Pelita Hati Bunda

Pelita Hati Bunda
Kembali masuk rumah sakit



❃❃✧༺♥༻✧❃❃


Kejadian kemarin yang telah menimpa Ara karena perbuatan dari Mas Aditya membuat Mas Devan sangat khawatir dan membuatnya menyewa Bodyguard khusus yang disiapkan untuk menjaga Ara ketika berada di sekolah.


Tentunya hal itu dia lakukan supaya kejadian kemarin tidak kembali terulang lagi, dan dengan seperti itu aku juga sangat tenang meski berada di rumah.


Mas Devan sama sekali tidak akan membiarkan Mas Aditya berhasil mendekat apalagi menyentuh Ara lagi. Bukan hanya penjagaan di sekolah saja tetapi juga penjagaan di rumah.


Seperti biasa sebelum mereka berdua berangkat semua keperluan mereka aku yang siapkan begitu juga dengan bekal yang akan menjadi makan siang untuk mereka.


"Sayang, janganlah kamu terus bekerja seperti ini aku tidak ingin kamu sampai kelelahan," ucap Mas Devan yang terus mengejarku ke sana kemari ketika menyiapkan semua keperluannya.


"Tidak akan, Mas. Hanya dengan berjalan seperti ini tidak akan membuatku kelelahan, justru dengan seperti ini aku akan sehat dan anak kita akan kuat."


Seperti itulah yang aku katakan kepada Mas Devan karena Dulu ketika hamil Ara juga seperti ini.


"Hem, selalu saja kamu bilang seperti itu," dengan begitu manjanya Mas Devan memelukku dari belakang dan menaruh dagunya di atas pundak membuatku tak bisa bergerak lagi apalagi untuk berjalan.


"Ada apa sih, Mas?" sangat penasaran saja dengan perilaku dari Mas Devan saat ini yang tidak seperti biasanya. Kali ini Dia terlihat lebih manja dan begitu malas bersiap untuk pergi ke kantor.


"Aku pengen di rumah saja," katanya.


"Huff..., kenapa?" sedikit menoleh ke arahnya dan berhasil melihat bagaimana wajahnya sekarang yang benar-benar terlihat tidak semangat.


"Pengen bersama kamu terus," jawabnya.


Kadang suka ingin marah ketika dia melakukan hal-hal sesuatu yang tidak aku sukai, tetapi juga kadang membuat menggelengkan kepala kalau dia bertingkah di luar kebiasaannya seperti saat ini.


"Apa sih, Mas. Mas kan juga tidak seharian ke kantor. Biasanya juga tengah hari udah pulang."


Aku melepaskan diri dari pelukan Mas Devan lalu kembali berjalan untuk menyiapkan semua yang belum aku siapkan. Dan kembali Mas Devan mengejar_ku.


"Biarkan aku di rumah ya, biarkan aku libur hari ini, please," ucapnya memohon.


Sebenarnya mau Mas Devan libur ke kantor ataupun tidak sebenarnya tidak perlu izin terlebih dahulu kepadaku karena itu adalah pekerjaannya sendiri, bahkan dia juga bekerja di kantornya sendiri bukan bekerja pada orang lain. Jadi bebas dia mau kerja atau tidak. Tidak masalah juga jika libur satu hari.


Tok tok tok...


"Nyonya, Tuan!"


Pintu diketuk dengan sangat cepat membuat aku juga Mas Devan terkejut dan langsung menoleh ke arah pintu, sejenak kami saling pandang hingga setelahnya Mas Devan langsung melangkah ke menghampiri pintu untuk membukanya dan mengetahui siapa yang mengetuk dan terdengar begitu tergesa-gesa.


"Sus Neni, ada apa?" dan ternyata sus Neni yang telah mengetuk pintu dan terlihat begitu tergesa-gesa ketika memanggil kami berdua.


"Tu_tuan... Non Ara...?"


Mendengar kata Ara langsung aku melangkah mendekati mereka berdua karena rasa penasaran yang begitu besar dan berhenti di sebelah Mas depan Mas depan di hadapan sus Neni yang terlihat begitu gelisah.


Begitu panik Sus Neni ketika mengatakan hal itu.


Melihat Sus Neni seperti itu membuat aku begitu sangat khawatir juga sangat takut. Pastilah ada yang terjadi pada Ara, kalau tidak Sus Neni tidak seperti ini sekarang.


"Ara kenapa, Sus?" aku yang bertanya.


"Non Ara..., Non Ara tadi mimisan dan setelah itu sekarang dia pingsan, Nya," kata Sus Neni menjelaskan.


"Pingsan!?" pekik ku yang begitu terkejut.


Aku langsung berlari tanpa pikir-pikir lagi aku sudah sangat khawatir dan juga sangat takut.


"Nay, jangan lari-lari!" Mas Devan berteriak menegur ku karena berlari dia juga ikut berlari menyusul ku. Tak peduli yang mas Devan katakan aku tetap berlari.


Tidak peduli dengan mas Devan lagi dan aku terus berlari supaya bisa sampai ke tempat Ara berada.


"Ara!" teriak ku. Begitu panik juga sangat takut ketika melihat Ara yang sudah berada di atas ranjangnya sendiri.


Padahal tadi saat aku meninggalkannya setelah selesai membantunya bersiap untuk ke sekolah dia terlihat baik-baik saja dan tidak ada ciri-ciri di wajahnya. Kenapa sekarang tiba-tiba dia mengalami hal ini?


"Ara, Ara sayang..." begitu khawatir melihatnya terbaring tidak berdaya seperti saat ini, Padahal dia sudah siap untuk berangkat ke sekolah saat ini dan hari ini adalah hari kedua kalinya dia masuk setelah kejadian kemarin yang telah menimpanya karena perbuatan Mas Aditya.


Aku berusaha untuk membuatnya terbangun, menepuk kedua pipinya dengan perlahan dan juga sedikit menggoyangkan tubuhnya siapa tahu dengan cara ini dia akan terbangun namun kenyataannya tidak.


"Ara sayang, bangun." Aku semakin ketakutan saat semua usaha yang telah aku lakukan namun tidak berhasil membuat dirinya terbangun dan tetap menutup matanya.


"Astaghfirullah, ada apa ini. Ara, Ara sayang." Bukan hanya aku saja tetapi juga Mas Devan yang berusaha untuk membangunkan Ara tapi usaha kami berdua sama-sama tidak membuahkan hasil sama sekali.


"Kita ke rumah sakit sekarang," Mas Devan langsung mengangkat tubuh Ara dengan sangat buru-buru.


Kami berdua sama-sama panik dan bergerak cepat untuk membawanya ke rumah sakit supaya bisa mendapatkan penanganan dan kami bisa melihat apa yang sebenarnya terjadi kepada Ara.


◎◎✧༺♥༻✧◎◎


Tidak hentinya aku menangis setelah sampai di rumah sakit dan menunggu di luar ruangan UGD bersama Mas Devan. Aku terduduk lemas dengan perasaan yang sangat kacau sementara Mas Devan dia terus berada di sampingku dan memberiku kekuatan untuk bisa menjalani semua yang terjadi saat ini dengan sabar.


"Ara pasti baik-baik saja," Mas Devan memelukku dari samping tempat kami duduk. Berkali-kali dia juga menghapus air mataku yang terus saja keluar karena merasa sangat takut.


Baru saja beberapa hari Ara pulang dari rumah sakit dan sekarang harus kembali lagi dengan cara yang sama yang tiba-tiba pingsan hanya bedanya kemarin tidak mimisan tetapi segera?


"Mas, aku sangat takut," kataku yang benar-benar sangat ketakutan.


"Sttss..., kamu harus kuat dan juga sabar. Ara pasti baik-baik saja," terus mas Devan memberikan kekuatan untuk ku.


Meski Mas Devan terus mengatakan hal itu tetap saja tidak bisa mengurangi rasa takut yang sudah sangat besar singgah berada di dalam hatiku.


Meskipun Ara sering sekali mengalami sakit dan juga sering masuk rumah sakit tapi dia tidak sampai seperti ini. Dia belum pernah mengalami mimisan sebelumnya.


Entah ini adalah penyakit baru yang diderita oleh Ara ataukah mungkin ada efek samping yang terjadi karena sakit dia yang kemarin.


Apapun itu yang terpenting bukan penyakit yang serius yang menimpa dirinya karena aku tidak akan sanggup jika sesuatu terjadi kepada Ara.


"Bagaimana kalau Ara?"


"Sttss, tidak akan ada yang terjadi pada Ara. Dia akan baik-baik saja, mas akan pastikan itu."


Mas Devan terus memeluk ku dengan sangat erat hingga tak berapa lama dokter keluar dari ruangan UGD dan nampak lesu.


"Dok..."


◎◎✧༺♥༻✧◎◎


Bersambung....