
Nyonya Daisy keluar dari kediamannya dan mendapati Lilian serta Jane sudah berdiri di depan pintu masuk istananya.
Kedua wanita itu memasang tampang seramah mungkin dengan senyum mengembang menyambut sang tuan rumah.
"Wanita liar ini beraninya mendatangi rumah suamiku!" gerutu Nyonya Daisy dalam hati.
"Mau apa kalian datang ke sini?" tanya Nyonya Daisy sinis.
"Ada apa dengan ibunya Ron? Kenapa sikap Bibi Daisy semakin dingin padaku?" batin Lilian kecewa.
"Ada hal yang ingin kubicarakan, Bi. Ini tentang Ron," ujar Lilian.
"Jangan sebut-sebut lagi nama anakku! Lilian, mulai hari ini dan seterusnya aku tidak ingin terlibat lagi denganmu! Jangan lagi usik putraku dan suamiku!" ujar Nyonya Daisy dengan tatapan tajam.
Lilian membeku seketika begitu mendengar perkataan sinis Nyonya Daisy.
"Mengusik suami? Apa Bibi Daisy tahu sesuatu tentang aku dan Tuan Derry?" batin Lilian cemas.
"Bibi, apa ini karena Bibi sudah menemukan calon istri lain untuk Ron?" tanya Lilian.
"Itu bukan urusanmu!"
"Bi, aku tidak tahu apa kesalahanku hingga Bibi memperlakukanku seperti ini. Tapi calon menantu pilihan Bibi juga tidak lebih baik daripada aku."
"Apa maksudmu?"
Jane mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan foto Ron dan Thrisca di salon serta foto Han dan Thrisca di taman.
"Siapa ini?" tanya Daisy keheranan.
"Ini bukan calon istri pilihan Bibi?" tanya Lilian bingung.
"Apa yang bisa kulihat dari gambar itu? Kau ingin menunjukkan apa?!"
"Bibi, wanita di dalam foto ini adalah kekasih Han. Tapi dia juga berani mendekati Ron. Aku melihatnya masuk ke salon bersama Ron, dan Ron menggandeng tangan wanita itu." ungkap Jane.
"Apa yang sebenarnya dilakukan anak nakal itu?!"
Nyonya Daisy bergegas meninggalkan rumah tanpa menghiraukan Lilian dan Jane yang masih berdiri mematung disana.
"Bibi, tunggu sebentar!"
Lilian mengejar Nyonya Daisy untuk kembali berbicara.
"Pulanglah! Dan jangan lagi berani menginjakkan kaki di rumah ini!" bentak Nyonya Daisy.
Wanita paruh baya itu segera memasuki mobil dan melaju menuju kediaman sang putra.
Hari mulai gelap. Matahari baru saja tenggelam bersama cahaya terangnya, berganti menjadi malam yang gelap dan dingin.
Selama seharian Ron terus menemani sang istri yang baru saja dilanda demam tinggi. Pria itu hanya ke kantor sebentar untuk memeriksa pekerjaan dan mengamuk pada Han.
Ron segera melesat kembali ke rumah dan merawat sang istri dengan sabar.
"Sudah tidak panas," gumam Ron lega seraya memegangi dahi sang istri.
"Ron, kau sudah berapa kali memegang jidatku? Kau tidak bosan terus menerus mengecek suhu tubuhku sejak tadi?" protes Thrisca.
"Kau sudah bersikap menyebalkan seperti biasanya, berarti kau sudah sembuh, kan?!" ejek Ron.
"Bisakah kau berhenti bersikap berlebihan?! Hanya demam saja, kau sudah sampai seperti ini. Bagaimana kalau aku sakit parah?!" tukas Thrisca.
"Tutup mulutmu itu, Gendut! Jangan bicara sembarangan!" omel Ron seraya menjewer kedua telinga sang istri.
Tok..tok..
Suara ketukan pintu kamar Ron sukses menghancurkan momen Ron bersama sang istri yang tengah berbincang ria di dalam kamar.
"Kenapa, Bi?" tanya Ron pada Bi Inah dengan wajah kesal.
"Nyonya Besar Daisy berkunjung, Tuan."
"Benarkah? Dimana sekarang--"
Belum sempat Ron menyelesaikan kalimatnya, Nyonya Daisy sudah menerobos masuk dan berjalan ke arah kamar sang putra.
"Ibu?"
"Minggir, Ron!" perintah Nyonya Daisy seraya mendorong sang putra yang menghalangi pintu.
"Ibu, ini kamarku!" omel Ron pada ibunya.
Nyonya Daisy memaksa masuk ke dalam kamar untuk melihat siapa wanita yang tersimpan dalam kamar putranya.
Thrisca nampak terkejut melihat Nyonya Daisy yang tiba-tiba muncul di dalam kamarnya.
Istri Ron itu segera bangkit dari ranjang dan merapikan rambutnya.
"Bu, dengar dulu. Hanya ada Thrisca di rumah ini, Bu. Wanita yang ibu lihat ini adalah istriku." ungkap Ron.
"Apa maksudmu?"
Ron dan Thrisca duduk di ruang tamu bersama Nyonya Daisy.
Ron menjelaskan segalanya mengenai Thrisca yang mengubah penampilan dan menipu semua orang, sama seperti dirinya yang juga berpura-pura lumpuh untuk menggagalkan pernikahan mereka.
Thrisca terus menundukkan kepala selama Ron berbicara. Wanita itu menggenggam erat tangan sang suami tanpa berani membuka suara sedikitpun di depan sang ibu mertua.
"Apa yang sebenarnya kalian lakukan?!"
Nyonya Daisy memijat-mijat kepalanya yang pening melihat kelakukan sang putra dan menantunya.
"Maaf, Nyonya. Ini semua salah kami. Kami sangat menyesal." ujar Thrisca.
"Jadi, kau Thrisca istrinya Ron?" tanya Nyonya Daisy.
"Benar, Nyonya."
Nyonya Daisy memperhatikan Thrisca dengan seksama dari kepala hingga ujung kaki.
"Lumayan cantik," gumam Nyonya Daisy.
"Bu, tolong jangan permasalahkan hal ini. Aku akan segera mengenalkan Thrisca pada semua orang. Aku akan membuat berita yang bagus dan masuk akal. Perusahaan tidak akan terkena dampaknya. Aku jamin," bujuk Ron pada sang ibu.
"Kau ingin bilang apa? Kau ingin mengarang istrimu melakukan sedot lemak?!" cibir Nyonya Daisy.
"Aku akan memikirkannya nanti. Bagiku yang terpenting sekarang adalah restu dari ibu. Aku akan mengadakan pesta pernikahan lagi bersama istriku. Tolong dukung kami, Bu." pinta Ron.
"Apa ada hal lain yang masih kau tutupi dari ibu?"
"Tidak ada lagi, Bu. Hanya ini hal yang tidak ibu ketahui.."
"Thrisca, kau tidak ingin mengatakan sesuatu? Suamimu sedang meminta restu dariku. Menurutmu kenapa aku harus merestui kalian?"
Nyonya Daisy beralih pada Thrisca.
Thrisca menghela nafas sejenak sebelum ia mulai berbicara.
Wanita itu memang tidak pandai membual dengan kata-kata manis, tapi Thrisca tidak perlu membuat-buat kata palsu hanya untuk mendapatkan hati sang ibu mertua.
"Nyonya, aku percaya setiap orang memiliki kelemahan dan kelebihan masing-masing. Semua orang mungkin memandang Ron hanya dengan menyanjung kelebihannya saja, dan memandangku hanya dengan meremehkan kekuranganku saja. Tolong beri aku kesempatan untuk menunjukkan kelebihanku juga," ujar Thrisca.
"Kau pikir kau memiliki kelebihan yang bisa disejajarkan dengan Ron?"
Nyonya Daisy cukup puas dengan visual Thrisca yang cukup cantik dan menawan, namun wanita itu masih nampak kecewa dengan latar belakang pendidikan Thrisca. Ditambah lagi menantunya hanyalah gadis rumahan biasa yang tidak memiliki karir yang bisa dibanggakan.
Meskipun bukan berasal dari keluarga ternama, sebenarnya Nyonya Daisy akan cukup puas jika Thrisca mempunyai satu gelar dan cukup aktif berkarir.
"Bu, jangan berbicara seperti itu pada istriku!" bela Ron.
"Ron, kau pikir seorang wanita hanya cukup berwajah cantik?! Mereka juga harus cerdas, Ron!"
"Nyonya, aku sudah berencana akan kembali ke universitas! Aku akan mencoba membangun karir kecilku dari bawah. Aku janji aku tidak akan membuat Ron malu," sanggah Thrisca penuh semangat.
"Universitas? Di mana kau berkuliah? Apa di universitas ternama? Universitas yang bagus?" cecar Nyonya Daisy.
"Ibu! Hentikan! Cerdas tidak hanya bisa dilihat dari gelar. Istriku bisa mengurusku dengan baik. Itu hal yang tidak bisa dilakukan oleh wanita-wanita sosialita seperti ibu! Ibu selalu saja mementingkan kegiatan ibu yang penuh gengsi daripada menghabiskan waktu di rumah bersama keluarga!"
"Ron, kau berani mengoreksi perilaku ibumu?!" bentak Nyonya Daisy.
"Semua perkataanku benar, kan? Menurut ibu, kenapa ayah mencari kehangatan dari wanita lain di luar sana?! Itu karena ibu tidak bisa mengurus ayah dan aku! Ibu selalu saja sibuk dengan dunia ibu bersama nyonya-nyonya berpakaian mewah di luar sana!"
Plakk!!
Tamparan keras melayang ke pipi halus Ron.
"Ron, jangan lancang!"
Nyonya Daisy menatap sang putra dengan sorot mata penuh kemarahan.
"Aku hanya mengatakan yang sebenarnya. Silahkan ibu renungkan sendiri apakah perkataanku ini benar atau salah!" ujar Ron ketus.
Thrisca mengusap-usap pipi suaminya yang memerah karena tamparan sang ibu.
Nyonya Daisy keluar dari rumah sang putra dan bergegas meninggalkan area kediaman anak laki-lakinya itu.
Sepanjang perjalanan, Nyonya Daisy terus melamun mengingat-ingat kembali ucapan sang putra.
"Benarkah aku seperti itu? Benarkah aku terlalu sibuk di luar sana hingga aku mengabaikan suami dan putraku?" gumam Nyonya Daisy.
***
Bersambung...