
❃❃✧༺♥༻✧❃❃
POV AUTHOR...
Berbagai informasi Aditya cari dan juga kumpulkan, dia benar-benar tidak diam begitu saja karena dia berpikir kalau Ara adalah anak kandungnya.
Setelah Jihan keluar dari rumah sakit dan dia sudah bisa kembali bekerja dia akan lebih mencari informasi hubungan antara Devan juga Nayla. Dan sejauh ini informasi yang dia dapat adalah keduanya tidak memiliki hubungan apapun.
Hubungan dari keduanya yang bukan pasangan suami istri membuat Aditya semakin yakin kalau Ara adalah anaknya dan bukan anak dari Devan. Tapi entah kenapa Ara dan juga Nayla bisa bersama Devan itulah yang harus di ketahui oleh Aditya.
Di dalam ruang kerjanya di perusahaan Pratama dia terus berpikir, bagaimana dia bisa membuktikan bahwa Ara adalah anaknya dan Nayla juga Devan bukan pasangan suami istri.
"Apa yang harus aku lakukan?" punggungnya bersandar di kursi yang terus bergerak karena dia sendiri yang menggerakkan, kedua tangannya menyatu dan kini menempel dengan dagunya sendiri dengan tatapan kosong ke depan.
"Kamu bisa saja membohongi ku, Nay. Tapi aku tidak akan bisa kamu bohongi," gumamnya lagi.
"Hubungan mereka akan lebih jelas kalau aku bertanya pada orang yang tepat, ya! aku harus bertanya dengannya."
Tekat Aditya sudah sangat bulat untuk bertanya tentang hubungan mereka berdua entah siapa yang akan dia tanya tapi kini Aditya begitu bersemangat untuk segera pergi.
Memastikan semuanya rapi barulah Aditya pergi. Laptop sudah dia matikan dan dia tutup, semua berkas juga sudah kembali tertata rapi dan dia sudah siap untuk meluncur pergi.
Aditya segera berlari keluar dari ruangannya, dari perusahaan Pratama untuk bertanya dengan seseorang.
Tidak tau, setelah Aditya pergi Pak Pratama datang untuk memeriksa keadaan perusahaan setelah dikelola oleh Aditya.
"Apakah pak Aditya ada?" tanya Pak Pratama kepada salah satu staf yang kebetulan berpapasan dengannya.
"Pak Aditya baru saja keluar, Pak," jawab staf tersebut.
"Keluar, kemana?" pak Pratama mengernyit tidak biasanya Aditya akan keluar di jam kerja seperti sekarang ini.
"Maaf, Pak. Saya tidak tau," tentu staf tersebut tidak tau kemana Aditya pergi karena dia memang tidak bilang dan meninggalkan pesan sama sekali.
Aditya pergi begitu saja dan semua orang tidak tau akan ke mana dia.
"Baiklah, terima kasih," pak Pratama langsung kembali melangkah begitu juga dengan staf tersebut kembali bekerja.
Tujuan pertama pak Pratama adalah ruangan Aditya yang dulu adalah ruangannya. Duduk di bangku yang tadi di duduki Aditya yang masih terasa hangat itu artinya Aditya memang benar belum lama perginya,
Meski masih sangat kecewa kepada Aditya karena kehilangan cucunya tapi pak Pratama tetap memberikan kepercayaan kepada Aditya untuk mengurus semuanya. Bukan hanya karena dia sebagai menantunya saja tapi karena Aditya memang bisa di andalkan.
Di buka satu persatu laporan-laporan yang ada di hadapannya, semuanya masih sama. Aditya benar-benar bisa di andalkan.
Beralih membuka laptop yang dulu juga menjadi temannya, memeriksa semuanya dan tak ada sesuatu yang menyimpan. Aditya benar-benar mengabdikan diri di perusahaan itu dan tidak menggelapkan uang sama sekali meski dia adalah orang yang gila harta.
"Seandainya kamu tidak pintar dan tidak bisa di andalkan, Dit. Maka aku tidak akan pernah mengizinkan kamu menikah dengan Jihan," katanya.
Pak Pratama membuka salah satu laci juga tak ada yang bisa di curigai dari menantunya itu. Semua baik-baik saja tak ada yang aneh hingga membuat pak Pratama hendak keluar dari sana.
Namun, langkah pak Pratama yang baru selangkah saja kembali terhenti karena dia melihat ada sesuatu yang aneh.
Ada sebuah foto yang terlihat di salah satu buku yang ada di atas meja itu yang tidak pak Pratama buka. Pak Pratama kembali duduk, mengambil foto tersebut.
"Ini foto siapa?" Pak Pratama sama sekali tidak mengenal siapa yang ada di foto tersebut. Foto seorang wanita yang sedang memeluk anak perempuan yang masuk sangat kecil.
"Kenapa Aditya menyimpannya?" jelas kecurigaan langsung muncul pada Pak Pratama. Tidak mungkin kan Aditya menyimpan foto orang lain kalau tidak ada alasannya.
Semakin jelas pak Pratama melihat foto itu namun dia sama sekali tidak mengenalnya.
"Hem, mungkin Jihan tau ini siapa," katanya dan mengambil foto tersebut lalu dia bawa.
Pak Pratama benar keluar dari sana dia juga mengantongi foto itu sebelum dia keluar. Memeriksa keadaan perusahaan sebentar sebelum dia benar-benar pulang.
◎◎✧༺♥༻✧◎◎
Di sinilah Aditya sekarang, di depan rumah yang sangat mewah dan juga sangat besar. Dia tersenyum bahagia melihat rumah itu yang masih saja sama seperti dulu sejak dia masih duduk di bangku SMA.
"Semuanya masih sama," gumamnya dan mulai melangkah untuk masuk ke pekarangan rumah setelah dia keluar dari mobil.
"Den Aditya!" salah satu penjaga kebun menghampiri, dia sangat senang melihat Aditya lagi.
"Iya, Mang." Aditya juga tersenyum dan menyalami penjaga kebun dengan penuh hormat.
Meski datangnya penuh dengan rencana tapi dia harus tetap berbuat baik kepada semua yang ada. Tentu dia tidak mau dianggap buruk di mata semua penghuni rumah.
"Apa kabar, Den. Sudah sangat lama Den tidak main ke sini," tanyanya begitu antusias.
"Alhamdulillah, Mang. Saya baik-baik saja. Oh iya Mang, Om Abraham ada?"
Lagian pak Abraham sangat baik dan hubungan mereka juga masih sangat baik sampai sekarang.
"Oh, tuan Abraham ada di dalam. Baru saja pulang, mau saya antar?" ucap penjaga kebun itu menawarkan diri untuk mengantarkan Aditya.
"Tidak usah, Mang. Mang sedang sibuk kan? saya pergi sendiri saja."
Bagaimana mungkin ada orang yang bisa menyangka kalau Aditya yang memiliki sikap lemah lembut dan punya sopan santun seperti ini memiliki kepribadian yang buruk. Bahkan dia juga mengkhianati seorang perempuan hanya karena sebuah harta.
Penjaga kebun mengangguk dan membiarkan Aditya pergi sendiri lagian dia juga masih bekerja karena satu tangannya masih memegang gunting besar untuk menggunting rumput liar.
Terus penjaga kebun itu melihat ke arah Aditya, dia masih saja selalu kagum dengan Aditya yang tak pernah berubah, masih sama dan begitu sopan pada orang yang lebih tua.
"Selalu apik kepribadiane," pujinya.
Kalau orang yang tidak tau sebenarnya Aditya seperti apa pasti dia akan memuji-mujinya tapi jika tau kebenarannya, entahlah.
Aditya terus melangkah, melihat sekeliling rumah itu sebelum dia sampai di depan pintu. Hingga akhirnya dia sampai di depan pintu yang terbuka lebar.
"Bagaimana kalau kita jodohkan saja, Pa. Devan tidak akan mungkin bisa mencari wanita sendiri yang baik. Apalagi mengingat dia yang seperti tidak tertarik pada wanita." ucap Susan istri pak Abraham.
"Nanti lah, Ma. Kita bicarakan dulu sama Devan. Kalau papa ada sih kandidat terbaik dan jelas sangat cocok dengan Devan."
"Siapa?"
"Ada deh, besok-besok papa ajak mama menemui dia. Dia juga bekerja di kantor Gudia. Dia gadis yang sangat baik dan sangat pekerja keras dia sangat hebat menurut papa. Papa juga yakin kalau mama kenal pasti bakal suka."
Pak Abraham begitu yakin dengan kandidat yang dia bicarakan. Pastilah pak Abraham sudah sangat mengenal dia sampai-sampai dia begitu percaya diri seperti sekarang ini.
"Oke deh, mama tunggu ya."
"Permisi!" sapa Aditya meskipun dia melihat pak Abraham ada di ruang tengah bersama sang istri dan tengah mengobrol tentang Devan. Lebih tepatnya tentang Devan yang ingin mereka jodohkan.
Pak Abraham juga Susan menoleh secara bersamaan setelah mendengar suara dari Aditya yang datang.
"Ya!" Susan beranjak dan menghampiri.
"Eh, kamu...? nak Aditya ya!" Susan begitu senang bisa melihat Aditya lagi. Sahabat Devan sejak SMA.
"Iya, Tante," dengan penuh hormat Aditya menyalami.
"Siapa, Ma!" teriak pak Abraham dia juga menyusul untuk melihat langsung siapa yang datang.
"Siang Om," sapa Aditya beralih menyalami pak Abraham yang masih mengingat-ingat, "Aditya, Om."
"Ohh, Aditya! ayo masuk-masuk," begitu antusias pak Abraham mengajak Aditya masuk ke dalam rumahnya. Bagaimana mungkin mereka akan menolak kedatangannya karena Aditya adalah teman terbaik Devan waktu itu.
Ketiganya duduk di tempat yang tadi, mengobrol tentang pekerjaan Aditya sekarang dan semuanya. Bahkan kemana saja Aditya selama ini pak Abraham juga tanyakan.
"Oh iya, Om. Di mana Devan? Hem, denger-denger dia sudah menikah kok tidak undang Aditya?" tanya Aditya memancing.
Pak Abraham juga Susan langsung membelalakkan matanya mendengar kalau Devan sudah menikah. Mana mungkin anak mereka sudah menikah tapi mereka tidak tau.
"Menikah? hahaha, kamu ada-ada saja, Dit. Devan belum menikah."
"Tapi, kemarin saya bertemu dengannya dia bersama seorang wanita dan anak kecil di rumah sakit. Dia juga bilang itu adalah anak dan istrinya?"
Aditya terus mengulik kebenaran Devan dari orang tuanya sendiri. Jika orang tuanya yang mengatakan pasti itu benar kan?
"Benarkah?" pak Abraham nampak terkejut dengan berita yang Aditya bawa saat ini, begitu juga dengan Susan yang sangat tidak percaya.
"Om tidak tau?"
"Jangan-jangan Devan menikah diam-diam kali, Om." imbuhnya.
Semakin menjadi Aditya mengatakan itu membuat kedua orang tua Devan semakin tak penasaran.
'Kena kamu Devan. Kamu ketahuan berbohong, Nayla bukan istrimu begitu juga dengan Ara, dia bukan anakmu. Apa yang harusnya menjadi milikku akan tetap menjadi milikku, Devan. Kamu tidak berhak mendapatkannya. Kamu akan kalah sekarang dan aku yang akan menang.'
Aditya menyeringai dalam kata-kata yang keluar di dalam hatinya. Dia yakin akan menang dari Devan untuk sekarang. Dia akan dapatkan apa yang memang sudah menjadi seharusnya. Entah itu Nayla dan Ara atau hanya Ara.
Melihat kedua orang tua Devan yang masih dalam keterkejutan membuat Aditya begitu bahagia. Dia sangat senang sekarang, akhirnya informasi itu dia dapatkan.
--------Normal------
Bersambung...
◎◎✧༺♥༻✧◎◎