Pelita Hati Bunda

Pelita Hati Bunda
Penjelasan yang terlambat



❃❃✧༺♥༻✧❃❃


"Kau akan lihat bagaimana aku mendapatkan mu, Nay!" katanya.


"Jangan, lepaskan aku. Jangan lakukan ini," Aku menangis dan terus menangis. Tak bisa melakukan apapun karena kalah kuat dari tenaganya.


Rasa sakit jelas terasa di dalam hati. Tak pernah terfikir akan di sakiti oleh dua pria dalam waktu yang hampir bersamaan.


Kenapa nasib begitu menyedihkan seperti ini. Belum sembuh luka yang di torehkan laki-laki yang dulu di cintai dan kini hanya bisa di sebut seorang mantan dan kini harus mengalami luka yang lebih menyakitkan.


Di lecehkan, dan juga di rendahkan harga diri yang terus di junjung tinggi sepanjang kehidupan.


Wajah sudah memerah, mata juga sudah sembab, hidung terasa pengar dan juga suara yang sudah habis. Bukan itu saja, tapi sekujur tubuh terasa sangat sakit, lelah juga merasa hina karena telah di hinakan oleh laki-laki yang berkedok sebagai atasan yang baru beberapa hari aku kenal.


Tapi semua itu tidaklah seberapa di bandingkan dengan kesucian yang telah ternoda dan sudah tak bisa di bersihkan lagi.


Tubuhku gemetar dengan isak tangis yang begitu menyesakkan dada.


Ya, ini semua terjadi karena kesalahan ku. Seharusnya aku lebih bisa menjaga bicara ku dengan baik hingga kejadian ini tidak terjadi. Tapi mau bagaimana lagi, penyesalan akan selalu datang setelah semua sudah terjadi.


Di tubuh polos yang tertutup selimut aku terus tersedu, air mata ku seolah habis dan tak mampu untuk keluar lagi.


Aku benci dengan diriku, aku benci dengan tubuh ku yang sudah kotor karena telah di jamah oleh pria yang tak punya hati seperti Pak Devan.


Sementara pelaku yang begitu aku benci itu?


Dia dengan leganya berada di sebelah ku dengan mata yang terpejam dengan nafas yang masih tersengal setelah baru saja dia ambruk setelah mendapatkan pelepasan dan melepas semua benih ke dalam rahim ku.


Astaghfirullah, di dalam rahim ku?


Aku kembali terisak mengingat semua yang telah terjadi. Mengingat setelah pak Devan juga dengan begitu santainya mengeluarkan dalam-dalam semua kedalam rahim. Bagaimana kalau salah satu di antaranya hidup dan tumbuh berkembang di dalam perut ku.


Bayangan itu mulai menguasai kepalaku, aku takut.


Ku jaga semua kehormatan selama enam tahun ini dan tak tersentuh oleh laki-laki lain selain pria yang menjadi mahram ku. Tapi sekarang? Bahkan mahram ku kembali memberikan pembatas itu dan sekarang semua kehormatan telah di renggut paksa. Sakit lah hati ini.


Dia memang tampan, dia sangat menawan dan siapapun akan mudah menerima cintanya. Bahkan akan banyak yang akan menerima sekedar untuk mendapatkan sentuhannya. Tapi aku?


Sekarang aku semakin membencinya. Aku tak mau lagi berurusan padanya setelah ini.


"Kamu benar-benar luar biasa, Nay."


Kata-kata itu semakin mencabik-cabik hatiku yang sudah terlanjur sakit. Katanya seakan menghujam hingga pusat hati terdalam. Begini memberikan luka yang jelas akan semakin membekas.


"Puas bapak sekarang? Bapak rendahkan dan injak-injak harga diri Nay yang selama ini Nay jaga sepenuh jiwa dan raga."


"Saya orang bodoh yang tidak bisa memahami bapak, tapi bapak adalah orang pintar yang akan mudah memahami saya. Kata bapak, serapat apapun aku menyembunyikan bangkai maka bapak akan bisa mengendusnya. Tapi ternyata bapak salah, bapak tidak bisa melakukan itu."


Aku ingin marah tapi apa gunanya, semuanya sudah terjadi. Tak ada yang bisa di ubah lagi kalau ternyata pak Devan telah menyentuhku.


"Bapak ingin tau kan kenapa saya menyembunyikan identitas saya? Maka dengarkan baik-baik."


Pak Devan yang mulanya menutup mata kini membukanya dan menanti apa yang ingin aku katakan.


Entah dia akan percaya atau tidak nantinya itu adalah hak dia. Yang terpenting aku mengatakan semua kejujurannya.


Dengan isak tangis yang terus keluar dengan bercampur semua penjelasan yang aku katakan kepada pak Devan.


Semuanya tidak ada yang tersisa, semua aku ceritakan dari awal mula aku Aku menikah dengan mas Aditya dan bagaimana dia pergi meninggalkanku juga seberapa panjang penantian yang akhirnya hanya berujung dengan kepastian Yang begitu menyakitkan.


Dengan terus isak tangis aku mengatakan bagaimana nasibku. Seorang wanita yang dinikahi, diambil kesucian dengan berdasarkan cinta dan kewajiban yang harus dilakukan juga bagaimana semua penderitaan di sepanjang penantian yang harus begitu besar menguras emosi ketika semua orang menghujat dan juga menghina bahkan meragukan identitas_ku yang saat itu benar-benar seorang Istri.


Aku tidak melihat bagaimana Pak Devan sekarang apakah dia masih saja tetap acuh dan tak peduli dengan semua perasaanku atau malah sebaliknya.


Aku begitu marah kepadanya hingga terasa begitu berat sekedar untuk menoleh. Mulutku terus berbicara meski dengan perasaan yang benar-benar sangat hancur, aku begitu hina sekarang.


Bagaimana aku menghadapi dunia menghadapi putriku yang begitu manis itu, tidak tahu bagaimana kalau sampai anakku tahu bundanya semarang sudah kehilangan kehormatannya.


Tangisku pecah dan tubuh terus bergetar karena tangis yang kembali menyeruak. Aku terdiam setelah semua sudah aku katakan dengan sejujur-jujurnya dan tidak ada satupun yang aku tutupin.


Mungkin inilah kesalahanku karena tidak menjelaskan semua dari awal dan membuat semua terjadi. Seandainya aku mengatakan sejak awal maka aku tidak akan sampai kehilangan kehormatan dan harga diri seperti ini.


Apa yang akan Pak Devan melakukan setelah mendengar penjelasan dariku. Apakah dia akan menyesal dan bertanggung jawab dengan semua yang telah dia lakukan terhadapku, atau dia akan lari dari kesalahan dan akan menyalahkan ku.


Jika Pak Devan orang yang benar-benar bertanggung jawab maka dia akan mengakui kesalahan dan akan mempertanggung jawabkan semuanya. Tetapi jika tidak, maka dia akan lari dari kata tanggung jawab seperti Mas Aditya yang begitu Aku benci dan terus akan aku jauhi sejauh-jauhnya.


Tetapi bukan berarti aku begitu menginginkan hal itu karena rasa sakit yang aku alami sekarang tidak akan mungkin mudah untuk memaafkannya.


Dan pasti hatiku akan semakin tertutup kepada laki-laki di manapun dan siapapun termasuk Pak Devan yang baru saja selesai menyemburkan semua benih-benih kedalaman rahimku.


"N_Nay..." suara Pak Devan terdengar gemetar bahkan juga terdengar begitu parau. Apakah dia menyesal sekarang?


Aku tetap bergeming dalam posisiku dan sama sekali tidak menoleh ke arah Pak Devan yang memanggilku. Aku begitu muak mendengar suaranya.


"Maaf, Saya ingin pulang saya lelah," Hanya itu yang aku katakan dan duduk.


Perlahan aku turun dari ranjang tanpa menutupi semua tubuh polos, tak ada rasa malu, canggung atau takut lagi toh semuanya sudah dinikmati, dilihat dan di jamah oleh Pak Devan.


Aku pungut satu persatu baju yang berserakan di lantai dengan perlahan memakainya kembali namun masih tetap dengan isak tangis yang terus saja ingin keluar.


Pak Devan terus melihatku, sepertinya dia masih syok dengan semua penjelasan yang aku katakan hingga dia terus terpaku melihatku, melihat semua pergerakanku bahkan melihat derai air mata yang sesekali aku usap dengan punggung tangan.


Semua kembali melekat ke tubuhku menutupi semua yang memang seharusnya tidak diperlihatkan kepada siapapun. Begitu juga dengan kemeja yang hanya tinggal memiliki dua kancing saja tetap aku pakai.


Aku tutup dengan blazer di bagian depan supaya semua tertutup dan tidak akan ada yang tahu akan pakaianku yang sudah rusak karena ulah tangan Pak Devan yang tadi begitu mengerikan.


"Nay," kembali pak Devan memanggilku suaranya terdapat penyesalan yang begitu dalam.


Tetapi panggilan dari Pak Devan sama sekali tidak aku gubris dan tetap kembali berjalan untuk keluar dari ruangan yang bagiku sekarang begitu terkutuk.


"Nay!" Kali ini panggilan Pak Devan terdengar semakin tinggi.


Dan kali ini suaranya berhasil membuat kakiku berhenti namun aku sama sekali tidak menoleh ke arahnya.


"Apa lagi, Pak. Apakah Bapak masih belum puas telah menghancurkan ku? Apakah setelah semua yang Bapak lakukan masih tidak bisa memaafkan semua perkataan ku? Kalau begitu maka lempar saja aku dari lantai ini dan bunuh saja aku jika dengan itu bapak akan puas."


Aku yakin kata-kataku ini sangat menohok ke dalam hati Pak Devan tapi baguslah, semoga dengan ini Pak Devan bisa menyadari kesalahannya.


"Bu_bukan seperti itu, Nay. Sa_saya..."


"Maaf, saya lelah saya ingin pulang."


Kutahan dengan sekuat tenaga air mata yang sebenarnya ingin kembali terjun bebas dan membasahi pipiku yang mulai mengering. Aku sama sekali tidak menoleh ke arah Pak Devan meski sudah terdengar kalau pria itu sudah berdiri di belakangku. Kakiku tetap melangkah pergi dan tidak memperdulikannya lagi.


"Nay, Nay... Argghhh!!" Suara itu aku dengar dari Pak Devan tapi aku tetap tidak peduli dan tetap melangkahkan kaki untuk segera pulang dan menemui Ara.


◎◎✧༺♥༻✧◎◎


Bersambung...