DEAR, MY RON

DEAR, MY RON
BAB 168



"Apa ini?" gumam Thrisca dengan wajah frustasi melihat sandwich acak-acakan karya dari sang suami.


Potongan sayur yang tidak rapi, tatanan daging yang membludak memenuhi roti. Saus dan mayones yang berantakan menempel di roti serta karpet.


Sandwich buatan Ron nampak mengerikan dengan lumuran saus yang belepotan ke segala tempat.


"Aku memberikan potongan daging yang besar untukmu! Aku tambahkan sosis dan mayo yang banyak juga," ujar Ron dengan antusias tanpa rasa bersalah memberikan sandwich berpenampilan mengerikan pada sang istri.


"Ron, sandwich macam apa itu?!" ledek Nyonya Daisy.


"Memangnya kenapa? Yang penting rasanya! Ayo buka mulutmu, Sayang!" ujar Ron bersiap melayangkan roti isi besar ke mulut sang istri.


"Ron, apa kau tidak terlalu banyak menggunakan saus dan mayo?" tanya Thrisca penuh hati-hati.


"Kenapa? Bukankah kau suka mayo? Ayo buka mulutmu! Aku membuatkan porsi besar untuk kalian bertiga," tukas Ron seraya menyumpalkan roti besar ke mulut Thrisca.


Wanita itu hampir saja menyemburkan sumpalan roti dari Ron yang sudah memenuhi mulutnya. Dengan pipi menggelembung besar, Thrisca berusaha bersusah payah menelan suapan roti dari Ron.


"Enak, kan?" tanya Ron dengan tampang polosnya. Thrisca hanya mengangguk pelan dengan keringat dingin bercucuran.


"Aku ingin muntah," batin wanita hamil itu.


"Makan yang banyak, Sayang! Daddy akan membuatkan sandwich penuh sayuran untuk kalian," ujar Ron makin antusias membuat roti isi.


"Icha, muntahkan saja roti dari Ron! Anak ini memang bodoh! Membuat roti isi saja tidak bisa," omel Nyonya Aswinda seraya menoyor kepala Ron.


"Akhh! Bisakah nenek tidak ikut campur? Lihat saja istriku memakannya dengan lahap! Nenek tahu apa soal roti? Roti buatanku penuh cinta, tentu saja pasti akan terasa enak di mulut istriku." ungkap Ron penuh percaya diri.


"Cinta apanya?" cibir Nyonya Daisy.


"Kau juga makanlah, Ron." ujar Thrisca seraya menyuapkan potongan kecil roti isi pada sang suami.


"Piknik ini tidak terlalu membosankan, kan?" tanya Thrisca membuka perbincangan.


"Membosankan," gurau Ron mencoba menggoda sang istri.


"Benarkah? Kalau begitu aku tidak akan mengajak piknik lagi lain kali," gumam Thrisca dengan wajah cemberut.


Ron menguyel-uyel pipi Thrisca dengan gemas melihat wajah manyun dari wanita hamil itu.


"Ini piknik yang menyenangkan, Icha. Terima kasih sudah mengajak nenek," ucap Nyonya Aswinda.


"Ibu juga tidak menyangka piknik di taman kecil seperti ini bisa menjadi kegiatan yang menyenangkan," komentar Nyonya Daisy.


"Ayah ... juga cukup senang bisa menghabiskan waktu bersama menantu ayah," tambah Tuan Derry.


Ron ikut melingkarkan tangan di pinggang sang istri dan mendekap tubuh berisi istrinya itu penuh kasih.


"Tidak ada hal yang membosankan selama aku melakukannya bersamamu. Aku akan mengajakmu piknik ke tempat lebih bagus lain kali," ajak Ron sembari melayangkan kecupan bertubi-tubi di kening sang istri.


"Ron, jangan di sini!" bisik Thrisca malu bermesraan di depan keluarga mertuanya.


"Kalian sudah selesai, kan? Sekarang waktuku berkencan dengan istri dan anakku! Jangan menggangguku!" tukas Ron membawa kabur sang istri dari keluarganya.


Pria itu mengajak sang istri berjalan-jalan mengelilingi taman yang penuh dengan pohon rindang.


"Kau mau naik sepeda?" tawar Ron.


"Hanya mencari sepeda kecil saja itu bukan hal yang sulit," ujar Ron dengan sombongnya.


Pria itu merogoh ponsel di kantongnya dan berteriak kencang pada Han untuk mengurus semua kebutuhannya.


"Lihat, Icha! Suamimu sangat keren, kan? Aku hanya perlu menggunakan mulutku untuk mendapatkan segalanya," tukas Ron.


Thrisca hanya bisa menggelengkan kepala pelan melihat Ron yang begitu senang menyiksa Han.


Tak butuh waktu lama, asisten setia Ron itu muncul dengan membawa sepeda yang diminta oleh Ron. Dengan wajah cemberut dan keringat bercucuran, Han menyerahkan barang titipan sang bos yang menyebalkan itu.


"Lambat sekali! Hanya membawakan sepeda saja aku harus menunggumu selama dua puluh menit? Taman ini hanya berjarak beberapa meter dari rumahku," omel Ron.


"Beberapa meter apanya?!" rutuk Han dalam hati.


"Ron, sudahlah! Kenapa kau terus saja menyiksa Mas Han seperti ini?" tegur Thrisca.


"Mas Han sudah makan siang? Mau kubuatkan--"


"Tidak perlu! Pulang sana! Jaga nona muda menyebalkan itu!" potong Ron cepat.


Wajah Han yang mulai berseri, kembali meredup karena ocehan Ron yang terlalu memekakkan telinga.


Pria itu berjalan lesu meninggalkan Ron dan Thrisca yang masih sibuk berkencan. Han duduk sejenak di bangku taman untuk melepas penat.


Ting!


Han membuka ponselnya dengan malas dan membaca pesan singkat yang ternyata berasal dari Nadine.


"Nadine? Apa ini benar pesan dari Nadine?!" pekik Han dengan mata melotot menatap layar ponsel.


Pria itu bersorak kegirangan di taman hanya karena satu pesan singkat dari gadis pujaan hatinya.


"Tunggu aku masa depan cerah," teriak Han berlari menghampiri Nadine yang tengah berkunjung ke kota.


Wanita itu tak dapat menghubungi Thrisca yang tengah berkencan dan ia juga tak bisa menghubungi Cherry yang tengah sibuk fitting baju pengantin.


Karena tak ada teman dan tempat yang bisa dikunjungi, akhirnya mau tak mau Nadine hanya bisa menghubungi Han untuk menemaninya sejenak hingga ia bisa menghubungi teman-temannya.


"Apa mereka semua sibuk? Aku sudah jauh-jauh kemari, tapi tidak ada satupun teman yang menyambut." gerutu Nadine kesal di bangku stasiun.


Wanita itu mengedarkan pandangan ke sekeliling stasiun dan melihat sosok Han yang berlari ke arahnya.


Pria itu nampak bersemangat menghampiri Nadine dengan senyuman lebar.


"Nadine," sapa Han dengan nafas tersengal dan keringat bercucuran.


"Sudah lama tidak bertemu, kenapa dia terlihat semakin cantik?" batin Han.


"Kali ini aku harus memanfaatkan kesempatan dengan baik untuk mendapatkan hati Nadine!" ucap Han dalam hati dengan semangat menggebu.


***


Bersambung...