DEAR, MY RON

DEAR, MY RON
BAB 87



"Gen!"


Han berjalan perlahan menghampiri Genta yang tengah melamun di salah satu bar kecil di pinggir kota.


Pria kere itu tidak ingin menghabiskan uang untuk bir mahal yang tidak diminumnya. Jadi, Genta memilih bar kecil dan mengundang Han untuk menemaninya bersantai.


"Ada apa denganmu? Kau terlihat tidak bersemangat beberapa hari ini," cibir Han.


"Aku memang sedang tidak bersemangat.." ujar pria galau itu lirih.


"Kau ini! Seperti pria yang tengah patah hati saja," sindir Han dengan wajah polos.


Mendengar kata "patah hati", Genta langsung melirik ke arah Han dengan mata berkaca-kaca.


"Han!! Kau benar-benar teman sejatiku! Aku sudah kalah, Han! Aku sudah kalah sebelum berperang.."


Genta menangis heboh dan merengek seperti bayi yang kehilangan permen pada Han.


"Kalah apanya? Kau baru saja dicampakkan?" tanya Han bingung.


"Ini bahkan lebih buruk dari dicampakkan," ujar Genta semakin mendramatisir.


Di sisi lain, tak jauh dari Genta dan Han yang tengah saling curhat, terdapat sosok Nadine serta Cherry yang duduk di dalam bar kecil itu menunggu seseorang.


"Cherry, apa ini tidak terlalu dini? Kencan buta terlalu kuno untuk kita," cibir Nadine.


"Kau ingin terus-terusan hidup melajang?! Kita sudah hidup di kota besar. Sudah waktunya kita menikmati masa muda kita,"


"Masa muda apanya? Pekerjaan tetap saja aku belum punya," keluh Nadine.


"Kau tidak lihat Icha?! Gadis rumahan itu saja sudah memiliki suami. Tapi kita? Pacar saja tidak punya,"


"Benar juga. Di mana Icha bertemu dengan Ron? Padahal gadis itu jarang keluar rumah." komentar Nadine.


"Ron juga sangat tampan dan terlihat baik. Kalau aku beruntung, aku mungkin juga bisa menemukan satu pria tampan seperti Ron.." ujar Cherry bersemangat.


"Jangan terlalu berharap dengan kencan buta," seloroh Nadine.


"Memangnya kenapa? Tidak ada yang tahu mungkin kita akan bertemu dengan pangeran,"


Beberapa menit kemudian, dua orang pria menyambangi meja tempat Cherry dan Nadine.


Di balik kemunculan dua pria partner kencan Nadine dan Cherry, datang juga sosok familiar yang mengunjungi bar kecil itu.


Sosok familiar itu tidak lain ialah Jane dan beberapa temannya yang datang mengenakan pakaian seksi yang memperlihatkan lekuk dada besar serta pantat besarnya yang membulat.


Kedatangan wanita-wanita itu langsung menjadi sorotan perhatian para pria hidung belang yang ada di dalam bar tersebut, tak terkecuali kedua pria partner kencan Nadine dan Cherry.


"Lain aku harus memakai baju seperti itu," gumam Cherry.


"Sudahlah! Aku sudah bilang padamu, jangan terlalu berharap pada kencan buta." hibur Nadine.


"Permisi, boleh aku ke toilet sebentar?" ijin pria teman kencan Nadine.


"Tentu," jawab Nadine malas.


Salah satu pria partner kencan dua gadis itu sengaja pamit dari bangku untuk mengejar Jane yang tengah berjalan menuju toilet.


"Jane!"


Pria itu mengejar Jane dan langsung memeluk tubuh langsing model seksi itu.


Pria partner kencan buta Nadine itu, tanpa sungkan langsung menyambar bibir merah Jane di lorong toilet yang sepi.


Pria itu bahkan dengan santai memasukkan tangannya ke rok minim Jane dan menikmati lembah surga wanita itu dengan jari jemarinya.


"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya pria itu dengan tangan yang masih sibuk memainkan buah dada Jane.


"Menyingkir dariku pria miskin! Aku hanya akan melayani pria berdompet tebal," tolak Jane sinis.


"Ayolah, jangan jual mahal begitu padaku! Aku sudah rindu aroma tubuhmu!" ujar pria itu penuh hasrat menggebu.


Nadine yang berjalan menuju toilet, segera berbalik panik saat melihat pemandangan tak senonoh di depan matanya.


Wanita itu hendak kabur dengan panik hingga tidak sadar ada pria yang berjalan perlahan di belakangnya.


Dan..


Brukk!!


"M-maaf.."


Nadine segera berlari meninggalkan pria yang ditabraknya itu dengan tergesa-gesa. Wanita itu sibuk melarikan diri tanpa menyadari ponselnya yang terjatuh tepat di kaki pria yang ditabraknya.


Pria yang ditabrak oleh Nadine itu tidak lain ialah Han.


Begitu Jane mendengar ada suara, wanita itu langsung mendorong sang pria yang tengah mencumbuunya di tengah jalan.


"Han?"


Jane segera merapikan rambut dan pakaiannya yang berantakan begitu ia menyadari keberadaan Han yang berdiri tidak jauh darinya.


Han tidak melirik sedikitpun ke arah Jane dan masuk ke toilet dengan santai.


"Menyingkirlah dariku!" teriak Jane dengan kesal pada pria yang baru saja bermesraan dengannya itu.


Han keluar dari toilet dengan wajah datar, tanpa menyadari kehadiran Jane yang masih menunggunya di luar kamar mandi.


"Han, aku tidak tahu kau juga di sini. Kau datang bersama Ron? Tidak mungkin kan Ron mengunjungi bar kecil seperti ini," oceh Jane panjang lebar.


Han terus berjalan bak robot tanpa menghiraukan Jane sedikitpun. Suasana hati Han makin berantakan saat matanya ternodai oleh Jane yang berbuat tak senonoh di tempat umum.


"Nona Jane, kembalilah bergabung dengan teman-temanmu." usir Han halus.


Jane melirik ke arah Genta yang duduk tak jauh dari tempatnya berdiri bersama Han.


"Jadi, kau ke sini bersama Genta? Boleh aku bergabung? Aku sangat takut dengan pria tadi, Han. Pria itu memaksaku dan melecehkanku di tempat umum," ujar Jane dengan wajah muram palsu.


"Urus saja urusanmu sendiri!"


Sementara di meja Nadine dan Cherry, Nadine segera menarik Cherry keluar dari bar setelah ia melihat pria yang menjadi partner kencannya bercumbuu dengan seorang wanita.


"Nadine, kenapa kau terburu-buru sekali? Kita bahkan belum berpamitan," omel Cherry.


"Cherry, berhenti mencari pria secara acak hanya untuk berkencan! Mereka bukan pria baik-baik!" nasihat Nadine.


"Bukan pria baik-baik apanya?!"


"Aku melihat salah satu dari mereka melakukan.. melakukan ini dengan wanita seksi!" ungkap Nadine dengan bahasa isyarat memperagakan tangannya untuk menjelaskan kejadian tak senonoh yang baru saja merusak matanya.


"Hanya hal seperti itu, bukankah sudah biasa untuk wanita dan pria dewasa? Kau kuno sekali!" cibir Cherry.


"Bukan begitu! Tapi mereka seharusnya tidak melakukannya di tempat umum dengan sembarang orang, kan?"


"Baiklah, aku mengerti. Mungkin kau masih terguncang karena melihat hal mengejutkan seperti itu secara langsung." ujar Cherry seraya menepuk-nepuk pundak sahabatnya itu.


"Itu benar-benar menyeramkan! Wanita itu bahkan hampir ditelanjangi di tempat umum. Bagaimana aku tidak takut pada pria itu?!" oceh Nadine gemetar ketakutan.


"Aku akan memesan taksi,"


Nadine segera membuka tas kecilnya untuk mencari ponsel, namun ia tak kunjung menemukan benda kecil itu.


"Cherry, apa kau melihat ponselku?" tanya Nadine dengan panik.


"Ponsel apa? Aku tidak melihatmu memegang ponsel sejak tadi,"


"Kenapa bisa tidak ada? Tidak mungkin dicopet, kan?"


Sementara, ponsel yang tengah dicari-cari oleh Nadine kini sudah aman dalam genggaman Han.


Pria itu tidak sempat melihat wajah Nadine dengan jelas sehingga ia belum sempat mengembalikan ponsel itu pada sang pemilik.


***


Thrisca sibuk membereskan ruang kerja sang suami di saat sang pemilik ruangan itu masih tertidur lelap.


Wanita itu memeriksa setiap sudut ruang kerja suaminya untuk menemukan hal-hal janggal yang mungkin disembunyikan oleh sang suami.


"Ron tidak mungkin memiliki ponsel lain yang disembunyikan, kan?" gumam Thrisca seraya mengobrak-abrik isi laci dan lemari yang ada di ruang kerja bos perusahaan besar itu.


Setelah beberapa saat sibuk dengan barang-barang suaminya, mata wanita hamil itu tertuju pada tumpukan dompet yang tersimpan dalam laci meja Ron.


Wanita itu celingukan untuk memastikan tidak ada orang yang melihat aksinya, bak perampok yang waspada saat hendak menjarah dompet.


"Ron tidak mungkin menyimpan foto mantan kekasihnya di dalam dompet-dompet ini, kan?"


Thrisca membuka dompet yang paling tebal. Dalam benda kecil itu, Ron menemukan puluhan kartu terselip di benda penuh harta sang suami.


Thrisca mengamati isi dompet itu dengan teliti dan menemukan satu lembar foto kecil yang terpampang jelas di dalam dompet.


"Ini.. fotoku?"


Istri Ron itu memandangi wajah dirinya yang tercetak di kertas tipis.


Dalam foto selca itu terlihat jelas dirinya tengah menutup mata dan Ron melayangkan kecupan di keningnya.


"Dia mencuri ciumku saat aku tidur?" gumam Thrisca disertai tawa kecil.


Thrisca menemukan beberapa foto lain yang juga terselip di dalam dompet kulit itu.


Terdapat satu foto Thrisca yang tersenyum manis tepat menghadap ke kamera Ron. Wanita itu menampakkan senyum anggun nan menawan dengan rambut panjang yang tergerai.


"Kapan Ron mengambil foto ini? Pria itu benar-benar pandai mencuri gambar tanpa ijin," gumam Thrisca gemas.


Istri Ron itu beralih pada kartu pengenal sang suami yang terselip di wadah persegi panjang itu.


"Ron tampan sekali.. beda sekali dengan foto anehku di kartu identitasku."


Thrisca membaca tulisan-tulisan kecil di kartu tipis itu dan terbelalak kaget saat melihat tanggal kelahiran sang suami.


"Tanggal ini, bagaimana bisa?" teriak Thrisca heboh.


Wanita itu segera mengembalikan kartu identitas sang suami ke dalam dompet dan hendak berlari kembali ke kamar.


Namun wanita yang berlari kecil itu mengerem tiba-tiba saat suaminya muncul dengan wajah garang di depan pintu ruang kerja.


"Ron?"


"Sayang, kau ini tengah berbadan dua. Kenapa berlarian sembarangan seperti ini?"


Ron memeluk wanita yang hampir menabraknya itu dengan wajah cemas saat melihat sang istri yang bergerak sembarangan.


"Maaf, aku lupa.."


Karena terlalu girang, Thrisca sampai lupa dengan keberadaan buah hati yang tumbuh di perutnya.


"Sudah kubilang istirahat saja di kamar! Kenapa kau ada di sini dan berlarian di dalam ruangan? Bagaimana kalau kau tersandung dan jatuh?" omel Ron gemas dengan kelakukan sang istri.


Thrisca tidak menghiraukan omelan sang suami dan justru memeluk erat pria yang sangat dicintainya itu.


"Ada apa denganmu?" tanya Ron heran melihat senyum sumringah istrinya.


"Tidak apa-apa. Hanya senang saja,"


Thrisca melepas pelukannya dan berjalan meninggalkan sang suami.


"Kau mau susu? Ingin kubuatkan sarapan sekarang?"


Ron berlari kecil menyusul sang istri.


"Tidak kusangka hari ulang tahunku sama dengan hari ulang tahun Ron. Aku harus segera menyiapkan kejutan. Waktuku tidak lama lagi," batin Thrisca antusias.


***


Bersambung...