
❃❃✧༺♥༻✧❃❃
Begitu besar kebahagiaan Ara ketika melalui waktu bersama Pak Devan. Ternyata beliau begitu pintar membuat Ara selalu tersenyum dan membuatnya melupakan keinginan untuk bertemu dengan ayahnya.
Apa yang harus aku lakukan, haruskah aku marah karena pak Devan yang memberikan kebahagiaan semu kepada Ara atau aku harus berterima kasih kepadanya yang telah membuat Ara tak lagi membenciku.
Ara juga Pak Devan terus saja tertawa saling menggoda dan saling mengerjai ketika memakan es krim coklat di taman. Mereka harus benar-benar bahagia bahkan Ara seperti melupakan aku yang ada di sini dan terus melihatnya.
"Ah, Ayah om jangan nakal! Wajahku jadi cemong kan karena es krim. Ayah om!" Protes Ara kepada Pak Devan yang terus mengoles es krim di beberapa wajah Ara.
"Hahaha, Ara juga udah bikin wajah Ayah om jadi cemong begini jadi kita sama-sama cemong hahaha!"
Seolah tak ada lelahnya Pak Devan terus membuat Ara selalu tertawa begitu lepas bukan hanya mengoleskan es krim di wajahnya tetapi Pak Devan juga sesekali menggelitik hingga membuat Ara seperti cacing yang berada di bawah terik matahari yang kepanasan.
Aku termenung melihat kebahagiaan mereka, ayah sendiri saja tidak pernah membuat dia bahagia sementara orang asing datang seperti malaikat baik hati yang berusaha membuatnya bahagia. Takdir seperti apa ini?
Tetapi jika mengingat lagi setelah perpisahan mereka nanti pastilah Ara akan kembali murung dan sedih. Tak ayal dia pasti akan menanyakan tentang keberadaan ayahnya lagi dan mengajakku untuk mencarinya.
"Hem, karena pestanya mungkin akan mulai sebentar lagi bagaimana kalau kita sekarang membeli gaun yang indah untuk Ara. Arah setuju?"
Aku kembali terkesiap benarkah Pak Devan akan mengajak Ara juga ke acara reuni di mana semua orang adalah orang-orang dewasa yang tidak cocok dengan usia Ara yang masih sangat kecil.
"He'em..." Ara langsung turun dari bangku yang dia duduki dia begitu antusias dan semangat untuk pergi bersama Pak Devan untuk mencari gaun yang dikatakan.
"Ajak Bunda juga gih," Pak Devan menoleh ke arah ku. Dia tersenyum dengan begitu manis. Tapi sama sekali tidak aku balas dengan senyum, hanya memandang saja.
Ara berlari, menghampiri dan langsung mengajak ku dengan tangan yang menarik tangan.
"Bunda, ayo kita beli gaun untuk Ara. Ara pengen ikut pergi ke acara pestanya ayah om," Ara begitu antusias.
"Kita pergi berdua saja ya sayang," kataku dengan sekali melirik ke arah Pak Devan. Aku hanya tidak ingin Ara akan selalu tergantung kepada orang itu yang entah seperti apa sebenarnya.
Aku melihat Pak Devan menggeleng dengan hembusan nafas yang panjang aku yakin dia tengah memikirkan sesuatu tentangku.
"Tidak mau Bunda, Ara kepingin pergi bersama ayah Om kan Ara belum pernah pergi bersama ayah."
Tetap saja Ara tak akan mudah untuk bisa di bujuk karena dia sudah begitu nyaman dengan Pak Devan.
"Ayo bunda," aku tak bisa mengelak lagi karena Ara Ara tak akan mungkin mau mendengarkan ku.
◎◎✧༺♥༻✧◎◎
Dia mencari-cari gaun untuk Ara dengan tak ada rasa malu sama sekali bahkan tak ada rasa risih atau berpikir kalau sebenarnya dia bukanlah anaknya. Sementara aku begitu malas untuk melakukan segala hal meski hanya sekedar memilih gaun untuk anaknya sendiri.
"Bunda ini bagus tidak?!" Ara menoleh ke arahku dengan menunjukkan gaun berwarna biru muda yang begitu indah yang ada di tangannya.
"Kata ayah om gaun ini sangat bagus tetapi bagaimana kalau untuk bunda apakah sudah cocok untuk Ara?"
"Ba_bagus," Jawabku begitu ragu.
"Yang ini saja ya ayah om. Kata bunda bagus kok. Hemm... Kalau tambah sama bando boleh nggak ayah om?" Tanyanya.
"Boleh dong. Apa sih yang nggak untuk Area cantik. Yuk kita cari sama-sama." Pak Devan kembali menuntun Ara ke arah aksesoris dan mereka juga langsung memilih mana yang cocok untuk Ara.
Semuanya yang akan dipakai oleh Ara adalah pilihan dari Pak Devan meskipun dia seorang laki-laki ternyata dia pintar juga memindahkan baju perempuan. Tidak terpikirkan kalau ternyata dia begitu pintar dan juga menyukai anak-anak.
Aku masih terus berdiri mematung melihat mereka berdua yang semakin dekat seolah tak ada jarak apapun di antara mereka berdua. Hingga akhirnya aku melihat Pak Devan berjalan mendekat dengan menyembunyikan tangannya di belakang punggung. Dia berhenti di hadapanku dengan tersenyum jelas sangat curiga sebenarnya apa yang dikehendaki sekarang.
"Ini akan sangat cocok untuk kamu pakai di acara nanti. Hem.." gaun berwarna biru muda yang Senada dengan milik Ara Pak Devan sodorkan kepadaku. Gaunnya memang sangat indah tetapi tidak mungkin kan aku menerimanya?
"Tidak usah, aku masih ada baju di rumah," Tolak ku dengan pelan.
"Siapa bilang aku akan mengantarmu pulang hanya untuk mengganti baju saja karena kita akan berangkat setelah ini. Pakailah ini dan menurut lah. Warnanya sama seperti Ara kalian akan sangat cocok, nih."
"Ta_tapi, Pak?"
"Jangan menolak. Terimalah. Aku hanya tidak mau semua teman-temanku memandang rendah pasanganku di acara reuni nanti. Bukan hanya aku yang terlihat istimewa di acara tersebut tetapi juga kalian berdua." Katanya.
"Tapi kenapa harus kami, Bapak bisa mencari perempuan lain selain saya yang jelas pasti lebih baik dan lebih pantas berada di samping bapak. Daripada saya dan Ara yang tidak mungkin akan bisa sepadan dengan anda."
"Tetapi saya memilih kalian yang akan menjadi teman dan pasanganku di acara tersebut jadi menurut lah dan patuhi atasanmu."
"Kamu tidak usah berpikir macam-macam, anggap saja ini adalah pekerjaan tambahan untukmu. Setelah acara selesai aku akan membayar mu dengan bayaran yang pantas."
"Yah! Sebatas pekerjaan," Kataku.
Mungkin dengan menganggap ini hanya sebatas pekerjaan akan lebih baik karena tidak akan ada beban setelahnya. Semoga saja semua berjalan dengan baik dan hal ini tidak akan pernah terjadi kemudian hari.
◎◎✧༺♥༻✧◎◎
Bersambung....