Pelita Hati Bunda

Pelita Hati Bunda
Sarapan Untuk Ayah Om



❃❃✧༺♥༻✧❃❃


Kepala Aditya terasa bikin pusing ketika dia bangun di pagi hari. Dia duduk dengan mata yang masih terasa susah untuk terbuka tangannya juga terus memegang kepalanya yang terasa berat.


"Ini di mana?" ucapnya. Dia begitu bingung ketika menyadari kalau dirinya berada di tempat yang sangat asing yang benar-benar tidak dia kenal, dia belum pernah ke sana sebelumnya itu pasti.


Aditya semakin bingung karena keadaan dirinya yang begitu berantakan. Kemejanya terpakai tidak benar juga gasper celana yang terlepas bahkan jas yang dia pakai sudah ada di lantai.


Aditya menoleh ke sebelahnya dan melihat Jihan yang juga sangat berantakan gaun yang dia pakai semalam kini ada di lantai. Istrinya itu masih saja tertidur pulas dan terlihat begitu lelah.


"Apakah semalam aku melakukannya dengan Jihan di sini? Kenapa aku tidak ingat?" Aditya berusaha mengingat semua kejadian yang dia lakukan semalam tetapi dia sama sekali tidak mengingat apapun, kecuali ketika dia minum di acara pesta dan itulah yang terakhir kali dia ingat.


Diraihnya ponsel yang ada di sebelahnya dia buka dan begitu banyak panggilan telepon juga pesan singkat dari kedua mertuanya.


"Kacau," gumamnya.


Benar-benar sangat kacau karena Aditya sama sekali tidak mengingat apapun. Apakah benar mereka semalam saling bercumbu rayu di dalam kamar itu? Tetapi kenapa sama sekali tidak ada bayangan Yang dia ingat?


"Han, Jihan. Bangun sayang, ini sudah pagi. Kota sangat terlambat."


Dengan cepat Aditya membangunkan Jihan dan tentu ingin mengajak dia pulang kalau tidak entah apa yang akan dia dengar dari kedua mertuanya.


"Mas, Jihan masih lelah," ucapnya dengan sangat malas.


"Kita harus pulang sayang. Papa dan mama pasti akan marah nanti," bujuk Aditya.


"Mas tidak usah khawatir, aku sudah bicara dengan papa semalam. Dan papa membolehkan kita di sini kok." Jihan ikut duduk dengan tangan yang memegangi selimut untuk menutupi bagian depannya.


Mata Aditya memicing melihat keadaan dada dan leher Jihan yang terbuka, begitu banyak hasil mahakarya dari ******.


"Apakah aku sampai segitu bergairahnya sampai aku membuat mahakarya sebanyak ini?" Aditya bingung sendiri.


"Astaga, kamu lupa Mas. Kau bahkan seperti singa yang ingin memangsa ku. Kamu benar-benar kehilangan kendali semalam mas sampai-sampai aku kewalahan meladeni mu," jawab Jihan sembari bergelayut manja di lengannya.


"Ya heran saja kan, Yang. Aku belum pernah sampai segini nya loh. Apa ini tidak sakit?"


"Yang sedikit sih semalam karena mas bermain sedikit kasar, tapi aku sangat menikmatinya. Sekarang bersih-bersih dan pulang yuk, jangan sampai mama atau papa kembali menghubungi kita lagi."


"Hem, kamu benar. Tapi beneran kamu tidak apa-apa kan? Bagaimana dengan anak kita, baik-baik saja kan?" Terlihat Aditya begitu khawatir.


"Semua baik-baik saja, Mas. Yuk," Jihan seolah-olah ingin pembicaraan mereka cepat berlalu, entah benar Jihan melakukan itu dengan Aditya atau tidak hanya Jihan yang tau. (Hehehe)


------------Normal-------


◎◎✧༺♥༻✧◎◎


"Pagi, Bunda." Mataku terbuka kala Ara menyapa di pagi ini. Terlihat dia begitu bahagia, wajahnya begitu bersinar tidak sama seperti hari-hari biasanya.


"Bunda, bangun... ini sudah pagi," begitu antusias Ara membangunkan ku hingga dia lebih dulu duduk dan terus mencium ku yang masih malas-malasan.


"Sebentar sayang. Bunda masih malas," kataku. Benar-benar sangat malas aku.


"Ayo bunda. Bunda harus bangun. Bunda harus semangat seperti Ara. Hihi..." Kembali Ara menghujani kecupan di wajah ku. Rasanya sangat menggelikan sekali rasanya.


"Iya sayang, bunda akan bangun." Terpaksa aku bangun meski benar-benar sangat malas.


"Nah, begitu dong. Bunda harus semangat pagi ini dan selamanya."


"Oh iya, Bunda. Pagi ini bikin sarapannya agak banyakan dikit ya, Bunda."


Aku mengernyit, emang untuk apa harus di tambah lagi?


"Kenapa?" tanyaku singkat.


"Nanti di sisain satu porsi untuk ayah om. Kemarin kan dia sudah ajak kita jalan-jalan dan juga beliin kita baju baru juga ajak kita ke pesta jadi tidak apa-apa kan kalau kita kasih sarapan untuknya."


Aku melongo mendengar penjelasannya. Padahal aku ingin bisa jauh-jauh darinya tapi anakku sendiri malah menginginkan hal yang lain. Kalau seperti ini bukankah dia akan besar kepala?


"Ta_tapi, Sayang. Dia pasti tidak akan menyukai masakan bunda. Masakan bunda kan tidak enak," aku hanya sangat malas saja kalau berurusan dengannya.


"Masakan bunda enak kok, lebih enak lagi kalau Ara bantuin bunda masak. Pasti ayah om akan suka. Ayo kita bikin sarapan bunda! Ayo bunda!!"


Ara terus menarik tangan ku dengan begitu semangat seolah dia tidak peduli ekspresi apa yang aku tunjukkan kepadanya. Tapi dia kan masih kecil tidak akan tahu apa maksud dari ekspresi wajah orang dewasa.


"Ayo bunda!" Terus Ara menarik tanganku hingga aku tidak bisa menolak lagi dan hanya bisa pasrah karena apa yang aku katakan dia juga tidak mau menanggapi dia sudah begitu semangat dengan apa yang dia inginkan.


Hanya sebuah nasi goreng sederhana dan juga telur ceplok yang digoreng dengan cetakan berbentuk hati semua itu adalah ide dari Ara.


Aku yakin setelah melihat bentuk dari telur ceplok ini Pak Devan akan semakin besar kepala.


"Bunda, jangan lupa ini nanti diberikan kepada ayah Om Iya Bunda. Ingat ya! Jangan Bunda makan sendiri Ini untuk ayah Om."


Ara begitu menegaskan bahkan jari telunjuknya terangkat seolah memberikan peringatan kepadaku supaya melakukan apa yang dia katakan dan tidak boleh lupa.


'Ih, Ara. Kamu apa-apaan sih sayang. Dengan ini pasti pak Devan akan ke_gr_an pasti dia berpikir yang macam-macam pada bunda. Bunda tidak yakin dia akan percaya kalau ini semua adalah ide kamu,' batin ku meronta.


"Bunda, bunda dengar apa yang Ara katakan kan?"


"Iya sayang bunda dengar semuanya. Sekarang kita mandi dan setelah itu kita sarapan bunda harus berangkat kerja."


"Ini jangan sampai lupa ya Bunda kalau perlu sekarang aja taruh di tas Bunda," Ara langsung menyerahkan Tupperware berwarna hijau berbentuk kotak itu kepadaku sepertinya aku benar-benar sudah tidak bisa beralasan lagi. Anakku benar-benar luar biasa.


"I_iya," jawabku dengan ragu.


Rasanya ingin menjerit karena ini tetapi aku tak mungkin melakukannya dan akan membuat Ara ku menjadi sedih. Dia sangat bahagia pagi ini dan biarkan dia selalu bahagia mulai sekarang.


◎◎✧༺♥༻✧◎◎


Bersambung.....