
❃❃✧༺♥༻✧❃❃
POV AUTHOR....
Di sinilah sekarang Devan juga pak Abraham berada, di ruang kerja Devan di rumah mewahnya tersebut. Tentu bukan karena tanpa alasan tetapi membicarakan tentang hubungan Devan dan juga Nayla yang sesungguhnya.
Pak Abraham terus menatap ke arah luar dari jendela dengan kedua tangan yang berada di dalam saku celana. Menatap pekarangan yang terdapat berbagai macam tumbuhan.
"Jadi, kalian berdua belum menikah? tapi kenapa Nayla ada di rumah mu. Dan kenapa anak itu memanggil kamu Ayah?"
Pertanyaannya terdengar begitu dingin, begitu jelas tengah menginterogasi Devan yang kini duduk di sofa yang tepat di belakang pak Abraham.
"Jelaskan semuanya pada papa, Dev. Jangan ada yang kamu sembunyikan lagi. Setau papa Nayla juga masih sendiri dan belum punya suami apalagi punya anak," Imbuhnya lagi dan masih dalam posisi yang sama.
Devan masih terdiam, dari mana dia akan memulai untuk mengatakan semua kepada papanya yang sudah lebih dulu mengenal Nayla. Apalagi pak Abraham mengenal Nayla dengan status yang lain yang masih seorang gadis dan belum pernah menikah sama seperti anaknya.
"Kenapa kamu hanya diam, apa tidak ada penjelasan untuk ini? Atau jangan-jangan kalian sebenarnya telah ada hubungan serius tapi di luar pernikahan? atau mungkin kalian berzina sampai-sampai kalian punya anak?" pak Abraham kini menoleh dan melangkah menuju tempat Devan dan duduk di sofa yang lain yang ada di hadapan Devan.
Devan langsung menggeleng, semua yang di katakan pak Abraham tidaklah benar. Mereka tidak berzina selama itu apalagi sampai melahirkan anak yaitu Ara. Memang Devan pernah melakukannya dengan Nayla tapi hanya sekali saja itupun terjadi karena kemarahan di dalam kesalahpahaman.
"Tidak, Pa. Devan tidak melakukan itu. Devan juga baru mengenal Nayla setelah menggantikan papa di perusahaan Gudia. Sebelum itu tidak pernah bertemu dan juga mengenalnya."
Devan mulai berani bicara menjelaskan semua yang menjadi kebenaran dia dan juga Nayla.
"Di mulai dari waktu itu tapi kamu sudah membawanya pulang ke rumah mu? kenapa, apakah kamu melakukan kesalahan, Dev?"
Mata pak Abraham begitu membulat menatap Devan yang kali ini terdiam. Apakah papanya akan memaafkan jika dia benar-benar telah melakukan kesalahan?
"Kenapa kamu diam, apakah itu artinya benar?" ucapan pak Abraham begitu menegaskan kepada Devan.
"Papa tidak pernah mengajarkan itu kepadamu, Dev. Bukankah papa selalu mengatakan kalau kamu harus menghargai dan menghormati yang namanya perempuan? kamu punya ibu, dan tidak menutup kemungkinan kamu juga akan punya anak perempuan bagaimana perasaan mu kalau ada orang yang telah melecehkan mereka! papa benar-benar kecewa kepadamu, Dev."
Pak Abraham begitu marah meski Devan belum mengatakan kalau itu memang pernah terjadi. Tapi, diamnya Devan bukankah itu sudah menjelaskan segalanya?
"Maaf, Pa. Devan benar-benar menyesal. Dan karena itulah Devan membawa Nayla ke rumah Devan, Pa."
Devan tertunduk antara menyesal dan juga takut. Memang yang dia lakukan ini sudah benar, dia ingin bertanggung jawab dengan semua yang sudah dia lakukan pada Nayla tapi tetap saja pak Abraham sangat menyayangkan ini terjadi.
"Lalu anak itu?" pak Abraham kembali menatap Devan dengan tajam.
"Dia anaknya Nayla, Pa."
Pak Abraham terkesiap, anak? bukankah Nayla yang dia kenal masih sendiri?
"Anak? apakah itu artinya dia sudah menikah?"
"Kamu benar-benar keterlaluan, Dev. Kamu akan menghancurkan rumah tangga orang lain."
Meski pak Abraham masih kecewa karena Nayla telah membohonginya tapi dia juga tidak membenarkan apa yang di lakukan Devan. Hubungan Nayla dan suaminya pasti akan hancur karena Devan anaknya.
"Iya kalau Nayla masih bersuami, Pa. Tapi kenyataannya Nayla sudah tidak berstatus sebagai istri. Suaminya sudah menceraikannya, Pa. Dan papa tau siapa mantan suaminya yang tega meninggalkannya dan membuat dia sampai memalsukan identitasnya supaya bisa masuk perusahaan Gudia?"
Pak Abraham begitu menunggu kelanjutan dari kata-kata Devan, tentu dia sangat penasaran dengan suami Nayla yang telah meninggalkan nya hingga membuat Nayla berbohong.
"Dia adalah Aditya Wilman. Teman baik Devan sendiri. Dia meninggalkan Nayla baru saja pernikahan mereka satu bulan dan dia menelantarkan Nayla sampai dia punya anak bahkan Aditya sendiri tidak tau kalau dia punya anak dengan Nayla. Karena itulah dia berbohong pada papa."
Pak Abraham sangat tak percaya kalau ternyata Aditya seperti itu. Kemarin dia datang ke rumah dan dia masih seperti dulu dia masih begitu baik dan juga memiliki sopan santun yang baik jadi bagaimana mungkin?
"Dan karena kebohongan itu juga yang membuat Devan gelap mata dan melakukan kesalahan pada Nayla, Pa. Devan minta maaf, Devan benar-benar khilaf."
Devan sangat menyesal karena telah melakukan kesalahan itu yang tak bisa di putar lagi untuk bisa di cegah supaya tidak terjadi.
"Apapun masalahnya tapi apa yang kamu lakukan padanya itu tetap tidak benar, Dev. Kamu salah karena telah menyakitinya."
"Bukan dengan papa kamu harus minta maaf, tapi pada Nayla. Dia yang telah kamu lukai." Pak Abraham menegaskan lagi.
"Apakah dia sudah memaafkan mu?" tanya pak Abraham dan Devan dengan cepat menggeleng.
Meski Nayla tidak pernah mengatakannya dan juga sudah sesekali tersenyum karena ulahnya tapi kata maaf itu belum Devan dapatkan, dia masih sangat marah dengan Devan.
Pak Abraham terlihat lemas antara kecewa juga marah. Punggungnya langsung bersandar di sandaran sofa dengan kedua tangan yang mengusap wajahnya kasar lalu mengacak rambutnya juga.
Jelas Nayla masih marah dengan Devan karena yang dia lakukan bukan sakit karena hanya dipukul saja dan melukai tubuhnya. Tapi semuanya yang dia sakiti, lahir batin Nayla terdampak akan apa yang dia lakukan.
Kekecewaan pada Nayla tidak lebih besar daripada kekecewaan pada Devan anaknya sendiri. Dia tidak pernah mengajarkan pada Devan untuk melukai wanita seperti ini. Ini benar-benar sudah sangat keterlaluan.
"Papa benar-benar sangat kecewa kepada mu, Dev. Perbuatan mu benar-benar sangat buruk," ucap Pak Abraham yang sepertinya tak bisa di toleran lagi.
"Papa memang sangat kecewa karena Nayla berbohong, apa yang dia lakukan juga tidak bisa di benarkan. Dia juga salah."
"Papa pikir dia perempuan yang benar-benar jujur dan baik-baik ternyata tidak semulus itu," imbuhnya lagi.
Tidak mereka ketahui ada sepasang mata yang melihat mereka dan telinganya yang mendengar pembicaraan mereka berdua. Dia adalah Nayla yang mengintip di pintu masuk ruangan itu yang sedikit terbuka.
Air matanya sudah berderai karena kekecewaan pak Abraham padanya, dia sudah tau ini akan terjadi tapi kenapa rasanya sangat menyakitkan.
Usaha yang telah dia lakukan selama ini karena ingin mencukupi kebutuhannya dan juga anaknya, dia tidak berniat untuk membohongi siapapun. Tapi mau bagaimana lagi, semua memang salah berbohong demi alasan apapun memang tidak bisa di benarkan.
"Kalian memang pantas kecewa padaku dan kesalahan ku juga tidak pantas untuk dimaafkan. Nayla tidak pantas di maafkan," gumam Nayla yang terus berderai air mata.
"Sebagai wanita yang baik dia harus bisa menjauhi semua kemungkinan apapun yang bisa terjadi padanya. Bukan malah sengaja seperti ini."
Suara pak Abraham terdengar semakin tidak menyukai Nayla, menumpahkan semua amarahnya di depan mata Nayla sendiri yang tidak dia ketahui.
"Tapi, Pa. Ini semua bukan murni kesalahannya saja. Semua ini gara suaminya yang tidak bertanggung jawab!" Devan mencoba untuk membela Nayla, karena di matanya memang bukan Nayla yang salah tapi Aditya.
"Apapun itu yang di lakukan adalah salah, Dev."
Kata-kata yang keluar dari pak Abraham membuat hati Nayla semakin sakit, dia juga merasa tak lagi bisa bertahan di rumah itu. Lagian apa yang bisa di pertahankan, tidak ada kan? Dia dan Devan juga tidak punya hubungan apapun.
"Semua memang aku yang salah, akulah akar dari semua masalah ini. Maafkan Nayla, Maaf," Nayla berlari dari sana menuju kamar dengan membawa niat untuk pergi secepatnya dari rumah itu.
Tentu Nayla merasa tidak pantas berada di antara orang-orang yang memiliki martabat yang baik seperti keluarga Devan.
Sementara di ruangan Devan, pak Abraham sudah mulai meredakan amarahnya dan kata-katanya sudah terdengar lembut.
"Terlepas dari kesalahan kamu dan Nayla, papa harap kamu tetap bertanggung jawab pada Nayla. Satu kesalahan darinya tidak bisa menutup semua kebaikan dan ketulusan di hatinya."
"Kalau dia benar-benar tak ada ikatan apapun dengan laki-laki lain, maka nikahi dia dan bertanggung jawablah," ucap Pak Abraham.
Devan pikir pak Abraham akan sangat marah padanya dan tidak akan merestui jika Devan ingin bertanggung jawab, tapi ternyata? pak Abraham sendiri yang mengatakan bahwa Devan harus melakukan itu.
"Baik, Pa," tentu Devan tidak akan menolak karena itu yang sudah doa pikirkan dari kemarin, tapi niatnya masih terhalang maaf dari Nayla yang masih marah padanya.
"Dan satu lagi. Bawa Nayla ke dokter, periksakan dia siapa tau dia benar-benar hamil anakmu," ucap pak Abraham lagi.
"Ba_baik, Pa." meski tidak di minta pun Devan akan melakukan hal itu, dia ingin memastikan apakah Nayla benar-benar hamil anaknya atau tidak. Jika memang benar maka dia harus secepatnya bertanggung jawab dan menikahinya.
-------Normal-------
Bersambung...
◎◎◎✧༺♥༻✧◎◎