
Malam hari, Thrisca pulang ke rumah ayahnya bersama Ron dengan masih mengenakan seragam sekolah.
Susan duduk di ruang tamu bersama putri kecilnya dan mengacuhkan kedatangan sang anak tiri bersama menantunya.
"Bibi," sapa Thrisca pada Susan.
"Hem." jawab Susan singkat.
"Sayang, mandilah lebih dulu. Aku ingin berbicara dengan Bibi Susan," ujar Thrisca pada Ron.
Ron mengangguk kecil dan segera berlalu menuju kamar sang istri.
Namun pria itu tidak benar-benar masuk ke kamar Thrisca, melainkan berdiri di balik tembok ruang tamu untuk mendengar percakapan istrinya dengan sang ibu tiri.
Thrisca duduk di ruang tamu dan menatap anak perempuan kecil yang tengah sibuk dengan mainannya.
"Ini Elma." ujar Susan memperkenalkan putrinya pada Thrisca.
"Nama yang bagus. Halo, Elma.."
Thrisca mendekat ke arah balita itu dan menyapa dengan ramah.
"El, ini kakak Icha."
Susan memperkenalkan Thrisca pada putri kecilnya.
Gadis cilik itu menatap Thrisca dengan tatapan waspada. Elma menjauh dari Thrisca dan mendekap sang ibu dengan erat.
"Elma hanya belum terbiasa dengan wajahmu," tukas Susan.
"Semua anak kecil tidak suka orang asing, kan?" gumam Thrisca seraya tertawa kecil dan mencubit pipi sang adik kecil dengan gemas.
"Kau tidak pulang dari kemarin?"
"Maaf, Bi. Aku demam dan Ron membawaku ke rumah sakit." jelas Thrisca.
"Kau baik-baik saja, kan? Jangan sungkan untuk memberitahuku jika terjadi sesuatu padamu,"
"Aku baik-baik saja, Bi."
Thrisca terdiam sejenak, mencoba merangkai kata-kata sebelum ia berbicara kembali pada Susan.
"Maaf sebelumnya, aku hanya ingin bertanya bagaimana rencana Bibi ke depannya?"
"Rencana?" tanya Susan seraya mengerutkan kening.
"Bibi masih muda. Bibi bisa mulai mencari pengganti ayah. Elma butuh perhatian dari seorang ayah. Dan Bibi butuh suami yang bisa merawat Bibi," saran Thrisca.
"Kalau aku menikah lagi dalam waktu dekat, apa Thrisca akan mengambil alih usaha ayahnya?" batin Susan cemas.
"Apa ayahmu mengatakan sesuatu mengenai perusahaan kecilnya? Semuanya sudah berjalan normal sekarang. Aku dan Elma bisa hidup dari usaha yang ditinggalkan ayahmu." ujar Susan.
"Ayah tidak mengatakan apapun. Tapi kalau boleh, aku ingin kembali melanjutkan kuliahku. Bolehkah aku memakai uang ayah juga?" ijin Thrisca.
"Apa? Biaya kuliah apa? Hanya perusahaan kecil dengan keuntungan sedikit, mana mungkin aku masih membaginya lagi untuk biaya kuliah?" batin Susan kesal.
"Apa suamimu tidak sanggup membiayaimu? Mobilnya terlihat mahal. Dia tidak mau membiayai pendidikanmu?" sindir Susan.
Ibu beranak satu itu benar-benar tidak mengetahui apapun mengenai Ron dan tidak mengenali wajah cucu keluarga kaya itu. Ia juga tidak tahu kalau keluarga Ron yang telah membantu biaya pengobatan suaminya dan membantu mengembangkan usaha.
"Bukan begitu, Bi. Ron tidak kekurangan uang. Aku hanya ingin bisa menyelesaikan pendidikanku tanpa meminta bantuan dari Ron." ujar Thrisca.
Ron mendengar dengan jelas perkataan sang istri. Pria itu agak sakit hati saat mengetahui istrinya tidak menginginkan bantuannya, namun ia juga cukup paham dan menghargai sikap Thrisca yang tidak ingin selalu bergantung padanya.
Thrisca mulai mengingat kembali undangan Nadine yang memintanya datang ke acara wisuda. Jika gadis itu tidak mengambil cuti tahun lalu, Thrisca mungkin juga sudah menyelesaikan pendidikannya sekarang.
Bersanding bersama pria elit seperti Ron memang menjadi beban tersendiri bagi Thrisca. Tidak hanya dari segi penampilan, latar belakang dan kualitas diri yang dimilikinya benar-benar menguras habis kepercayaan dirinya di depan Ron.
Terlebih lagi saat melihat wanita berkelas seperti Lilian berada di sekitar sang suami, Thrisca semakin merasa dirinya masih belum cukup baik untuk mendapat suami idaman seperti Ron.
Gadis itu tidak ingin lagi merasa rendah diri dihadapan sang suami. Thrisca juga ingin bisa bersaing dengan kumpulan wanita berkelas yang selalu ada di sekeliling suaminya. Istri Ron itu juga ingin menjadi sosok wanita idaman yang bisa dibanggakan oleh suaminya.
Thrisca ingin mencoba menjadi wanita yang pantas bersanding dengan suami dari keluarga terpandang seperti Ron.
Langkah pertama yang ingin ia lakukan ialah segera mendapatkan gelarnya dengan usahanya sendiri.
"Ron adalah pria yang berpendidikan tinggi. Aku juga tidak ingin ketinggalan. Aku ingin bisa sejajar dengan Ron." terang Thrisca.
Ron tidak bisa menyembunyikan perasaan harunya begitu mendengar niat sang istri yang ingin memantaskan diri untuk bisa bersanding dengannya.
"Hanya tinggal satu tahun lagi, Bi. Anggap saja sebagai pinjaman. Aku akan mengembalikannya setelah aku lulus," bujuk Thrisca.
"Beri aku waktu untuk berpikir. Aku tidak memiliki siapapun lagi selain ayahmu. Dan hanya usaha suamikulah satu-satunya sumber penghasilanku." tolak Susan halus.
"Aku akan mengembalikannya secepat mungkin, Bi." pinta Thrisca.
Ron ingin sekali menarik tangan istrinya yang masih memohon hanya untuk sejumlah uang yang tidak seberapa.
Pria itu sangat berterimakasih dengan niat baik sang istri yang ingin berusaha menjadi lebih baik untuk dirinya, namun Ron tetap tidak akan terima jika harus melihat sang istri bersusah payah sendirian hanya untuk biaya pendidikan.
"Aku akan mempertimbangkannya. Tapi aku hanya bisa membantu untuk uang semester. Untuk kebutuhan lain kau urus sendiri. Bagaimana?"
"Tidak apa-apa. Terimakasih, Bi."
Thrisca beranjak dari kursi dan berlari kegirangan menuju kamar.
Ron yang masih bersembunyi dibalik tembok, segera melarikan diri dengan panik dan berpura-pura tidur di ranjang kecil sang istri.
"Ron sudah tidur? Cepat sekali," gumam Thrisca saat melihat gundukan selimut di kasur kecilnya.
Gadis itu duduk disamping Ron yang tengah memejamkan mata. Istri Ron itu mengambil ponsel tuanya dan menghidupkan benda kecil yang sudah mati selama beberapa hari.
"Mas Gen mengirim pesan banyak sekali.." gumam Thrisca seraya membuka satu persatu pesan dari Genta.
Tak lama setelah gadis berambut panjang itu menghidupkan ponsel, satu panggilan masuk dari sepupu sang suami yaitu Genta.
"Halo?"
"Aku baik-baik saja, Mas Gen." ujar Thrisca seraya beranjak dari kasur untuk menjauh agar ia tidak membangunkan sang suami.
Sementara Ron yang hanya berpura-pura tidur, ingin sekali bangun dan merebut ponsel sang istri yang tengah melakukan panggilan telepon dengan seorang pria itu.
"Gen benar-benar kurang ajar!" batin Ron geram.
Thrisca bahkan keluar dari kamar dan duduk di lantai teras rumahnya untuk mengangkat telepon dari Genta.
"Maaf, Gendut. Aku ingin sekali kesana, tapi Ron memaksaku untuk mengurus semua pekerjaannya disini." sesal Genta.
"Aku sudah tidak apa-apa. Sudah ada Ron disini,"
"Kapan kau kembali? Aku akan menyiapkan rencana liburan yang menyenangkan saat kau kembali. Bagaimana kalau kita berkeliling gunung?" ajak Genta.
"Berkeliling gunung apanya? Mengajakku ke pantai saja kau malu, kan?" cibir Thrisca disertai tawa kecil.
Ron melirik ke arah jendela kamar dan sayup-sayup mendengar suara tawa Thrisca yang tengah berbincang dengan Genta di telepon.
"Seharusnya aku mengusir Genta sejak dulu!" gumam Ron seraya memandangi sang istri dengan ekspresi kesal.
"Aku akan mengajakmu berkemah di gunung. Berwisata di gunung juga tidak kalah menyenangkan dari pantai," ujar Genta dengan semangat.
"Kau bersemangat sekali membahas liburan,"
"Aku sudah memikirkan banyak tempat untuk liburan kita selanjutnya setelah pantai. Bagaimana kalau kita mengunjungi taman bermain juga?"
"Mas Gen, apa kau tidak punya teman yang bisa diajak?" sindir Thrisca.
"Aku mengajakmu hanya karena aku kasihan padamu! Aku tidak tahan melihat gadis rumahan payah yang kurang hiburan sepertimu," ejek Genta.
"Aku memang orang yang tidak gila liburan," sanggah Thrisca cuek.
"Jadi, kapan kau akan kembali?" tanya Genta tidak sabar.
"Mungkin masih beberapa hari lagi,"
"Ron juga akan menemanimu disana?"
"Aku tidak tahu. Aku juga ingin cepat kembali, tapi aku masih rindu pada ayahku."
"Cepatlah kembali, Gendut! Pergi berlibur bersamaku mungkin bisa cepat mengobati kesedihanmu,"
"Terimakasih, Mas Gen. Aku akan pulang secepatnya." ujar Thrisca.
Genta menutup sambungan telepon seraya tersenyum kecil memandangi ponselnya sendiri.
"Ron tidak akan mencekikku hanya karena aku menelepon istrinya, kan?" gumam Genta cemas.
Pria yang mengenakan setelan jas rapi itu segera kembali ke tengah-tengah acara yang sedang ia hadiri bersama Tuan Hasan.
Nyonya Daisy dan Tuan Derry juga hadir di acara tersebut dan berdiri tak jauh dari Tuan Hasan.
Genta datang untuk menemani sang kakek menghadiri acara amal yang diselenggarakan untuk kaum elit dan keluarga terpandang yang ada di kota tersebut.
"Nyonya Daisy, lama tidak bertemu.."
Beberapa Nyonya Pejabat menghampiri Ibu Ron dan berbincang dengan nyonya keluarga Diez tersebut.
"Nyonya Grace," sapa Nyonya Daisy sekenanya.
"Mana putra kesayanganmu dan menantu barumu? Hanya Genta dan Tuan Hasan yang terlihat." sindir Nyonya Grace.
"Ron dan istrinya sedang berada di luar kota," jawab Nyonya Daisy dengan senyum palsu.
"Kudengar Ron sudah kembali ke perusahaan,"
"Benar. Ron sudah baik-baik saja. Perusahaan akan terbengkalai tanpa putraku," ujar Nyonya Daisy sedikit menyombong.
"Benarkah? Baik-baik saja? Tapi kata keponakanku, Ron masih mengenakan kursi roda. Apa kakinya masih bermasalah?" sindir Nyonya Grace lagi.
Nyonya Daisy benar-benar tidak tahan dengan kumpulan ibu-ibu yang terus mengejeknya karena kondisi putranya dan juga menantunya.
Wanita paruh baya itu mencengkeram gelas minuman yang ada di tangannya dengan wajah geram. Nyonya Daisy pamit undur diri seraya melayangkan senyum palsu dan berjalan dengan cepat menuju toilet.
"Anak nakal itu benar-benar! Memangnya dia tidak mau berjalan lagi?!" gerutu Nyonya Daisy di dalam toilet yang sepi.
"Aku bahkan tidak bisa memamerkan menantuku dan juga membawa putraku ke hadapan orang-orang sok elit itu!"
Nyonya Daisy melampiaskan kemarahannya dengan mengomel seorang diri di dalam ruangan kecil itu.
Hiruk pikuk pesta mewah itu tak lagi menjadi sumber kebahagiaan ibu beranak satu itu sejak sang anaknya berpura-pura lumpuh dan menikah dengan gadis berambut keriting serta berbadan gendut.
***
Bersambung..
Hola author hadir membawa visual
...RON DIEZ...
...WENTHRISCA LIU (THRISCA)...
... RI**GENTA DIEZ (GENTA**)...
...LILIAN VIN...