Pelita Hati Bunda

Pelita Hati Bunda
Pemaksaan



❃❃✧༺♥༻✧❃❃


Selalu saja pak Devan melakukan semua yang dia inginkan tanpa memikirkan hati orang yang benar-benar telah dia lukai sebelumnya.


Dengan begitu kekeuhnya dia membereskan semua barang punyaku dan memasukkan ke dalam koper yang sebelumnya koper tersebut ada di atas lemari. Tau-taunya dia kalau koper itu ada di sana, ataukah mungkin dia sudah mengawasi semuanya saat menolong saat aku pingsan waktu itu?


Dia terus mondar-mandir ke_sana kemari untuk mengambil semua dan memasukkan dengan asal, sementara aku sendiri juga terus mondar-mandir mengikutinya karena ingin menghentikan kegilaannya. Ya! Dia benar-benar sangat gila menurutku.


Tak semudah itu membawa seorang perempuan untuk masuk ke dalam rumahnya apalagi untuk tinggal bersama. Semua harus dengan cara yang benar dan juga harus memiliki hubungan yang jelas.


Aku tidak mau kalau sampai ada yang mengatakan kalau kami kumpul kebo karena tinggal di rumah yang seatap dengan laki-laki yang bukan pasangan.


Meski pada dasarnya kami tidak mungkin melakukan apapun di dalam rumah dan juga akan tinggal di kamar yang berbeda tapi para netizen tidak akan melihat itu kan?


Orang yang membenci akan selalu mencari-cari kelemahan di setiap kesempatan. Dan aku sangat yakin akan ada masalah seperti itu di kemudian hari.


"Pak, hentikan kegilaan bapak ini. Saya tidak mungkin tinggal bersama bapak!" kataku terus saja melengking tinggi namun dari tadi tak ada satu kata pun dariku yang dia gubris.


Pak Devan terus diam dengan melakukan apa yang dia kehendaki.


Lemari terbuka lebar dan juga sudah kosong, tak ada satupun kain di dalamnya. Begitu juga dengan meja rias ku yang tak banyak alat make-up sekarang juga sudah kosong, melompong.


"Pak, saya mohon! Hentikan semua ini, dan dengarkan apa kataku. Aku tidak mungkin ikut bapak!" Lagi aku katakan tapi pak Devan masih saja tidak peduli.


Koper di tutup begitu rapat, di turunkan dari ranjang dan langsung di tarik olehnya untuk di bawa keluar kamar. Sepertinya pak Devan memang tidak main-main dengan perkataannya.


"Pak!" Aku ikut berlari keluar. Kenapa kakinya cepat sekali melangkah sampai-sampai aku begitu kewalahan untuk mengejarnya, padahal rumah ini juga tidak besar tapi mungkin karena aku sudah terus mondar-mandir tadi jadi sekarang merasa lelah.


"Kembalikan barang-barang ku," Aku berdiri di depan pak Devan dengan mata melotot tajam ke arahnya, menahan koper supaya tak bisa lagi berjalan.


"Lebih baik bapak pergi dari rumah ini dan jangan ganggu lagi kenyamanan kami. Kami tidak akan pernah ikut bapak dan tidak akan pernah," kataku menegaskan.


Bukannya takut tapi pak Devan malah tersenyum. Apakan dia begitu senang? Apakah dia merasa menang? Ataukah dia merasa semua yang aku katakan hanya sebuah lelucon saja, sampai-sampai dia tersenyum seperti itu?


Koper dia lepaskan dengan begitu santai, tanpa mengatakan apapun dia melangkah untuk menuju kamar Ara. Dia masuk di sana.


Aku kembali menarik koperku dan aku bawa masuk lagi ke kamar aku tidak mau dia benar-benar memaksa kami untuk ikut dengannya dengan cara paksa.


"Dasar laki-laki nggak waras. Dia pikir bisa memaksa kami begitu saja? Tidak! Saya tidak akan biarkan dia mengikat kebebasan kami."


Amarah begitu sangat besar mengingat semua yang telah dia lakukan. Dia benar-benar laki-laki paling gila yang pernah aku temui, bahkan mas Aditya tidak pernah segila ini.


Aku kembali keluar untuk mencegah dia membawa Ara. Tidak akan aku biarkan dia membawa Ara yang tak tau apapun.


Tapi baru saja keluar aku di kejutkan dengan pak Devan yang sudah sampai di pintu dengan menggendong Ara dan juga menarik koper milik Ara yang aku yakini pasti sudah penuh dengan barang-barang Ara.


"Pak Devan!" aku berteriak memanggil tapi dia tetap berjalan.


"Ayah om, bunda kenapa?" Ara yang sangat polos itu berbicara.


"Ara! Kembali pada bunda!" Aku lari untuk mengejar mereka tak akan aku biarkan pak Devan membawa Ara begitu saja. Ara adalah harta terbesar yang aku punya bagaimana mungkin aku akan membiarkan orang asing membawanya.


Orang asing yang kadang baik tapi kadang menyeramkan. Entah seperti apa sebenarnya perilakunya itu.


Aku lihat pak Devan sudah membuka pintu mobil dan memasukkan Ara di sana. Aku semakin panik dan aku percepat langkah ku. Aku benar-benar takut pak Devan akan membawa Ara pergi diri sini.


"Ara sayang, kamu tunggu sebentar di sini ya. Ayah om mau ambil barang-barang bunda. Barang-barang bunda kan banyak jadi bunda pasti tidak akan kuat."


Begitu manis perkataannya, membuat Ara menurut dan duduk menunggu di mobil dengan menoleh ke arah jendela.


Pak Devan menutup pintu dengan sangat pelan lalu melangkah untuk masuk kembali.


Pak Devan tetap diam saat kami berpapasan dia hanya tersenyum meski melihat ku yang begitu marah.


Namun saat kami saling memunggungi pak Devan mengatakan sesuatu dan sangat jelas di telinga ku.


"Kamu sangat menggemaskan, Nay. Aku suka itu," katanya.


Aku menoleh dengan sebal tapi pak Devan sudah melaju dan masuk ke rumah. Aku melihat mbok Darmi begitu takut, dia diam dan tak berani melakukan apapun apalagi setelah mendapat bentakan dari pak Devan.


"Jangan coba-coba ikut campur dengan urusan ku atau kamu akan menyesal," itulah bunyinya.


Nyali mbok Darmi seketika menciut mendengar itu, awalnya dia ingin membantu tapi setelah mendengarnya dia langsung diam terpaku di ruang tengah.


Tak peduli apa yang akan pak Devan ambil di dalam aku berlari menghampiri Ara.


Ara begitu bahagia, dia sangat semangat dan memintaku untuk masuk. Padahal yang sebenarnya aku ingin mengajak Ara turun dari mobil dan kembali masuk.


"Ara sayang, kita tidak bisa ikut dia. Rumah kita di sini, Sayang."


Perlahan aku berikan pengertian semoga saja Ara tidak terkena bujuk rayu pak Devan.


"Iya, rumah kita memang di sini bunda. Tapi kita akan pindah ke rumah yang lebih bagus. Ayo bunda," ajaknya lagi.


Aku buka pintu mobilnya dan aku tuntun Ara dengan perlahan untuk turun.


"Tidak sayang, rumah kita di sini dan akan selalu di sini. Kalau kita pergi nanti kalau Ayah pulang dan mencari kita bagaimana?"


Dadaku sesak menjadikan mas Aditya sebagai alasan untuk bisa membuat Ara menurut. Aku tau itu tidak akan mungkin tapi aku lebih tidak mungkin lagi jika ikut dengan pak Devan.


"Iya ya, kalau Ayah pulang bagaimana?" terlihat wajahnya sangat kecewa.


Aku tuntun dia perlahan ketika dia dalam posisi bimbang seperti ini. Ya Allah, aku merasa sangat berdosa dengan Ara, lagi-lagi aku harus mengatakan hal kebohongan yang tidak akan pernah menjadi mungkin apalagi menjadi nyata.


Kami sudah kembali sampai emperan rumah tapi pak Devan kembali keluar dengan membawa koper ku lagi.


Nih orang benar-benar pengen aku getok pakai centong biar kepalanya sadar.


"Ara sayang, kamu ikut mbok sebentar ya," pintaku.


Ara terlihat sangat bimbang untuk maju dan menghampiri mbok Darmi atau mungkin kembali untuk mengejar pak Devan yang sudah melaju ke arah mobil dan membuka bagasi untuk memasukkan koper punyaku dan juga punya Ara.


Ara melepaskan tangan aku merasa lega karena dia juga sudah perlahan melangkah menuju mbok Darmi tapi nyatanya langkahnya begitu pelan.


"Sayang, ke mbok dulu sekarang," kataku lagi yang masih berusaha lembut.


Kalau pak Devan bisa meluluhkan hati Ara dengan kelembutan aku juga bisa kan? Apalagi aku adalah ibunya.


Tak tau pergerakan apa yang di lakukan oleh pak Devan aku tak melihat karena ingin fokus kepada Ara. Tapi tiba-tiba....


"Akk! Pak Devan jangan keterlaluan, pak!"


Aku berontak ketika pak Devan tiba-tiba mengangkat ku selayaknya karung beras.


Aku pukul punggungnya berkali-kali dan aku jambak rambutnya tanpa rasa takut tapi itu tak bisa membuat pak Devan menghentikan kegilaannya. Dia benar-benar gila.


"Ara sayang, ayo kita berangkat. Bunda capek banget kayaknya jadi harus di gendong," katanya.


Aku melihat Ara kembali tersenyum. Dia kembali berbalik dan mengejar pak Devan yang membawa ku dengan cara yang begitu menyedihkan. Aku di samakan dengan karung beras.


"Pak, lepaskan! Turunkan saya. Pak!" aku tetap berontak tapi sama sekali tidak di pedulikan.


Begitu enteng pak Devan membawa ku. Seolah tidak ada beban meski aku terus berontak dan terus berusaha untuk membuat dia kesakitan.


"Ara sayang, ayo masuk," pintanya setelah membuka pintu mobilnya lagi.


"Baik ayah om," Ara menurut sekali. Dia masuk ke dalam mobil dengan begitu senang dan tidak ada keraguan sama sekali.


"Pak! Lepaskan saya!" Kembali aku berteriak dan kini benar, aku di lepaskan dan di turunkan namun di dalam mobil.


Cepat pak Devan menutupnya dan dia langsung berlari menuju tempat pengemudi.


Aku berusaha untuk membuka pintunya tapi ternyata pak Devan begitu gesit dan sudah masuk mobil lalu mengunci semua pintu.


Sial, aku tak akan bisa keluar setelah ini.


"Kita berangkat Ara sayang," katanya.


Dari tadi dia hanya terus bicara dengan Ara dan sama sekali tidak mendengar atau menjawab semua perkataan ku. Benar-benar keterlaluan.


Mobil berjalan dan semua usaha ku telah gagal. Aku dan juga Ara benar-benar di bawa pak Devan. Sudah seperti penculikan.


'Maafkan aku, Mbok,' batinku yang sudah pasrah. Aku merasa sangat bersalah ketika melihat mbok Darmi yang terdiam di depan pintu dia juga terlihat begitu lemas.


Mungkin saja mbok Darmi dan aku bisa berteriak meminta bantuan kepada orang-orang, tapi seperti biasa kan, di jam-jam seperti sekarang ini tak banyak yang ada di rumah, yang ada hanya para anak-anak dan juga beberapa ibu-ibu yang benar-benar mengabdikan diri menjadi ibu rumah tangga saja.


◎◎✧༺♥༻✧◎◎


Bersambung....