
◎◎✧༺♥༻✧◎◎
"Mas, memangnya benar apa yang tadi di katakan di persidangan? Apakah mas Aditya benai ingin merebut harta dari pak Pratama?"
Di dalam mobil yang terus berjalan, aku terus saja bertanya. Sangat penasaran karena semuanya masih belum jelas meski sudah aku dengar.
Aku tidak ingin suudzon, siapa tau semua itu hanya kesal pahaman. Tidak mungkin juga kalau mas Aditya benar melakukan hal itu.
"Itulah yang Aditya lakukan. Dia ingin merebut harta keluarga Pratama, bahkan dia juga terang-terangan ingin merebut kamu dan Ara dariku kemarin."
Mas Devan menoleh, menjawab dengan suara yang sangat meyakinkan..
"Ternyata mas Aditya benar-benar sudah berubah seperti monster ya, Mas. Padahal dulu dia sangat baik tapi ternyata semua itu hanya topeng saja."
Aku terpaku melihat jalan raya yang kali lintasi, melihat kendaraan yang ada di depan mobil kami hingga akhirnya semua berhenti karena terhalang lampu merah.
Kami juga berhenti, menunggu dengan sabar karena ini memang sudah biasa.
"Alhamdulillah, Allah memisahkan kami. Seandainya tidak, maka aku tidak akan pernah tau bagaimana hati mas Aditya yang sebenarnya. Aku akan tetap berpikir kalau dia sangat baik, padahal sebenarnya tidak sama sekali."
"Aku juga sangat bersyukur karena kamu berpisah dengannya. Karena kalau tidak aku tidak akan sebahagia ini sekarang. Aku tidak akan merasakan sempurna bisa hidup dengan kamu, Ara dan menunggu anak kita lahir."
Kami berdua tersenyum bersama di dalam mobil, tangan saling berpegangan satu sama lain dan tak ada niat untuk saling melepaskan.
Begitu ingin terus seperti ini, saling ada dan terus bersama dalam keadaan seperti apapun. Cukup sekali aku merasakan kegagalan dalam ikatan pernikahan, tidak lagi.
Tanganku di tarik, di kecup oleh mas berulang kali. Dia bahkan selalu melakukan setiap beberapa menit sekali.
Tinnnn....
Suara klakson di belakang berbunyi karena lampu sudah berubah menjadi hijau, semua mulai berjalan kembali untuk menuju ke tempat masing-masing.
"Nay, mau mampir dulu untuk makan atau langsung pulang?" Mas Devan menoleh lagi.
"Pulang aja deh, Mas. Ara pasti sudah nungguin. Kita makan di rumah saja biar Kaya yang masak."
"Nanti kamu capek loh. Baru saja pulang sudah mau masak saja. Biar pelayan saja lah yang masak."
"Tidak apa-apa Mas. Kan hanya masak."
Mas Devan mengangguk, dia memperbolehkan karena aku untuk melakukan itu. Alhamdulillah, sekarang tak ada lagi drama-drama yang terjadi jika akan memasak.
◎◎✧༺♥༻✧◎◎
Rasanya sangat senang bisa membuatkan makanan untuk anak juga suami. Rasa lelah langsung hilang ketika melihat mereka yang makan dengan begitu lahap.
Ara, Mas Devan, keduanya sangat suka bahkan sampai nambah. Sungguh, puas rasanya dan hatipun merasa sangat di hargai.
"Iya, lama-lama kita pasti gendut ya kalau bunda yang masak. Masakan bunda emang paling mantap."
Mas Devan pun tak mau kalah, memuji sama seperti yang Ara lakukan. Padahal gak ada yang spesial, hanya masakan biasa saja tapi entahlah. Padahal aku juga merasa rasanya tak begitu berlebihan.
"Kalian ini, pasti hanya ingin menyenangkan ku saja kan?" jawabku menanggapi.
"Tidak kok, Bunda. Ini memang sangat enak." Ara yang menjawab lebih dulu.
Kalau Ara aku percaya, dia biasanya makan makanan dari rumah sakit pasti rasanya akan sangat berbeda. Tapi kalau mas Devan?
Meski yang aku kasak jauh berbeda dengan yang ada di rumah sakit, tentu aku juga memperhatikan apa yang harus Ara makan dan yang tidak boleh, aku tidak bisa sembarangan untuk itu.
"Iya, ini memang sangat enak kok. Sungguh." Kembali mas Devan berbicara.
Sungguh bahagia, semoga kebahagiaan dalam kebersamaan seperti ini akan selalu menyertai kami. Bisa makan bersama si satu lingkar meja, saling tersenyum dan juga tertawa.
"Alhamdulillah kalau kalian suka." Aku pupus pujian mereka dengan aku yang yakin memang enak rasanya dan mereka memang menyukainya.
"Oh iya, setelah ini ayah haru pergi ke kantor. Nggak apa-apa kan ayah tinggal?" Kembali mas Devan berbicara.
"Tidak apa-apa, Yah. Kan ayah pergi untuk bekerja, tapi jangan malam-malam pulangnya ya, Yah." Ara yang menjawab.
Apa yang ingin aku katakan sudah di sampaikan oleh Ara jadi aku hanya tersenyum saja dan mengangguk membenarkan.
"Baiklah, Ayah akan pulang cepat nanti. Apakah princess ayah ini menginginkan sesuatu?" tangan mas Devan terulur, mengelus pipi Ara pelan.
"Tidak, Ayah. Ara hanya ingin Ayah pulang lebih cepet aja."
"Hem, baiklah."
Aku kembali tersenyum, keinginan Ara sama seperti ku. Menginginkan mas Devan pulang lebih cepat supaya bisa berkumpul lagi seperti sekarang ini.
"Kalau bunda?"
"Sama seperti Ara. Ingin mas pulang cepat." jawabku.
"Hem, sepertinya akan dapat sesuatu kalau pulang cepat. Baiklah, aku akan pulang lebih cepat dan mendapatkannya."
"Apa sih, nggak ada sesuatu yang seperti mas pikirkan." Aku mengelak, emang tak ada yang ingin aku berikan padanya.
"Hem, pokoknya aku harus dapatkan." Mas Devan tersenyum, sungguh membuat aku bingung apa yang ingin dia dapatkan.
◎◎✧༺♥༻✧◎◎
Bersambung.....