrisca seraya mengalihkan pandangan dari Ron.


"Kau tidak suka aku menyentuhmu? Aku bisa menahannya untuk beberapa hari ke depan. Katakan saja kalau ada yang mengganjal di pikiranmu,"


"Bukan seperti itu, Ron. Mana mungkin aku menolak sentuhan suamiku," jelas Thrisca.


"Lalu?"


"Aku memang sedang memikirkan sesuatu. Maaf, Ron. Aku malah membuat suasana canggung seperti ini," ujar Thrisca lirih.


"Sayang, tidak perlu memaksakan diri. Aku tahu kau tidak menikmatinya. Katakan dulu padaku apa yang mengganjal pikiranmu," ujar Ron seraya mendorong sang istri yang masih menautkan bibir di wajahnya.


Thrisca bangun dari ranjang dan mendekap selimut rapat-rapat untuk menutupi tubuhnya yang sudah bertelanjang bulat.


Wanita itu nampak bingung bagaimana harus mengatakan pada sang suami mengenai pinjaman uang yang dibutuhkan oleh istri ayahnya.


"Itu.. sebenarnya--"


"Kenapa? Kau tidak terlibat masalah besar, kan? Kau terus berada di rumah dan keluargamu yang tersisa hanyalah aku. Apa ada hal lain yang tidak kuketahui?"


"Aku tidak menyembunyikan apapun darimu, Ron." sanggah Thrisca cepat.


"Itu.. Bibi Susan menghubungiku. Dia bilang pabrik ayah sedang dalam masalah." sambung Thrisca lirih.


"Jadi? Kau membutuhkan uang, begitu?"


"Aku akan mengembalikannya, Ron. Aku meminjam bukan meminta. Kali ini saja, tolong bantu usaha ayahku." pinta Thrisca.


"Berapa yang kau butuhkan?"


"Itu.. Bibi Susan meminta agak banyak. Tapi kau tidak perlu membantu semuanya. Setengah saja sudah cukup."


"Berapa?" tanya Ron mulai tidak sabaran.


"Lima puluh juta," ujar Thrisca dengan kepala tertunduk.


Ron menatap gemas sang istri seraya menarik tangan wanita itu untuk masuk dalam dekapan bahu lebarnya.


"Hanya uang yang sedikit, kenapa sampai membuatmu gelisah begini?" ujar Ron sambil melayangkan kecupan bertubi-tubi di pucuk kepala sang istri.


"Aku akan segera mengembalikannya, Ron."


"Gendut, apa aku terlihat seperti suami yang pelit? Kau pikir aku akan mengomel padamu hanya karena uang? Aku memang bekerja banting tulang untukmu. Kau bisa memakai semua uangku, Sayang. Tidak perlu sungkan begitu," ujar Ron seraya membenamkan kepala di bahu mulus wanitanya.


"Tapi ini bukan untuk kebutuhanku, Ron. Keluarga ayahku bukan tanggungjawabmu. Aku tetap akan mengembalikan uangmu," ucap Thrisca tegas.


"Kau punya uang untuk mengembalikannya? Dengan apa kau akan membayar hutangmu padaku?"


"Aku akan mencari cara."


"Kau ini benar-benar keras kepala!"


Ron kembali mencumbu sang istri penuh gairah.


"Kalau kau bisa menemaniku bermain sampai aku puas, aku akan memberikan uangnya untukmu!" tawar Ron seraya membuka pakaiannya sendiri.


"Ron, kau tidak perlu membayarku untuk ini!" protes Thrisca.


"Kau pikir aku ingin uang dari istriku? Banyak hal menarik yang bisa kuambil darimu selain uang,"


Ron langsung menerkam sang wanita yang sudah bersiap dalam kungkungannya.


Aksi Ron semakin liar hingga membuat tubuh sang istri mendidih dan kesulitan bernafas.


Ron ******* habis bibir istrinya hingga pria itu tak memberi celah sedikitpun untuk sang istri menghirup udara sejenak.


"Ron, aku bisa mati kepanasan!" rengek Thrisca dengan suara bergetar.


Pria itu semakin bersemangat saat melihat wajah penuh keringat bercucuran dari sang istri.


Tongkat panjang suami Thrisca kembali menembus lembah kenikmatan milik sang istri diiringi suara merdu erangan dari wanita yang tergolek lemas di bawah kungkungan Ron.


Pasangan suami-istri itu mengatur nafas sejenak setelah melewati acara puncak di malam yang panas.


"Ron, kau kasar sekali!" protes Thrisca dengan suara lemas.


"Maaf, aku hilang kendali."


Ron mengecupi kening sang istri dan memeluk tubuh polos istrinya yang sudah bermandikan keringat.


"Kau sudah berjanji akan meminjamkan uangnya, Ron. Jangan ingkar!" tagih Thrisca.


"Aku tidak berjanji apapun! Aku bilang aku akan memberikan uangnya jika kau menemaniku bermain sampai puas," sanggah Ron.


"Ron, jangan curang! Aku sudah melayanimu!"


"Aku belum bilang kalau aku sudah puas," ujar Ron kembali ******* bibir merah wanita yang terbaring di bawah kungkungannya.


"Ron, kau ini benar-benar!"


Omelan Thrisca tak menjadi penghalang bagi Ron untuk melanjutkan kembali permainannya bersama sang istri di malam yang panjang itu.


***


Bersambung..