
Thrisca duduk di meja makan bersama dengan Katrina seraya menunggu kepulangan Ron.
Katrina terus menatap Thrisca dengan pandangan meremehkan hingga membuat Thrisca merasa tidak nyaman.
"Kenapa dia terus menatapku?!" batin Thrisca risih.
"Kakak, boleh aku tahu sudah berapa lama kau dan Ron menikah?" tanya Katrina.
"Baru satu tahun."
"Ah, ternyata belum lama."
"Memangnya kenapa kalau belum lama?" tanya Thrisca.
"Kupikir kau sudah menikah lama dengan Ron. Kau sudah tidak terlihat muda lagi," ledek Katrina.
"Dia ingin bilang kalau aku berwajah tua?!" batin Thrisca dongkol.
"Benarkah? Aku baru berusia dua puluh tiga tahun. Apa itu cukup tua bagimu?!"
"Ah, ternyata masih muda."
"Memang berapa usiamu?"
"Aku masih mahasiswi. Aku baru berusia dua puluh tahun." ungkap Katrina.
"Bagaimana dengan kuliahmu kalau kau berada di sini?"
"Aku mengambil cuti." jawab Katrina.
"Kakak, kuliah di universitas mana?" tanya Katrina.
"Di kampung halamanku." ujar Thrisca malas.
"Kampus kecil?" ledek Katrina.
"Sial, gadis ini meremehkanku?!" batin Thrisca semakin jengkel melihat Katrina yang nampak menyombongkan diri sebagai nona muda.
"Sayang.." panggil Ron membuyarkan lamunan Thrisca yang masih sibuk mengumpat pada Katrina di dalam hati.
"Ron.."
Thrisca beranjak dari meja kamar dan bergegas menghampiri sang suami.
"Ron, ada apa dengan wajahmu?!" pekik Thrisca terkejut melihat wajah lebam Ron.
"Aku.. dipukul Gen." jawab Ron lirih.
"Kalian bertengkar?! Sampai kapan kalian akan seperti ini?! Kalian--"
"Aku tidak apa-apa, Sayang. Ini hanya luka kecil." potong Ron.
"Kalau begitu aku ke dokter dengan supir saja."
"Ke dokter?"
"Ron, kau lupa kalau hari ini jadwal pemeriksaan kandunganku?" omel Thrisca geram.
"M-maaf, Sayang. Aku benar-benar tidak ingat. Aku ganti pakaian dulu. Tunggu sebentar,"
"Kau istirahat di rumah saja. Lukamu sudah diobati, kan? Atau ingin kutambah salep luka lagi?" tawar Thrisca.
"Lukaku sudah diobati. Aku tetap akan mengantarmu. Tunggu sebentar, ya?"
Ron segera berlari menuju kamar dan berganti pakaian secepat kilat.
"Ron.." panggil Katrina.
Ron tak menghiraukan sedikitpun panggilan Katrina. Pria itu langsung menghampiri Thrisca dan berlalu meninggalkan rumah tanpa menggubris keberadaan Katrina.
"Pria itu lengket sekali dengan istrinya.." gumam Katrina kesal.
***
"Nyonya Thrisca.." seorang perawat menghampiri Thrisca dan siap membawa wanita itu menuju ruang pemeriksaan.
Ron dan Thrisca nampak bersemangat ingin melihat perkembangan janin sang buah hati yang kini sudah menginjak umur sepuluh minggu.
Begitu janin terpampang di layar monitor, Ron langsung antusias menatap malaikat kecilnya yang tengah tumbuh di rahim sang istri.
"Itu kenapa ada dua bentuk aneh?" tanya Ron heran.
Dokter kandungan itu tersenyum, kemudian menyampaikan kabar gembira pada pasangan suami-istri itu.
"Selamat Nyonya, Tuan. Calon buah hati Tuan dan Nyonya kembar." ungkap sang dokter.
Ron dan Thrisca saling melempar pandangan tanpa tahu bagaimana cara mereka mengekspresikan kegembiraan mereka mendengar kabar membahagiakan ini.
"K-kembar? Maksud dokter, di perut istriku ini ada dua calon bayi?" tanya Ron tergagap.
"Benar, Tuan."
Ron langsung mendekap erat sang istri yang masih terbaring di ranjang pasien.
"Selamat, Sayang.." ujar Ron lembut seraya mengecupi kening Thrisca bertubi-tubi.
"Selamat juga, daddy. Kau akan menjadi daddy dari dua bayi sekaligus.." ucap Thrisca.
"Tolong lebih diperhatikan lagi asupan gizinya, karena ada dua janin yang tumbuh di perut Nyonya." saran dokter.
"Terima kasih."
Ron dan Thrisca keluar dari ruang pemeriksaan dengan wajah sumringah. Pasangan suami-istri itu tak henti-hentinya tersenyum seraya menatap perut Thrisca yang perlahan mulai membuncit.
"Ron, kenapa kau terus tersenyum-senyum sendiri sejak tadi?! Kau membuatku takut," ledek Thrisca.
"Aku tidak menyangka kita akan merawat dua bayi sekaligus."
Ron terus mengusap perut sang istri dengan senyum merekah.
"Ron, bagaimana kau bisa menyetir mobil kalau kau terus menatap perutku?!" protes Thrisca pada Ron yang masih sibuk mengelus perutnya dan tidak juga menjalankan kendaraan yang sudah mereka tumpangi sejak tadi.
"Kau ingin apa, Sayang? Aku akan menuruti semua keinginanmu." tawar Ron.
"Aku tidak ingin apa-apa, Ron. Jika aku memintanya darimu, aku yakin kau tidak akan memenuhinya." sindir Thrisca.
"Memangnya kau ingin apa? Kapan aku pernah menolak permintaanmu?" tanya Ron dengan wajah tak berdosa.
"Kalau begitu.. ijinkan aku menerima tawaran agensi mo--"
"Tidak!" tolak Ron cepat.
"Lihat, kan? Aku tahu kau tidak akan memenuhi keinginanku." cibir Thrisca.
"Apapun itu akan kuturuti, kecuali satu hal itu."
"Em, soal itu.."
"Kenapa? Kau keberatan lagi?" sindir Thrisca.
"Bukan begitu, Sayang. Aku bukannya tidak ingin mendukungmu untuk berkembang, aku hanya-- hanya--"
"Hanya ingin terus mengurungku di dalam rumah. Iya, kan?"
"Mana mungkin aku begitu. Memangnya kapan aku pernah mengurungmu?" tanya Ron tanpa rasa bersalah.
"Ron, kau pandai sekali berakting!" omel Thrisca seraya mencubit gemas pipi sang suami.
"Kau.. sudah tidak marah soal Katrina, kan? Aku janji tidak akan ada yang berubah. Waktuku, perhatianku, semuanya hanya akan kuberikan padamu dan bayi kita."
"Ron, mengenai itu.. aku memiliki kejutan untukmu." ungkap Thrisca dengan wajah sumringah.
"Kejutan apa?"
"Kakek meninggalkan sesuatu untukmu." ujar Thrisca lagi mengingat-ingat amplop yang ditinggalkan sang kakek untuk Ron.
"Apa lagi yang diinginkan pria tua--"
"Ron, kakek sangat menyayangimu. Aku akan memberikan hadiah dari kakek saat kita pulang nanti."
***
Setelah beberapa saat berkendara, akhirnya Ron dan Thrisca tiba di kediaman tercinta mereka.
Ron sibuk membopong istri hamilnya setelah keluar dari mobil dan tidak membiarkan wanita itu bergerak sedikitpun.
"Ron, kenapa kau berlebihan--"
"Diam! Kau pasti kesulitan membawa dua bayi sekaligus. Jangan terlalu banyak bergerak!" omel Ron seraya menggendong sang istri menuju ruang makan.
Di meja makan besar itu, Katrina masih duduk manis di sana menunggu kepulangan Ron untuk menyantap makan malam bersama.
"Katrina, kau belum makan?" tanya Thrisca.
"Aku.. tidak suka makan sendiri." ujar Katrina.
"Maaf, kau pasti menunggu lama. Cepatlah makan dan beristirahat." ucap Thrisca keibuan.
Katrina menatap Thrisca sejenak tanpa berkedip. Ia tidak menyangka akan mendapat permintaan maaf hanya untuk hal sepele seperti ini.
"Dia pasti hanya sok baik di depanku karena ada Ron di sini!" gerutu Katrina dalam hati.
Ron menarik kursi mendekat ke bangku Thrisca dan menyiapkan piring untuk sang istri.
Begitu Thrisca mulai menyibukkan tangan dengan centong nasi, Ron langsung merebut benda itu dari tangan Thrisca dan membiarkan sang istri duduk dengan nyaman.
"Kau ini kenapa, Ron? Aku akan ambilkan makanan untuk--"
"Aku yang akan menyiapkan makanan untukmu. Kau duduk saja dan jangan lakukan apapun!" titah Ron.
"Bagaimana kalau aku ambilkan makanan untuk--"
Belum sempat Katrina menyelesaikan kalimatnya, Ron sudah menyela terlebih dahulu.
"Tidak perlu!" sinis Ron.
"Kau mau apa, Sayang? Yang ini? Ini? Ini?"
Ron terus menumpuk makanan ke dalam piring Thrisca hingga membuat wadah bulat itu penuh dengan makanan yang menggunung.
"Ron, kau ingin memberi makan kuli?" sindir Thrisca.
"Sayang, makanan ini untuk tiga orang sekaligus. Kau harus makan yang banyak," ujar Ron seraya melayangkan sendok hendak menyuapi sang istri.
"Ron, aku bisa makan sendi--"
"Buka mulutmu!" potong Ron.
Thrisca membuka mulut dan mengunyah pelan makanan yang disendokkan ke mulutnya.
"Kau juga belum makan, Ron. Biar aku makan sendiri saja."
"Tidak perlu! Kalau begitu kita makan sepiring berempat saja. Lihat, aku juga menyendokkan makanan ke mulutku!" ujar Ron seraya menyumpalkan sendok penuh makanan ke mulutnya.
Katrina yang hanya bisa menjadi obat nyamuk, tak henti-hentinya berdecak kesal melihat pasangan suami-istri yang tengah menikmati dunia mereka sendiri.
"Kakak hamil muda? Berapa usia kandungan kakak?" tanya Katrina menyela perbincangan Ron dan Thrisca.
Tangan Ron langsung gemetar seketika hingga ia tidak sengaja menjatuhkan sendok.
Pria itu menatap tajam ke arah Katrina dan mulai berpikir yang tidak-tidak mengenai gadis itu.
"Jangan bicarakan hal ini pada siapapun!" ujar Ron seraya melempar tatapan dingin pada Katrina.
Hingga saat ini, Ron masih ingin menyembunyikan kehamilan sang istri dan tidak ingin lagi membuat pengumuman yang tidak perlu.
Pria itu masih khawatir keluarga dari istri-istri kakeknya yang lain akan kembali berbuat ulah dan mencelakai sang istri lagi.
Keberadaan Katrina mulai membuat Ron tidak tenang dan mulai berburuk sangka, mencemaskan Katrina yang mungkin akan melakukan hal yang tidak-tidak pada istri dan juga calon anaknya.
"Besok pulang ke rumahmu sendiri! Dan jangan pernah muncul di rumah ini lagi!" usir Ron tanpa belas kasihan sedikitpun.
"Tapi aku istrimu, Ron! Aku juga berhak tinggal bersamamu!" ujar Katrina.
"Apa-apaan bocah ini?! Dia hanya berpura-pura atau dia memang benar-benar menganggap kalau dirinya adalah istri Ron?" batin Thrisca tidak suka.
"Berani sekali kau meninggikan suaramu di depan istriku?!" omel Ron dengan suara tertahan.
Pria itu berusaha sekeras mungkin untuk tidak menggebrak meja maupun berteriak agar tidak membuat sang istri terkejut.
"Ron, Katrina.. sudah, ya? Habiskan makananmu, Katrina." ujar Thrisca lembut.
"Tidak perlu bertingkah sok baik di depanku!" sergah Katrina.
"Hei, jaga ucapanmu pada istriku!"
Ron hampir saja melempar gelas ke wajah Katrina jika saja Thrisca tidak segera menarik tangannya.
"Sayang, jangan seperti itu. Katrina masih labil. Dia baru beranjak dewasa. Jangan berperilaku kasar padanya," bisik Thrisca seraya memeluk lengan sang suami dan mencoba menenangkan Ron.
"Kita makan di kamar saja."
Ron mengambil piring makanannya dan segera menggandeng sang istri meninggalkan meja makan.
"Kau hanya wanita miskin, kenapa hidupmu bisa lebih baik daripada aku?!" pekik Katrina pada Thrisca yang sudah berlalu dari ruang makan.
***
Bersambung...