Pelita Hati Bunda

Pelita Hati Bunda
Tidak terima



❃❃✧༺♥༻✧❃❃


Terlihat begitu kesal bin marah Aditya ketika perdebatan di dalam pengadilan dia tidak mendapatkan kesempatan terbaiknya untuk bisa menang. Lawyer Aditya memang sangat bagus tetapi tidak bisa mengalahkan lawyer yang membantu Devan untuk menangani kasus hak asuh atas Ara.


Tangannya mengepal ketika keluar dari tepat persidangan, dia yang tadi optimis akan mendapatkan kemenangan di pertemuan pertama ini nyatanya tidak bisa, dia tidak mendapat celah apapun.


Devan terus berjalan dengan santai, dengan senyum penuh kebahagiaan meski tidak dia katakan. Dia akan selalu pastikan dia akan menang dan bukan kali ini saja, dia akan dapatkan Ara secara hukum.


Baru saja sampai di tempat parkir Aditya langsung bergerak cepat, berdiri di hadapan Devan dan mencengkram kemejanya. Mendorong Devan dan membuat punggungnya membentur mobil milik Devan sendiri.


"Kami jangan berpikir bisa menang dari, Devan. Kali ini aku biarkan kamu menang, tapi besok? Aku yang akan mendapatkan Ara. Dia anakku, dan akan selalu seperti itu."


Tatapan mata Aditya begitu geram, dia sangat marah dengan kekalahannya.


"Kamu harus tau, Devan. Seorang ayah tidak akan pernah bisa di pisahkan dengan anaknya dari siapapun. Jadi saya mohon padamu, mengalahlah sebelum kamu malu karena kalah."


Aditya begitu tegas dan begitu berani memberikan ancaman pada Devan, meski dia diam saja tapi bukan berarti dia kalah dari Aditya. Dia hanya menunggu waktu saja yang pas dan mendengar apapun yang ingin Aditya katakan.


Dia berhak mengeluarkan apapun unek-uneknya yang ada di dalam kepalanya, dan Devan akan mendengarkannya.


"Mundurlah dan serahkan Ara padaku, bahkan serahkan juga Nayla."


Devan hanya mengeluarkan smirk sinis untuk Aditya, menyerahkan? Apakah Aditya bermimpi sekarang?


Aditya tau kalau Devan tidak akan pernah memberikan apapun yang sudah dia dapat pada orang lain. Dia akan berjuang keras untuk bisa menahannya dan juga akan berjuang keras untuk mempertahankan.


"Menyerahkan? Hem, tidurlah dulu Aditya mungkin aku akan menyerahkan mereka dalam mimpi."


"Oh salah! Dalam mimpi pun tidak akan aku serahkan siapapun atau apapun yang sudah menjadi milikku. Dia memang milikmu, tapi itu dulu sebelum jamu membuangnya. Dan sekarang? Sekarang mereka adalah milikku dan akan selalu seperti itu."


Begitu santai Devan mengatakan, ucapannya begitu tenang tidak seperti Aditya yang dengan nada marahnya.


Tangan Devan terangkat, mencengkram pergelangan tangan Aditya dan melepaskan tangannya dari kemejanya. Menahan dalam beberapa detik saja lalu melepaskan dengan sedikit kasar.


"Kamu boleh berusaha, dan aku juga akan berusaha. Kita sama-sama berusaha sekuat kita masing-masing, dan saya harap, kamu tidak dengan curang melakukannya."


Devan begitu menegaskan pada Aditya. Devan sangat mengenal Aditya, dia pasti akan menggunakan cara-cara kotor untuk bisa mendapatkan apa yang dia ingin tapi Devan tidak akan tinggal diam. Aditya bisa melakukan apapun yang jelas dia akan Devan juga tidak akan pernah membiarkan.


"Oh iya, Adit. Puas-puasin dulu menikmati kebebasan mu, sebelum kamu tak bisa lagi menghirup udara kebebasan."


Mobil Devan langsung melaju dengan kecepatan tinggi dan meninggalkan Aditya yang masih melongo tak mengerti dengan apa yang Devan maksud.


Kebebasan? Kebebasan bagaimana maksudnya. Aditya sungguh tidak mengetahui apapun yang Devan maksud. Sungguh penuh teka-teki.


Kepergian Devan membuat Aditya semakin marah, matanya kian melotot memandangi mobil Devan yang semakin jauh, bahkan hingga tidak terlihat.


"Kamu pikir kamu bisa menang melawan ku, Devan. Tidak! Aku tidak akan kalah tapi kamu yang akan kalah," gumamnya.


"Pak, jangan membuat masalah di sini atau kesempatan tidak akan pak Aditya dapatkan."


Aditya menoleh dengan tatapan sinis, lawyernya yang menasehati dirinya. Tentu, seharusnya itu tidak di lakukan oleh Aditya. Dia malah merusak citranya sendiri dengan berlaku kasar.


Bukannya terimakasih tapi Aditya malah melepaskan tangannya dengan kasar ketika lawyer itu memegangi lengannya. Sungguh, Aditya tidak bisa berbuat baik pada siapapun bahkan pada orang yang berusaha keras untuk membantunya juga.


"Jangan ikut campur urusanku!" ucapannya begitu menegaskan, matanya melotot pada lawyernya yang akhirnya hanya bisa terdiam.


Seandainya bukan karena sudah menandatangani kesepakatan mungkin lawyer itu sudah meninggalkan Aditya karena perlakuan buruknya.


Sementara Devan. Devan begitu senang bisa mengalahkan Aditya di pertama kali persidangan ini. Dia sama sekali tidak memberikan kesempatan sama sekali.


"Lakukan saja apa yang ingin kamu lakukan, Dit. Tapi aku pastikan kamu tidak akan pernah menang. Aku hanya ingin bermain-main saja dengan mu, Dit. Tapi sebentar lagi..., bom..., kamu tidak akan bisa bergerak lagi."


Devan menyeringai. Dia tidak takut dengan apapun gertakan yang Aditya berikan padanya, dia punya senjata ampuh yang akan dia gunakan, kelemahan Aditya, sua kelemahannya.


"Andri, ke perusahaan sekarang," ucap Devan.


"Baik, Tuan." Andri patuh dan menambah laju mobilnya lagi supaya lebih cepat sampai ke perusahaan.


◎◎✧༺♥༻✧◎◎


Bersambung....