
❃❃✧༺♥༻✧❃❃
Awalnya menolak tapi setelah bangun tidur? Hem, pak Devan pasti akan berpikir macam-macam kepadaku yang ternyata malah memeluknya begitu sangat erat.
Sama sekali tidak melepaskan pelukan bahkan wajahku sekarang tepat menempel di dadanya yang hanya tertutup kain tipis saja.
Aku ingin melepaskan diri darinya setelah sadar dan mataku sudah terbuka tapi nyatanya pak Devan malah dengan sengaja semakin mengeratkan pelukannya.
"Pak, aku ingin bangun. Ini sudah pagi," protes ku dengan terus berontak.
"Kenapa harus buru-buru Nay. Bukankah kamu sangat nyaman di dekapan ku? Nyatanya kamu sangat lelap tidurnya," terus pak Devan menahan.
"Pak, lepaskan aku!" lagi-lagi aku berontak tapi akhirnya akan sama aku tak mampu untuk melawannya.
Semakin jengah dengan kelakuan pak Devan yang semakin ke sini semakin menjadi. Dia benar-benar sangat resek menurut ku.
Dia terlihat dingin dan penuh wibawa di depan para orang-orang yang ada di luaran sana apalagi ketika berada di kantor semua orang tunduk kepadanya tapi ini?
Sisi lain ini yang hanya di perlihatkan kepadaku juga Ara. Kadang terlihat resek tapi padang juga terlihat kekanak-kanakan yang merajuk, dia sungguh seperti anak kecil.
"Tidak sebelum aku mendapatkan morning kiss lebih dulu darimu," nah kan kembali berulah lagi. Kenapa rasanya tak ada habis-habisnya dia selalu berusaha untuk bisa mendapatkan sesuatu dariku, entah pelukan dan sekarang adalah ciuman.
"Kenapa, jangan melotot seperti itu, Nay. Aku hanya minta satu saja kan? Kalau kamu berikan ya aku lepas kalau tidak ya sudah terus saja seperti ini. Lagian aku juga sangat senang seperti ini, bisa selalu dekat dengan mu."
Benar mataku memang melotot ke arahnya karena ucapannya yang semakin sembarangan seperti ini. Dia benar-benar terlalu emang.
"Nggak," langsung aku tolak mentah-mentah ketika pak Devan meminta aku untuk menciumnya, bagaimana mungkin aku akan melakukan hal gila seperti yang dia minta barusan, tidak akan pernah.
Karena penolakan yang telah kulayangkan barusan membuat Pak Devan semakin erat untuk memelukku bahkan membuat dada rasanya sesak karena begitu kuat.
Ada sebuah getaran yang sangat aneh yang terdapat di dalam dada karena jarak kami yang begitu dekat entah apa aku tidak tahu tapi rasanya sungguh aneh.
Apakah mungkin perlahan perasaan ini akan datang dan juga aku akan terbiasa dengan keisengan dari Pak Devan yang selalu dia lakukan kepadaku? Tapi mana mungkin bisa secepat ini.
Begitu keras aku untuk menolak tetapi begitu keras juga Pak Devan mendekat dan berusaha untuk meluluhkan hatiku yang saat ini terasa masih sekeras batu.
Aku tidak tahu apakah akan bisa luluh hati ini kepada Pak Devan tetapi melihat dia yang begitu gigih kemungkinan besar dia akan bisa meluluhkan hati dan bisa menghadirkan cinta yang ada di dalam hati dan benar-benar bisa menyingkirkan Mas Aditya.
Aku hanya berharap jika suatu saat Pak Devan memang berhasil membuat aku jatuh cinta lagi kepada seorang laki-laki yaitu dirinya aku berharap dia benar-benar tulus dan selalu ada dan tidak akan pernah meninggalkan aku dan juga anak-anakku.
"Pak lepasin!" kembali aku berteriak dan juga berontak untuk melepaskan diri dari pelukannya yang begitu sangat tetapi tetap saja tidak berhasil dan malah makin menempel.
"Bukankah aku sudah katakan tidak akan terlepas sebelum kamu memberikan morning kiss kepadaku. Ayolah Nay, tidak berat kok hanya satu saja setelah itu aku akan benar-benar melepaskan mu dan akan membiarkanmu pergi dari sini."
"Beneran!" Aku berpikir dia akan membebaskan_ku dari dirinya, dan tidak menangkap akan perkataannya yang mungkin akan melepas aku hanya dari ranjang itu saja bukan dari seluruh kehidupannya.
"Hem, aku janji tetapi morning kiss_nya harus di sini dan bertahan sampai satu menit."
Mataku kembali terbelalak sementara Pak Devan malah cengengesan melenceng dengan tangan yang menyentuh bibirnya sendiri. Dan di situlah tempat di mana aku harus memberikan morning kiss kepadanya.
"Aku memintamu untuk menciumku bukan untuk memelototiku. Jadi lakukan apa yang telah aku minta sekarang juga jika kamu ingin secepatnya lepas dari tanganku."
Aku diam berfikir menciumnya tepat di bibir dan bertahan hingga satu menit? Bukankah itu sangat lama.
Bagaimana kalau ujung-ujungnya malah terjadi hal yang lain pastilah aku yang akan dirugikan sementara Pak Devan yang akan diuntungkan.
"Ayo! Kok malah bengong?" ucapannya mengejutkanku dan membuatku tersadar sepenuhnya hingga langsung menatap ke arah wajah yang nampak menunggu.
Aku harus bagaimana?
Aku begitu bingung untuk melakukan hal gila yang dia minta tapi kalau tidak sampai kapan posisi ini akan bertahan, entah nanti, besok atau lusa tidak pernah tahu.
"Hem, ayolah," Pak Devan sudah begitu tidak sabar untuk mendapatkan ciuman dariku di pagi hari yang sebenarnya sangat indah namun menjadi tidak indah karena telah dikacaukan oleh Pak Devan yang terus menggangguku.
Mataku terpejam dengan wajah yang perlahan mendekat. Benarkah Aku akan melakukan ini?
Jantung semakin keras dalam bekerja, darah mulai berdesir panas hingga sampai ke ubun-ubun dan terasa mendidih di sana. Rasanya tidak berani untuk melakukan ini tetapi syarat dari Pak Devan yang membuat aku harus berani melakukannya meski kini bertambah dengan tubuh yang gemetar.
Hembusan nafas sama-sama sudah tidak teratur saling menyapa diantara kedua wajah yang saling berhadapan. Pipi rasanya panas aku yakin warnanya sudah sangat merah tetapi bibir rasanya begitu dingin padahal belum sampai, bagaimana nanti?
Sepertinya aku benar-benar telah gila karena menuruti apa yang telah Pak Devan minta meski sebenarnya hati sebagai menolak tetapi nyatanya tetap melakukan.
Teriakan dari Ara membuat mata langsung terbelalak dan menyadarkan aku sebelum bibir benar-benar bertemu dengan bibir Pak Devan.
Sepertinya aku akan selamat untuk hari ini karena kedatangan Ara yang sudah pulang dari rumah Ibu kontrakan.
"Bundaa! Buka pintunya!" teriakannya begitu keras aku dengar membuat tangan pak Devan langsung terangkat dan membuatku memiliki kesempatan untuk bisa secepatnya pergi dari hadapannya.
'Akhirnya, aku selamat," secepatnya aku berlari untuk keluar dari kamar meninggalkan Pak Devan yang tentu terlihat sangat kecewa karena keinginannya gagal karena kedatangan Ara di saat waktu yang sangat tidak tepat baginya.
"Hem, kau ini Ara tidak datang sebentar lagi. Paling tidak lima menit lagi pasti ayah akan mendapatkan morning kiss dari bunda," ucapnya yang terdengar sangat lesu.
Aku abaikan Pak Devan yang merasa sangat kecewa aku tetap keluar untuk menemui Ara tentu untuk membukakan pintu kalau tidak pasti dia akan berteriak lagi dan keadaan akan semakin kacau.
"Bunda ngapain saja sih, kok baru lama buka pintunya?" ucap Ara mengomel setelah aku berhasil membuka pintu untuknya.
Semua ini gara-gara Pak Devan. Jika dia tidak terus menahanku maka hal ini tidak akan terjadi dan Ara tidak akan mengomel seperti sekarang ini.
"Hehehe, maafkan bunda ya. Bunda kesiangan bangunnya," ucapku dengan berbohong.
"Hem, tumben bunda kesiangan biasanya kan selalu bangun pagi-pagi. Apa karena ada Ayah?"
"Tidak, Bunda hanya merasa lelah saja jadi bunda kesiangan."
Tetap aku tidak mengatakan kalau apa yang dikatakan oleh Ara barusan adalah benar aku kesiangan semua ini gara-gara Pak Devan.
◎◎✧༺♥༻✧◎◎
Sarapan sederhana untuk kami bertiga dari Pak Devan yang memesan dari salah satu situs yang ada di ponselnya.
Tidak ada lagi bahan makanan yang bisa dimasak membuat Pak Devan yang berinisiatif untuk membelikan sarapan di luar. Padahal dia menawarkan berbagai makanan tetapi aku dan juga Ara hanya memilih sarapan sederhana saja yaitu bubur ayam.
Entah kenapa rasanya pagi ini ingin sekali makan bubur ayam dan Pak Devan mewujudkannya meski dia tidak tahu aku yang benar-benar sangat menginginkannya. Apakah ini yang dinamakan dengan ngidam?
"Bunda, leher Bunda digigit apa?"
Sontak aku langsung meraba leher yang katanya digigit sesuatu oleh Ara. Aku sangat terkejut karena tidak merasakan apapun entah gatal ataupun perih sama sekali tidak.
"Emang kenapa?" tanyaku. Mataku berusaha melihat tetapi sama sekali tidak bisa.
"Kayak digigit oleh serangga, tapi kok merah banget dan juga besar yah? Apa tidak gatal Bunda?"
Aku semakin penasaran dengan apa yang dimaksud oleh Ara hingga akhirnya aku mencari kaca dan setelah mendapatkannya kembali duduk di tempat tersebut.
"Apa ini?" Aku juga merasa bingung tidak mengerti dengan apa yang ada di leherku tapi yang jelas warnanya sangat merah tetapi tidak gatal juga perih. Lalu apa?
Aku melirik ke arah Pak Devan, Dia terlihat memalingkan wajah dan berusaha untuk menghindar dari tatapan mataku, sekarang aku tahu pak Devan lah tersangkanya.
"Kenapa menatapku seperti itu. Aku tidak tahu apa-apa, apalagi melakukannya?"
Meskipun mengatakan hal itu tetapi Pak Devan tetap memalingkan wajahnya, ini sudah sangat menjelaskan bahwa dia yang telah melakukannya.
Pak Devan lah yang memberikan tanda merah di leherku hingga membuat Ara bingung dan mengira digigit serangga. Iya, serangga raksasa nakal. Atau mungkin serangga mes*m.
"Hehehe, iya. Mungkin di gigit serangga," kataku dengan meringis gagu.
Sementara pak Devan? Dia menundukkan wajah dengan tersenyum merasa menang.
Pantesan saja dia tidak lagi protes karena tidak mendapat morning kiss dariku ternyata dia sudah melakukan yang lebih.
Mataku yang terus melotot seakan seperti boneka di hadapannya, dia tersenyum. Menyebalkan.
"Bunda, Ara ambilkan minyak ya," belum sampai aku mengangguk juga menjawab Ara sudah lebih dulu berlari dan kembali masuk ke dalam kamar, sepertinya dia benar akan mengambilkan minyak untukku.
"Apa yang bapak lakukan!" tanyaku begitu sadis, jelas aku sangat kesal karena perbuatan dari Pak Devan ini.
"Hem, hanya sedikit memberikan stempel bahwa kamu sudah menjadi milikku dan akan selalu menjadi milikku sampai kapanpun. Ini hanya awal saja tapi besok? kamu akan benar-benar menjadi milikku."
◎◎✧༺♥༻✧◎◎
Bersambung