
❃❃✧༺♥༻✧❃❃
Aku belum bisa memahami Pak Devan, sebenarnya dia orang yang seperti apa kemarin dia baik seperti malaikat dan sekarang dia mengurung diriku di dalam ruangan pribadinya dan kini masih berusaha untuk mendekatiku.
Di mana Pak Devan yang begitu baik kemarin, dia begitu meneduhkan dan membuat nyaman dan juga aman, tetapi sekarang? Dia sangat jauh berbeda dan begitu menakutkan seperti seorang penjahat yang tengah menemukan mangsanya.
Dengan wajahnya yang masih dipenuhi dengan amarah Pak Devan terus mengikis jarak diantara kami bahkan kini dia melangkah sembari membuka dasi dan juga melepaskan jasnya dan langsung melempar ke sembarang atas.
"Wanita tidak jelas seperti mu tidak harus jual mahal, aku sangat kenal wanita-wanita seperti mu yang hanya membutuhkan uang dengan cara bisa memuaskan para laki-laki hidung belang."
"Bagaimana kalau sekarang kamu puaskan aku, Nay. Dan kita bersenang-senang. Bukan hanya kesenangan saja tapi kamu juga akan mendapatkan imbalan yang pantas dari kerjamu."
Semakin jelas Pak Devan merendahkan ku dan juga meragukan ku. Menyamakan dengan para wanita bayaran yang akan bisa memberikan kepuasan dengan imbalan sejumlah uang.
Aku sangat takut, tapi juga sangat marah mendengar kata-kata dari Pak Devan yang semakin lama semakin tidak menggunakan hati ketika bicara.
Jelas saja dia tidak akan menggunakan hati saat ini karena hatinya telah tertutup oleh amarah yang begitu besar hanya karena sedikit perkataan_ku yang telah melukai hatinya.
"Tidak, Pak. Bapak salah saya bukan perempuan seperti itu saya perempuan baik-baik." Tubuhku sudah gemetar saat Pak Devan sudah semakin dekat apalagi di saat punggungku sudah terbentur tembok dan tidak akan bisa untuk mundur lagi.
Tanganku perasaan menggapai sesuatu namun tidak ada satupun barang yang bisa aku jadikan senjata untuk melindungi diriku sendiri dari apa yang mungkin akan dilakukan oleh Pak Devan.
"Baik-baik kamu bilang! Mana ada perempuan cantik yang memiliki seorang anak tanpa tahu siapa ayah dari anak itu. Apalagi kamu juga membuat identitas palsu, untuk apa? Kalau bukan untuk menutupi semua kebusukan yang ada dalam dirimu."
" sepintar apapun kamu menyembunyikan bangkai pastilah aku akan tetap mengendusnya."
Aku benar-benar tidak bisa bergerak ketika pak Devan sudah ada di hadapanku dan menghimpit tubuhku juga mengurung dengan kedua tangan yang ada di kedua sisi.
Semakin aku ketakutan karena jarak kami begitu dekat apalagi melihat wajah dan mata Pak Devan yang penuh dengan amarah.
Semua orang bisa melakukan hal apapun ketika dalam keadaan marah, dia bisa melukai orang lain dan melakukan hal yang tidak senonoh bahkan bisa juga melecehkannya.
Fufff...
Aku begitu merinding karena takut ketika pak Devan meniup wajahku dan berhasil menyingkirkan rambut yang menutupi keningku. Bahkan tangan yang satunya bergerak dan benar-benar menjauhkan rambut dari wajah dan menyelipkan di daun telinga.
Mataku terpejam dengan wajah yang mengkerut dengan menunduk, aku benar-benar sangat ketakutan sekarang.
Bisa saja aku berteriak sekuat tenaga saat ini tetapi semua akan sia-sia karena aku sendiri tahu kalau ruangan ini adalah ruangan yang kedap suara. Sekeras apapun berteriak tidak akan ada orang yang mendengarkannya.
"Sa_saya minta maaf jika telah melukai hati bapak, aku mohon biarkan saya pergi dari ruangan ini. Saya mohon."
Aku benar-benar berharap akan bisa mendapatkan ampunan dari Pak Devan meskipun aku sendiri tidak yakin tapi apa salahnya jika harus mencoba.
Kemarin Pak Devan begitu baik memaafkan kesalahanku bukankah tidak menutup kemungkinan kalau sekarang dia juga bisa memaafkan ku?
"Melepaskan mu? Melepaskan mu tidak akan membuat hatiku kembali pulih lagi seperti semula, kamu telah melukainya Nay dan kamu harus menerima hukuman dari perbuatan yang kamu katakan."
"Saya mohon, Pak. Maafkan saya saya janji tidak akan mengulanginya lagi." Aku terus memohon bahkan aku juga terus menutup mata.
"Janji? Aku tidak percaya dengan janji."
Pak Devan semakin menghimpit ku hingga jarak begitu dekat, tangannya kembali berulah memegang dagu ku dengan kuat yang mana membuat tubuhku semakin bergetar karena ketakutan.
Meski Pak Devan berusaha untuk mengangkat wajahku namun aku juga terus berusaha untuk menyembunyikan wajah dengan menunduk. Tetapi Pak Devan tidak terima dan melakukan dengan paksa dan kini malah mencapit kedua pipiku dengan kelima jari-jarinya.
"Buka matamu! Tatap aku seperti tadi! Bukankah kamu sangat berani!" ucapannya semakin melengking dengan kasar.
Aku tak mengindahkan kata-katanya dan terus menutup mata, aku takut.
"Aku bilang buka matamu!" Kini bertambah melengking semakin tinggi.
"Sa_saya mohon. Ampuni saya Pak," Luruh air mataku.
Lagi-lagi aku kembali menangis karena ulah dari makhluk yang namanya laki-laki. Belum juga kebencian dan luka ini hilang dan sekarang laki-laki yang lain melakukannya.
Bagaimana mungkin aku akan bisa menerima laki-laki lagi setelah kejadian-kejadian yang aku alami. Apakah benar semua laki-laki itu sama saja?
Mereka hanya menggunakan ego dan juga gengsi dalam hal apapun, mereka hanya bisa merendahkan, menyudutkan dan juga mengancam untuk menyakiti para wanita.
Aku pikir, pak Devan benar-benar orang baik setelah apa yang dia lakukan kepada aku dan Ara kemarin tapi apa yang dia lakukan saat ini menghapus pikiran itu. Aku mulai meragukannya bahkan mungkin aku akan semakin membencinya.
"Jangan kau keluarkan mata buaya mu itu di hadapan ku, karena aku tidak akan percaya."
Begitu kuat pak Devan mencapit kedua pipiku hingga begitu sakit, menarik ku dan membuat aku tak bisa menolak lagi untuk tidak mengikutinya.
Aku melangkah kemana pak Devan menarik ku, dalam takut juga tangis pak Devan langsung menghempaskan ku ke kasurnya.
Begitu besar amarahnya, apakah segitu besarnya pengaruh ucapan ku di hatinya?
"Aww!" Aku memekik dan semakin ketakutan.
Ketakutan dan juga tangis ku benar-benar tak di hiraukan oleh pak Devan, dia begitu gelap mata seperti pria yang tak punya hati.
"Kamu pikir aku tak bisa mendapatkan seorang wanita kan, maka lihatlah! sekarang aku akan mendapatkan mu!"
Dengan kasar pak Devan menarik kemejanya dan berhasil terbukanya, semua kancingnya terlepas dan berhasil memperlihatkan tubuh atletisnya.
Ya Allah, takdir yang seperti apa lagi ini. Apakah belum cukup Engkau memberikan luka dan sekarang akan menambah lukanya lagi menjadi semakin dalam?
Sebenarnya bukan sengaja aku mengatakan itu. Tak sengaja untuk melukai hatinya aku hanya sangat kesal karena dia terus berperilaku sesuka hatinya dan juga menggangguku. Aku tidak suka itu.
Tapi mana aku tau kalau ternyata sedikit kalimat telah membuat ku berada dalam posisi ini.
Wajahnya semakin menakutkan penuh amarah yang kian membesar sampai-sampai dia sama sekali tak mendengar apa yang aku katakan.
"Sa_saya mohon jangan lakukan ini, Pak. Ampuni saya," kataku.
Aku berusaha menjauh, bergerak mundur untuk pergi dari hadapannya tapi pak Devan tidak menghendakinya. Kedua tangannya bergerak dan menarik kedua kakiku hingga kembali lagi kepadanya.
"Aaa! Jangan Pak!" Aku kembali memekik.
Pak Devan seketika menindih ku, mengunci tubuh ku hingga tak bisa bergerak kemana-mana lagi.
Tangannya seketika menyambar baju yang aku pakai dan memaksa melepaskannya.
"Jangan, jangan lakukan ini. Akk!" Begitu gelap mata pak Devan saat ini, dia terus berusaha membuka semua baju ku tapi aku berusaha untuk menahannya.
Aku menangis semakin menjadi juga terus mempertahankan baju yang ingin di paksa oleh di lepas oleh pak Devan.
Sungguh, pak Devan seperti harimau yang begitu buas dan tengah menemukan mangsanya. Tak peduli jeritan mangsa dan permohonannya.
Tangan menangkap kedua tangan ku dan mencengkram erat menjadi satu.
"Diam!" bentaknya.
Blazer sudah berhasil terlepas dan tinggal kemeja putih lengan pendek yang kini juga di paksa untuk di lepas.
"Akk!"
Aku menjerit saat tiba-tiba dalam satu tarikan semua kancing bajuku itu terlepas dan pergi dari tempatnya.
"Kau akan lihat bagaimana aku mendapatkan mu, Nay!" katanya.
"Jangan, lepaskan aku. Jangan lakukan ini," Aku menangis dan terus menangis. Tak bisa melakukan apapun karena kalah kuat dari tenaganya.
◎◎✧༺♥༻✧◎◎
Bersambung....