
❃❃✧༺♥༻✧❃❃
POV AUTHOR...
Amarah juga sangat besar dari Aditya setelah dia tidak berhasil untuk kembali membawa pergi Nayla. Padahal hanya tinggal sedikit saja dan Nayla akan kembali bersamanya tapi Devan, dia mengacaukan segalanya.
Bagaimana mungkin Aditya tidak akan sangat marah kalau ternyata mantan istri yang masih dia cintai itu sekarang bersama laki-laki lain, dan sayangnya laki-laki itu adalah teman dia sendiri.
"Arghh!" teriak Aditya yang begitu besar akan amarah. Matanya melotot dengan kedua tangan terus memegangi setir karena mobilnya masih terus berjalan.
Tak peduli keadaannya yang saat ini tengah babak belur dia terus marah-marah, bersuara dengan mengumpat dan menyumpah serapahi Devan yang lebih kuat daripada dirinya.
Tentu Aditya juga sangat iri sebenarnya dengan Devan, dia sudah benar-benar kaya sejak lahir karena dia adalah keturunan dari orang kaya bahkan mertuanya sekarang belum bisa menandingi kekayaannya, tapi Aditya?
Siapa Aditya! dia hanya laki-laki yang numpang hidup dan juga numpang kaya di rumah istrinya yang sampai sekarang juga kekayaan masih ada di tangan mertuanya. Jika Aditya berani membuat masalah dan di usir dari sana maka dia tidak akan punya apapun.
Bahkan pekerjaan Nayla yang kemarin saja bisa mencukupi kebutuhannya dan juga anaknya, tapi Aditya? Dia hanya numpang hidup tapi kesombongannya tidak bisa mengalahkan siapapun.
Dan sekarang? Sekarang bukan hanya kesombongan saja yang ada tetapi juga keegoisan yang semakin bertambah besar dan terasa di pupuk olehnya hingga semakin subur.
"Kurang ajar kamu Devan! Beraninya kamu merebut Nayla dariku! Tidak, aku tidak akan pernah biarkan kamu mengambil Nayla dan anakku dariku. Tidak akan pernah aku biarkan!"
Tatapan matanya begitu menyala terang dan bulat namun sudah berganti warnanya menjadi merah, menandakan kalau amarah telah benar-benar menguasai dirinya.
"Kamu sungguh keterlaluan Devan! Kamu keterlaluan, arghh!"
Bukan hanya berteriak-teriak saja seperti orang tak punya akal tapi Aditya juga terus memukuli setir, melampiaskan amarah kepada barang mati itu seolah dia adalah Devan yang akan mudah dia lumpuhkan.
"Tidak pernah aku merasa terhina seperti ini. Semua bisa aku dapatkan dengan sangat mudah dan kamu juga harus seperti itu, Nay. Kamu akan aku dapatkan lagi dengan mudah."
Begitu percaya diri kalau Aditya akan mampu mewujudkan keinginannya suatu saat nanti. Tidak peduli dia akan melawan Devan dan siapapun yang terpenting dia bisa dapatkan apa yang sudah dia anggap menjadi miliknya.
Sampai di rumah Aditya sudah berganti wajah. Seperti bunglon yang bisa dengan mudah menyesuaikan tempat dimana dia berada. Entah kebohongan apa yang akan dia jadikan alasan untuk semua orang di rumah karena tidak mungkin dia akan jujur.
"Ya Allah, Mas! Kamu kenapa?!" Jihan yang tengah bersantai di ruang tengah dengan membaca majalah langsung menaruh majalahnya dan bergegas menghampiri Aditya.
Jihan terlihat sangat khawatir, bagaimana tidak! Suami tercintanya pulang-pulang dengan begitu banyak luka akibat di pukuli oleh orang. Bagaimana mungkin Jihan akan diam saja tanpa bertanya?
"Ya Allah mas, kok bisa begini," Jihan menghadang Aditya memeriksa keadaannya lalu menarik tangan Aditya untuk pergi ke tempat dimana dia duduk tadi.
"Mas tidak apa-apa Sayang. Ini hanya masalah kecil," katanya dengan tangan yang menyentuh pipinya sendiri dengan pura-pura meringis menahan sakit.
"Mas di sini dulu biar Jihan ambilkan kompres dan obat," Jihan langsung berlari meninggalkan Aditya yang kini melirik ke arah Jihan dan merasa telah berhasil menipu istrinya.
'Dasar perempuan bodoh, mau saja di bodohi,' batin Aditya yang di sambung dengan tersenyum sinis melihat istrinya yang berlari.
Sungguh, Aditya adalah suami yang tidak tau terima kasih. Istrinya terlihat sangat khawatir dan berlari-lari demi dirinya untuk mengambil kompres dan juga obat, tapi apa yang Aditya lakukan dia malah tersebut dan menganggap Jihan adalah perempuan yang bodoh yang buta karena cintanya.
Tak berapa lama Jihan kembali keluar dengan membawa kompres_an dan juga obat yang akan dia gunakan untuk mengobati Aditya.
Sebenarnya Jihan adalah perempuan yang baik, hanya saja dia terlalu bucin dengan Aditya dan begitu tergila-gila pada suaminya itu.
Dia sangat percaya pada Aditya bahwa dia benar-benar mencintainya begitu juga dengan dirinya yang mencintai Aditya. Mengira bahwa cintanya terbalas padahal? Cinta Aditya hanya karena hartanya saja.
"Tahan ya," ucapnya dengan perlahan mengompres Aditya.
"Aw! Pelan-pelan, Yang." kalau kali ini Aditya memang benar merasa sakit karena tengah di obati oleh Jihan.
Begitu telaten Jihan merawat Aditya. Jelas, dia selalu melakukan itu dan akan selalu menjadi istri terbaik untuk Aditya di luar tentang pengkhianatan yang dia lakukan pada teman Aditya sendiri.
"Mas, sebenarnya apa yang telah terjadi?" tanya Jihan sembari mengompres luka Aditya.
"Dit, kamu kenapa?" Pak Pratama pun juga sangat terkejut dengan apa yang terjadi kepada menantu itu. Tadi dia berangkat dengan keadaan baik-baik saja tapi sekarang? Kenapa setelah pulang dia menjadi seperti ini?
Pak Pratama terus melihat dengan dua yang perlahan duduk di sofa di lingkar meja yang sama, tentu dia juga sangat penasaran sama seperti Jihan dengan apa yang telah terjadi kepada Aditya.
"I_ini, Pa... semua ini ulah dari Devan, anak dari pemilik perusahaan Gudia."
"Devan, bukannya dia teman kamu? Kenapa bisa dia melakukan ini?" tentu pak Pratama sangat terkejut dengan alasan yang Aditya buat.
"Ini, Pa. Sebenarnya... Sebenarnya saya sudah menawarkan kerjaan sama dengan dia dengan cara baik-baik. Dan dia juga setuju kemarin, tapi sekarang? Setelah dia mendapatkan kolega baru dia memutuskan sepihak."
Dengan begitu mudah Aditya memfitnah Devan melakukan itu. Memang Devan yang telah membuat Aditya menjadi babak belur seperti sekarang ini tapi alasannya yang tidak benar.
Apa yang akan dia dapat dengan memfitnah Devan pada mertua dan juga istrinya seperti sekarang ini?
"Kurang ajar, berani sekali dia melakukan ini padamu. Dia tidak tau saja akan berhadapan dengan siapa kalau berani mengganggu mu. Papa tidak terima, kita laporkan saja pada polisi!"
Tekat pak Pratama terlihat sangat besar untuk memenjarakan Devan yang telah dia anggap bersalah. Tentu dia akan menganggap seperti itu setelah mendengar cerita dan juga apa yang terjadi pada menantunya sekarang ini.
'Gawat, kalau sampai papa benar-benar melakukan ini pada Devan bukan dia yang akan masuk penjara tapi aku! Aku yang akan tercoreng dan pasti papa dan Jihan tidak akan memaafkan ku,' batin Aditya yang begitu takut.
Membayangkan daja Aditya sudah sangat takut, bagaimana kalau sampai terjadi. Bisa-bisa Aditya akan di tendang dari rumah itu dan akan menjadi gelandangan baru.
Itu adalah mimpi buruk baginya dan dia tidak ingin semua itu terjadi dan menjadi nyata.
"Tidak usah, Pa. Lagian Aditya yang salah juga, seharusnya Aditya menerima dengan lapang dada jika dia memutuskan seperti itu," ucap Aditya yang berusaha membujuk mertuanya untuk tidak melakukan apa yang barusan dia katakan tadi.
"Tapi, Dit. Ini kriminal! Ini kejahatan namanya dan tidak bisa di diamkan begitu saja. Sekarang kamu masih bisa selamat bagaimana kalau besok kamu di lukai lagi!"
Pak Pratama terlihat sudah langsung tersulut emosinya dia percaya dengan bualan dari Aditya yang tak nyata dan hanya karangan dia belaka.
"Tidak usah, Pa. Aditya tidak apa-apa. Mulai sekarang Aditya akan lebih berhati-hati Pa. Jadi papa tidak usah khawatir akan keselamatan Aditya."
Kembali Aditya mampu membujuk pak Pratama dan membuatnya tidak melaporkan Devan ke kantor polisi, kalau dia tidak bisa maka dia yang akan benar-benar kalah dari Devan.
"Ya Allah, Mas. Temanmu itu jahat sekali. Padahal kelihatannya sangat baik tidak dapat di percaya kalau ternyata dia orangnya seperti itu."
Jihan pun ikut kena hasutan dari Aditya dan percaya begitu.
"Ya itulah, Yang. Namanya daja bisnis, mereka yang memiliki sifat seperti itu pastilah akan melakukan apapun caranya untuk mendapatkan keuntungan yang lebih besar."
Kata-kata Aditya begitu pelan dan juga penuh dengan tak berdaya bagaimana mungkin Jihan dan ayahnya tidak akan percaya kalau begitu?
"Tapi mas benar-benar tidak apa-apa? Atau kita ke rumah sakit saja?"
Terakhir Jihan juga mengoleskan obat ke semua luka Aditya dengan pelan dan sangat pelan apalagi ketika Aditya meringis dan saat itu Jihan menjauhkan jarinya dan langsung meniupnya.
"Tidak, mas tidak apa-apa. Ini hanya luka kecil saja kalau sudah ada kamu yang mengobatinya bagaimana mungkin mas akan membutuhkan dokter," goda Aditya.
"Ih, apa sih! udah kayak gini bisa-bisanya masih ngegombal," protes Jihan tapi tetap saja pipinya sudah memerah.
"Terima kasih ya, Yang. Kami selalu ada untuk ku."
Tangan Aditya menangkap tangan Jihan dan mengecupnya membuat Jihan merasa tersanjung dan sangat bahagia.
Mata mereka saling bertemu dengan tatapan yang penuh arti.
"Ekhem!" sengaja pak Pratama berdekhem mengejutkan mereka berdua dan membuat Jihan langsung menarik tangannya lagi.
"Silahkan teruskan, papa mau ke kamar," Pak Pratama cepat beranjak tentu dia merasa menjadi nyamuk di sana.
"I_iya, Pa." Jawab Aditya tergagap.
"Ih, mas sih!"
"Kenapa, Mas. Mas kan hanya sangat bahagia bisa mempunyai istri yang begitu peduli dan sayang seperti mu. Kamu benar-benar segalanya, Sayang. Aku mencintaimu," kata Aditya.
"Jihan juga mencintaimu, Mas," jawab Jihan malu-malu.
"Kamar yuk!" ajak Aditya begitu antusias menarik tangan Jihan dengan sedikit paksa dan tergesa-gesa.
"Mas!" seru Jihan tapi Aditya tetap tak peduli dan terus menariknya.
---------Normal--------
Bersambung. . .
◎◎✧༺♥༻✧◎◎
Bersambung.....