Pelita Hati Bunda

Pelita Hati Bunda
Akhirnya kembali



❃❃✧༺♥༻✧❃❃


Akhirnya setelah tiga hari berada di hotel hanya bersama dengan Pak Devan hari ini bisa kembali lagi dan bisa tinggal bersama dengan Ara. Hanya tidak bertemu selama tiga hari saja rasanya cukup lama membuat kerinduan ini sangat besar, jelas saja biar bagaimanapun seorang ibu tidak akan mungkin betah tinggal berlama-lama jauh dari anaknya apalagi anaknya sangat menggemaskan.


Bukan aku saja yang sangat merindukan si kecil itu tetapi juga Pak Devan dia juga sama dan ingin secepatnya bertemu.


Berkali-kali Aku menoleh ke arah Pak Devan ketika mobil terus berjalan menuju ke tempat lain yang sepertinya ini bukan arah ke rumah, lalu kami akan ke mana?


"Pak, ini mau kemana?" tanyaku penasaran.


"Ck, kau ini. Sampai kapan kamu akan memanggil suamimu dengan sebutan Pak, aku tidak setua itu Nayla."


Mungkin karena sudah terbiasa dengan memanggil dengan sebutan pak Devan jadi lebih enak. Rasanya lebih lepas saja daripada memanggilnya dengan panggilan lain.


"Hehehe, udah terbiasa jadi seneng saja," meringis diriku di hadapan pak Devan membuatnya terlihat semakin malas.


Aku meringis tetapi tidak dengan dia yang malah sebaliknya, dia cemberut mungkin karena sangat kesal. Melihat wajahnya yang di tekuk begitu kenapa rasanya sangat menggemaskan?


"Eh, Apa yang ingin kamu lakukan? Pak Devan terlihat panik saat tanganku terangkat dan ingin sekali mencubit pipinya. Pasti akan sangat enak rasanya saat di cubit.


" Mundur mundur!" Pak Devan menjauhkan wajahnya meski dia juga serius dengan menyetir. Meski di peringatkan tapi rasanya sangat ingin melakukannya.


"Sedikit saja, please," ku pasang wajah memohon ku, tangan sudah tinggi dan siap mencubitnya karena sudah tepat di sebelah pipinya.


"Jangan aneh-aneh, Nay. Aku lagi nyetir ini bahaya," protesnya.


Tetapi aku sama sekali tidak menerima protestan dari Pak Devan dan langsung melakukan apa yang sangat ingin aku lakukan.


Terlihat Pak Devan menghela nafas panjang setelah tanganku berhasil mencubit pipinya dengan sangat gemes, dan seketika Pak Devan juga pasrah hingga membiarkan apa yang ingin aku lakukan.


Seharusnya dari tadi seperti ini kan tidak perlu menolak saat aku ingin melakukannya. Biar bagaimanapun ini juga bukan murni keinginanku sendiri tetapi keinginan dari anaknya karena aku tidak terbiasa melakukan ini sebelumnya.


"Sudah?" tanyanya setelah tangan terlepas.


Cepat aku mengangguk juga tersenyum karena keinginan ku sudah terpenuhi dengan sangat baik. Bahkan juga sangat cepat tanpa berlama-lama juga tanpa biaya, seharusnya kalau keinginannya yang begini kan tidak usah susah-susah ya?


"He'em," jelasku dengan kata meskipun hanya sangat singkat.


Sejenak kami diam dan tak ada kata apapun yang keluar. Aku sangat senang sementara pak Devan juga sangat sebal, sungguh berbanding terbalik kan?


"Oh ya, kita mau kemana? Ini bukan arah ke rumah?" kembali aku tanya karena tadi belum mendapatkan jawaban.


"Kita akan pergi ke rumah mama dan papa. Ara di sana jadi kita jemput dan kita pulang bersama-sama," wajahnya begitu datar, tak ada senyum apalagi tawa. Hanya datar dan juga sangat santai.


"Ke_ke rumah orang tua kamu?!" pekik_ku, tiba-tiba saja aku merasa sangat gugup dan tidak percaya diri padahal mereka juga sudah menerima tapi kenapa rasanya sungguh aneh seperti ini?


"Kenapa?" pak Devan mengernyit dengan menoleh sebentar ke arah ku.


Mungkin dia sangat penasaran karena aku yang sangat panik saat dia mengatakan ini kembali ke rumah orang tuanya.


Ya, aku sangat gugup. Ini adalah pertama kalinya aku akan datang ke rumahnya dan aku akan bersama dengan mertua. Apa yang harus aku lakukan di sana?


Bayangan akan mertua sangat membuat ku gugup tak karuan. Ini nih, sepertinya aku kena korban televisi yang selalu memperlihatkan betapa kejamnya ibu mertua, padahal juga tidak semua ibu mertua itu jahat banyak juga yang baik tapi kenapa yang lebih di ingat adalah kejamnya ibu mertua?


"A_aku takut," tertunduk dengan perasaan yang sangat campur aduk.


Jantungku terus berdegup kencang lebih kencang daripada lari maraton. Hem, ini akan menjadi pengalaman pertama kalinya datang ke rumah mertua.


"Hem, tidak usah takut. Mama dan papa orangnya sangat baik. Bukankah kamu sudah mengenal baik papa? Dan aku yakin kamu juga sudah tau bagaimana mama. Tidak usah berpikir yang aneh-aneh, mereka sangat baik percaya deh," ucap pak Devan yang ingin membuat aku tenang.


Meski seperti itu kenyataannya belum juga membuat hati ku lebih tenang. Aku masih sangat takut!


Satu tangan pak Devan turun dari setir dan beralih menggenggam tanganku yang saat ini sedang panas dingin.


"Sudah, jangan takut. Ara saja betah di sana kenapa kamu malah takut?" suaranya sedikit terdengar mengejekku ada kekehan kecil yang tidak begitu jelas namun tetap bisa aku lihat.


"Tidak lucu," tangan aku tarik kembali aku kesal karena harus melihat pak Devan yang tersenyum di hadapan ku, cepat aku juga memalingkan wajah.


"Hadeuh, susahnya menghadapi bumil. Sensian mulu," pak Devan malah geleng-geleng kepala namun aku tak menoleh.


Rasa kesal ku tiba-tiba hilang ketika melihat ada seorang pedagang yang ada di pinggir jalan menjual balon. Balon yang berwarna-warni itu seol mencuri hatiku.


"Berhenti!" pekikku.


Ckitttt....


Benar, pak Devan menghentikan mobil itupun dengan ngerem mendadak karena mendengar teriakan ku yang meminta untuk segara di hentikan mobilnya.


"Ada apa sih, Nayla?" pak Devan menoleh, mengikuti arah pandang wajahku yang tengah melihat balon.


Tanpa menjawab aku bergegas keluar dari mobil, seketika aku berlari karena tak sabar ingin memiliki balon tersebut.


"Nay, Nayla!" teriak pak Devan namun tidak aku hiraukan sama sekali. Aku tetap berlari menghampiri.


Pak Devan juga keluar dari mobil, mengejar_ku yang sangat ingin mendapatkan balon itu.


"Pak beli balonnya," aku langsung mengatakan niatku pada pedagang itu. Dia nampak terkejut karena kedatangan ku yang tiba-tiba.


Tadi pedagang itu melihat ke arah lain maka dari itu dia sangat terkejut saat menoleh dan tiba-tiba sudah ada aku yang berdiri di sini dengan mata yang mendongak melihat semua balon yang melambung tinggi namun tetap dalam kendali karena terdapat sebuah tali.


"Mbak mau beli balon hijau anaknya ya?" tanyanya.


"Anak? Oh, iya iya! Untuk anak saya," jawabku.


"Mau warna apa?" tanyanya lagi. Sejenak dia menoleh tadi mencari seseorang mungkin dia mencari anak yang ingin aku belikan balon.


Bukannya anak kecil yang datang tapi ternyata yang datang adalah pak Devan yang kini ada di sebelah ku.


"Kamu mau balon, Nayla?"


Aku menoleh dan pak Devan terus berdiri di sebelah ku dengan melihat ke arah balon dan ke arah ku secara bergantian.


"Hem," cepat aku mengangguk karena memang itulah niat aki datang.


"Pak, saya mau semua warna," kataku.


"Semua warna? Banyak banget Nayla, mau buat apa?" pak Devan mengernyit.


"Sama itu sekalian pak, yang belum di tiup." imbuh ku lagi tanpa menghiraukan pak Devan yang mungkin sangat tak percaya.


"Semua?! Alhamdulillah, baik Bu," jelas pedagang itu akan sangat senang karena semua dagangannya ludes terbeli, "ini, Bu."


Aku terima semuanya dari penjual itu. Dan setelahnya?


"Pak Devan, tolong bayarin ya. Nanti kalau aku udah gajian aku ganti," aku meringis.


"What, gajian?!" mata pak Devan membulat karena perkataan ku.


❃❃✧༺♥༻✧❃❃


Bersambung....