DEAR, MY RON

DEAR, MY RON
BAB 117



Susan duduk termenung di halte bus seraya menatap surat kabar yang bercecer di aspal panas itu.


Manik mata wanita itu membulat lebar saat ia melihat berita kecelakaan sang anak tiri yang sudah lama tidak ia temui.


"Kecelakaan? Keguguran?"


Susan nampak senang melihat kabar buruk yang melanda putri dari mantan suaminya itu.


"Ternyata aku tidak menderita sendirian.." gumam Susan puas.


Wanita itu berkeliaran di jalanan tanpa arah, mencari Elma, sang buah hati yang kini telah dibawa kabur oleh ayah kandung dari balita itu.


Susan juga semakin terpuruk setelah ia kehilangan seluruh uang hasil penjualan pabrik. Wanita itu sudah tak memiliki apapun lagi untuk bertahan hidup, baik itu dari segi uang maupun keluarga.


"Haruskah aku kembali? Jika aku bisa menemukan pria tua bodoh yang mau memberiku uang, setidaknya aku bisa mencari Elma.." gumam Susan.


Wanita yang hanya memiliki uang recehan itu, akhirnya memutuskan untuk pergi ke kota besar dan mencari temannya dari dunia malam.


Susan sudah tidak memiliki nyali untuk meminta uang pada Thrisca. Terlebih lagi wanita itu sudah menjual pabrik peninggalan ayah Thrisca tanpa sepengetahuan sang putri kandung.


***


Lilian duduk di ranjang pasien seraya memainkan ponsel dengan wajah riang. Berita mengenai Thrisca benar-benar membawa angin segar dan memperbaiki suasana hati simpanan Tuan Derry itu.


Meskipun ia juga mengalami keguguran karena tidak sengaja terjatuh dari tangga, namun rasa sedihnya tidak sebanding dengan kebahagiaannya melihat penderitaan Thrisca.


"Aku tidak perlu khawatir lagi harus menikahi pria tua itu. Derry juga tidak akan lagi menaruh curiga pada bayi ini, karena bayi di perutku sudah tidak ada lagi. Tidak masalah jika aku tidak bisa memiliki anak lagi. Aku harus bisa mendapatkan karir cerahku kembali.." gumam Lilian.


"Ron.. apa kau menderita sekarang? Aku akan membuatmu lebih terpuruk lagi! Keluargamu sudah membuatku hancur! Aku tidak akan membiarkanmu hidup dengan tenang.." gumam Lilian seraya menatap wajah tampan mantan kekasihnya yang tersimpan di ponselnya.


"Lian.."


Tuan Derry masuk ke ruangan Lilian seraya membawa boks makanan untuk wanita simpanannya itu.


"Mas Derry, kau ke sini lagi? Bukankah menantumu juga dirawat di sini? Temani saja Ron dan menantumu." ujar Lilian dengan senyum palsu.


"Sudah ada ibuku dan ibu Ron yang menjaga mereka. Aku tidak bisa berlama-lama di sini. Aku membelikan makanan untukmu,"


Tuan Derry menyodorkan bungkusan makanan itu pada Lilian.


"Kau baik-baik saja, kan? Fokus saja pada pemulihanmu. Kita bisa membuat jagoan cilik lagi nanti setelah kau sembuh," ujar Tuan Derry.


"Cih, dasar pria tua hidung belang!" gerutu Lilian dalam hati.


"Tentu. Aku baik-baik saja. Itu.. sepertinya untuk kali ini aku akan benar-benar kesulitan memiliki anak," ucap Lilian dengan wajah murung yang dibuat-buat.


"Tidak perlu khawatir. Aku sudah memiliki banyak anak. Aku tidak akan menuntut anak darimu.."


"Karena aku tidak hamil, bolehkah aku melanjutkan karirku kembali?" pinta Lilian.


"Karir? Karir apa? Karirmu sudah lama hancur di tangan istriku? Bagaimana mungkin kau bisa kembali?" cibir Tuan Derry.


"Kau tidak akan membantuku mengembalikan reputasiku?" tanya Lilian lesu.


"Aku bisa saja mendapatkan job besar untukmu dengan mudah. Tapi Daisy akan menargetkanmu lagi. Kau tidak menang melawan wanita itu," ujar Tuan Derry.


"Wanita tua itu benar-benar sudah menjadi penghalang bagiku.." batin Lilian kesal.


"Aku.. akan mencoba mengusahakannya sendiri. Aku akan memulainya lagi dari nol."


"Kau yakin? Memulai dari nol bukanlah hal yang mudah."


"Bagaimanapun juga, aku sudah menekuni dunia modeling selama sepuluh tahun. Aku yakin pengalamanku akan berguna suatu hari nanti,"


***


Ron mengusap-usap jemari sang istri yang masih tergolek tak berdaya di ranjang pasien. Pria itu terus menerus memanggil nama sang istri, berharap Thrisca akan mendengar suaranya dan segera membuka mata.


"Sampai kapan aku harus menunggu.."


Semakin hari Ron semakin putus asa menanti sang istri terbangun dari tidur panjang. Pria itu tertunduk lemas seraya menggenggam erat jari-jari sang istri.


"Ron.."


"Apa?"


Ron menjawab dengan cuek karena mengira suara itu berasal dari nenek atau ibunya.


"Ron.."


"Ibu diamlah!"


Suara panggilan itu bukanlah berasal dari Nyonya Daisy maupun Nyonya Aswinda. Suara parau itu berasal dari pasien yang telah dijaga oleh Ron selama berhari-hari. Suara itu bersumber dari wanita kesayangan Ron yang sudah tidak sadarkan diri selama berhari-hari.


Thrisca menggerakkan jarinya perlahan dan menautkan jemarinya di tangan Ron yang tengah menggenggam telapak tangannya.


Ron segera mendongakkan kepala dan melihat ke arah sang istri yang sudah membuka mata dan melempar senyum tipis padanya.


Air mata suami Thrisca itu langsung mengalir deras tanpa peringatan. Rasa haru dan senang teraduk menjadi satu di hati Ron begitu ia melihat sang istri yang sudah sadarkan diri.


Pria itu segera berlarian mencari dokter dengan semangat dan menghubungi keluarganya dengan antusias.


Dalam waktu sekejap, ruangan pasien itu pun penuh dengan keluarga Ron yang datang untuk menjenguk istri dari Ron itu.


"Sayang, terima kasih sudah kembali.."


Ron menciumi punggung tangan sang istri bertubi-tubi dengan penuh hati-hati.


"Ron, biarkan Thrisca istirahat. Kau juga butuh istirahat." bujuk Nyonya Daisy.


"Tidak, Bu! Aku ingin di sini saja!" tolak Ron tanpa menoleh sedikitpun ke arah sang ibu.


"Thrisca, istirahatlah. Kami akan menjengukmu lagi nanti.." pamit Nyonya Aswinda.


Orang tua Ron beserta kakek nenek Ron berpamitan meninggalkan ruangan Thrisca. Sementara Genta masih mematung di luar ruangan tanpa berani masuk.


Pria itu masih diliputi rasa bersalah, merasa kalau dirinya tidak bisa menjaga Thrisca dengan baik.


Ron masih duduk di samping Thrisca dengan wajah sumringah, menatap mata sayu sang istri yang belum bisa melihat dengan benar.


"Istirahatlah, aku akan menjagamu di sini." ujar Ron seraya mengusap lembut rambut sang istri.


"Wajahmu pucat Ron.." ucap Thrisca memaksakan diri untuk berbicara.


"Jangan banyak bicara! Istirahat saja. Aku tidak akan kemana-mana,"


"Kau memakai baju pasi--"


"Sudah kubilang diam!"


Thrisca tersenyum kecil melihat wajah garang sang suami yang kembali meledak-ledak dengan amarah.


"Ron, aku sangat merindukan omelanmu.." ujar Thrisca dengan mata berkaca-kaca.


"Aku ibu yang buruk. Maaf, aku tidak bisa menjaga anak kita.."


Mata wanita itu mulai dibanjiri air mata.


"Sudahlah, tidak perlu dipikirkan. Kita masih bisa membuat lagi nanti. Hal terpenting sekarang adalah kesehatanmu."


Ron mengecup lembut kening pucat sang istri.


"Istirahatlah, Ron. Wajahmu seperti zombie.." ujar Thrisca.


"Kau akan melihat tampilan zombie ini setiap hari jika kau tak kunjung membaik! Cepatlah sembuh, Sayang.."


Manik mata Ron ikut mengembun dan memerah.


Sungguh pria itu tak sanggup lagi melihat sang istri yang nampak menderita terbaring di ranjang pasien. Tidak banyak hal yang bisa dilakukan Ron untuk menghibur sang istri.


Saat ini, suami Thrisca itu hanya bisa memberikan kehadirannya untuk menemani sang istri melalui hari-hari berat tanpa sang buah hati yang kini sudah menghilang dari perut istri Ron itu.


***


Bersambung...