
❃❃✧༺♥༻✧❃❃
Dengan tak bicara apapun Aditya menunggu Jihan di dalam mobil dan setelah Jihan sudah masuk dengan cepat Aditya mulai menjalankannya.
Tak ada kata apapun yang keluar dari bibirnya bahkan sekedar untuk menoleh dan melihat wajah takut Jihan pun tidak Aditya lakukan. Hati Aditya benar-benar tengah panas sekarang ini, dia pastilah sedang sangat marah.
"Mas, aku minta maaf. Sebenarnya ini...?" Jihan sangat takut untuk menjelaskan, dia tidak tau apakah dia akan mendatangkannya pada Aditya sejak kapan dia berhubungan dengan Vino atau tidak.
Jika jujur sejak kapan Jihan melakukan pastilah Aditya akan semakin marah padanya dan bisa di pastikan kalau Jihan akan di tinggalkan.
"Mas, aku mohon maafkan aku," Jihan terus memohon terus mencoba untuk Aditya bicara namun tetap saja belum ada suara yang keluar sama sekali.
Mobil terus berjalan dan Aditya lah yang mengendarainya dengan penuh amarah.
"Aku mohon jangan tinggalkan aku, aku akan lakukan apapun, Mas aku janji tapi jangan tinggalkan aku," ucap Jihan lagi.
Ckitt...
Mobil seketika berhenti mendadak setelah Jihan berjanji akan melakukan apapun pada Aditya, entah apa yang ingin Aditya minta pada Jihan supaya dia tetap ada ab tidak meninggalkannya.
"Apapun?" sepatah kata saja yang keluar dari mulut Aditya itupun terdengar sangat kesal juga penuh penekanan.
"Ya, apapun. Aku akan lakukan apapun yang terpenting mad jangan tinggalkan aku dan jangan katakan semua pada mama dan papa. Aku takut kesehatan papa akan terganggu jika dia tau."
"Baiklah, aku tidak akan melakukannya. Asal kamu menurut dengan apa yang aku minta. Kamu harus lakukan apapun," kini Aditya baru menoleh.
Jihan mengangguk, dia terlihat begitu bahagia karena Aditya tidak akan meninggalkannya juga yang terpenting Aditya juga tidak akan mengatakan semua kepada kedua orang tuanya.
Senyum penuh arti keluar dari bibir Aditya, dia nampak menyeringai penuh arti namun Jihan seakan tak peduli yang terpenting untuk dia adalah Aditya tidak meninggalkannya.
--------Normal------
◎◎✧༺♥༻✧◎◎
Selesai dengan semua pekerjaan yang entah tidak tau itu apa tapi sekarang mas Devan sudah kembali lagi rumah sakit.
Wajahnya nampak lesu, mungkin dia sangat lelah karena seharian ini dia pergi yang aku tau dia pergi untuk bekerja, tapi entahlah.
"Ayah!" Ara terlihat sangat bahagia bisa melihat mas Devan lagi rasanya dua ingin saja lari untuk menyambut mas Devan dan memeluknya tapi itu tidak dia lakukan karena Ara harus tetap berada di atas ranjang.
Mas Devan tersenyum, menghilangkan rasa lelah juga lesu yang terlihat sangat jelas di wajahnya. Sekarang hanya senyum yang terlihat dan langkah yang mulai mendekat dan akhirnya berhenti di sebelah ku yang duduk di sebelah ranjang Ara.
"Sore sayang," ucapnya.
Lebih dulu mas Devan memberikan kecupan pada kening ku dan setelah itu dia juga memberikan kecupan yang sama untuk Ara.
"Sore princess, bagaimana sekarang sudah semakin baik?" tanyanya.
"Iya, Yah. Ara sudah semakin baik. Ara juga makan banyak juga sudah minum obat sesuai kata dokter jadi Ara bisa cepat pulang kan Ayah?"
"Tentu, kalau Ara nurut sama dokter pastinya Ara akan cepat pulang," kembali di kecup kening Ara dengan begitu lembut dan penuh perhatian.
Mas Devan benar-benar sangat menyayangi Ara meski dia bukan anak kandungnya, ketakutan ku selama ini tidaklah nyata akan cerita antara anak dan ayah tiri yang tidak selalu baik-baik saja. Tapi mas Devan membuktikan kalau dia tidak seperti itu.
Sepertinya rumah sakit ini akan menjadi seperti rumah untuk kami selama Ara masih harus tetap berada di rumah sakit. Tidak mungkin aku akan pulang dan meninggalkannya sendiri dan aku yakin mas Devan juga akan selalu menemani kami.
"Mas, mas terlihat lelah, istirahat lah." kataku.
Memang, mas Devan terlihat sangat kelelahan dan setelah selesai menyapa Ara aku bantu doa melepaskan jas juga dasinya.
"Tidak, mas tidak lelah. Kamu yang terlihat lelah sekarang istirahat lah giliran mad yang menemani Ara."
Ruangan Ara ini memang ruangan VIP jadi semua akan terlihat lebih daripada yang lain. Bukan hanya tersedia ranjang untuk Ara saja tapi juga ada ranjang khusus untuk yang menunggu juga sofa besar dan juga segala fasilitas yang lebih.
Aku tetap meminta mas Devan untuk istirahat tapi sepertinya itu tidak akan mudah karena mas Devan tetap kekeuh meminta aku yang istirahat.
Mas Devan menuntun ku, memegangi kedua bahuku dan meminta aku jalan sesuai arahannya.
"Kamu istirahatlah kamu terlihat sangat lelah, Hem.." pintanya.
Dengan perlahan aku di dudukan di ranjang yang memang tidak lebar, lebih sempit dari ranjang Ara juga lebih pendek tapi tetap cukup hanya untuk istirahat berdua meski akan berdempetan.
"Tapi, Mas?" aku masih sangat enggan karena mas Devan yang lebih kelelahan daripada aku, jadi seharusnya dia yang istirahat di bandingkan aku.
"Tidak ada tapi-tapian, kamu harus nurut dan istirahatlah dengan baik. Mas tidak mau sampai kamu kelelahan dan akan jatuh sakit, kamu harus menjaga dirimu dengan baik, Nay."
Aku melihat Ara, si kecil itu nampak tersenyum melihat aku yang begitu di perhatikan oleh mas Devan. Dia juga sudah merebahkan tubuhnya tanpa di minta.
"Baiklah," Akhirnya aku menurut dan melakukan yang mas Devan ingin, aku berusaha untuk tidur karena seharian ini memang tidak bisa tidur karena terus menunggu Ara juga yang jelas sangat mengkhawatirkannya.
Memastikan aku sudah nurut mas Devan kembali kepada Ara, tangannya bergerak untuk melipat lengan kemejanya hingga sampai sikut. Kini dia yang menggantikan aku duduk di samping Ara.
"Princess ayah juga harus istirahat. Tuh, matanya sudah merah pasti princess ayah sudah ngantuk. Yuk tidur," katanya.
Aku masih tetap mendengar karena memang aku belum berhasil memejamkan mata.
"Ayah, Ara pengen ayah bacain dongeng untuk Ara."
"Dongeng ya, Hem.. Baiklah..." mas Devan menyetujui akan keinginan Ara.
Tak ada buku dongeng di sini sekarang namun bukan berarti mas Devan tidak bisa melakukan yang Ara minta.
Mas Devan mengambil ponselnya, terlihat memainkannya sejenak dan sepertinya tengah mencari-cari sesuatu di sana.
Aku diam menunggu apa yang dia lakukan dengan benda pipihnya yang ajaib itu. Tak lama aku lihat dia tersenyum dan mendekati Ara.
"Siap untuk dengerin dongeng princess ayah?"
Dan ternyata mas Devan mencari salah satu dongeng di ponselnya tersebut, jelas dia akan mendapatkannya karena apapun pasti akan ada dan akan selalu tersedia.
"Hem, dongeng apa, Yah?" Ara terlihat sangat penasaran.
"Dongeng si kancil, mau?"
Ara mengangguk antusias dia juga tersenyum tak sabaran untuk bisa secepatnya mendengar dongeng yang di katakan oleh mas Devan.
"Pada suatu hari...."
Mas Devan memulai dengan ceritanya dan Ara terlihat sangat fokus mendengarkan.
Meskipun seorang laki-laki pengusaha yang pasti sangat jauh dengan kebiasaan ini tapi ternyata mas Devan sangat pandai membacakan dongeng.
Suaranya sangat indah sangat pas dan terdengar begitu menghayati.
Lama-lama bukan hanya Ara yang mengantuk aku pun juga sudah merasakan kantuknya. Aku lirik Ara sebentar dan ternyata dia sudah tidur padahal satu cerita belum selesai.
Mas Devan menghentikan ceritanya dia berdiri dan menyelimuti Ara, bukan itu saja tapi dia juga mengecup keningnya lagi.
"Selamat tidur princess ayah," Katanya.
Samar-samar aku dengar suaranya dan juga dengan samar juga aku melihat mas Devan berjalan ke arahku. Dia mengelus kening lalu mengecupnya sama seperti yang dia lakukan pada Ara. Setelah itu benar-benar aku tidak melihat apapun lagi.
◎◎✧༺♥༻✧◎◎
Bersambung...