
Lilian membuka pintu kamarnya dan hendak mencari udara segar di luar ruangan pasien yang sudah ia tempati selama beberapa hari terakhir.
Begitu pintu terbuka, Nyonya Aswinda sudah berdiri tepat di ambang pintu dan melayangkan pukulan keras ke wajah Lilian.
PLAKK!!
"Aww.."
Lilian terkejut bukan main, tiba-tiba mendapat tamparan dari nenek mantan kekasihnya itu.
"Nyonya, apa yang--"
"Tutup mulutmu!" bentak Nyonya Aswinda.
Lilian memegangi pipinya dengan mata berkaca-kaca seraya menatap lekat-lekat wajah orang yang sudah memukulnya.
"Bukankah ini.."
Lilian mencoba mengingat-ingat kembali dimana ia pernah melihat wanita tua itu.
"Kau tidak mengenalku? Ini memang pertemuan pertama kita. Tapi aku sudah mengenali wajahmu semenjak kau masih bersama dengan cucuku."
"N-nenek?"
"Aku bukan nenekmu!" bentak Nyonya Aswinda.
"A-apa yang--"
"Apa yang kulakukan padamu?! Kau seharusnya tahu dengan jelas, kenapa aku memukulmu!"
"Wanita tua ini! Tahu darimana dia?!" jerit Lilian dalam hati.
"Apa ada sesuatu yang ingin kau katakan?! Polisi akan datang sebentar lagi." ujar Nyonya Aswinda.
"P-polisi? Polisi apa? Aku tidak melakukan apapun!"
"Lian! Sebaiknya kau menghilang dari kota ini jika kau ingin selamat dari jeruji besi!"
"N-nyonya, aku tidak melakukan apapun! Sungguh! Nyonya Berlin yang menyuruhku.." ujar Lilian melempar semua kesalahan pada Berlin.
"Lilian, aku masih berusaha bersikap sopan padamu karena aku masih menganggapmu sebagai Nona cucu dari temanku meskipun kau sekarang hanya anak angkat yang sudah dibuang! Menjauhlah dari keluargaku sebelum aku melenyapkanmu!" ancam Nyonya Aswinda.
Lilian berdiri dengan gemetar ketakutan di hadapan istri pertama dari Tuan Hasan itu. Wanita itu menundukkan kepalanya dalam-dalam, tak berani mendongak dan menatap nenek tua yang tengah mengomelinya itu.
"Kemasi barangmu sekarang! Pergi sejauh mungkin dari tempat ini!" ujar Nyonya Aswinda seraya menyodorkan tiket pada wanita simpanan itu.
"K-kemana aku harus pergi?"
"Itu terserah padamu! Jika kau masih ingin menetap di sini juga tidak masalah! Aku akan memesankan kamar untukmu di penjara! Kau mau?!" cibir Nyonya Aswinda.
"Cepat kemasi barangmu sekarang! Aku beri kau waktu dua menit!" bentak nenek berusia tujuh puluh tahun itu.
Lilian segera berlari kocar-kacir mengambil tas dan ponselnya, kemudian kembali berdiri di hadapan Nyonya Aswinda secepat mungkin.
Istri Tuan Hasan itu mengambil ponsel Lilian dan membanting benda canggih itu ke lantai dengan santainya.
"Apa yang Nyonya lakukan?!" pekik Lilian geram.
"Kenapa?! Aku hanya membanting ponsel murahan, berani sekali kau berteriak padaku?! Ini tidak sebanding denganmu yang membanting cucu menantuku ke aspal hingga aku kehilangan cicitku!" omel Nyonya Aswinda.
Lilian tak lagi berani bercicit melawan perkataan Nyonya Besar keluarga Diez itu.
Nyonya Aswinda menarik tangan Lilian dengan kasar dan melempar tubuh kurus wanita itu ke dalam taksi yang sudah ia pesan.
"Kalau kau tidak naik kapal ini dan menjauh dari kota ini, aku akan mencarimu sampai ke pelosok kota dan mengirimmu ke liang kubur! Kau mengerti?!" ancam Nyonya Aswinda sebelum beliau melepas Lilian pergi.
***
"Icha.."
Nadine dan Cherry berlari kecil menghampiri teman mereka yang masih terbaring di ranjang pasien.
"Jangan terlalu dekat! Kalian bisa menggencet tubuh istriku!" omel Ron pada teman-teman Thrisca yang hendak memeluk wanita itu.
Mendengar suara menyeramkan dari sang bos, Nadine dan Cherry mengurungkan niat mereka untuk memberikan pelukan pada sang teman.
"Ron, jangan seperti itu pada teman-temanku!" omel balik Thrisca.
"Kalian ke sini bersama Mas Han?" tanya Thrisca.
"I-iya, Nyonya." jawab Nadine sesopan mungkin.
"Nyonya apanya? Ron, bisakah kau keluar sebentar? Kau membuat teman-temanku gugup," usir Thrisca pada sang suami.
"Mana bisa aku keluar! Tidak ada yang tahu apa yang akan dilakukan kedua orang asing ini--"
Thrisca melemparkan bantalnya dan mengarah tepat ke wajah garang suaminya.
"Icha! Kau lebih memilih teman-temanmu daripada aku?!" ujar Ron penuh drama.
Thrisca nampak muak mendengar ocehan sang suami yang selalu saja bersikap posesif padanya. Wanita itu memilih untuk mengabaikan Ron yang masih sibuk mengoceh sendiri.
"Biarkan saja Ron seperti itu! Ini bukan di tempat kerja. Ron tidak bisa bersikap semena-mena pada kalian," ujar Thrisca.
"Kau baik-baik saja, kan? Tidak ada luka serius, kan?" tanya Nadine dengan wajah cemas.
"Maaf, Icha. Seharusnya aku menjagamu dengan baik," sesal Cherry.
"Cherry, tidak perlu berbicara seperti itu. Ini musibah. Tidak ada yang tahu hal ini akan terjadi. Tidak ada yang perlu disesali lagi, aku sudah mengikhlaskan semuanya." ujar Thrisca dengan tenang.
"Kau pasti bisa hamil lagi secepatnya.." hibur Nadine.
"Terima kasih, Nadine."
"Aku melihatmu di berita beberapa hari yang lalu. Sampai hari ini, kau masih menjadi trending topik.." ungkap Nadine bersemangat.
"Trending topik apanya?"
"Icha, kau sudah menjadi artis dadakan selama satu pekan ini.." ujar Cherry tak kalah antusias.
"Bagaimana kalau mencoba peruntungan di dunia akting? Atau jadi YouTubers? Atau selebgram? Model? Kau pasti bisa cepat tenar--"
"Berhenti bicara omong kosong pada istriku!" potong Ron cepat tanpa mengijinkan Cherry melanjutkan kalimatnya.
"Model apanya?! Istriku tidak kekurangan uang dan perhatian dariku! Untuk apa istriku menjadi sorotan perhatian orang-orang! Istriku bukan benda museum yang dipamerkan!" omel Ron seraya mendekap erat sang istri, seolah ingin melindungi wanita itu agar tidak direbut oleh Nadine dan Cherry.
"Apa yang kau lakukan, Ron?"
Thrisca memukul punggung tangan sang suami yang melingkar erat di tubuhnya.
"M-maaf, Pak.." ujar Cherry takut-takut.
Acara jengukan teman-teman Thrisca itu berubah menjadi semakin canggung karena Ron yang terus ikut menyahuti obrolan mereka hingga melempar omelan-omelan tidak jelas pada sang tamu yang tengah berkunjung.
***
"Nek, aku sudah mengajukan lapo--"
"Gen, nenek sudah menyelesaikan semuanya. Kau cabut saja laporannya," potong Nyonya Aswinda cepat.
Nenek dan cucu itu duduk di luar ruangan Thrisca dan berbincang di lorong rumah sakit dengan suara lirih.
"Maksud nenek?"
"Semuanya sudah selesai. Ini hanya kecelakaan. Tidak ada lagi yang perlu diselidiki." ujar Nyonya Aswinda tegas.
"Tapi Nek, ada truk yang melintas kencang di dalam taman hiburan. Bukankah itu aneh?! Jika itu truk pengangkut barang untuk taman, seharusnya truk itu tidak melaju di area yang ramai pengunjung. Seharusnya truk itu masuk melalui pintu bela--"
"Sudahlah, Gen. Semuanya sudah berakhir."
"Tapi bagaimana dengan Ron? Nenek pikir Ron akan diam saja?!" tukas Genta.
"Nenek akan berbicara pada Ron." ujar Nyonya Aswinda penuh wibawa.
"Nek, ini tidak adil untuk Thrisca--"
"Gen, bagaimana dengan acara pernikahanmu? Bilang pada nenekmu dan ibumu, kalau nenek yang akan mengurus pernikahanmu."
Nyonya Aswinda mencoba mengalihkan pembicaraan.
"P-pernikahan apanya? Ron dan Thrisca baru terkena musibah, aku mana ada waktu untuk mengurus pernikahan?!" kilah Genta.
"Gen, bagaimana kalau kau bekerja di perusahaan?" tawar Nyonya Aswinda.
"Bagaimana dengan posisi CTO (Chief Technology Officer)?" imbuh beliau.
"CTO apa, Nek?! Aku gagap teknologi! Nenek mau membuatku malu?!" tolak Genta.
"Gen, nenek akan mengadakan pesta pernikahan untukmu bersamaan dengan pesta pernikahan Ron dan Thrisca. Beritahukan hal ini pada ibumu,"
"Nek, jangan bercan--"
"Gen!" potong Nyonya Aswinda dengan bentakan.
"Ikuti saja apa kata nenek." tambah istri dari Tuan Hasan itu.
***
Bersambung...