Pelita Hati Bunda

Pelita Hati Bunda
Siapa yang kurang baik?



◎◎✧༺♥༻✧◎◎


"Assalamu'alaikum!" seru Mika yang terlihat begitu semangat ketika masuk ke rumah ku juga Mas Devan. Dia tidak sendiri karena ada Andri di belakangnya.


"Wa'alaikumsalam," Aku pun juga menjawab dengan perasaan yang sangat senang. Rasanya sangat merindukan temanku satu ini dia begitu baik hingga aku gak bisa melupakannya.


Mika adalah teman terbaik dari dulu hingga sekarang, dia selalu meluangkan waktu untukku dan juga Ara ketika kami membutuhkannya. Dan sekarang dia pun datang ketika kami memanggil karena ingin bertemu.


Aku pikir dia tidak akan datang karena pekerjaan yang sangat sibuk, tapi ternyata tidak dia meluangkan waktu untuk datang bahkan dia kini bersama Andri.


Aku yang sedang duduk langsung berdiri dan menyambutnya, kami saling berpelukan seperti biasanya dan melakukan rutinitas cepika cepiki dan setelah itu kami tersenyum bersama sembari duduk berdampingan.


"Hem, aku sangat merindukanmu, Nay. Hanya tidak bertemu sebentar saja rasanya seperti bertahun-tahun. Kamu sungguh terlalu Nay, kamu melupakanku setelah kamu menjadi orang kaya."


Ucapannya selalu ceplas-ceplos seperti biasanya. Aku tidak terkejut karena memang itulah kebiasaan dia dari dulu hingga sekarang yang tidak pernah berubah, tapi tetap saja membuat aku selalu merindukannya.


"Apa sih, bagaimana mungkin aku melupakan mu. Meski keadaanku sudah lebih baik sekarang daripada dulu tapi tetap saja aku tidak pernah berubah, masih Nayla yang dulu yang sangat kamu kenal."


"Masak, nyatanya di hubungi juga jarang di angkat. Sibuk banget ya?"


Mika bersandar dengan sangat malas, dia tidak mempedulikan Andri yang juga ada di sana, sepertinya mereka sudah begitu akrab.


Mereka juga terlihat sangat cocok menurutku, seandainya saja mereka bersatu pasti sangat menyenangkan. Tapi...


"Mas Andri jadian ya sama Mika?" tanyaku dengan cepat.


Mika yang sudah bersandar begitu santai langsung kembali tegak, matanya juga langsung melotot tajam, sungguh mengerikan.


"Jadian? Tidak!" elak Mika dengan sangat cepat. Dia terlihat sangat kesal dengan pertanyaan ku barusan.


Matanya melirik sebentar pada Andri tapi laki-laki itu hanya tersenyum kecil saja dan juga terlihat sangat aneh. Apakah dia sebenarnya ada rasa pada Mika?


"Kalau suka langsung gas aja, Mas. Nanti keburu di ambil orang loh. Lagian ini anak hanya sok gengsi saja, mulutnya mengatakan tidak tapi hatinya sangat berharap." Kataku mengompori.


"Ish, ember sekali kamu ini, Nay." Mika semakin marah.


"Tuh kan? Dia sebenarnya mau, Mas. Dia hanya malu-malu meong." Aku terkekeh setelahnya. Sangat lucu melihat Mika yang wajahnya semakin berkedut-kedut tak menentu.


"Serah kamu lah, Nay. Lagian dia juga kurang peka." Katanya acuh.


Uhuk uhuk uhuk..


Tiba-tiba saja Andri batuk karena perkataan Mika, benarkah dia tidak peka?


Astaga nih anak, punya teman gini amat ya, malu-maluin saja. Kalau dia memang cinta tapi kenapa sok gengsi.


Sementara Andri juga tidak berani mengungkapkan perasaannya. Sama-sama terlalu nih mereka berdua.


Mata Andri membulat, seakan tak percaya kalau Mika akan mengatakan hal itu, dia mengatakan Andri kurang peka atau tak punya nyali, mungkin saja. Siapa yang tidak akan takut kalau mau mengungkapkan perasaan pada cewek yang asal nyeplos kayak Mika.


"Udah lah, aku tunggu kabar baiknya dari kalian berdua." kataku.


"Oh iya, Nay. Bagaimana kabar Ara? Dia baik kan?"


"Alhamdulillah, dia baik-baik saja dan semakin membaik."


"Alhamdulillah," Mika terlihat begitu lega, "kalau yang ini bagaimana?" Tangannya langsung menyentuh perutku.


"Alhamdulillah, baik juga."


"Yang kurang baik pasti bapaknya, iya kan?"


Aku mengernyit, bapaknya? Emang kenapa dengan mas Devan?


"Tidak, dia juga baik-baik saja," Jawabku.


"Siapa yang mengatakan aku kurang baik?" Kami semua menoleh, mas Devan melangkah dengan menggendong Ara.


"Ara!"


"Tante!" Ara begitu sumringah, dia begitu bahagia dengan kedatangan Mika saat ini.


Melihat wajah Mas Devan yang terlihat serius membuat Mika mengkerut, mungkin dia taki karena kata-katanya barusan.


"Siapa yang kurang baik?" tanya mas Devan lagi.


"I_ ini, Mas Andri yang kurang baik. Iya kan Mas?" Mika menoleh, meminta bantuan pada Andri untuk membantunya, kalau tidak bisa saja Mika akan kehilangan pekerjaannya. Bisa jadi sih.


"I_ iya." Terpaksa Andri mengangguk, dia membantu Mika. Keduanya tersenyum kaki sekarang. Sungguh mereka berdua sangat takut melihat mata Devan yang seperti mengintimidasi.


◎◎✧༺♥༻✧◎◎


Bersambung....