Pelita Hati Bunda

Pelita Hati Bunda
Tetap mengharapkan



❃❃✧༺♥༻✧❃❃


Amarah sangat besar, dan mata tak pernah berkedip menatap tajam ke arah Aditya. Aku begitu marah. Kesal, marah dan semua rasa negatif muncul di dalam hati dan memenuhinya.


"Apa saja yang kamu berikan pada Ara Mas, racun!?" jelas aku berpikir seperti itu karena Ara gak pernah seperti ini sebelumnya.


"Bukan seperti itu, Nay. Hanya jajanan biasa saja."


"Jajanan! bahkan aku tak pernah mengizinkan Ara makan sembarangan. Mas tidak tau apa-apa dan sekarang? kau benar-benar ingin membunuh Ara, Mas!?"


"Nay, dia anakku! bagaimana mungkin aku akan membunuhnya!"


"Anak?! hem..." senyum ku begitu sinis mendengar kata anak dari bibir mas Aditya. Buat apa dia mengakui anak pada Ara baru sekarang, kapan saja ketika Ara benar-benar membutuhkan figur seorang ayah.


"Aku tidak tau karena kamu tidak pernah mengizinkan atau menjelaskan padaku, Nay?! kamu yang salah karena telah menyembunyikan semua dariku!"


Aditya benar-benar tak bisa berpikir dengan benar apalagi dengan baik. Dia yang bersalah tapi sekarang dia menyalahkan Nayla.


"Aku yang salah!?" tak habis pikir aku dengan perkataan mas Aditya ini. Benarkah aku yang salah?


"Ya, kamu yang salah!" ucapannya gak kalah keras menyalahkan aku yang dari dulu berjuang sendiri untuk membesarkan Ara. Selalu memastikan untuk Ara baik-baik saja dan bisa cukup dalam banyak hal, tapi sekarang? saat dia seperti ini mas Aditya malah menyalahkan ku? di mana hatinya, apakah dia memang tak punya yang namanya hati itu?


"Pergi! dan jangan pernah urusi aku ataupun Ara lagi. Jangan pernah datang apalagi berharap untuk bisa bertemu dengan Ara lagi. Kamu tidak pantas!"


Aku dorong dengan kasar tubuh kekar mas Aditya, dia jelas bisa menahannya karena tenaganya yang lebih kuat daripada tenagaku.


Dengan tak tau dirinya mas Aditya malah menangkap kedua tanganku dan menahan dengan kuat dengan tangannya. Matanya menatap ku dengan penuh penyesalan tapi juga penuh harap.


"Nay, aku minta maaf. Dan aku mohon, kembalilah padaku. Kita bisa hidup bersama-sama lagi dan bahagia bertiga bersama Ara. Aku janji tidak akan pernah meninggalkan mu dan Ara lagi. Aku mohon, beri aku kesempatan."


Begitu besar harapan mas Aditya untuk aku kembali padanya. Menerima dan kembali menjalani hidup bersama lagi dengan dia.


"Mimpi!" mataku nyalang penuh kebencian ke arahnya dengan usaha melepaskan tangan pada cengkeramannya.


"Lepas!" aku berontak dengan sekuat tenaga tapi tetap saja tak bisa berhasil, tenaganya k


lebih besar.


"Tidak, Nay. Aku tidak akan pernah melepaskan mu. Aku mencintaimu, Nay."


"Cinta! makan itu cinta!" mas Aditya benar-benar tak ada niat untuk melepaskan ku, bahkan dia lebih kuat mencengkram hingga membuat pergelangan ku terasa sangat sakit.


"Ayolah, Nay. Aku tau kamu masih cinta kan sama aku? kita bangun lagi dari awal dan kita bahagia bersama-sama. Aku janji tidak akan meninggalkan mu, aku janji!"


Tiba-tiba ada sebuah tangan yang menarik kerah mas Aditya memisah kami berdua dan langsung memukulnya.


Bugh...


Aku sangat terkejut melihatnya tapi itu tak lama setelah tau siapa yang telah melakukannya, Mas Devan datang.


"Janji, nikmati saja janji mu. Orang sepertimu tak akan pernah bisa mendapatkan kepercayaan lagi dari siapapun!"


"Dan, Ya! jangan pernah berharap lagi kamu untuk mengambil Ara dan Nayla dariku karena mereka adalah milik ku."


"Milikmu? mereka milikku! Ara adalah anakku dan Nayla, dia juga cintaku. Kamu tak pantas mendapatkan mereka!"


Mas Aditya ternyata tak mau kalah, dia tetap menginginkan kami untuk bisa kembali kepadanya. Aku sangat yakin, pertarungan akan terjadi dari mereka berdua.


Tak di gubris apa yang mas Aditya ucapkan, Mas Devan kembali mencengkram kerah mas Aditya lalu menariknya dari tempat itu untuk mengajak dia keluar. Entah apa yang akan dia lakukan.


"Lepas Devan! lepas!" mas Aditya terus berteriak dengan terus berusaha melepaskan diri dari mas Devan yang terus menyeretnya tapi itu juga tidak dia hiraukan.


Mas Devan pasti sangat marah sekarang karena peringatannya kembali di abaikan oleh mas Aditya, dia sama sekali tidak takut dan bertindak semakin tak karuan.


Sebenarnya aku ingin mengejar mereka karena takut mereka akan berkelahi di luar tapi itu tidak terjadi karena dokter tiba-tiba keluar dari ruangan Ara.


"Dengan orang tua pasien?" mendengar itu jelas aku lebih memilih untuk tetap tinggal dan meminta penjelasan apa yang sebenarnya terjadi pada Ara dan mengetahui bagaimana keadaannya.


"Saya ibunya, Dok." aku berlari menghampiri dokter yang berdiri di depan pintu.


"Begini Bu. Untuk sementara tak ada yang serius dengan keadaan anak ibu, tetapi anak ibu masih harus mengikuti pemeriksaan lebih lanjut supaya kita bisa tau apa yang sebenarnya terjadi. Apakah hanya karena keracunan makanan saja atau ada hal lain."


Rasanya sangat lega karena tak ada hal yang serius yang terjadi pada Ara, aku sudah sangat ketakutan karena Ara yang tiba-tiba pingsan karena makanan.


"Baik, Dok. Hem, sekarang saya bisa menemui anak saya kan Dok?" tanyaku dengan begitu buru-buru. Aku sangat tak sabar ingin bisa melihat Ara.


"Bisa, Bu. Tapi anak ibu masih pingsan mungkin sebentar lagi pasti anak ibu akan sadar."


Mendengar hal itu aku langsung berlari masuk untuk melihat Ara dan tak lagi menghiraukan dokter lagi.


Seketika air mata turun melihat Ara yang terbaring tak sadarkan diri, tubuh seketika lemas dan tak berdaya.


Langkah tertatih menghampiri Ara, duduk di sebelahnya dan juga ku raih tangannya yang mungil dan sangat lemas itu.


Ku kecup berkali-kali dengan satu tangan membelai wajah hingga rambutnya. Hati seorang Ibu benar-benar sangat hancur. Ini adalah kehancuran dari seorang ibu, tak ada kehancuran yang sangat nyata dari seorang ibu kecuali melihat anaknya tak berdaya seperti sekarang ini.


"Sayang, bangunlah. Bunda sudah datang." suara ku begitu lirih seakan tak mampu untuk bersuara lebih keras lagi.


"Ayo bangun, Sayang." air mata terus mengalir dengan harapan ingin melihat Ara bangun.


Aku tunggu dengan harapan, Ara masih saja belum membuka mata.


"Bu_bunda..." suara mungil itu perlahan aku dengar dan sangat lirih. Meski sangat lirih namun tetap aku dengar dengan jelas.


"Sayang," seketika aku menoleh ke arah Ara dan matanya perlahan mulai terbuka dengan lebar di tengah-tengah wajahnya yang sangat pucat.


"Sayang," aku kembali berdiri ku hujani kecupan di seluruh wajahnya.


"Bunda, Ara pusing," keluhnya.


◎◎✧༺♥༻✧◎◎


bersambung....