DEAR, MY RON

DEAR, MY RON
BAB 40



Ron memasang wajah cemberut dan terus melirik ke arah ibunya dengan tatapan kesal. Pria yang menduduki kursi roda itu sudah berada di salah satu restoran ternama di pusat kota bersama dengan sang ayah, ibunda beserta satu tamu tak diundang.


"Bu, ini penipuan! Ibu bilang ini hanya acara makan biasa dengan ayah?!" protes Ron pada sang ibu.


"Penipuan apa? Kau tidak lihat pria tua yang duduk disana?!"


"Baiklah, ayah memang disini. Tapi kenapa orang itu bisa berada disini?!" ujar Ron seraya melempar tatapan dingin ke arah Lilian.


Nyonya Daisy sengaja mengajak Lilian makan bersama keluarganya agar Lian memiliki kesempatan untuk berbicara dengan Ron.


Pria itu selalu mengabaikan pesan dan panggilan dari Lian. Ron juga selalu menghindar saat sang ibu membahas mantan kekasihnya itu. Ron benar-benar muak dengan sikap ibunya yang terus memaksanya untuk meladeni Lilian.


"Ron, begitukah sikapmu pada seorang wanita?" omel Nyonya Daisy.


"Sudahlah! Aku pulang bukan untuk melihat pertengkaran kalian." lerai Tuan Derry, ayah dari Ron.


"Paman, sudah lama kita tidak bertemu." sapa Lian pada Tuan Derry.


"Bagaimana kabarmu, Lian? Kau nampak kurusan." ujar Tuan Derry.


"Sayang, Lian baru saja menjalani pengobatan. Wajar kalau berat badannya berkurang banyak." sanggah Nyonya Daisy.


"Aku sudah selesai makan! Aku juga sudah menyapa ayah. Aku harus pergi sekarang," pamit Ron begitu pria itu memakan satu suapan makanan yang tersaji di meja.


"Ron! Kau mau kemana?!"


Nyonya Daisy mengejar sang putra yang mulai merayap menjauh dari meja makan dengan kursi roda.


Lilian masih diam di bangkunya seraya melihat Nyonya Daisy yang berusaha mengejar anak laki-lakinya.


"Kau masih berhubungan dengan Ron?" Tuan Derry mengajak Lian berbincang saat hanya tersisa mereka berdua di meja makan.


"Aku hanya berkunjung, Paman. Bibi mengundangku," jawab Lian lirih.


"Bagaimana dengan nasib bayimu itu? Kau benar-benar menggugurkannya lagi?"


Lian mengepalkan tangannya kuat-kuat dan mencoba menahan amarah. Siapa sangka ayah dari pria yang dicintainya itu mengetahui semua hal mengenai dirinya.


Tidak hanya itu, bahkan jauh sebelum Lian mengenal Ron, wanita itu sudah lebih dulu berhubungan dengan Tuan Derry.


"Melihat ibunya Ron masih bersikap baik padamu, sepertinya dia belum tahu apapun mengenai calon menantu kesayangannya ini." ucap Tuan Derry dengan sinis.


Lilian hanya terdiam dan menundukkan kepalanya dalam-dalam.


"Ingatlah, aku bisa memberitahu Daisy kapan saja! Aku juga bisa membongkar hubungan kita di masa lalu jika aku mau! Kau pikir bagaimana reaksi Daisy nanti jika dia tahu kalau calon menantu idamannya adalah bekas simpanan suaminya?!" ancam Tuan Derry.


"Apa maumu? Kau tidak akan memberikan restu untukku dan Ron?"


Lian memberanikan diri membuka suara.


"Restu? Cih, mana mungkin aku membiarkan bekas wanitaku menjadi menantuku? Kalau kau tidak menggugurkan bayi kita waktu itu, kau mungkin sudah menjadi nyonya di rumahku." ujar Tuan Derry semakin sinis pada mantan kekasih gelapnya itu.


"Tuan Derry, apa yang terjadi antara kita di masa lalu itu hanyalah sebuah kesalahan. Aku memang lebih cocok jadi menantumu daripada menjadi nyonya di rumahmu! Aku hanya akan menjadi nyonya di rumah Ron."


Tuan Derry mengambil gelas minumannya dan meneguk habis air yang berada di dalam wadah kecil itu.


"Aku mungkin bukan ayah yang baik, tapi aku selalu mendukung kebahagiaan putraku. Ron sudah tidak menginginkanmu, jadi sebaiknya kau mundur sebelum aku mendorongmu!" tukas ayah Ron dengan sorot mata penuh ancaman.


"Lian,"


Nyonya Daisy datang dan menghentikan perbincangan antara Lian dan Tuan Derry.


Wanita paruh baya itu menarik tangan Lian menyingkir dari meja dan menghampiri Ron yang sudah berada di luar bangunan mewah itu.


"Cih, menantu? Menantu apanya?" gumam Tuan Derry dengan senyuman sinis memandangi Lilian yang berjalan menjauh darinya.


***


Tok..tok..


Suara ketukan pintu membuat Thrisca panik dan gelagapan mencari kunci pintu rumah kecilnya itu.


"Ayolah, Icha! Ini hanya luka kecil! Jangan berjalan pincang lagi atau kau akan menjadi pusat perhatian di acara nanti!" ujar Thrisca menyemangati dirinya sendiri seraya mengusap beberapa perban yang masih membalut tangan dan kakinya.


Gadis itu sudah bersiap dengan pakaian kasual sederhana dengan lengan panjang yang menutup seluruh perban luka di tubuhnya. Tak lupa gadis itu menyematkan cincin pernikahannya di jari manisnya.


Meskipun Ron tidak bersamanya, Thrisca harus tetap menjaga martabatnya sebagai wanita yang sudah bersuami. Gadis itu bahkan meminta ijin dari Ron untuk berangkat bersama teman pria.


"Ron masih tidak membalas juga? Dia tidak akan marah, kan? Lagipula aku hanya pergi bersama tetangga." gumam Thrisca agak cemas.


"Sudah siap?" tanya Yovan yang sudah berdiri di depan pintu rumah Thrisca.


"Tentu."


Thrisca sibuk mengunci kembali pintu rumahnya sementara Yovan segera menyiapkan helm untuk gadis yang akan diboncengnya.


"Kau tidak keberatan naik motor, kan?" tanya Yovan ragu-ragu.


"Tidak masalah. Terimakasih sudah memberiku tumpangan," ujar Thrisca seramah mungkin.


Wajah Yovan memerah seketika saat mendapat senyuman dari gadis cantik tetangganya itu.


"Kamu masih saja sama seperti dulu," gumam Yovan lirih.


"Masih sama cantiknya," ujar Yovan dengan cepat dan segera memalingkan wajahnya dari Thrisca.


"Apa-apaan ini? Aku tidak menyangka punya tetangga seorang pria penggoda," batin Thrisca agak risih dengan perkataan Yovan.


Gadis itu naik ke motor besar Yovan dan duduk sejauh mungkin dari pria itu. Thrisca berusaha keras untuk tidak menempelkan badannya sedikitpun ke tubuh sang pengendara motor.


"Icha, pegangan yang erat."


"I-iya," jawab Thrisca disertai anggukan.


Kendaraan roda dua milik Yovan melaju sedikit lebih kencang di jalanan kota yang sepi itu.


Thrisca bergegas turun dari motor sebelum teman-temannya melihat dirinya berboncengan dengan Yovan. Gadis itu melepas helm dengan tergesa-gesa hingga ia kesulitan sendiri melepas kancing helmnya karena terlalu terburu-buru.


"Icha, kenapa buru-buru sekali? Sini aku bantu,"


Melihat Thrisca yang kesulitan membuka helm, Yovan segera membantu temannya itu membuka kancing dari benda bulat yang menempel di kepala gadis cantik itu.


"Nadine, itu Icha?"


Beberapa teman perempuan Thrisca melihat Yovan melepas helm Thrisca dari kejauhan.


"Yovan memang bisa diandalkan! Kukira dia hanya bisa membual saat berkata akan membawa Thrisca ke acara ini," tutur gadis bernama Nadine itu.


Thrisca segera merapikan rambutnya yang sedikit berantakan dibantu dengan Yovan. Pria itu mengusap-usap rambut Thrisca dengan lembut untuk membantu merapikan mahkota cantik milik temannya itu.


"Sudah rapi, kan? Aku tidak membawa sisir." tanya Thrisca meminta Yovan untuk melihat penampilannya.


"Sudah rapi. Maaf, harusnya aku membawa mobil tadi." sesal Yovan.


"Tidak apa. Naik motor lebih menyenangkan," jawab Thrisca asal.


Nadine dan Cherry terus memperhatikan Yovan dan Thrisca dari jauh. Kedua teman Thrisca itu saling berbisik saat melihat Yovan mengusap lembut rambut sahabat mereka.


Cafe tempat acara reuni itu sudah nampak ramai penuh dengan teman-teman sekolah Thrisca. Gadis itu berjalan mengekor di belakang Yovan saat memasuki bangunan cafe.


Saat Yovan dan Thrisca masuk bersamaan, seluruh mata tertuju pada kedua orang yang baru saja sampai itu. Kedatangan Thrisca sendiri sudah menjadi kejutan yang luar biasa bagi acara reuni mereka.


Setelah bertahun-tahun lulus dari sekolah menengah, tak pernah sekalipun Thrisca hadir dalam acara reuni yang selalu diadakan setiap tahun oleh teman-temannya itu.


Thrisca bahkan sudah lost contact dengan teman-teman terdekatnya sejak lulus sekolah. Gadis itu juga jarang masuk ke kampus hingga akhirnya ia harus mengambil cuti saat usaha sang ayah mulai bermasalah.


Sejak saat itu Thrisca hanya berdiam diri di rumah dan menghabiskan waktu untuk merawat sang ayah yang sudah hampir beruban.


Begitu Thrisca dan Yovan menapakkan kaki di dalam bangunan, sorak sorai yang meriah berdengung memenuhi ruangan, menyambut kehadiran mereka di acara tahunan itu.


Thrisca dan Yovan yang datang bersama-sama juga sempat membuat kesalahpahaman yang mengira mereka datang sebagai pasangan.


"Yovan, kau benar-benar berhasil membawa dewi kelas kita ke reuni?! Kau benar-benar beruntung,"


Beberapa teman pria menghampiri Yovan dan melontarkan ledekan pada pria jangkung itu.


"Icha, aku tidak menyangka kau mempunyai hubungan dengan Yovan! Sudah lama tidak bertemu denganmu, aku benar-benar merindukanmu."


Nadine menghampiri sang sahabat dan memeluk Thrisca dengan erat.


"Apa yang Nadine bicarakan? Hubungan apanya?!" protes Thrisca dalam hati.


"Nadine, menyingkirlah! Aku juga ingin memeluk Icha!" rengek Cherry.


"Ayo kita duduk disana!"


Cherry menarik tangan Thrisca dengan semangat.


"Van, aku pinjam istrimu sebentar!" ledek Nadine pada Yovan.


"Nadine, istri apanya?!!" protes Thrisca dengan wajah cemberut.


"Jangan berbicara omong kosong!" ujar Yovan menanggapi Nadine dengan wajah memerah malu.


"Padahal hanya datang bersama. Kenapa mereka seenaknya saja menyimpulkan hubunganku dengan Yovan?!" gerutu Thrisca dalam hati.


Gadis-gadis itu terus memojokkan Thrisca dengan ledekan-ledekan mengenai Yovan. Tak jauh berbeda dari Thrisca, Yovan juga menerima ledekan yang sama dari teman-teman prianya.


Dalam waktu sekejap, cafe itu langsung dipenuhi hiruk pikuk suara tawa dan candaan yang penuh dengan nostalgia.


"Icha, kau sudah menikah dengan Yovan?" tanya Nadine tiba-tiba saat melihat cincin yang tersemat di jari manis Thrisca.


"Menikah apanya?!"


"Lalu apa ini?"


Nadine menarik tangan Thrisca dan mengamati benda kecil itu dengan cermat.


"Icha, kau menikah dan tidak mengundang kami? Tega sekali!" omel Cherry pada Thrisca.


"Cobaan apa lagi ini? Haruskah aku bilang kalau aku sudah menikah dengan Ron?" keluh Thrisca dalam hati.


***


Bersambung..