DEAR, MY RON

DEAR, MY RON
BAB 107



"Cherry.." sapa Berlin pada pacar palsu Genta.


Cherry yang tengah asyik mengobrol dengan Nadine, gelagapan seketika saat ibu dari Genta itu menghampirinya.


"Bibi.."


Cherry tersenyum ramah dengan terpaksa pada ibu Genta dan mencium tangan wanita yang melahirkan sepupu bosnya itu.


Genta yang masih sibuk mengobrol dengan Han, segera berlari menyelamatkan Cherry, sebelum sang ibu kembali membahas pernikahan palsu yang ia utarakan pada Berlin.


"Ini siapa?" batin Nadine dengan wajah bingung mengamati ibu dari Genta.


"Ibu, kenapa ibu mengganggu Cherry?! Biarkan saja dia menghabiskan waktu bersama teman-temannya.." Genta menyeret sang ibu menjauh dari Nadine dan juga Cherry.


"Kau ini kenapa?! Ibu hanya ingin mengakrabkan diri dengan calon menantu ibu." protes Berlin.


"Mengakrabkan apanya?! Ibu hanya mengincar saham dari kakek, kan?!" cibir Genta.


"Hush! Ada kakekmu di sini!" omel Berlin seraya memukul belakang kepala sang putra.


"Berhentilah mengganggu Cherry! Temani saja nenek di sana sebelum wanita itu membuat keributan dengan nenek Ron!"


Berlin melirik ke arah Nyonya Dewi yang tengah duduk bersama Nyonya Aswinda dalam suasana tegang. Di tengah-tengah dua wanita tua itu, terdapat Tuan Hasan yang asyik menyeruput teh tanpa menghiraukan kedua istrinya yang saling melempar pandangan tidak suka satu sama lain.


"Siapa yang mengundang orang luar kemari?!" sindir Nyonya Aswinda pada Nyonya Dewi.


"Cucuku tinggal di sini. Genta banyak membantu Ron di perusahaan. Sebagai orang yang dibantu, seharusnya tahu cara berterimakasih. Sayang sekali cucuku yang malang bahkan tidak mendapat posisi apapun di perusahaan," balas nenek dari Genta itu.


"Siapa yang meminta cucumu untuk mengungsi di rumah cucuku?!" cibir Nyonya Aswinda.


Telinga Tuan Hasan yang sudah panas, memilih untuk pergi meninggalkan kedua wanita yang masih sibuk saling melempar sindiran.


Melihat sang suami yang berganti bangku, Nyonya Aswinda ikut berlalu menghampiri Ron yang tengah seru menyuapi makan malam untuk Thrisca.


"Sana, temani nenek saja! Lain kali aku akan membawa Cherry untuk bertemu ibu lagi." usir Genta.


"Lain kali kapan, Gen?! Ibu akan mengumumkan pernikahan kalian besok. Jika kau tidak mau mengenalkan Cherry pada ibu, nikahi saja calon pilihan ibu!" desak Berlin.


"Terserah ibu saja!"


Genta mendorong sang ibu menjauh dari Cherry.


"Cherry, nyonya itu ibunya Genta?" tanya Nadine.


"Mungkin," jawab Cherry malas.


"Kenapa tadi nyonya itu menyapamu? Kau kenal keluarga Genta?" tanya Nadine penuh rasa iri dan cemburu.


"Mana mungkin! Aku tidak kenal!" jawab Cherry ketus.


"Cherry, kau hampiri Thrisca saja agar ibuku tidak mengajakmu berbicara lagi. Panggil saja aku jika wanita tua itu masih mengganggumu," ujar Genta.


"Hem." balas Cherry singkat.


Nadine ingin sekali mengajak Genta berbicara, namun mata pria itu tidak melirik ke arah Nadine sedikitpun. Pria itu hanya berbicara seperlunya pada Cherry dan berlalu meninggalkan teman-teman Thrisca itu.


"Kau memiliki hubungan apa dengan Genta?!" selidik Nadine seraya mencubiti lengan temannya itu.


"Hubungan apa? Jangan asal tuduh dulu!" omel Cherry.


"Sejak kapan kau kenal Genta?! Aku bahkan tidak berani menyapa pria itu, kenapa kau bisa bicara santai sekali dengannya?! Kenapa ibunya juga menyapamu?!" amuk Nadine pada Cherry.


"Apa aku melakukan kesalahan? Apa ibunya tidak boleh menyapaku?" tanya Cherry malas.


"Dasar wanita bodoh!"


Nadine memukul belakang kepala Cherry dengan geram.


Rasa iri, kesal dan cemburunya yang meluap sudah tidak bisa ia tahan lagi.


***


"Ron, kemari sebentar.." panggil Nyonya Aswinda pada sang cucu.


"Nenek tua, pakai kacamatamu! Aku sedang sibuk, jangan ganggu aku!" ujar Ron ketus.


"Ron, jangan bersikap tidak sopan seperti itu pada nenek!" omel Thrisca seraya menarik telinga sang suami.


"Aku akan menghampiri Nadine dan Cherry.."


Thrisca membawa piring makanannya mendekati Cherry yang duduk seorang diri tak jauh dari bangku Thrisca.


"Kemari, Ron!" titah Nyonya Aswinda dengan wajah garang.


Nenek dan cucu itu masuk ke ruang kerja Ron dan berbincang di dalam ruangan itu dengan pintu tertutup rapat.


"Nadine pergi kemana?" tanya Thrisca.


"Entahlah," jawab Cherry malas.


"Kalian bertengkar?"


"Mana mungkin! Nadine sendiri yang bersikap aneh. Wanita gila itu sudah memukulku beberapa kali selama seharian ini. Aku benar-benar tidak tahu apa kesalahan yang sudah kuperbuat." ujar Cherry dengan wajah memelas.


"Apa Nadine sedang ada masalah? Tidak biasanya dia seperti itu,"


"Aku juga tidak tahu. Dia selalu bersikap berlebihan saat membahas Genta."


"Ada apa dengan Mas Gen? Memangnya kalian kenal?" tanya Thrisca seraya mengernyitkan dahi.


"Mana mungkin aku dan Nadine memiliki kenalan pria kaya?!"


Sementara, Nadine yang tengah menjadi topik perbincangan antara Thrisca dan Cherry, kini tengah duduk seorang diri di taman belakang rumah Ron. Wanita itu menghela nafas berkali-kali untuk menghilangkan rasa kesalnya pada Cherry. Nadine juga ingin menghindar agar ia tidak melihat Genta.


"Melihat Genta benar-benar membuat hatiku senang sekaligus kesal.." gumam Nadine sendirian.


"Kenapa?" sahut seseorang yang berdiri tak jauh dari Nadine.


"Aku menyukainya, tapi aku juga kesal karena tidak bisa mendekatinya. Bahkan untuk mengajak berbincang saja aku tidak berani," jawab Nadine tanpa sadar.


"Gen ternyata sangat populer,"


"Tentu saja! Dia sangat tampan dan--"


Nadine berhenti sejenak sebelum ia menyelesaikan kalimatnya.


"Tunggu sebentar, aku berbicara dengan siapa?" batin Nadine agak panik.


Wanita itu celingukan dan mendapati Han sudah berdiri di belakang bangkunya seraya melipat tangan dan bersandar pada tembok.


"Sejak kapan pria itu berdiri di sana?!" jerit Nadine dalama hati.


"P-pak Han.." sapa Nadine disertai cengiran kuda.


"Selera Gen tinggi. Jangan terlalu berharap padanya," ujar Han.


"B-berharap apa?! Aku hanya mengoceh sendiri ta--"


"Ajak saja dia mengobrol. Gen hanya pria bodoh tukang gosip," potong Han.


Nadine menundukkan kepala dalam-dalam untuk menyembunyikan wajah malunya.


"Sial, Han pasti mendengar semuanya! Ah, malu sekali!!" teriak Nadine dalam hati.


Han berjalan menghampiri Nadine dan duduk di samping teman Thrisca itu. Han membuka minuman kaleng yang ia bawa, dan memberikan minuman soda itu pada Nadine.


"Terima kasih, Pak." ujar Nadine canggung.


"Di dalam sana ada ibu Gen dan nenek Gen. Pria malang itu akan dijodohkan oleh ibunya," terang Han.


"Aku tidak bertanya apapun.." cibir Nadine.


"Tapi kau ingin tahu, kan?" ledek Han.


"Aku tidak berharap apapun. Aku juga sadar diri," ujar Nadine merendah.


"Genta hanya pria kere, kau tidak perlu merendah seperti itu.." ujar Han seraya mengacak-acak rambut Nadine.


"Apa yang kulakukan?!" batin Han saat ia menyadari sudah bersikap lancang pada Nadine dengan mengacak-acak rambut wanita itu.


"Ehem, aku-- maksudku--"


"Tidak apa-apa. Pak Han ternyata sangat ramah," ujar Nadine seraya merapikan rambutnya yang berantakan.


"B-bukan seperti itu, aku hanya--"


Han semakin tergagap dan salah tingkah karena tatapan Nadine yang intens padanya.


"Pak Han tidak perlu gugup seperti itu.." potong Nadine seraya tertawa kecil menanggapi tingkah Han yang salah tingkah di depannya.


"Gugup apanya?!" ujar Han dengan wajah cemberut.


Kecemburuan Nadine pada Cherry mulai terkikis sedikit demi sedikit dan berganti dengan obrolan hangatnya bersama asisten Ron. Suasana hati wanita itu berangsur membaik hingga ia melupakan keberadaan Genta di rumah suami temannya itu.


***


"Ron, kau kemanakan cincin pernikahanmu?!" ujar Nyonya Aswinda menahan amarah.


"Cincin apa?"


"Cincin yang ada di jari istrimu!"


"Oh, nenek menanyakan cincin jelek itu? Aku sudah lama menggantinya dengan cincin baru khusus pemberian dariku." jawab Ron datar.


"Cincin jelek katamu?!"


Nyonya Aswinda menampar wajah sang cucu dengan keras.


"Nenek ini apa-apaan?!" pekik Ron pada wanita tua itu.


"Kau yang apa-apaan?! Itu cincin pernikahanku dengan kakekmu! Aku sengaja meminta kakekmu untuk memberikan cincin itu pada istrimu!"


"Cincin istriku biar aku saja mengurusnya! Kenapa nenek ikut campur?! Lagipula cincin itu sudah tua dan jelek, aku tidak mau istriku memakai--"


Belum sempat Ron menyelesaikan kalimatnya, lagi-lagi tamparan keras mendapat di pipi pria tampan cucu keluarga Diez itu.


"Nenek!!" bentak Ron pada nenek tua yang berdiri di hadapannya.


"Berikan kembali cincin nenek sekarang!"


"Hanya cincin tua saja, kenapa nenek harus meributkannya?!"


"Berhenti mengoceh dan cari cincin itu sekarang juga!"


Thrisca terus celingukan mencari sosok sang suami yang tidak juga muncul. Mata wanita itu terus melirik ke segala arah, mencari batang hidung Ron.


"Kenapa Ron lama sekali?!" batin Thrisca.


Wanita itu berkeliling masuk ke rumah lebih dalam mencari keberadaan sang suami. Ron membuka ruangan satu persatu hingga ia sampai di ruang kerja Ron.


Wanita hamil itu menempelkan telinga ke pintu dan mendengar suara gaduh suaminya yang tengah cekcok dengan sang nenek.


"Ron.."


Thrisca mengetuk pintu pelan, namun tidak ada jawaban.


Suara keributan dari dalam ruangan itu terdengar makin jelas keluar. Thrisca memberanikan diri membuka pintu ruang kerja sang suami dengan perlahan.


Terlihat Nyonya Aswinda dan Ron berdiri di tengah ruangan dengan wajah tegang. Tangan wanita tua itu kembali terangkat dan hendak mendarat di wajah sang cucu yang sudah bengkak karena pukulan.


Thrisca segera berlari dan memeluk erat sang suami, melindungi prianya dari pukulan sang nenek.


Ron yang terkejut melihat Thrisca yang sudah mendekapnya, segera menangkap tangan Nyonya Aswinda dengan sigap sebelum pukulan wanita tua itu melayang kepada istrinya.


"Sayang, apa yang kau lakukan di sini?!" pekik Ron pada sang istri yang memeluk erat dada bidangnya.


"Nenek, tolong jangan pukul Ron lagi.." ujar Thrisca tanpa berani menoleh ke arah Nyonya Aswinda.


Wanita itu menenggelamkan wajahnya pada bahu lebar Ron dengan mata mulai berkaca-kaca.


"Thrisca, sejak kapan kau ada di sini?" tanya Nyonya Aswinda.


"M-maaf, aku tidak bermaksud ikut campur. Tapi jangan pukul suamiku," ujar Thrisca takut-takut.


"Sayang, tolong tunggu di luar. Aku belum selesai berbicara dengan nenek," bujuk Ron pada Thrisca agar wanita itu keluar ruangan.


"Bicara saja di sini. Aku tidak akan membocorkan apapun keluar,"


"Nenek tidak membicarakan rahasia dengan Ron." jelas Nyonya Aswinda.


"Sayang, tolong tunggu di luar ya?" bujuk Ron lagi.


Thrisca mendongakkan kepala dan melihat pipi suaminya yang sudah memerah. Wanita yang sudah bercucuran air mata itu mengusap lembut pipi Ron yang bengkak karena tamparan.


"Aku akan mencarinya, Nek." ujar Ron seraya menyeka pipi istrinya yang sudah basah.


"Ron, kau tidak membuangnya, kan? Aku akan menghajarmu dan melemparmu ke kandang macan kalau kau sampai menghilangkan benda itu!" omel Nyonya Aswinda.


Nyonya Aswinda mendekat ke arah Thrisca dan menarik tangan wanita itu dari dekapan Ron.


"Ron, kembalikan cincinnya jika kau ingin istrimu kembali!" imbuh Nyonya Aswinda.


"Ayo, Thrisca.." ajak Nyonya Aswinda keluar dari ruangan Ron.


"Nenek apa-apaan?! Mau dibawa kemana istriku?!"


Ron mengejar Thrisca dan memegang erat lengan istrinya itu.


Thrisca hanya diam tanpa berani bersuara di hadapan Nyonya Aswinda. Ia juga tidak berani menepis tangan nenek suaminya yang menggenggam erat telapak tangannya.


"Cari dulu cincinnya!" ujar Nyonya Aswinda seraya memukul tangan sang cucu.


"Nenek tidak berhak membawa istriku!" rengek Ron seraya memeluk erat istrinya.


"Minggir atau kau lebih suka aku menarik tangan istrimu dengan kasar?!" bentak Nyonya Aswinda.


Thrisca semakin gemetar ketakutan saat mendengar suara menyeramkan sang nenek.


"Ron.."


Thrisca mendorong pelan Ron yang memeluk erat dirinya.


"Nenek, jangan bawa-bawa istriku! Aku minta maaf! Aku minta maaf sudah melepas cincinnya. Aku hanya ingin memberikan istriku cincin pemberianku! Apa ada yang salah dengan itu?!" omel Ron pada neneknya.


"Ayo, Thrisca!"


Nyonya Aswinda kembali menarik tangan cucu menantunya.


Ron masih mengekor, memegang erat baju sang istri yang berjalan tergesa-gesa karena tarikan tangan Nyonya Aswinda.


Pertengkaran cucu dan nenek itu sukses menjadi perhatian seluruh keluarga yang hadir di acara pesta kecil di rumah Ron itu.


Tuan Hasan hanya menggelengkan kepala seraya tertawa kecil melihat kelakuan istri dan cucunya yang selalu saja bertengkar setiap kali bertemu.


Pintu gerbang Ron terbuka lebar, siap mengeluarkan satu unit mobil mewah yang akan ditumpangi oleh Nyonya Aswinda.


Tampak sepasang mata mengamati ke dalam gerbang rumah cucu dari keluarga Diez itu.


"Kenapa wanita itu ada di sana?!" gumam seorang wanita seraya mengernyitkan dahi.


Wanita yang memata-matai rumah Ron itu tidak lain ialah Lilian. Simpanan dari ayah Ron itu bersusah payah mengikuti Tuan Derry seharian hingga ia akhirnya berhasil menemukan rumah mantan kekasihnya yang belum pernah ia kunjungi.


Lilian menatap Nyonya Aswinda dan Thrisca dengan wajah bingung. Ia juga makin terkejut saat melihat Ron yang terus menarik-narik tangan Thrisca.


"Bukankah itu wanita yang berada di salon? Kenapa dia berada di sini?" gumam Lilian lagi.


"Dimana si gendut istri Ron? Apa Ron sudah menikah lagi?!"


Lilian semakin penasaran dengan kehidupan pernikahan mantan kekasih yang masih ia cintai itu.


***


Bersambung...