Pelita Hati Bunda

Pelita Hati Bunda
Sebuah Harapan



❃❃✧༺♥༻✧❃❃


Malam semakin larut, kesunyian malam menemani diri yang tak mampu untuk memejamkan mata untuk tidur. Mungkin karena tadi sore sudah tidur dengan begitu lelap makanya sekarang rasa kantuk pun tak kunjung datang.


Melihat betapa indahnya dunia malam melewati jendela yang ada di lantai tiga di rumah sakit dimana Ara di rawat. Melihat bentangan malam juga aksesoris malam dari gemerlap bintang-bintang juga lampu-lampu jalanan bahkan lampu-lampu dari daerah yang dapat terjangkau, semua nampak begitu indah dan sempurna.


Suara hewan malam nampak saling berkicau dengan riang menyanyikan lagu merdu khas mereka masing-masing, begitu sempurna malam ini hanya saja bukan kebahagiaan ku yang tak sempurna karena keadaan Ara sekarang.


Kenapa harus Ara?


Kenapa bukan aku saja yang menderita penyakit yang terasa sangat menyakitkan itu. Anak sekecil itu harus menahan rasa sakit yang belum pernah aku rasakan dan sekarang di rasakan oleh anakku.


Ya Allah, apakah tidak bisakah Engkau pindahkan saja penyakitnya ke tubuh ku? Ara masih terlalu kecil untuk menerima semua ini.


"Nay, ini sudah malam," Suara yang sangat jelas dan sangat aku paham itu milik siapa, kepunyaan mas Devan yang setia menemani ku di rumah sakit ini.


Aku menoleh ke arahnya dan mengikuti pergerakannya yang ternyata berakhir duduk di hadapan ku yang setia di depan jendela.


"Ini sudah malam, kamu harus istirahat, Nay," katanya lagi.


"Nay belum ngantuk, Mas," jawab ku begitu lesu tak semangat.


Sudah beberapa hari kami di sini namun Ara belum juga ada tanda-tanda membaik, bagaimana mungkin aku akan bisa tidur dengan nyenyak menerima kenyataan ini.


Bagaimana mungkin seorang ibu akan nyenyak dalam tidurnya jika anaknya sendiri dalam keadaan tidak baik-baik saja.


Rasa khawatir yang lebih besar, lebih menguasai pikiran dan juga hatiku. Kapan Ara akan sembuh? Kapan kami bisa pulang dan menjalani hari-hari bahagia selayaknya keluarga yang begitu bahagia.


"Aku tau kamu mengkhawatirkan Ara, tapi kamu juga harus menjaga kesehatan kamu, Nay. Lihat dan perhatikan anak yang ada di dalam kandungan mu dia juga membutuhkan perhatikan darimu."


Mas Devan meraih tanganku, menggenggam dengan sangat erat dan menyalurkan kehangatan juga kekuatan untuk bisa menghadapi semua ini.


"Aku tau kamu khawatir akupun juga sangat khawatir dengan keadaan Ara. Tapi Nay, kesehatan kamu juga sangat penting. Untuk Ara, biarkan aku yang menjaganya dan kamu jaga kesehatan kamu dan anak kita, please."


"Aku janji tidak akan meninggalkan Ara, Hem..."


Mas Devan sempat menyentuh perutku, mengelusnya dan juga memberikan kasih sayang juga menyalurkan cinta melalui sentuhannya.


Tapi ini tetap tak membuat aku merasakan kantuk sama sekali. Aku lebih tak tega lagi pada mas Devan, dia sudah berhari-hari tidak tidur dengan benar karena menjaga Ara, bagaimana mungkin aku akan tidur begitu saja untuk sekarang.


Aku beralih menghadap ke jendela dan mas Devan juga ikut menyamakan arah seperti ku. Kami melihat keindahan malam bersamaan setelah sebentar memastikan Ara masih terlelap di tempat tidurnya.


Perlahan ku sandarkan kepala ku di bahunya, terasa sangat nyaman. Tidak di minta mas Devan juga langsung merangkul pundak dan semakin membuat ku dekat dan semakin nyaman juga hangat. Inilah yang selalu aku butuhkan ketika dalam keadaan seperti ini.


Bahu yang selalu bersedia menjadi tempat sandaran di kala keadaan hati yang benar-benar sedang terpuruk. Dan kini aku sudah mendapatkannya.


"Mas, Ara akan sembuh kan?" tanyaku. Jiwaku begitu takut dengan pertanyaan ku sendiri.


Jiwa ragaku seketika bergetar karena pertanyaan yang sebenarnya tidak ingin pernah aku lontarkan, tapi malam ini tiba-tiba saja keluar seolah tanpa adanya persetujuan.


Mas Devan semakin menarik ku dia menoleh dan memberikan kecupan di puncak kepala ku.


"Kamu tidak perlu takut, ada aku, mama dan juga papa yang akan selalu menemani mu dalam melewati masa sulit ini. Yakinlah, Ara pasti akan sembuh."


Perkataan mas Devan selalu saja membuat hatiku tenang dan selalu damai. Setiap gundah selalu saja hilang begitu saja setiap kali bersama dengannya.


Kecupan hangat, sentuhan kecil yang penuh mesra mampu membuat aku mendapatkan kekuatan untuk menjalani semuanya. Aku menjadi semakin kuat dengan kehadirannya.


"Mas, aku takut," kataku lagi.


"Bagaimana kalau..." imbuh ku.


"Stts.., jangan berpikir macam-macam, berpikirlah yang positif supaya yang terjadi juga hal yang baik. Jangan pernah berbicara yang tidak-tidak bahkan sekedar berpikir puji juga jangan."


Mas Devan menghentikan perkataan ku sebelum aku melanjutkan kata-kata ku. Bagaimana mungkin aku tidak takut, banyak berita dan berbagai artikel yang sudah aku baca mengenai penyakit yang Ara derita saat ini, bagaimana mungkin aku akan baik-baik saja.


"Ara pasti sembuh, pasti sembuh," hanya kata-kata itu yang kembali aku dengar dari mas Devan bahkan suaranya begitu meyakinkan ku.


Besar harapan kami untuk kesembuhan Ara. Besar juga kerinduan kami untuk bisa bahagia dan bisa secepatnya kembali ke rumah.


Senyaman apapun rumah sakit itu tidak akan pernah nyaman dan akan selalu menghadirkan ketakutan yang besar di setiap hati kami.


Apalagi aku? Aku menjadi begitu sensitif juga lebih kerasa setelah hamil saat ini. Gampang sedih, gampang menangis dan masih banyak hal lagi yang menjadi perubahan dalam hidup ku di kehamilan kedua ini.


Tapi, aku sangat beruntung ada mas Devan. Seperti apapun perubahan ku, seperti apapun sikap ku dia selalu setia dan selalu sabar menghadapinya. Aku sangat bersyukur.


"Kita tidur sekarang?" tanya mas Devan.


Aku masih menggeleng karena rasa kantuk juga belum aku dapatkan sejauh ini. Entah, aku juga tidak mengerti.


"Apakah perlu aku bacain dongeng seperti Ara?" tanya mas Devan lagi.


Kembali aku menggeleng, aku bukan anak kecil lagi yang baru bisa tidur setelah mendapat cerita dongeng dari seseorang. Biasanya juga akan tidur dengan cepat karena sebenarnya aku memang gampang sekali mengantuk, hanya malam ini saja terasa sangat berbeda.


"Apakah kamu tau, Nay?"


"Aku sangat beruntung bisa bersama kalian. Aku bisa mendapatkan dan merasakan apa yang sebelumnya belum pernah ada. Aku mendapat cinta, kasih sayang dan juga kehangatan bahkan kebahagiaan dari kalian."


"Aku bisa tersenyum, bisa bercanda itu hanya dengan kalian berdua saja. Sampai kapanpun dan apapun yang terjadi akan aku pertahankan semua ini. Aku, kamu, Ara juga anak kita, kita akan bahagia dalam sebuah keluarga, selamanya."


Begitu dalam ucapannya, aku yakin ini bukan hanya keluar dari mulutnya saja tetapi yang pasti ini keluar dari dalam hatinya.


"Amin, terimakasih ya, Mas. Nay juga akan berusaha untuk mempertahankan ini semua. Bersamamu."


Kembali kecupan dari mas Devan aku dapat, cukup lama kecupan itu bertahan di atas kepala hingga akhirnya kembali lepas dan kami kembali menikmati malam dengan melihat keindahan di luar sana melalui jendela.


◎◎✧༺♥༻✧◎◎


Bersambung...