
❃❃✧༺♥༻✧❃❃
POV AUTHOR...
Baru saja Devan sampai di kantor juga baru saja duduk dan mulai membuka laptopnya Nayla menghubungi, jelas saja Devan langsung mengangkatnya karena takut ada masalah mengenal Ara atau yang lainnya.
Dan ternyata, setelah bicara ternyata Nayla menginginkan sesuatu makanan yang sama sekali tidak dia tau itu jenis apa. Devan berkali-kali mengernyit, mengingat-ingat apakah mungkin dia pernah mendengar kata itu tapi ternyata tidak.
"Seblak, itu makanan jenis apa?" Devan terus berpikir, membayangkan makanan seperti apa yang Nayla ingin makan sekarang ini. Apakah makanan yang aman di makan juga higenis? Atau mungkin enak?
Ah, membayangkan saja sudah membuat Devan pusing karena tidak kunjung tau juga.
"Aku harus cepat ke sana, kalau telat bisa bahaya kalau Nayla sudah membelinya. Lagian makanan apa sih itu?"
Devan nampak kesal namun juga sangat bingung, dia kembali menutup laptop juga menutup berkas yang baru beberapa menit dia buka. Padahal pekerjaan juga sangat banyak tapi rasa khawatir lebih besar dan tak bisa dia abaikan begitu saja.
Pekerjaan bisa nanti-nanti atau mungkin besok, tapi kalau kebaikan keluarga tidak bisa di undur-undur lagi, pikir Devan.
Kembali dia membenarkan kancing jas yang sempat dia lepas tadi dan baru dia melangkah untuk keluar dari ruangan.
"Tuan." Baru saja sampai di depan pintu Andri sudah datang dan menyapanya, bukan itu saja tapi juga dengan membawa berkas yang akan dia serahkan pada Devan.
"Nanti saja karena sekarang aku harus pergi. Kamu urus semuanya dan ya! pastikan semua sesuai dengan yang sudah kota bicarakan kemarin," ucap Devan.
"Tapi, Tuan? berkas ini membutuhkan tanda tangan Anda," ucap Andri memberitahu.
"Nanti, saya hanya pergi sebentar," ucap Devan tak bisa di nego lagi.
Tanpa kata lagi Devan langsung melaju begitu saja dan membiarkan Andri terus terdiam melihatnya.
"Hadeuh, tertunda lagi deh. Seharusnya pagi ini barangnya udah di kirim, bos bos hanya tanda tangan aja kenapa sih nggak sampai lima menit loh," gerutu Andri.
Menggerutu pun juga tidak ada gunanya karena bosnya sudah terlanjur pergi.
Sementara Devan, Devan sudah melaju dengan mobilnya untuk datang ke tempat Nayla sekarang ini.
◎◎✧༺♥༻✧◎◎
Tak ada kata menyerah untuk Aditya supaya bisa bertemu dengan Ara, pagi ini sebelum dia pergi ke kantornya dia berniat untuk ke sekolah Ara dan berharap kali ini dia bisa bertemu dengan Ara.
"Hari ini harus bisa bertemu dengan Ara. Hem, nggak sabar untuk bertemu dengan Ara. Ara pasti senang aku bawakan mainan banyak begini."
Aditya menoleh ke arah samping begitu banyak mainan yang dia bawa sekarang jelas kali ini adalah mainan yang mahal dan bukan kale-kale yang hanya dia beli di pinggir jalan.
"Lihatlah Ara sayang, ayah bawakan mainan banyak untuk kami. Ayah yakin kamu akan sangat senang dengan semua mainan yang ayah bawakan."
Begitu percaya diri Aditya dengan semua yang sudah dia bawa. Semua adalah mainan-mainan mahal juga di beli di tempat yang sangat terkenal.
Tak henti-hentinya Aditya tersenyum karena begitu bahagia, keyakinannya sangat besar akan bertemu dengan Ara saat ini. Kemarin tidak bertemu tapi bukan berarti sekarang tidak bisa bertemu lagi.
Kekayaan sudah ada di depan mata, sekali saja tanda tangan dari Pak Saputra bisa Jihan dapatkan dia bisa mendapatkan semuanya.
"Hem, sebentar lagi aku juga akan kaya. Setelah ayah kaya ayah akan bawa kamu ke rumah ayah, jika Nayla tidak mau maka Ara yang harus aku dapatkan."
"Aku sudah kehilangan anakku dari Jihan dan aku tidak mau kehilangan anak satu-satunya, Ara."
Segala impian indah ada di depan mata bagi Aditya. Semua akan dia dapatkan dan semua akan bisa dia kuasai. Bukan hanya harta keluarga Saputra tapi juga Ara dan Nayla.
"Hahaha, tak akan ada yang bisa mengalahkan aku di dunia ini. Bukan keluarga Saputra ataupun juga kamu Devan. Kalian tidak akan bisa mendapatkan apa yang sudah seharusnya menjadi milikku," ucap Aditya.
Begitu besar mimpi Aditya, mimpi yang begitu membumbung tinggi dan tak berpikir bagaimana ketika dia akan terjatuh.
Mengharapkan sesuatu yang bukan menjadi miliknya dan tak berpikir ketika dia jatuh dan bagaimana rasa sakitnya.
◎◎✧༺♥༻✧◎◎
------Normal-----
Begitu jenuh menunggu kedatangan mas Devan, sudah beberapa menit tapi belum juga datang. Benarkah dua akan datang?
Mataku terus memandangi gerobak seblak yang ada di hadapan ku namun dengan jarak yang tak terlalu dekat juga tidak begitu jauh.
Bagaimana kalau keburu habis itu seblak, masak iya harus nunggu besok baru bisa makan?
"Hem, seharusnya aku sudah makan tuh seblak. Pasti enak, apalagi kalau masih anget juga pedes. Hem... keburu ngiler deh," kataku yang sudah tak sabar.
Melihatnya semakin lama semakin tak sabar ingin menikmatinya. Tapi nanti mas Devan pasti akan marah kalau aku sudah membeli dan makan, tapi kalau tidak sekarang sampai kapan?
Terus aku menoleh kesana-kemari karena sudah tak sabar untuk menyambut mas Devan, tapi kenapa tidak datang-datang sih.
"Kemana sih?" semakin tak sabar.
Aku berdiri melihat ke arah jalan raya namun tetap saja tak ada mobil yang datang dan berhenti.
"Beli tidak ya, beli tidak beli tidak?" ku hitung dengan jari hingga berkali-kali mengiringi kebingunganku.
"Nya," panggil Sus Neni yang mungkin tidak tega melihatku yang seperti ini.
"Hem," aku hanya tersenyum saja menanggapi.
"Beli aja deh." Tak sabar lama menunggu membuat ku memutuskan untuk membeli sekarang juga tanpa harus menunggu mas Devan yang entah sampai kapan akan datang.
Kalau menunggu sampai kedatangannya jelas makanan itu sudah habis karena yang beli dari tadi juga tidak berhenti. Datang dan pergi begitu terus.
◎◎✧༺♥༻✧◎◎
Bersambung....