
WARNING!
Skip aja kalau ngerasa ngga nyaman baca momen ehem-ehem Thrisca sama Ron yang agak detail di bab ini.
***
"Pak tua, ayo antar aku ke rumah Ron!" ajak Nyonya Daisy pada sang suami.
"Bocah nakal itu akan mengusirku,"
"Aku tidak mengajakmu menjenguk putra angkuhmu itu! Aku mengajakmu untuk menemui menantumu," ujar Nyonya Daisy seraya menyiapkan banyak kantong besar berisi berbagai kebutuhan ibu hamil yang akan dibawanya ke rumah anak laki-lakinya.
"Apa yang kau bawa ini?" tanya Tuan Derry melihat-lihat banyak kantong besar di depannya.
"Matamu masih berfungsi dengan baik, kan?!" ejek Nyonya Daisy.
"Untuk apa kau membeli susu ibu hamil?"
"Sadarlah, Pak Tua! Sebentar lagi kau akan menjadi kakek," ungkap Nyonya Daisy.
"Benarkah?!"
***
"Ron, minum lagi tehnya.."
Thrisca menyodorkan teh hangat dan menyiapkan makan malam untuk sang suami.
Wanita hamil itu justru harus menjaga suaminya yang mengalami mual dan muntah lebih parah darinya.
"Maaf, Sayang. Aku malah membuatmu repot," sesal Ron.
"Merepotkan apa? Aku sudah baik-baik saja. Mual muntahku tidak separah kau,"
Wanita cantik itu mengambil piring makanan dan menyuapi sang suami dengan telaten. Meskipun perutnya masih teraduk kacau dan terasa mual karena aroma makanan, namun ia tetap berusaha keras menahan agar suaminya tidak semakin cemas.
"Kau belum makan, kan? Kemarikan piringnya. Biar aku menyuapimu juga,"
Ron merebut piring dari tangan Thrisca dan menyantap makan malam bersama dengan saling suap di dalam kamar hangat mereka.
"Bagaimana kalau kita ke dokter saja?" ajak Thrisca.
"Tidak apa-apa. Aku sudah merasa lebih baik."
"Bagaimana kalau aku usapkan minyak angin lagi?" tawar Thrisca seraya mengambil botol kecil minyak angin yang berada di atas nakas.
Thrisca membantu Ron melepas atasan piyama pria itu dan mengusapkan minyak panas ke seluruh punggung dan dada bidang sang suami.
"Aku baik-baik saja, Sayang. Kemarikan minyaknya,"
Ron mendekati sang istri yang duduk disampingnya. Pria itu membuka resleting gaun tidur sang istri dan melucuti kain yang melekat pada tubuh langsing istrinya itu.
"Kau mau apa, Ron?"
"Kau juga masih mual, kan? Biar kubalurkan minyak di perutmu juga," tawar Ron dengan tangan masih sibuk membuka pakaian sang istri.
"Tidak perlu, Ron. Aku tidak terlalu suka bau minyak angin. Membuat kepalaku semakin pusing," tolak Thrisca.
"Kalau begitu bagaimana dengan lotion? Mungkin aroma wangi lotion bisa mengurangi mual,"
Ron beranjak dari ranjang untuk mengambilkan body lotion yang baru ia beli.
"Aku sudah bertanya pada dokter, ini aman untuk ibu hamil."
Ron membalurkan lotion lembut nan wangi itu ke seluruh tubuh sang istri.
"Harum sekali. Pasti merk mahal," cibir Thrisca.
"Tentu saja! Aku punya uang, hanya body lotion saja aku bisa membuatkan pabriknya untukmu!" ujar Ron dengan congkak.
"Kau ini.."
Thrisca mengacak-acak rambut suaminya gemas.
"Sini aku pijat kakimu."
Ron menarik selimut tebal untuk menutupi tubuh sang istri yang hanya mengenakan pakaian dalam begitu ia selesai mengusapkan lotion.
Pria itu mengusap-usap lembut perut sang istri serta memijat-mijat pelan kaki ibu hamil itu.
"Kau mau susu? Aku akan ambilkan camilan juga untukmu," tawar Ron benar-benar memanjakan sang istri.
"Ron, kau manis sekali beberapa hari ini.." puji Thrisca seraya mengusap lembut wajah sang suami.
"B-berhentilah menggodaku! Kau membuatku merinding,"
Ron mengalihkan pandangan dari Thrisca dan mulai salah tingkah di depan istrinya.
Thrisca tersenyum kecil melihat wajah suaminya yang memerah malu.
"Ron, kau ingin tahu apa yang aku bicarakan dengan ibu?"
"Apa?"
Ron menatap Thrisca dengan mata membulat penasaran.
"Ibu memberiku pilihan. Aku harus melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi terkemuka, atau mulai membangun karir." ungkap Thrisca.
"Jangan dengarkan perkataan ibu! Aku tidak--"
"Ron, tolong berpikirlah rasional. Ibu mencoba membantuku membangun kepercayaan diriku. Semua yang ibu lakukan bukan demi gengsi. Pendidikan tinggi sudah menjadi kebutuhan, Ron. Soal karir, ibu tidak mengijinkanku hanya berakhir menjadi ibu rumah tangga. Ibu ingin aku memiliki kegiatan dan mengasah keterampilan,"
"Jangan dengarkan omong kosong--"
"Ron, kau akan memberi ijin padaku, kan?" pinta Thrisca dengan mata berbinar.
"Jangan menatapku seperti itu!"
Ron memalingkan wajahnya dari sang istri.
"Ron, kau ingin aku menjadi ibu yang bodoh? Aku juga ingin bisa menjadi ibu yang dibanggakan oleh anak kita nanti." bujuk Thrisca.
"Aku juga tidak berharap aku bisa menjadi wanita karir yang sukses. Kau tahu kapasitas otakku, kan? Ibu hanya ingin melindungiku dari nyonya-nyonya pejabat yang mungkin menindasku," imbuh Thrisca.
"Kau tidak perlu bergaul dengan orang-orang aneh itu!"
"Lalu kau ingin aku terus di rumah? Kau tidak ingin aku bersosialisasi dengan orang-orang di lingkupmu? Kau tidak ingin mengenalkanku pada orang-orang di sekitarmu?"
"Mereka hanya orang asing! Merek--"
"Sayang, sebenarnya apa yang kau takutkan?" potong Thrisca cepat.
Wanita itu menatap sang suami lurus-lurus dengan sorot mata tajam.
"Kau takut aku tidak akan lagi memiliki waktu untukmu jika aku terlalu sibuk di luar sana?" tebak Thrisca.
"Aku hanya mengkhawatirkanmu.." jawab Ron lirih.
"Aku takut terjadi sesuatu yang buruk padamu jika kau berada di luar sana sendirian.."
Ron memeluk erat tubuh langsing istri cantiknya itu.
"Ron, berhentilah memperlakukanku seperti anak kecil. Sebenarnya aku juga takut untuk menghadapi dunia luar. Tapi aku tidak bisa terus-terusan menjadi gadis rumahan,"
Thrisca membalas pelukan sang suami tak kalah erat.
"Aku tidak akan pergi sendirian ke luar sana. Kau mau menemaniku kan, Ron?"
Wanita itu melepas pelukannya pada sang suami dan berganti mengecup bibir pria tampan yang memeluknya itu.
"Jangan menggodaku! Kau sudah hampir telanjang sekarang!"
Pria itu berusaha keras menahan diri untuk tidak bercinta dengan sang istri yang tengah hamil muda.
"Kau mau?" bisik Thrisca bak wanita penghibur yang merayu pelanggannya.
Wanita yang hanya terbalut pakaian dalam itu mendekat ke arah sang suami dan memamerkan belahan dadanya pada pria yang juga bertelanjang dada itu.
Thrisca bangkit dari ranjang dan berlutut untuk menyejajarkan tinggi dengan sang suami yang tengah duduk tegap di kasur empuk.
Wanita hamil itu dengan berani menyodorkan buah besarnya yang hanya terbalut braa seksi tepat di depan wajah sang suami.
Ron berusaha keras mengalihkan pandangannya dari pemandangan menyilaukan di depan matanya, namun Thrisca semakin menggodanya dengan menarik tangan pria itu dan mengusap-usapkan tangan lebar suaminya ke buah dada besar milik wanita cantik itu.
"Sayang, hentikan.."
Ron mengalihkan padangan dari tubuh seksi wanita di hadapannya yang mencoba merayunya.
"Kau yakin tidak mau?"
Thrisca menatap centil sang suami yang mulai salah tingkah.
"Sial! Apa yang dilakukan wanita hamil ini?!" batin Ron kesal.
Ron semakin dilanda kegalauan berat saat tangannya menyentuh benda bulat nan lembut milik sang istri.
Thrisca semakin menjadi saat wanita itu memasukkan tangan Ron ke dalam braa miliknya dan membiarkan tangan sang suami merayap ke buah mulusnya tanpa penghalang.
Ron tak kuasa menahan diri untuk tidak merem*ss dan memainkan gundukan gunung mulus yang sudah menjadi candunya itu.
Ingin sekali bibir Ron menyambangi gunung kembar mulus yang sudah ada di depan matanya. Namun ia takut tidak dapat mengendalikan diri dan membahayakan kandungan sang istri.
Pria itu benar-benar dilanda kecemasan berat mengenai kehamilan sang istri hingga ikut mengalami morning sickness yang lebih parah dari wanita hamil.
Ahh..
Thrisca segera menutup mulutnya begitu ia kelepasan mengeluarkan suara ambigu saat Ron semakin kencang merem*ss buah dada miliknya.
"Astaga! Apa yang sudah kulakukan?! Aku hanya ingin mengerjai Ron, kenapa aku malah terlihat seperti wanita penggoda begini?!" batin Thrisca malu.
Wanita itu segera menyingkirkan tangan Ron dari tubuhnya, namun terlambat.
Undangan dari wanita itu sudah berhasil membuat naluri Ron terpanggil dengan hasrat kuat.
Ron menatap Thrisca dengan sorot mata bak binatang buas yang siap menerkam kelinci putih yang akan dijadikan mangsanya.
Pria itu melingkarkan lengan di pinggang sang istri seraya mengecupi buah mulus istrinya yang masih terpampang di depan wajahnya.
"Ron, lebih baik tidak usah kalau kau tidak bisa mengendalikan diri," tolak Thrisca halus.
"Kau sendiri yang mengundangku! Aku tidak akan melepasmu dengan mudah malam ini!"
Ron membaringkan tubuh istrinya di ranjang seraya melayangkan kecupan ganas ke bibir wanita hamil itu.
Tangan pria itu mulai merayap ke tubuh sang istri, melucuti pakaian dalam yang masih menempel di tubuh molek wanita cantik itu.
"Aku akan berhati-hati.." bisik Ron seraya menggigit telinga cantik wanitanya.
Pria itu menjamah tubuh Thrisca dengan sentuhan-sentuhan lembut ke setiap area tubuh wanitanya.
Bibir pria tampan itu mulai menyambangi seluruh tempat tak terjamah di tubuh indah sang istri.
Ron memulai acara puncaknya dan perlahan memasukkan tongkat panjangnya ke lubang surga milik sang istri dengan penuh gairah.
Thrisca menggenggam sprei ranjang kuat-kuat dan melepaskan semua erangan maupun desah*nn tanpa rasa sungkan, hingga membuat sang pria semakin bersemangat menancapkan bendera di lembah kenikmatan milik wanita cantik itu.
Deru nafas pasangan sejoli itu mulai naik turun beriringan dengan tubuh Ron yang menancapkan benderanya semakin dalam, menyambangi rumah sang buah cinta pasangan suami-istri itu.
Peluh keringat sang istri yang bercucuran membuat Ron makin menikmati malam panasnya bersama wanita cantik itu.
Selesai bermain dengan tongkatnya, Ron beralih memainkan jemarinya ke setiap sudut tubuh sang istri.
Setiap gerakan jari sang suami di area lubang surga milik Thrisca membuat wanita itu tak henti-hentinya mendes*hh hingga membuat gairah Ron makin meningkat.
Pria itu bertambah candu memainkan tubuh sang istri yang semakin memanas.
"Sayang, kau bersemangat sekali.. apa dalam keadaan hamil seperti ini aku masih terlihat cantik?" goda Thrisca dengan suara lirih dan terdengar seksi.
"Malam ini kau sangat cantik.." ujar Ron kembali menggerayangi buah besar yang bertengger di dada sang istri.
Pria itu telah terjerat pesona kecantikan wanita hamil yang telah berhasil menggodanya itu.
Entah mengapa, pria itu merasa sang istri terlihat semakin cantik dan mempesona dalam kondisi berbadan dua.
"Ron, sampai kau akan bermain?" ujar Thrisca seraya menahan suaranya.
Wanita itu tak ingin semakin mengundang hasrat sang suami dengan suara-suara desahann yang ia keluarkan.
"Kenapa? Apa aku terlalu kasar? Perutmu terasa tidak enak?"
Ron melirik ke arah perut sang istri dengan panik.
"Tidak apa-apa, lanjutkan saja.."
Thrisca mengalungkan tangannya ke leher sang suami dan mencumbuu pria kesayangannya itu.
Meskipun sudah merasa lelah, Thrisca tidak ingin menghancurkan kesenangan sang suami dengan penolakan darinya.
Wanita itu ingin memberikan hadiah pada suami yang sudah bekerja keras menjaganya dengan baik selama beberapa hari terakhir.
"Apa kau suka hadiah dariku, Ron?" bisik Thrisca kembali mengundang hasrat sang suami.
"Sangat suka.." balas Ron kembali mencumbuu mesra sang istri.
***
Bersambung...