
❃❃✧༺♥༻✧❃❃
"Mas, tumben mas begitu buru-buru untuk pergi ke kantor, apa ada masalah?" tanyaku. Tangan masih sibuk dengan dasi yang mulai aku pakaikan pada Mas Devan, bertanya dengan serius karena pagi ini Mas Devan juga terlihat sangat berbeda. Ada apa?
"Tidak, tidak ada masalah apapun. Hanya saja Mas memang harus berangkat lebih pagi hari ini, ada meeting," jawab Mas Devan.
Aku menatap matanya mantap, mencari kejujuran di pancaran netra hitamnya tersebut. Seperti biasa, dia tampak biasa-biasa saja tak perlu ada yang di ragukan lagi, tapi kenapa hatiku tetap mengatakan kalau ada sesuatu yang Mas Devan sembunyikan?
Apakah semua ini hanya perasaan ku saja?
"Oh, oh iya, Mas. Kemarin dokter bilang Ara harus mengikuti pengobatan dengan kemoterapi," ucapku memberitahu. Wajah ku tentu sudah terlihat sangat sedih sekarang. Bagaimana mungkin tidak akan sedih jika Ara harus menjalani pengobatan yang seperti itu, membayangkan saja aku sangat takut.
Mas Devan menatapku dengan begitu sedih juga. Kedua tangannya memegangi kedua bahuku sekarang dan dia sedikit menunduk supaya bisa sejajar denganku.
"Apapun yang di minta dokter, setujui saja jika itu memang yang terbaik. Jika dengan itu bisa membuat Ara kita sembuh kenapa tidak?"
Sebenarnya bukan hanya karena itu, jika masalah biaya aku yakin Mas Devan akan mencukupi semuanya, tapi dengan perubahan-perubahan yang mungkin akan terjadi pada Ara apakah aku akan sanggup untuk melihatnya?
"Tapi, Mas?" Tentu aku sangat ragu. Bagaimana kalau nanti Ara tidak bisa menerima perubahan pada dirinya setelah menjalani pengobatan itu?
"Yakinlah, dokter mengatakan itu karena itu yang terbaik untuk di lakukan. Kita serahkan semua pada dokter karena dia yang lebih tau mana yang terbaik untuk Ara. Kita hanya bisa terus berusaha dan berdoa, mendampingi Ara dalam kondisi apapun. Kamu paham kan?"
Aku mengangguk patuh, mungkin memang itu yang sudah seharusnya di lakukan.
"Baiklah, aku akan mengatakan ini pada dokter nanti supaya mereka segera mempersiapkan segalanya."
Tentu tidak mudah, tapi aku harus bisa kuat hati untuk mengizinkan semuanya di lakukan. Tugasku sebagai orang tua adalah berikhtiar untuk kesembuhan Ara, dan soal kesembuhan biarkan itu menjadi ketetapan dari Allah.
Kita sebagai hamba hanya bisa berserah dalam semua situasi yang Allah ciptakan, pasrah dengan segala takdir dan berusaha untuk menjadi hamba yang lebih baik.
Semua adalah ujian. Senang sedih, tawa tangis, kesehatan sakit juga harta dan semuanya adalah bentuk ujian dari-Nya, kita tidak tau apa yang akan kita terima untuk esok hari, jangankan esok hari, detik atau menit selanjutnya saka kita tidak pernah tau.
"Istriku yang cantik, sekarang tersenyumlah. Aku tidak bisa berangkat kerja kalau kamu cemberut seperti ini."
Aku benar-benar tersenyum setelah Mas Devan mengatakan hal itu, apalagi di tambah dengan jaringan telunjuknya yang mengacung dan menowel hidungku. Aku menghindar meski tetap saja berhasil menyentuhnya.
"Apa sih, Mas," ucapku seraya mengelak apa yang dia lakukan.
Mas Devan ikutan tersenyum melihat aku yang telah tersenyum lebih dulu. Tangannya kini beralih merengkuh kepala dan meninggalkan kecupan manis di kening.
Dalam beberapa detik saja bibir itu bertahan, merambat turun dengan begitu pelan dan berhenti tepat di bibir. Hingga akhirnya bibir menemukan bibir membuat suasana terasa berbeda.
"Ayah dan Bunda lagi ngapain?"
Mataku melotot, tangan reflek mendorong Mas Devan karena mendengar suara Ara. Astaghfirullah, aku melupakan kalau Ara juga ada di sini.
Aku jadi salah tingkah, memang tidak masalah karena yang tau hanya Ara, tapi Ara masih sangat kecil tidak seharusnya dia tau, iya kan?
"Tidak ngapa-ngapain, ayah sama bunda hanya sedang berbicara saja."
Mas Devan tersenyum, bertingkah biasa dan berjalan mendekati Ara.
"Oh, Ara pikir sedang main sesuatu? Padahal Ara pengen ikut, Ara bosan," ucapnya.
"Mau-mau!" Ara begitu antusias. Jelas saja dia mau, pastilah dia sangat bosan karena terus berada di dalam kamar terus dengan selang infus yang selalu saja melekat di tangan kirinya.
"Baiklah, sekarang ayah berangkat kerja dulu, nanti Ayah akan ajak Ara jalan-jalan keluar."
Cup...
Kecupan Mas Devan berikan pada Ara tepat di puncak kepalanya bukan itu saja, tapi di tambah dengan kedua pipinya secara bergantian.
Ara diam, dia sama sekali tidak protes dengan apa yang Mas Devan lakukan. Bahkan dia begitu menerimanya dengan bahagia.
"Aku berangkat dulu ya. Ingat, jangan khawatir, semua pasti akan baik-baik saja," ucap Mas Devan. Kembali dia menghampiri ku dan memberikan kecupan di kening untuk yang kedua kalinya.
"Hati-hati, Mas."
Ingin sekali aku mengantarkan sampai luar, tapi tidak mungkin aku meninggalkan Ara sendiri karena Sus Neni juga belum datang. Semalam dia pulang karena bilang sedang pusing, jadi aku yang menyuruhnya.
◎◎✧༺♥༻✧◎◎
POV AUTHOR...
Begitu sinis Aditya ketika bertemu dengan Devan. Ya! Ini adalah pertemuan mereka pertama kalinya di pengadilan untuk mengurus hak asuh atas Ara.
Mereka saling memperebutkan Ara, dua laki-laki yang seharusnya saat ini saling berpangku tangan untuk kesembuhan Ara tapi malah lain yang terjadi.
Semua ini juga karena Aditya, jika dia tidak meminta hak asuh Ara dari Nayla juga Devan saat ini Devan pasti tengah serius memikirkan bagaimana untuk bisa membuat Ara secepatnya sembuh.
Dengan di dampingi pengacara masing-masing keduanya berpapasan, mata mereka jelas seolah tengah mengibarkan bendera perang untuk memperebutkan sebuah mutiara. Dan mutiara itu adalah Ara. Mutiara yang lebih indah dari mutiara biasa.
"Kamu akan kalah, Devan," ucap Aditya. Matanya memandang dengan begitu sengit, dia benar-benar tidak suka dengan Devan sekarang padahal dulu mereka adalah sahabat yang kadang makan dan minum saja dalam satu wadah bersama.
"Aku, kalah?" Devan menyungging sinis, dia tidak akan pernah menerima kekalahan meski itu dari siapapun termasuk Aditya. Dia akan menang dan akan selalu seperti itu.
Telat Devan begitu kuat, dia akan menang dari Aditya. Bukan hanya memenangi hati Ara dan juga Nayla saja tapi dia akan mendapatkan semua hak yang seharusnya dari dapat oleh Aditya.
"Kamu boleh bermimpi, Dit. Itu hak kamu. Tapi untuk kemenangan? Hem! Kemenangan hanya akan selalu menjadi milikku."
"Bukan hanya kalah dari Ara dan Nayla saja, tapi kamu akan kalah dalam semua hal dalam kehidupan mu. Aku pastikan itu."
Devan berlalu, meninggalkan smirk dan membuat Aditya begitu kesal. Bukan hanya kesal saja, tapi Aditya merasa marah.
Jika saja ini bukan pengadilan, dia akan menantang Devan sebagai laki-laki sejati. Dan Aditya yakin dia yang akan menang.
"Kurang ajar, kamu berani mengancam ku? Kita lihat saja siapa yang akan kalah dalam hal ini."
Tentu Aditya tidak akan terima begitu saja, dia tidak akan menerima jika Devan yang menang, dia akan dapatkan Ara dan dia sangat yakin akan hal itu.
❃❃✧༺♥༻✧❃❃
Bersambung....