Pelita Hati Bunda

Pelita Hati Bunda
Kemarahan Devan



❃❃✧༺♥༻✧❃❃


POV AUTHOR...


Devan tak mendengar apapun lagi apa yang Aditya katakan, meski Aditya terus berontak dan selalu ingin melepaskan diri ternyata dia tak bisa menyeimbangi kekuatan Devan yang sedang dalam amarah yang sangat besar.


Devan masih terus menarik, lebih tepatnya sepertinya tukang pengembala yang menyeret kambingnya yang terus melakukan perlawanan.


Devan sama sekali tidak peduli dengan pandangan orang juga omongan mereka, dia tetap teguh pendirian untuk menyeret Aditya keluar dari rumah sakit dengan paksa. Apalagi Aditya yang masih terus bersikeras untuk tetap berada di sana dengan mengatakan dia akan selalu menemani Ara.


"Devan, lepas! Kau jangan gila Devan!" seruan Aditya yang tetap saja di abaikan oleh Devan yang tetap menyeret Aditya dengan sangat kasar.


Aditya yang berada di belakangnya gak dapat melihat bagaimana wajah Devan saat ini, terdapat sembuh merah akan amarah yang besar, matanya pun juga sama dengan di tambah sorot mata yang sangat tajam.


"Devan, lepas!!" kembali Aditya bersuara tapi Devan tetap acuh dalam sikap angkuh dan juga keras kepalanya.


Setelah sampai di luar Devan langsung menyeret semakin kasar dan juga mendorong dengan keras hingga Aditya terjatuh di halaman rumah sakit.


Brukk...


"Jauhi anak dan istriku, Tuan Aditya! Atau kamu akan menyesal seumur hidup mu."


"Anda pikir saya akan kembali bersimpati dengan apa yang akan terjadi pada Anda? Anda sudah ngelunjak dengan perbuatan Anda, jangan salahkan saya kalau saya juga akan melakukan apa yang seharusnya."


"Anak, istri?! Kamu mimpi, Van? Mereka adalah anak dan istri ku!" dengan tak terima Aditya beranjak dari tempat itu lalu berdiri menantang Devan.


"Kamu yang merebut mereka dariku dan aku akan mengambilnya lagi. Minggir, biarkan aku masuk untuk menemani mereka!"


Aditya ingin menyerobot masuk namun tentu tak akan di biarkan oleh Devan. Devan kembali mendorong Aditya dengan kasar namun kali ini tidak membuat dia sampai terjatuh hanya mundur beberapa langkah saja.


"Kurang ajar kamu Van, kamu berani melawan ku!" mata Aditya nyalang penuh persaingan pada Devan. Tangan sudah mengepal dan juga kaki dengan mantap maju dan berniat melayangkan pukulan pada Devan.


Bukan Devan namanya kalau tidak bisa langsung membaca pergerakan Aditya, jika waktu SMA Devan yang selalu kalah dalam pertandingan tapi tidak untuk yang sekarang. Sekarang dia tidak mau kalah dan harus menjadi pemenang apalagi memperebutkan Nayla dan juga Ara yang sudah menjadi kebahagiaannya.


Bugh... Bugh...


"Kamu pikir bisa mengalahkan aku, Dit? Tidak!" ucap Devan setelah memberikan dia kali pukulan di bagian wajah Aditya. Sementara Aditya tadi ingin menyerang Devan di bagian wajah namun gagal.


Aditya meringis menahan sakit, dua ujung bibirnya sudah berdarah karena perbuatan Devan yang masih merasa belum puas.


Devan maju mengejar Aditya yang sudah muda akibat pukulannya, tangannya bergerak bergantian untuk melipat kemeja putihnya hingga sampai siku.


"Kamu bilang aku telah merebut mereka darimu? Aku yang telah menyelamatkan mereka dari sikap egois mu, Dit. Aku yang berusaha membuat mereka bangkit dalam keterpurukan dari lubang duka yang telah engkau ciptakan. Aku yang telah membuat mereka tersenyum setelah engkau paksa mereka menumpahkan semua air matanya. Sekarang katakan, siapa yang pantas untuk mereka!" Bugh...


Lagi Devan memukul Aditya, Devan benar-benar ingin menumpahkan semua amarahnya dan tak peduli akan semuanya.


"Aku tidak seperti mu, Dit. Yang bisanya melonglong terus mengatakan cinta pada siapapun, aku tidak seperti mu yang tega menyakiti perempuan hanya karena harta, aku juga mendekati dan memiliki perempuan bukan karena hartanya. Jadi kalau kamu pikir aku yang salah maka kamu sebenarnya yang salah." Bugh...


Lagi-lagi Devan menghajar Aditya yang masih tak mampu untuk mengamankan perlawanan pada Devan, dia sepertinya memang akan kalah untuk sekarang. Tapi entah dia akan mengalah atau hanya akan mundur perlahan untuk merencanakan tembakan balasan yang lebih maksimal yang akan dia yakini benar-benar bisa mengalahkan Devan.


Orang itu menahan Devan untuk tidak maju lagi atau tidak memukul Aditya kembali. Meski susah namun akhirnya bisa karena dua orang lagi datang beserta penjaga keamanan.


"Sudah, Pak. Sudah!" ucap mereka yang juga terus berusaha meredan amarah Devan yang begitu menggebu-gebu.


"Pergi dari sini sekarang juga atau akan aku buat kamu gak akan bisa kembali merasakan menghirup udara di dunia ini, pergi!"


Suara Devan penuh dengan penekanan dengan dia yang berontak dari semua yang tengah memegang dirinya. Bukan hanya berontak saja, tapi jari telunjuk Devan juga terus menunjuk Aditya yang kini masih membungkuk dengan memegangi perutnya.


Bogemam Devan mungkin sangat keras bagi Aditya sampai-sampai dia masih merasakan sakit.


"Jangan harap aku bisa memaafkan mu, Dit. Kalau sampai terjadi apa-apa pada anakku aku pastikan kamu akan jadi gelandangan. Kamu tidak akan pernah di anggap oleh siapapun, pergi!"


Devan mungkin bisa terima jika ada orang yang mau mencelakai dirinya sendiri, tapi tidak untuk Ara ataupun Nayla. Dia akan sangat tak terima dan juga akan menjatuhkan orang yang mengganggu mereka berdua.


"Pak, sebaiknya anda pergi dari sini sebelum semua menjadi semakin tak terkendali. Silahkan pak," pinta penjaga keamanan pada Aditya.


Aditya masih bergeming dengan amarah yang juga membuncah, dia ingin membalas tapi dia tak bisa. Berkali-kali dia ingin menyerang balik tapi dia selalu saja kalah.


'Devan benar-benar akan menghancurkan ku kalau aku tidak pergi. Lebih baik aku pergi dulu dan menyusun rencana apa yang harus aku lakukan seharusnya.' batin Aditya.


Dengan membawa amarahnya Aditya pergi dari sana. Jika dia tetap menantang dia juga akan kalah nyatanya dia sudah babak belur sedangkan Devan sama sekali belum tersentuh oleh tangannya.


'Tak pernah aku lihat Devan semarah ini sebelumnya. Apakah Devan dan Nayla... Benarkah mereka sudah menikah?' batin Aditya lagi di tengah-tengah langkah kakinya pergi menuju tempat mobilnya berada.


Sejenak dia menoleh dan melihat Devan yang sudah di lepaskan oleh orang-orang, matanya masih sangat tajam ke arahnya dan seolah ingin mengejarnya.


Melihat hal itu Aditya buru-buru pergi dari sana, dia cepat kabur. Seandainya Devan benar-benar mengejar dan tak melepaskan dirinya dia akan benar-benar sangat hancur, dan akan susah untuk lepas dari Devan setelah itu.


Dengan cepat Aditya masuk kedalam mobil, cepat melajukan mobilnya dan pergi dari sana.


Sementara Devan?


Devan masih terus berdiri di tempat, mengamati kepergian Aditya yang terlihat sangat ketakutan.


Orang-orang yang ada di sana tadi juga langsung pergi setelah melepaskan Devan, tentu karena mereka sudah merasa akan aman karena Aditya sudah pergi.


"Dasar peng*cut, hanya berani menggertak saja dan melawan wanita. Awas kamu, Dit. Aku tidak akan pernah memaafkan mu, kamu akan menyesal karena telah bermain-main dengan ku."


Matanya masih nyalang penuh benci ke arah kepergian Aditya namun itu tak lama karena Devan langsung mengingat Ara dan juga Nayla sekarang, mereka pasti sangat membutuhkan Devan. Devan segera berlari masuk.


--------Normal------


◎◎✧༺♥༻✧◎◎


Bersambung...