Pelita Hati Bunda

Pelita Hati Bunda
Tugas Andri dan Mika



❃❃✧༺♥༻✧❃❃


Sesekali Mika menoleh ke arah laki-laki yang ada di belakangnya, berjalan dengan pelan membuntuti Mika yang begitu acuh padanya. Setiap Mika berhenti laki-laki itu juga berhenti dia terus mengikuti apa yang Mika lakukan.


"Kenapa kamu?!" sinis Mika berbicara. Nadanya yang selalu saja ketus itulah yang membuat dia jauh dari teman-teman laki-laki. Dan itu juga yang membuat Mika masih jomblo sampai sekarang.


"Hem," laki-laki itu hanya menunduk dan sesekali melirik dengan malu-malu juga sesekali membenarkan kacamata yang selalu melekat menjadi alat bantu untuk pandangannya itu.


Kacamatanya memang belum begitu tebal tapi sangat yakin alat itu sangat membantu dan jika tidak ada mungkin apa yang dia lakukan tidak akan berjalan dengan baik.


"Ham hem, ham hem..." Mika menggeleng dengan kasar. Dia sangat kesal melihat laki-laki yang tidak bisa tegas seperti orang yang ada di hadapannya ini.


Dengan cepat Mika kembali berjalan menuju ke arah ruangan yang laki-laki itu tunjukkan padanya. Dan seperti sebelumnya, saat Mika berjalan laki-laki itu juga berjalan dan kembali membuntutinya.


Mika bersama laki-laki itu masuk di ruangan yang sudah di tentukan, terlihat Devan sudah duduk dengan diam di tempat yang biasanya. Duduk dengan memunggungi pintu.


Berdiri dengan diam juga menunduk berdampingan dengan laki-laki itu. Mika menoleh dengan melirik kecil ke arah laki-laki itu.


Laki-laki itu hanya diam dan tidak membalas apapun, dia terus bersikap biasa dengan wajah datarnya.


"Mik, berapa banyak kamu mengenal Aditya?"


"Bagaimana hubungan dia dulu dengan Nayla?"


Perlahan Devan membalik. Punggungnya bersandar dan membuatnya seperti setengah rebahan, kakinya saling tumpang dengan begitu gagahnya. Sementara kedua tangan saling menyatu dan berada di bawah dagunya juga mata yang langsung memandang ke arah Mika juga laki-laki tersebut.


"Ndri, cari tahu semua tentang Aditya melalui Mika. Saya ingin semua berjalan sesuai dengan yang saya inginkan juga tentu dengan waktu yang singkat. Kamu paham?" ucap Devan dengan begitu jelas kepada asisten barunya tersebut.


Andri Kurniawan, asisten baru Devan yang baru beberapa hari bekerja dengan dirinya tetapi bukan berarti dia baru mengenal karena Andri adalah teman lama Devan.


Andri adalah salah satu teman yang dapat dipercaya oleh Devan dalam hal apapun juga. Sebenarnya mereka dulu berteman dengan Aditya juga tetapi nasib Andri tidak seberuntung Devan juga Aditya yang sekarang sama-sama sukses meski dengan jalan yang berbeda, Devan mendapatkan jabatan tinggi karena dia adalah anak dari pendiri perusahaan Gudia sementara Aditya dia mendapatkan kedudukan tinggi dengan cara menikahi anak dari pendiri perusahaan Pratama.


Meski tidak seberuntung Aditya tetapi Andri sangat bangga pada dirinya sendiri setidaknya dia bisa mencapai kedudukan saat ini karena kerja kerasnya bukan dengan jalan pintas.


Devan juga menerima Andri bukan karena dia sahabatnya melainkan karena kinerjanya memang sangat bagus dan bisa selalu diandalkan. Andri juga sangat cekatan dalam hal apapun juga dapat dipercaya tidak pernah mengecewakan Devan sama sekali dari dulu hingga sekarang.


"Baik, Tuan," jawab Andri. Meski Andri terlihat seperti laki-laki cupu karena memakai kacamata tapi kenyataannya dia sangat tegas dalam berbicara, hal itu tentu membuat Mika sempat terkejut, Dia pikir laki-laki ini tidak sejentle sekarang tapi kenyataannya dia salah.


"Dan kamu Mika, kamu harus bisa bekerja sama dan membantu Andri dalam tugas yang sekarang ini. Kita tidak bisa biarkan Aditya menang dan menghancurkan Perusahaan kita apalagi dia ingin menghancurkan kebahagiaan sahabatmu sendiri Nayla. Bisa kamu lakukan itu kan?"


Pertanyaan Devan begitu menegaskan kepada Mika bahkan saat dia mengatakan dia sudah mengganti posisinya dengan duduk tegak dan menjadikan kedua tangan menjadi tiang untuk dagunya sendiri.


"Andri kamu jelaskan semua tugas Mika dan lakukan semuanya dengan cepat. Saya tidak mau masalah ini semakin berlarut-larut dan Aditya merasa menang. Dia harus sadar diri bahwa dia tidak akan pernah melawanku."


"Baik, Tuan. Semua akan saya lakukan. Perintah anda akan terjadi secepatnya."


Sebenarnya Devan tidak menginginkan Andri selalu memanggilnya dengan sebutan tuan karena mereka adalah sahabat, tetapi Andri tidak berpikir seperti itu karena dia memang menyadari bahwa dirinya adalah anak buah dari Devan ketika berada di kantor mungkin akan berbeda jika berada di luar kantor.


"Sekarang pergilah," titah Devan.


Andri mengangguk patuh, dia sekejap menoleh ke arah Mika seolah mengisyaratkan untuk Mika mengikuti dirinya.


"Hem?" Mika masih bingung, dia tak mengerti.


"Apakah kamu akan kesini terus?" terdengar ucapan Andri sangat dingin, kali ini caranya berbicara membuat Mika terkejut, bisa seperti itu ya?


Mika masih harus memahami semua sikap Andri. Dari awal bertemu sampai sekarang sudah beberapa sikap yang Andri tunjukan, sikap mana yang sebenarnya Andri miliki.


Andri langsung membalikkan badan untuk segera pergi dari sana, dia pikir Mika sudah tau apa yang dia maksud tapi kenyataannya? Mika sama sekali belum tahu apa yang dimaksud oleh Andri hingga dia terdiam diri meski Andri sudah melangkah untuk pergi dari sana.


Andri menghentikan langkah dan juga menoleh karena merasa tidak ada pergerakan apapun dari Mika, dan benar saja Mika masih terdiam diri dengan wajah yang terlihat bingung menatapnya.


Andri kembali mundur dan sontak tangannya langsung menggandeng tangan Mika dan menariknya, semua itu dilakukan karena Devan yang terus memandang Mika yang tak kunjung pergi.


"Eh, apa-apaan sih kamu!" Mika berontak setelah sampai di luar. Dia benar tidak sadar dengan apa yang telah dia lakukan di dalam tadi dan juga tidak sadar mendapatkan tatapan tajam dari bos besarnya.


Dengan gerakan kaku Andri melepaskan pergelangan tangan Mika. Sejenak tangan Andri tetap ada di sana sementara Mika? Mika tangannya sudah dia jauhkan dari Andri.


"Tidak baik kamu melamun di depan tuan Devan. Jika kamu masih ingin bekerja di sini dan tidak mendapatkan teguran darinya kamu harus bisa menjaga sikap mu."


Mata Mika membulat begitu lebar mendengar perkataan dari Andri. Baru kali ini ada laki-laki yang berani menegur akan sikapnya karena biasanya tidak ada yang berani kepadanya. Mungkin karena sikap keras juga tomboy dari Mika yang sesekali diperlihatkan kepada semua orang.


"Jangan melotot seperti itu, lebih baik kita bicarakan rencana dari tugas kita sekarang ini. Tapi jika kamu masih mau bekerja di sini."


Mika masih terperangah meski Andri sudah mulai melangkah pergi.


"Hey!" teriaknya dan langsung melangkah membuntuti Andri.


◎◎✧༺♥༻✧◎◎


Bersambung....