Pelita Hati Bunda

Pelita Hati Bunda
Ingin Pulang



❃❃✧༺♥༻✧❃❃


"Bunda, kapan kita pulang?" tanya Ara. Suaranya sangat lemah tidak seperti biasanya. Kemarin dia masih terlihat sangat semangat, tapi kenapa sekarang tidak? Apakah karena dia sangat bosen beberapa di rumah sakit?


Siapapun pasti akan merasa sangat bosan, jangankan hanya anak-anak orang dewasa saja kalau terlalu lama beradaptasi di rumah sakit dia akan sangat bosan.


"Kita pulang kalau Ara sudah sembuh ya," jawabku.


Rasanya sangat sedih juga karena tak bisa memberikan apa yang di inginkan oleh anak sendiri, padahal hanya hal yang sangat sepele, tapi tidak bisa aku wujudkan.


Entah kapan aku bisa mengajak dia pulang, hari ini, besok atau lusa, kapanpun itu yang terpenting aku ingin Ara bisa sembuh secepatnya.


"Ara sangat bosan, Bunda. Di sini sangat tidak enak," keluhannya yang semakin membuat hati ini terasa teriris.


Seandainya bisa, maka aku akan ajak dia langsung pulang hari ini juga. Tapi aku tidak bisa mengabaikan keadaannya.


"Bunda, tanyain sama dokter ya, Ara hanya ingin pulang. Ara sangat merindukan rumah."


"Iya, Sayang. Nanti bunda tanyakan pada dokter. Sekarang kamu makan dulu ya, makannya harus habis kalau habis pasti akan cepat sembuh. Akk!"


Berusaha terus untuk bisa tersenyum di hadapannya padahal jika Ara mendengar jeritan hatiku mungkin dia akan ikut ngilu mendengarnya.


"Beneran kan, Bunda?" Wajahnya terlihat begitu berharap, bahkan suaranya juga terdengar bergabung memohon.


"Iya, Sayang. Ara pasti akan segera pulang."


Kembali aku beri harapan untuknya. Aku memang salah karena memberikan harapan yang aku sendiri juga tidak tau entah sampai kapan. Tapi aku harus tetap berusaha membesarkan hatinya.


"Akk," kembali aku membuka mulut sendiri dengan lebih, menuntun Ara supaya mengikutinya, Ya! Ara langsung membuka mulut dengan sangat lebar.


"Siang sayang," kami berdua menoleh dengan bersamaan ke arah pintu, terlihat jelas ada orang yang masuk tapi wajahnya tidak terlihat karena tertutup dengan boneka panda yang lumayan besar.


Berkali-kali Ara memiringkan tubuhnya supaya bisa melihat wajah dari orang itu, aku tau Ara sudah tau siapa yang datang tapi dia hanya ingin memastikan saja. Yang datang adalah Mas Devan.


"Ba!" Boneka di buka dari depan wajahnya dan benar saja, yang ada di belakang boneka itu adalah mas Devan.


"Ayah!" Ara nampak begitu bahagia, dia tertawa bersamaan dengan tangan yang langsung menerima boneka itu dari Pak Devan.


Jangankan mendapatkan hadiah kesukaannya, hanya dengan gurauan kecil saja Ara selalu bisa tersenyum, bahkan kadang bisa tertawa terpingkal.


"Iya dong, tidak mungkin untuk Bunda kan? Bunda kan udah besar, dia udah malu main boneka," ucapnya. Bibirnya di mainkan kanan w tidak beraturan, sungguh lucu hingga membuka Ara semakin tertawa.


Alhamdulillah.. Aku sangat senang melihat Ara yang bisa tertawa lepas seperti sekarang ini dan melupakan hal yang seperti tadi. Semua ini berkat mas Devan.


Aku hanya tersenyum mendengar ucapan mas Devan, dia juga menoleh dengan mengedipkan matanya yang genit.


'Mulai deh, mulai,' batinku.


Senyumku pudar dan membuat mas Devan seolah tau kalau aku tak sudah dengan perbuatannya, tapi bukannya dia berhenti tapi dia malah mendekat dan memeluk ku.


"Kalau Bunda tidak suka di kasih boneka, Bunda sukanya di kasih pelukan."


"Ara jiga mau dong Yah," ucap Ara.


"Oh, princess ayah mau juga, sini," Mas Devan beralih mendekati Ara, dia benar-benar memberikan pelukan hangat padanya. Sungguh, Ara kembali sangat bahagia.


"Eh, lihatlah Bunda manyun karena Ayah peluk Ara."


"Apa sih, Mas." Aku tersenyum, pipiku memanas karena guraunya.


"Hahaha! Bunda lucu ya, Yah," kembali Ara tertawa. Tak ketinggalan Mas Devan pun juga sama, mereka menertawakan ku.


Tak masalah, asalkan Ara bahagia aku rela.


Jangankan hanya di ketawain seperti ini, apapun yang dia lakukan asal dia bisa kembali tersenyum aku tak masalah.


Rasanya begitu haus melihat senyum Ara dari kemarin, dan sekarang hausku terobati, aku melihat Ara tersenyum dengan bahagia.


Alhamdulillah....


◎◎✧༺♥༻✧◎◎


Bersambung...