
❃❃✧༺♥༻✧❃❃
Begitu susah dan sangat berat meninggalkan Ara meski untuk bekerja. Padahal di rumah juga ada mbok Darmi yang akan selalu ada bersamanya.
"Bunda semangat ya kerjanya. Nanti kalau sudah bisa hubungi ayah minta ayah pulang ya. Katakan pada ayah kalau Ara sangat merindukannya," Ucapan Ara membuat ku seakan tercekik hingga tak mampu untuk berbicara.
Dada rasanya sangat sesak saat lagi mendengarkan keinginan Ara yang begitu besar. Bagaimana Bunda akan menjelaskan semua ini padamu, Nak.
"I_iya, Bunda akan terus berusaha untuk menghubungi ayah," Aku berjongkok di hadapannya menyamakan tinggi ku padanya.
Ku elus-elus pipinya yang gembul lembut bagaikan kapas. Menatap sedih di balik senyumnya yang penuh harapan itu.
'Maafkan Bunda, Nak. Lagi-lagi Bunda harus berbohong padamu,' batinku teriris, begitu sakit. Luka tak berdarah ini kembali menyakiti ku.
Sabarlah sayang, Allah tidak tidur. Kebahagiaan pasti akan selalu kita dapatkan di kemudian hari. Memang tidak sekarang, tapi di masa mendatang. Bunda sangat yakin.
Berbahagialah meski tanpa ayah, kita bisa bahagia tanpanya. Biarkan dia bahagia dengan dunianya sendiri dan kita bahagia dengan dunia kita sendiri.
Ku rengkuh tubuh kecilnya, ku layangkan banyak kecupan di seluruh wajah hingga membuat dia tertawa karena merasa geli.
"Bunda, geli!" Protesnya dengan tubuh yang ikut serta meliuk-liuk bagaikan cacing yang kepanasan. Tentu aku ikut tersenyum, gurauan kecil tapi memberikan pengaruh besar di hatiku.
"Bunda berangkat ya, jangan nakal di rumah. Nurut sama mbok," Kataku seraya melepaskan pelukannya.
"Iya, Bunda. Bunda tidak lembur lagi kan?" Tanyanya.
"Bunda belum tau, Sayang. Tapi Bunda usahakan untuk pulang lebih awal."
Aku berdiri, ingin rasanya segera berpaling darinya tapi sangat susah. Jika di izinkan memilih aku ingin terus menghabiskan waktu dengannya, melihat dan menemani sendiri tumbuh kembangnya.
Tapi tidak! Aku juga harus mencari pundi-pundi rupiah untuk bisa mencukupi kebutuhannya. Siapa lagi yang bisa di harapkan, tidak ada. Hanya aku yang menjadi kewajiban untuk memenuhi segalanya.
'Ya Tuhan, limpahkan lah rezeki untuk kami,' harapan besar menggiring langkah kaki yang mulai keluar dari rumah. Sekali lagi aku menoleh dan bidadari kecilku itu kini tersenyum seraya melambaikan tangan.
"Dah, Bunda! Semangat kerjanya ya!" Teriakannya sebagai penyemangat untuk ku.
"Hem," Aku mengangguk juga mengangkat tangan untuk membalas lambaian tangannya.
◌◌✧༺♥༻✧◌◌
Perusahaan Gudia. Perusahaan tempat ku bekerja. Setiap hari di sinilah aku, menyokong tenaga juga pikiran untuk bisa membantu jalannya perusahaan dengan imbalan gaji yang aku terima di setiap bulannya.
Alhamdulillah, aku mendapatkan jabatan sebagai sekretaris CEO di sini. Pak Abraham lah atasan ku. Seorang laki-laki yang usianya sudah menginjak kepala lima.
Beliau sangat genius, gesit, cerdas dan penuh dengan wibawa yang membuat semua anak buahnya akan betah berada di perusahaan ini. Begitu juga denganku.
Selama bekerja di sini belum pernah aku mendapatkan komplain darinya dan selalu bisa di andalkan. Alhamdulillah, semua itu adalah hasil kerja keras yang benar-benar aku abdikan di perusahaan Gudia ini.
Tapi kebiasaan itu sepertinya tidak berlaku untuk sekarang. Di jam kerja aku malah melamun, aku kehilangan konsentrasi karena pikiran yang masih sangat kacau.
Aku begitu takut akan masa depan yang belum pasti. Bagaimana diriku, bagaimana Ara juga bagaimana masa depan kami tanpa mas Aditya padahal aku sudah menjalani seorang diri selama lima tahun merawat Ara dan semua bisa aku penuhi tapi kenapa kali ini aku sangat takut.
Kerjaan ku berantakan sampai-sampai pak Abraham sendiri yang datang ke ruangan ku untuk menanyakan jadwalnya di hari ini.
"Nay, kamu sakit?" Dan itu pertama kali yang pak Abraham tanyakan padaku. Mungkin wajahku terlihat berbeda dari biasanya jadi beliau bertanya demikian.
Aku begitu was-was, apakah hari ini aku akan mendapatkan teguran yang pertama kali dari pak Abraham? Apakah dia akan marah dan akan memberikan skor untukku? Semoga saja tidak.
"Kalau sakit lebih baik istirahat dulu, Nay. Jangan terlalu di paksakan pekerjaan bisa di lakukan lagi besok. Aku yakin juga bisa meng_handle semuanya," Kata pak Abraham.
"Tidak, Pak. Saya baik-baik saja," Jawabku.
Biasanya masalah apapun di rumah aku selalu bisa memendamnya bersikap profesional dalam pekerjaan dengan tidak membawa-bawa masalah pribadi tapi, sekarang ini? Ternyata aku telah kalah.
"Syukurlah, kalau kamu tidak apa-apa. Saya hanya mau tanya, apa jadwal ku hari ini?"
Dengan tergesa-gesa aku membuka berkas yang di dalamnya ada jadwal untuk pak Abraham seharian ini, semua sudah tersusun rapi. Mungkin?
Aku begitu gugup hingga aku bergerak semakin cepat dan membuat pekerjaan ku malah semakin kacau, berkas yang baru saja tersentuh tangan jatuh ke lantai membuat aku semakin tak karuan.
Terlihat pak Abraham menyipitkan kedua matanya, mungkin dia merasa sangat aneh dengan apa yang terjadi padaku saat ini, ini bukan hal yang biasa.
"Nay, kamu benar tidak apa-apa kan?" Tanya pak Abraham lagi.
"Ti_tidak, Pak. Maaf, saya teledor," Jawabku.
Aku cepat memunguti berkas yang terjatuh dan kembali berdiri setelahnya aku mulai buka dan membacanya.
"Pa_pagi ini jam sembilan ada meeting bersama pemegang saham, Pak. Dan untuk siang...?" Aku bingung karena lupa menulisnya. Bahkan aku juga lupa apa jadwal nanti siang.
"Nanti siang adalah acara perkenalan pengganti CEO baru di perusahaan Gudia ini. Pemimpin yang akan menggantikan ku karena sudah waktunya aku pensiun."
"I_iya. Itu jadwal siangnya." Aku menunduk takut. Benar-benar akan mendapatkan teguran keras kali ini.
"Tolong siapkan berkas untuk meeting pagi ini."
"Dan ya! Terimakasih sudah menjadi partner terbaik saya selama ini. Saya harap kamu juga akan menjadi partner terbaik untuk anak saya yang akan menjadi pengganti saya. Dan bisa semakin memajukan perusahaan Gudia," Pak Abraham nampak tersenyum.
Aku pikir pak Abraham akan berkomentar dan memberikan kritikan pedas untukku ternyata tidak, alhamdulillah.
"Sama-sama, Pak. Saya juga berterima kasih bapak sudah menerima saya dengan baik dan saya minta maaf jika pernah ada kesalahan dengan bapak. Semoga bapak bisa menjalani hari-hari dengan bahagia setelah ini," Kataku dengan sopan.
"Pasti. Sekarang saya permisi," Pak Abraham sudah berjalan hendak keluar tapi sebelum dia membuka pintu dia kembali menoleh, "sekali lagi terimakasih," Imbuhnya.
"Sama-sama, Pak," Aku kembali menunduk dengan hormat menyilangkan kedua tangan di depan dengan masih memegangi berkas.
Sekali lagi pak Abraham tersenyum lalu benar-benar keluar dari ruangan ku.
Ku tatap pintu yang perlahan tertutup, ku ambil nafas panjang dan mengeluarkan perlahan.
"Pemimpin baru? Apakah dia akan sama ramah dan baik seperti pak Abraham?" Gumam ku seketika setelah pak Abraham keluar.
Meskipun dia adalah anaknya tapi belum tentu kan dia akan baik seperti ayahnya.
Memang sih, buah jatuh tak jauh dari pohonnya tapi antara pohon aslinya sama buah yang di hasilkan tidak akan mungkin sama kwalitasnya. Benar begitu kan?
◌◌✧༺♥༻✧◌◌
Bersambung....