Pelita Hati Bunda

Pelita Hati Bunda
Godaan Aditya



❃❃✧༺♥༻✧❃❃


POV AUTHOR...


Teman. Ya! Aditya memang membutuhkan teman saat ini hingga dia sama sekali tidak pulang dan tetap berada di kantor. Mau pulang juga untuk apa, tidak ada istrinya di rumah dan jika ada atau dia pulang bagaimana dia akan bertanya tentang foto yang dia dapatkan dari Devan kemarin.


Setelah kemarin mengantarkan Winda ke rumah dia tidak pulang dan tetap kembali ke kantor. Dia benar-benar hanya memperlakukan Winda sebagai teman saja kemarin, tak ada hal yang lain.


Awalnya memang hanya teman, tapi Aditya berharap lebih namun dia akan lakukan dengan perlahan. Winda adalah gadis yang polos dan belum pernah merasakan cinta jadi akan membutuhkan perjuangan sedikit untuk bisa meyakinkan dan mendapatkannya.


Wajahnya terlihat sangat malas, dan sangat tak semangat, bangun dari sofa tempat dia tidur dari semalam. Dengan malas dia bangun mengacak rambutnya frustasi. Mungkin dia lelah dengan semua jalan hidup yang tidak pernah bisa sejalan dari apa yang dia inginkan.


"Arghh!" serunya yang semakin jelas bahwa dia benar-benar tengah frustasi.


Wajahnya mendongak dan melihat jam dinding yang bertengger di dinding, "jam delapan?!" Aditya sangat terkejut, dia bangun kesiangan sekarang.


Dengan angkuh juga cepat dia melangkah menuju kamar mandi, meski tidak ada di rumah namun dia bisa setiap saat mengganti pakaiannya di sana karena memang selalu ada.


Tak lama dia keluar dari kamar mandi sudah memakai celana dan juga kemeja namun kemejanya belum dia benarkan semua kancingnya. Sialnya saat dia melangkah begitu santai dan memperlihatkan dadanya yang bidang dan juga perutnya yang sudah berbentuk itu tiba-tiba pintu terbuka.


"Akk!" cepat Winda menutup mata, dia juga membalikkan badan dengan cepat.


Bukan hanya Winda yang sangat terkejut tapi Aditya juga sama. Dia sampai terperanjat karena teriakan Winda yang begitu keras.


Tetapi Aditya tidak sampai menutup mata apalagi membalikkan badan dia tetap santai dan membenarkan kancing dengan pelan.


"Makanya, kalau masuk itu ketok pintu dulu. Untung aku sudah pakai celana, kalau belum?"


"Ma_maaf, Pak. Sa_saya pikir bapak belum datang kan biasanya bapak akan datang sebentar lagi."


"Suka-suka aku mau datang jam berapa atau mau apapun." keluar juga suara angkuhnya Aditya, tapi dia tidak berniat untuk memarahi Winda.


"Sudah, buka matamu dan katakan apa yang kamu bawa," ucap Aditya.


Winda benar membuka mata juga membalikkan badan lagi ke arah Aditya, dia menunduk karena masih takut kalau dia akan melihat pemandangan yang tadi. Pemandangan yang belum pernah dia lihat sebelumnya.


"Kenapa menunduk, apa di bawah ada uang?"


Winda menggeleng cepat juga mengangkat wajahnya dengan pipi yang terasa sangat panas.


'Astaga, pak Aditya terlihat keren sekali. Baru kali ini benar-benar melihat pak Aditya yang terlihat begitu segar,' batin Winda.


Bukannya memberikan apa yang dia bawa tapi Winda malah mengagumi Aditya dan menatap tidak berkedip. Perempuan mana yang tidak akan tergoda dengan laki-laki setampan Aditya, bahkan sekertaris yang belum pernah tertarik dengan laki-laki pun sekarang mulai mengaguminya.


"Kenapa, apakah aku sangat tampan?" tanya Aditya yang melihat gerak-gerik Winda yang begitu jelas dia lihat. Tentu hati Aditya bersorak kemenangan karena sebentar lagi dia juga akan berhasil mendapatkan sekertaris polos namun s*ksi itu.


"Iya, eh!" Winda cepat menutup mulut karena keceplosan.


"Aku memang tampan, apalagi kalau seperti tadi pasti sangat berbeda kan? Apakah kamu mau melihat lagi?" gila, ya! Itu kata yang pantas untuk di sematkan untuk Aditya yang mulai terang-terangan menggoda sekretarisnya.


"Iya, eh! Tidak tidak!" ternyata Winda juga latah, benar latah atau karena merasa grogi karena di goda Aditya?


Winda yang memang belum pernah berhadapan dengan laki-laki jiga belum pernah di goda seperti ini hanya bisa terpaku dalam diam.


Matanya terus melihat ke arah Aditya bukannya menunduk tapi itulah yang terjadi. Pipinya juga sudah merah bersamaan dengan Winda yang mulai menelan salivanya sendiri.


'Lihatlah, Jihan. Kamu pikir hanya kamu saja yang bisa mengkhianati padangan_mu? Aku juga bisa melakukannya. Bahkan mangsaku lebih indah daripada kamu.' batin Aditya. Dan ternyata Winda lah yang akan di jadikan pelampiasan untuk pembalasan dendam oleh Aditya.


"Pa_pak, pak Adit mau apa?" Winda mulai sadar dengan pergerakan Aditya yang sudah semakin dekat. Dia yang terpesona tadi juga begitu mengagumi seolah akan kehilangan akal sehatnya, tapi sekarang perlahan akal sehatnya mulai kembali.


Winda gemetar, grogi namun juga merasa tersanjung karena mendapatkan tatapan yang berbeda itu dari Aditya. Dia merasa menjadi wanita paling beruntung pagi ini meski dia sadar itu tidak benar.


Setelah tinggal tiga langkah lagi Aditya berhenti di hadapan Winda, melihat bagaimana penampilan sekertarisnya itu yang terlihat sangat sempurna dan juga sangat menggoda.


Memakai setelan berwarna hitam dengan rok span di atas lutut dan memperlihatkan kakinya yang mulus juga terlihat sangat jenjang.


Naik lagi melihat pinggulnya yang begitu berisi, naik lagi melihat ke dua bukit yang pasti akan sangat enak ketika dia mengendaki bukit itu bergantian, naik lagi melihat lehernya yang putih mulus dan terakhir wajahnya lalu berpusat di bibir merahnya yang begitu menggoda.


Ah! Aditya benar-benar sudah mulai tidak waras karena melihat sekertarisnya penuh dengan n*fsu seperti ini.


"Pa_pak..." di lihat seperti itu jelas membuat Winda mulai risih, dia juga sadar kalau bosnya itu mulai tertarik kepadanya.


Tapi panggilan dari Winda seperti angin lalu untuk Aditya, dia masih begitu menikmati pemandangan indah di hadapannya.


'Bahkan ini lebih sempurna daripada Nayla juga Jihan,' batinnya yang merasa mangsanya saat ini lebih baik dari dua perempuan yang pernah dia nikmati sebelumnya.


"Kamu sangat cantik, Win. Apakah kamu memang berniat menggoda ku pagi ini setelah kamu mendengar cerita ku semalam?"


"Ti_tidak, Pak. Saya tidak bermaksud seperti itu. Sa_saya... Akk!"


Winda menjerit ketika Aditya tiba-tiba menarik pinggangnya dan membuat dia menempel dengan bosnya itu.


Kedua tangan Winda terangkat dan menahan supaya dua bukitnya tidak menyentuh tubuh Aditya, dia tau letak ketertarikan seorang laki-laki dan salah satunya ada di dada seorang wanita.


◎◎✧༺♥༻✧◎◎


Rasa bersalah jelas ada bahkan sangat besar yang Jihan rasakan, tapi takut akan kehilangan juga lebih besar hingga dia rela melakukan apapun yang bisa membuat suaminya tetap bertahan padanya.


Suara langkahnya terdengar pasti namun juga sangat ragu untuk berhenti di depan pintu, namun dia tetap berhenti dan melepaskan koper yang dia tarik menggunakan tangannya barusan.


Matanya terpejam dalam sesaat, hembusan nafas panjang juga mengiringi di saat dia akan masuk di dalam rumah tempat tinggalnya.


Menata hati supaya dia benar-benar bisa tenang dalam situasi apapun, berusaha tenang supaya dia akan bisa menjawab setiap pertanyaan yang mungkin akan di lontarkan kepadanya nanti.


'Maafkan aku, Mas. Aku telah mengkhianati mu tetapi ini semua aku lakukan karena aku tak mau kehilangan kamu, Mas. Aku mencintaimu, bahkan lebih dari aku mencintai diriku sendiri,' batin Jihan yang perlahan membuka matanya.


Dengan penuh keyakinan Jihan masuk, "semoga kamu belum berangkat, Mas. Aku sangat merindukanmu," gumamnya.


◎◎✧༺♥༻✧◎◎


Bersambung...