
"Sudah siap?" tanya Ron seraya menarik koper sang istri.
"Em," jawab Thrisca lirih.
Pasangan suami-istri itu bersiap untuk pulang ke rumah Ron setelah hampir seminggu lamanya berada di kota kecil itu.
Segera setelah mereka selesai menghadiri acara wisuda Nadine, Ron dan Thrisca bergegas untuk kembali pulang ke kediaman mereka.
"Icha, kau akan kembali sekarang?" tanya Susan.
"Maaf, Bi. Bibi akan menempati rumah ini, kan?"
"Bibi tidak memiliki tempat tujuan lain." jawab Susan dengan tersenyum kecut.
"Tolong rawat rumah ayah, Bi." pamit Thrisca.
"Elma, Kakak pulang, ya? Kakak akan datang lagi untuk bermain." pamit Thrisca pada Elma.
"Akak mau ulang?" tanya Elma pada Ron seraya menampakkan mata yang berkaca-kaca pada suami Thrisca itu.
"Iya, El. Kakak pulang, ya? Nanti Kakak kesini lagi bersama Kak Icha,"
Ron berbicara lembut disertai senyuman ramah pada balita itu.
"Ron tampan sekali saat tersenyum," batin Susan.
"Bibi, aku dan Ron pamit."
Thrisca memasuki mobil Ron dan melambaikan tangan pada istri ayahnya itu.
Perlahan mobil Ron berjalan menjauh dari bangunan kecil peninggalan ayah Thrisca.
Istri Ron itu terus menatap keluar jendela dan memandangi jalanan kompleks rumah yang sudah ia tinggali selama lebih dari dua puluh tahun itu.
"Sayang, kita bisa berkunjung kesini lagi kapanpun. Katakan saja padaku jika kau ingin mengunjungi ayahmu," ujar Ron seraya mengusap kepala sang istri dengan lembut.
"Tuan, bisa kita mengunjungi ayahku sekarang?" tanya Thrisca dengan mata berkaca-kaca.
***
Thrisca duduk berjongkok di gundukan tanah yang terpasang papan nama sang ayah. Tepat disamping gundukan itu, terbaring pula tempat peristirahatan terakhir sang kakek.
Gadis itu meletakkan satu buket bunga di atas makam sang ayah dan juga kakeknya.
Thrisca hanya diam menatap tanah kubur basah yang ada di hadapannya itu. Tidak ada lagi kata yang sanggup mengungkapkan kesedihannya saat ini. Hanya derasnya air mata yang bisa mewakili perasaan kacaunya di hari penuh awan hitam itu.
"Terimakasih sudah membawa Ron padaku.." gumam Thrisca lirih seraya mengusap tanah kubur sang ayah.
Ron yang berdiri tak jauh dari sang istri, segera berjalan menghampiri Thrisca dan menepuk-nepuk pundak gadis itu pelan.
Gadis itu berdiri dan bersiap untuk beranjak dari tempat peristirahatan sang ayah.
Ron berjalan perlahan terlebih dahulu, diikuti oleh Thrisca yang masih berat hati meninggalkan ayahanda.
Thrisca menghentikan langkahnya dan menatap Ron yang berjalan semakin menjauh.
"Meskipun Ron berada tepat di hadapanku, tapi kenapa pria itu terasa sangat jauh.." batin Thrisca.
"Sekarang hanya Ron satu-satunya rumahku. Hanya Ron satu-satunya tempatku bergantung. Bagaimana kalau suatu hari nanti, Ron sudah tidak menjadi rumahku lagi?" batin Thrisca cemas.
Meskipun Thrisca sudah berniat mempertahankan rumah tangganya dan memperbaiki diri demi suaminya, namun gadis itu tidak yakin Ron juga memiliki perasaan yang sama dengannya.
Thrisca terus dibayangi kecemasan mengenai perceraian karena rumah tangga yang mereka bangun bukanlah pernikahan pasangan yang terjalin karena keinginan mereka.
"Ron.." panggil Thrisca dengan suara lirih.
Ron menghentikan langkah kakinya dan menoleh ke arah sang istri yang berada jauh di belakangnya.
"Apa yang kau lakukan disana? Cepat kemari!"
"Bolehkah aku memastikan satu hal?"
"Nanti saja mengobrolnya di dalam mobil! Cepat kemari!"
"Ron, apa aku memiliki kesempatan untuk mengejarmu?" tanya Thrisca seraya menatap lurus-lurus ke arah sang suami yang berdiri agak jauh darinya.
"Apa yang kau bicara--"
"Bolehkah aku mengejarmu?" tanya Thrisca dengan suara lantang.
"Apa yang diucapkan gadis bodoh ini? Apa dia berusaha menyatakan cinta padaku?" batin Ron mulai kacau.
"Aku tidak ingin mempertahankan pernikahan ini hanya karena kakekku dan ayahku. Aku ingin mempertahankanmu karena keinginanku sendiri. Apa aku.. memiliki kesempatan untuk memenangkan hatimu?"
Gadis itu memberanikan diri mengungkapkan perasaannya terlebih dulu pada sang suami. Ini kedua kalinya Thrisca menyatakan cinta pada pria yang sudah menjadi suaminya selama beberapa bulan itu.
"Anggap saja aku muka bebal dan tidak tahu diri. Tapi aku ingin kau tahu, aku tetap bersamamu bukan karena perjodohan kita atau keinginan terakhir ayahku. Aku masih berada disini sekarang karena aku benar-benar ingin bersamamu." sambung Thrisca.
Ron masih membisu dan mendengarkan baik-baik semua perkataan sang istri.
"Sekalipun kau belum berniat menceraikanku dalam waktu dekat, aku juga tidak akan menerima perceraian darimu suatu hari nanti. Aku akan memperjuangkanmu!" ujar Thrisca dengan berapi-api.
Thrisca menghela nafas sejenak setelah berhasil mengatakan semua hal itu pada sang suami. Melihat Ron yang tidak memberikan reaksi apapun, Thrisca segera berbalik badan untuk menutup wajah malunya.
"Apa yang sudah kukatakan?! Memalukan sekali," gumam Thrisca menyesal.
Ron nampak bingung menanggapi perkataan sang istri. Perasaan senang, haru dan kesal bercampur aduk menjadi satu di pikiran pria yang sudah beristri itu.
Pria itu tidak menyangka dirinya sudah tersimpan jauh di hati sang istri hingga membuat gadis pujaannya itu datang terlebih dulu padanya.
Ron berlari menghampiri sang istri dan mendekap tubuh mungil gadisnya dengan erat. Thrisca cukup terkejut melihat Ron yang sudah melingkarkan tangan di tubuhnya.
"Ron, aku--"
"Diam!" bentak Ron sebelum gadis itu menyelesaikan kalimatnya.
"Apa yang kau katakan, gendut?! Memperjuangkan apa?! Seharusnya aku yang mengatakan semua hal itu! Seharusnya aku yang mengatakan akan mengejarmu! Kenapa kau selalu saja mendahuluiku?" sambung Ron panjang lebar.
Pria itu tidak bisa menahan omelannya dan rasa kesalnya pada sang istri yang sudah mencuri start terlebih dahulu.
"Ron, kau tidak mengatakan hal ini hanya karena kau kasihan pada gadis yatim sepertiku, kan? Kau melakukan ini bukan karena kau kasihan melihatku yang sudah sebatang kara, kan?"
"Gendut, kenapa kau tidak juga mengerti maksud dari sikapku selama ini? Kau pikir aku akan melakukan banyak hal hanya demi seorang gadis yang kukasihani? Aku tidak akan melakukan semua ini jika bukan karena aku mencintaimu.."
Thrisca menatap sang suami dengan mata berkaca-kaca. Mendengar kata "cinta" keluar dari mulut sang suami, membuat Thrisca cukup terkejut sekaligus terharu.
Thrisca mendekap erat tubuh suaminya dengan wajah berlinang air mata.
"Terimakasih, Ron.." ujar Thrisca dengan tangis haru.
Ron melepas pelukannya dan mengusap pipi sang istri dengan lembut. Pria itu meraih tengkuk sang istri dan melayangkan kecupan lembut di bibir merah istri cantiknya.
Bibir pasangan suami-istri itu saling bertautan lama dan tenggelam semakin dalam. Ron menyelam semakin jauh ke dalam bibir mungil sang istri dan tidak melepaskan gadis itu dengan mudah.
Tak jauh berbeda dari sang pria, untuk pertama kalinya Thrisca ikut bergairah menyambut ciuman sang suami yang begitu menyesakkan.
Pria itu ******* bibir lembut milik sang istri dengan antusias tanpa memberi celah sedikitpun bagi Thrisca untuk menarik nafas.
Tangan panjang Ron juga mulai beraksi menjelajahi seluruh tubuh sang istri dengan penuh semangat. Thrisca juga ikut mengalungkan tangan ke leher sang suami dan mendekap leher jenjang pria itu semakin erat.
Thrisca mendorong pelan tubuh sang suami untuk menarik nafas sejenak setelah kecupan lama yang mereka lakukan tak kunjung berakhir.
"Kenapa? Kau tidak mau lagi?" tanya Ron dengan wajah kesal saat sang istri mendorongnya dan menyudahi kecupan panjang mereka.
"Ron, bibirku bisa bengkak! Kau juga tidak sadar kalau kita masih berada di tempat terbuka?!"
"Memangnya kenapa? Aku hanya mencium istriku sendiri, memangnya tidak boleh?!" ujar Ron cuek.
Ron mendekap erat tubuh ramping sang istri dan mencium kening istrinya bertubi-tubi.
"Terimakasih, Gendut. Kau sudah datang terlebih dahulu padaku,"
"Ron, kali ini kau benar-benar akan memilihku, kan? Tidak ada lagi Lilian atau wanita lain lagi di hatimu, kan? Meskipun kau masih memikirkan Lilian, aku akan berusaha membuatmu melupakan wanita itu! Aku akan berusaha menjadi wanita yang lebih menarik dari Lilian! Aku akan membuatmu memilihku!"
"Gendut, berhentilah membuatku terharu!" protes Ron seraya mengeratkan pelukannya pada sang istri. Tubuh gadis itu semakin menempel pada Ron hingga pria itu dapat merasakan detak jantung sang istri.
"Aku yang akan mengejarmu.. tolong jangan berlari terlalu jauh dariku." sambung Ron lirih.
"Aku yang akan berusaha memenangkan hatimu," sambung Ron lagi seraya mencium punggung tangan sang istri.
Kecemasan Thrisca mengenai perceraian hilang seketika begitu ia mendapat balasan dari cinta yang ia kira bertepuk sebelah tangan itu.
Kini gadis itu benar-benar siap untuk memulai babak baru dalam pernikahannya sebagai istri yang sebenarnya.
***
Bersambung...