DEAR, MY RON

DEAR, MY RON
BAB 122



Lilian duduk di sekitar pelabuhan dengan tas jinjing kecil yang dibawanya. Wanita itu mulai kehilangan arah dan tak tahu harus pergi kemana.


Di tempat asing penuh dengan warga tak ramah itu, Lilian harus kembali mengulang kehidupannya yang menyedihkan tanpa uang dan ketenaran.


Wanita itu berjalan menyusuri jalan raya dan mencari bar kecil, tempat terakhir yang bisa ia kunjungi untuk melepaskan stress.


"Halo?"


Lilian duduk di bar kecil dengan wajah memelas sembari menghubungi bala bantuan.


"Untuk apa kau menghubungiku lagi?" bentak Berlin mengangkat panggilan telepon dari Lilian.


"Nenek tua itu sudah tahu semuanya. Aku sudah dibuang! Tolong jemput aku, Bi." pinta Lian pada Berlin.


Sama seperti Nyonya Daisy yang mengenal baik keluarga angkat Lilian, Berlin juga mengenal ibu angkat yang telah mengadopsi Lilian. Meskipun tidak dekat, namun Berlin sangat tahu sepak terjang Lilian di keluarga besar Diez mulai dari hubungan gelapnya dengan Tuan Derry hingga ia yang sempat berkencan dengan Ron.


"Menjemputmu?! Menjemput apanya?! Aku sudah dipulangkan dan ibu mertuaku melarangku datang lagi ke pertemuan keluarga! Aku bahkan tidak diperbolehkan hadir di pernikahan putraku sendiri! Kau bilang Thrisca bukan apa-apa, tapi mana?! Hanya demi seorang cucu menantu, nenek tua itu hampir saja menjebloskanku ke jeruji besi!" omel Berlin panjang lebar.


"Lalu bagaimana dengan nasibku? Aku sekarang berada di kota kecil tanpa uang!" protes Lilian.


"Kau pikir hanya kau yang kesulitan! Kau seharusnya bersyukur Aswinda masih membiarkan kita hidup karena putraku Genta!"


"Apa yang harus kusyukuri?! Aku sudah kehilangan sumber uangku dan kehidupan mewahku! Aku tidak tahu bagaimana aku bisa bertahan hidup sampai besok!" teriak Lilian geram.


"Itu urusanmu! Aku juga mempunyai masalahku sendiri!"


Berlin menutup telepon dengan kasar.


Lilian berteriak histeris seraya membanting ponselnya ke lantai bar dengan geram. Wanita itu tak tahu lagi apa yang harus ia lakukan untuk kembali memperbaiki hidupnya yang semakin berantakan.


***


Rumah sakit.


Ron tengah menyibukkan tangan dengan memasukkan pakaian dan beberapa barang ke tas besar milik sang istri.


Hari ini Thrisca sudah diperbolehkan kembali pulang ke rumah sang suami tercinta. Wanita itu duduk santai di atas ranjang, melihat suaminya yang sibuk melipatkan bajunya dan membereskan ruangan kecil yang menjadi tempat tidurnya selama beberapa hari terakhir.


"Ron, kau terlihat senang sekali.." tegur Thrisca memandangi suaminya yang tersenyum riang melipatkan baju-bajunya.


"Tentu saja aku senang! Kau sudah bisa pulang sekarang. Kita tidak perlu lagi tidur berdua di ranjang kecil itu!" jawab Ron.


"Sudah satu minggu kau tidak pulang, Ron. Rumah pasti sepi sekali hanya ditempati pelayan dan supir," komentar Thrisca.


"Untuk apa juga aku pulang?! Kau tidak ada di rumah, kenapa aku harus pulang?" sahut Ron dengan wajah cemberut.


"Bagaimana dengan pekerjaanmu, Ron? Perusahaan kakek bisa bangkrut jika dipimpin oleh bos yang malas sepertimu," sindir Thrisca.


"Aku masih bisa hidup tanpa uang kakek. Tapi aku tidak akan bisa hidup lagi tanpamu."


Ron menatap lurus-lurus sang istri tanpa berkedip.


Pria itu nampak serius mengutarakan kata-kata yang terdengar seperti rayuan gombal namun menyentuh.


"Ron, sejak kapan kau pintar merayu?!" gurau Thrisca seraya tertawa kecil.


Namun Ron tidak menampakkan reaksi apapun. Pria itu masih menatap sang istri dengan intens dan menampilkan wajah tegang nan serius.


Tidak ada sedikitpun rayuan basi dalam ucapan Ron. Pria itu hanya ingin menyampaikan perasaannya pada sang istri dengan jelas.


"Ron, kau terlihat serius sekali?"


"Ini bukan rayuan. Aku hanya ingin mengatakan isi hatiku. Tolong berhati-hatilah lain kali. Jika kau lagi-lagi pulang dengan luka goresan sedikit saja, aku tidak akan memaafkanmu!" ujar Ron tegas seraya menatap tajam sang istri.


Thrisca mulai berkeringat dingin dan menundukkan kepala dalam-dalam begitu mendapat tatapan menyeramkan dari sang suami.


"Maaf.." ujar Thrisca lirih.


"Aku tidak akan menerima maafmu jika kau sampai menginap di tempat ini lagi!"


Ron mendekap erat sang istri dan melayangkan kecupan bertubi-tubi di pucuk kepala istri cantiknya.


"Aku tahu, kau melakukan semuanya untukku. Aku benar-benar berterimakasih atas perhatianmu, Ron."


Thrisca mengalungkan tangannya ke leher sang suami dan mengecup singkat bibir pria tercintanya itu.


"Ron, boleh aku meminta sesuatu.." ujar Thrisca takut-takut.


"Apa?!"


"Bolehkah aku mengunjungi ayahku?" pinta Thrisca.


"Tentu. Tapi tidak dalam waktu dekat."


"Terima kasih, Ron. Aku akan beristirahat dengan baik hingga aku benar-benar pulih." ujar Thrisca bersemangat.


***


Thrisca membuka pintu rumah yang sudah seminggu lebih ia tinggalkan. Wanita itu nampak rindu dengan pemandangan kediaman sang suami yang telah sepi penghuni selama beberapa hari terakhir.


Begitu Thrisca membuka pintu, seluruh keluarga suaminya menyambut kepulangan Thrisca dengan meriah. Terlihat Tuan Hasan beserta istri dan Tuan Derry bersama istri turut hadir menyambut sang menantu yang sudah kembali pulang ke rumah dengan selamat.


"Ibu, nenek.." sapa Thrisca menghampiri ibu dan nenek mertuanya.


"Kau sudah tidak pucat lagi. Mulai sekarang perhatikan baik-baik kesehatanmu. Kau pasti bisa hamil lagi secepatnya.." hibur Nyonya Aswinda.


"Iya, Thrisca. Ibu sudah membelikan banyak vitamin untukmu. Kau masih muda, masih ada banyak kesempatan untuk mengandung lagi." tambah Nyonya Daisy.


Wajah Thrisca memerah seketika mendengar perkataan dari ibu-ibu yang membahas perihal anak dengannya. Ron yang ikut menguping di samping Thrisca, mencolek pinggang istrinya dan melempar senyuman nakal pada sang istri.


"Ron, kau harus berusaha lebih keras! Nenek ingin cepat-cepat menimang cicit darimu.." ujar Nyonya Aswinda.


"Aku siap memberikan pelayanan memuaskan untuk istriku.."


Ron melingkarkan tangannya di pinggang sang istri, kemudian membopong wanita cantik itu menuju kamar, meninggalkan para tamu yang masih memenuhi rumahnya.


"Kalian cepatlah pulang jika ingin cepat-cepat mendapat cucu dariku! Aku butuh waktu privasi bersama istriku!" usir Ron tanpa menoleh sedikitpun ke arah keluarganya yang masih bersantai di ruang tamu rumahnya.


"Ron, temani dulu ayah dan kakekmu.." omel Thrisca menjewer telinga sang suami.


"Biarkan saja mereka pergi! Kau butuh istirahat!"


Ron membaringkan istrinya di ranjang dan menutup pintu kamar rapat-rapat.


"Istirahatlah! Aku akan menemanimu di sini." ujar Ron.


Pria itu menarik selimut dan mengerubuti seluruh tubuh istrinya dengan kain tebal. Ron mengusap-usap kepala sang istri hingga wanita itu tertidur lelap.


"Halo, Han?"


Ron menjauh dari ranjang sang istri dan menghubungi sang asisten.


"Bos, Gen sudah mengajukan laporan tapi tiba-tiba dicabut. Nyonya besar yang memberikan ijin," ungkap Han memberikan informasi pada sang bos.


"Apa maksudnya dicabut? Nenek tua itu seenaknya saja mengambil keputusan!" omel Ron geram.


"Kasus sudah ditutup dan berakhir sebagai kecelakaan yang tidak disengaja, Bos." tambah Han.


"Cih, kecelakaan apanya?! Lalu dimana supirnya?"


"Supir sudah diamankan dan akan mendapatkan sanksi. Pihak taman hiburan juga akan memberikan kompen--"


"Kompensasi apanya?! Istriku hampir mati dan aku kehilangan anakku! Apa kompensasi bisa menghidupkan anakku lagi?!"


Amarah Ron makin memuncak melihat ketidakadilan yang diterima sang istri dan calon buah hatinya yang sudah tiada.


"Cari tahu dalangnya! Tidak perlu meminta bantuan polisi! Aku akan melenyapkan mereka dengan tanganku sendiri!"


***


Bersambung...